Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, KH Makruf Amin


Investigasi MUI menemukan berbagai penyimpangan kebijakan oleh Dedi Mulyadi, diantaranya pembuatan patung-patung yang bernuansa Hindu Bali.

Jakarta (SI Online) – Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, KH Makruf Amin mengungkapkan, MUI Pusat telah mengirim tim investigasi ke Purwakarta guna menyelidiki paham yang dikembangkan Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi dan memantau apa yang sebenarnya terjadi di Kota Tasbeh itu.

Investigasi MUI menemukan berbagai penyimpangan kebijakan oleh Dedi Mulyadi, diantaranya pembuatan patung-patung yang bernuansa Hindu Bali.

Kyai Makruf menilai, kebijakan Bupati Purwakarta soal budaya dapat menganggu keharmonisan masyarakat.

“Dia punya paham boleh saja. Tapi jangan menggunakan kekuasaan bupati unuk mengembangkan pahamnya. Ini juga dapat menyulut konflik,” ujarnya dikutip Islampos, Kamis (10/12/2015).

Menurutnya, budaya boleh dilakukan selama tidak bertentangan dengan agama masyarakatnya.

Sebelumnya, MUI Purwakarta telah mengirim surat mediasi yang ditujukan kepada Purwakarta Dedi Mulyadi, 15 Oktober 2015 lalu. Surat tersebut untuk merespon kebijakan Bupati Purwakarta yang dinilai kontroversial dan dikeluhkan masyarakat, khususnya di kalangan ulama, ormas Islam, tokoh agama, dan Pimpinan Pondok Pesantren di Kabupaten Purwakarta,

“Perlu adanya komunikasi yang intens antara bupati, para ulama, dan budayawan, agar terjadi keseimbangan antara nilai-nilai Islam dan nilai-nilai budaya, juga ada keseimbangan antara pembangunan fisik dan non fisik, sesuai dengan amanat UUD 1945,” kata Ketua MUI Purwakarta KH. Abun Bunyamin.

red: adhila/ .suara-islam.com, Minggu, 13/12/2015 08:39:25

***

Ulama Purwakarta Sebut Bupati Dedi Mulyadi Raja Syirik

Posted on Nov 27th, 2015

by nahimunkar.com

bupati-Putwakarta

Harimau putih di dalam Gedung Negara Purwakarta, bersama Bupati Dedi Mulyadi, 

Rabu (11/1). (foto: Tribunnews.com)


Purwakarta (SI Online) – Kalangan ulama Purwakarta selama sepuluh tahun terakhir resah dengan kemusyrikan yang meraja lela di wilayah itu. Ketua Manhajus Solihin Purwakarta, KH Muhammad Syahid Joban bahkan menilai gagasan kebudayaan yang diusung Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi selama 10 tahun memimpin, mengarah pada kemusyrikan.

Bahkan, dalam akun media sosial Facebook miliknya, Muhammad Syahid Joban pada 5 November menyebut Dedi sebagai raja syirik.

Seperti diberitakan Tribunjabar.co.id, melalui ponselnya, Ahad (15/11/2015) dua pekan lalu, Joban hendak menyampaikan pesan bahwa banyak hal yang harus diubah dari Purwakarta.

“Budaya dikembangkan tapi nilai keagamaan merosot. Sehingga kami menilai keduanya harus berimbang. Islam tidak anti budaya tapi budaya yang diusung Dedi Mulyadi ini hanya bungkus yang isinya hanya ritual kemusyrikan,” ujar Joban.

Banyak ritus budaya namun dinilainya hanya mengarah pada kemusyrikan yang dilakukan oleh orang nomor satu di Purwakarta itu.

“Sakralkan kereta kencana yang dianggap kendaraan tokoh mistis, Situ Buleud, Gedung Kembar, Gedung Negara dan Pendopo disakralkan dengan ritus-ritus berindikasi kuat musyrik,” ujarnya.

Tidak hanya itu, pernyataan Dedi juga kerap dinilainya menyesatkan umat Islam. Seperti halnya, menokohkan Raja Padjadjaran, Sri Baduga Maharaja atau kerap disebut Prabu Siliwangi.

“Pernyataan yang keluar dari mulutnya itu menganggap Prabu Siliwangi tokoh keselamatan hingga pernyataan pemimpin hebat itu harus menikahi tokoh mistis dari Pantai Selatan, kan itu menyesatkan,” ujarnya.

Menanggapi tudingan itu, belum lama ini ketika disinggung mengenai raja syirik, Dedi tidak terlalu serius menanggapinya. “Iya, terserah saja, itu penilaian orang, saya tidak akan ambil pusing,” ujar dia.

Hanya saja, sebagai pemerintah, selama ini ia berusaha melaksanakan kewajiban konsitusionalnya sebagai kepala daerah. “Saya raja syirik kata mereka tapi saya melaksanakan kewajiban konsitusional saya pada rakyat saya,” ujarnya.

red: abu faza

sumber: Tribunnews.com

suara islam online, Kamis, 26/11/2015 09:48:31

***

Banyaknya patung yang dibangun bupati Purwakarta Jawa Barat itu mengakibatkan risihnya Umat Islam, hingga ada aksi merobohkan patung-patung simbol kemusyrikan.

Berita itu dapat dilihat kemali di antaranya di sini:

Allahuakbar, Umat Muslim Purwakarta Robohkan Patung karena Tidak Sesuai Ajaran Islam

https://www.nahimunkar.org/allahuakbar-umat-muslim-purwakarta-robohkan-patung-karena-tidak-sesuai-ajaran-islam/.

***

Wajib menghindari kemusyrikan

Keyakinan atau keimanan, wajib dijaga benar-benar oleh setiap Muslim. Sebab kalau sampai keimanannya batal, maka seluruh amaliyahnya menjadi sia-sia. Lebih dahsyat dibanding batalnya wudhu’ ketika shalat, misalnya, yang cukup dengan wudhu’ lagi dan mengulangi shalat dari awal. Namun kalau yang batal itu keimanan, karena pelakunya berbuat kemusyrikan yang sampai mengeluarkan dari Islam alias batal imannya, maka harus bertaubat dan kembali ke Islam lagi. Apabila tidak, maka amaliyahnya sia-sia.

وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ(65)

Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu: “Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.(QS Az-Zumar: 65).

إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ

“Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang lalim itu seorang penolong pun.” [Al-Maidah: 72]

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا أُولَئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ

“Sesungguhnya orang-orang kafir dari ahli kitab (Yahudi dan Nashrani) dan orang-orang musyrik (akan masuk) neraka jahannam, mereka kekal di dalamnya. Mereka adalah seburuk-buruk makhluq.” [Al-Bayyinah: 6]

(nahimunkar.com)

(Dibaca 3.635 kali, 1 untuk hari ini)