Natalan saja dianggarkan 30-an miliyar rupiah, dan Jokowi serta rombongannya datang ke acara kekafiran itu di Papua, 2014.

Mau dibilang apa lagi.

Di tengah hiruk pikuk rencana pemberian dana sebesar Rp1 triliun untuk partai politik, ada kondisi miris. Organisasi massa (Ormas), terutama ormas Islam, malah tak mendapatkan lagi dana bantuan sosial dari pemerintah. Ini terjadi sejak era Presiden Jokowi.

Itu belum ironi lainnya yang sangatmencolok mata. Natalan di Papua yang Jokowi hadiri 2014 kabarnya dianggarkan 30-an miliyar rupiah.

Contoh terburuk dalam hidup ini adalah contoh yang dilakukan seseorang dan dipertontonkan untuk orang banyak, padahal yang diperbuat merupakan sesuatu yang tidak diridhoi Allah.

Seperti orang mengaku dirinya muslim namun menghadiri perayaan kekafiran, misalnya natalan; sedangkan Allah tidak ridho kekafiran sebagaimana telah Allah firmankan:

إِنْ تَكْفُرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنْكُمْ وَلَا يَرْضَى لِعِبَادِهِ الْكُفْرَ وَإِنْ تَشْكُرُوا يَرْضَهُ لَكُمْ

“Jika kamu kafir maka sesungguhnya Allah tidak memerlukan (iman)mu dan Dia tidak meridhai kekafiran bagi hamba-Nya; dan jika kamu bersyukur, niscaya Dia meridhai bagimu kesyukuranmu itu.”[Az-Zumar:7]

https://www.nahimunkar.org/jokowi-hadiri-natalan-di-papua-allah-tidak-ridho-kekufuran/

Doa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, Laknat Allah Ta’ala atas pemimpin yang menyulitkan Umat Islam

 

اللَّهُمَّ مَنْ وَلِيَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِي شَيْئًا فَشَقَّ عَلَيْهِمْ فَاشْقُقْ عَلَيْهِ وَمَنْ وَلِيَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِي شَيْئًا فَرَفَقَ بِهِمْ فَارْفُقْ بِهِ (أحمد ، ومسلم عن عائشة)

Ya Allah, siapa yang menjabat suatu jabatan dalam pemerintahan ummatku lalu dia mempersulit  urusan mereka, maka persulitlah dia. Dan siapa yang menjabat suatu jabatan dalam pemerintahan ummatku lalu dia berusaha menolong mereka, maka tolong pulalah dia.” (HR Ahmad dan Muslim dari Aisyah).

{ وَمَنْ وَلِيَ مِنْهُمْ شَيْئًا فَشَقَّ عَلَيْهِمْ فَعَلَيْهِ بَهْلَةُ اللَّهِ فَقَالُوا : يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا بَهْلَةُ اللَّهِ قَالَ : لَعْنَةُ اللَّهِ } رَوَاهُ أَبُو عَوَانَة فِي صَحِيحِهِ

Dan barangsiapa memimpin mereka dalam suatu urusan lalu menyulitkan mereka maka semoga bahlatullah atasnya. Maka para sahabat  bertanya, ya RasulAllah, apa bahlatullah itu? Beliau menjawab: La’nat Allah. (HR Abu ‘Awanah dalam shahihnya. Terdapat di Subulus Salam syarah hadits nomor 1401).

Amien ya Rabbal ‘alamien.

 

Soal dihapusnya dana untuk MUI sejak pemerintahan Jokowi, inilah beritanya.

***

Tragis Sejak Era Jokowi Bantuan Dana untuk MUI Distop

 

Jakarta – Di tengah hiruk pikuk rencana pemberian dana sebesar Rp1 triliun untuk partai politik, ada kondisi miris. Organisasi massa (Ormas), terutama ormas Islam, malah tak mendapatkan lagi dana bantuan sosial dari pemerintah. Ini terjadi sejak era Presiden Jokowi.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang berbentuk perkumpulan, termasuk salah satu lembaga yang tidak lagi mendapatkan bansos dari pemerintah. Tak heran, jika Anda mengikuti rapat di Aula MUI Pusat, gedung itu terasa panas. Beberapa pendingin udara tidak mengeluarkan hawa sejuknya. Air putih untuk tamu, terutama wartawan, kadang ada tapi seringkali tidak ada.

Wakil Sekjen Majelis Ulama Indonesia (MUI), Amirsyah Tambunan mengakui, lembaganya sudah tidak lagi mendapatkan bantuan dana dari pemerintah pada tahun anggaran 2015 ini.

“Iya, selama 2015 ini kami tidak dapat lagi (dana dari pemerintah),” kata Amirsyah, Kamis (12/03), seperti dikutip Republika.co.id. Sementara ini, untuk menanggulangi dana operasional MUI, pengurus memberdayakan dana swadaya dari masyarakat serta dana patungan antara kyai-kyai di MUI.

Ia menyebut meskipun MUI tidak lagi mendapat dana dari pemerintah Joko Widodo-Jusuf Kalla, MUI tetap mampu menyelenggarakan dua agenda besar. Yaitu acara peringatan tahun baru Hijriyah 1 Muharram pada Oktober tahun lalu di Istora Senayan Jakarta. Yang terbaru, kata Amirsyah, MUI Kongres Umat Islam Indonesia di Yogyakarta pada Februari, lalu.

Agenda itu terselenggara atas biaya dari dana swadaya dan hasil patungan para kyai di MUI. Meski terbatas biaya, agenda itu menghasilkan Risalah Yogyakarta.

“Alhamdulillah tanpa dana pemerintah MUI tetap mampu selesaikan dua agenda besar dari dana masyarakat. Alhamdulillah umat masih percaaya kepada MUI,” ujar Amirsyah.

Meski tak lagi mendapat dana dari pemerintah, Amirsyah menegaskan tidak akan membuat MUI bergerak lambat dalam melakukan tugas-tugas pokoknya dalam urusan umat. Sebab, ia menyebut MUI adalah dari umat, oleh umat dan untuk umat.

Mengenai ada atau tidaknya dana bantuan dari pemerintah, Amirsyah menyerahkan sepenuhnya kepada pihak pimpinan dan juga pemerintah dalam hal ini Kementerian Agama RI.

red: abu faza, (SI Online) Kamis, 12/03/2015 12:52:51

(nahimunkar.com)

(Dibaca 2.911 kali, 1 untuk hari ini)