KIBLAT.NET, Jakarta – Ketua Aliansi Nasional Anti Syiah (ANNAS), KH Athian Ali Dai menegaskan paham Syiah di Indonesia seringkali dikesankan oleh para penganutnya sebagai ajaran Islam. Padahal, Syiah adalah ajaran yang lahir dari rahim konflik politik dan ideologi serta berjuang untuk mendapatkan kekuasaan politik.

“Ideologi Syiah adalah makar terhadap kekuasaan di dunia Islam,”,” ungkapnya dalam rapat Dengar Pendapat tentang Rancangan Undang-Undang Perlindungan Umat Beragama (RUU PUB) di Gedung DPR-RI, Jakarta (04/01).

Lanjutnya, Syiah melakukan penipuan melalui gaung pendekatan mazhab atau taqrib, dialog sunni-syiah, atau ritual Syiah yang seolah-olah sama dengan kebanyakan umat Islam di Indonesia, slogan anti Wahabi, serta berpura-pura selalu berada di front terdepan anti-Israel dan Amerika.

“Padahal, Syiah di belakang bekerjasama dengan Zionis,” ungkapnya.

Lebih dari itu, ia menerangkan bahwa proses Syiahisasi berjalan masif melalui berbagai bidang di Indonesia baik melalui pendidikan, budaya, ekonomi maupun politik. Bahkan, lembaga resmi negara dapat dikelabui oleh kalangan Syiah.

“Ironis, Kementerian Agama RI pun terperdaya, sehingga memberi izin organisasi Syiah dapat bermuktamar di gedung ‘HM.Rasyidi’ Kemenag beberapa bulan lalu,” terangnya.

“Sungguh menyakitkan, karena hal itu tidak pernah diberikan kepada organisasi-organisasi Islam yang ada di Indonesia,” lanjutnya.

Menurut Kiyai Athian, perkembangan faham dan gerakan Syiah di Indonesia berpotensi menimbulkan konflik di masa mendatang. Hingga saat ini sudah terjadi konflik, gesekan, dan ketegangan di berbagai daerah di Indonesia seperti yang terjadi di Sampang, Bondowoso, Jember, bangil, Pasuruan, Probolinggo, Lombok Barat, Puger Kulon, Pekalongan, Bekasi, Jakarta, Surabaya, Makassar, dan Yogyakarta.

“Pemerintah harusnya tidak menutup mata akan hal ini. Peristiwa konflik Sunni-Syiah di Suriah, Iraq, Lebanon, dan Yaman harus sudah cukup meyakinkan pemerintah bagi kemungkinan terbukanya konflik lebih besar di Indonesia jika tidak diantisipasi sejak dini,” tegasnya.

Oleh karena itu, kata Kiyai Athian, di negara-negara luar, Syiah sudah dibatasi perkembangannya. Seperti di Mesir tokoh Syiah diusir, di Yordania Syiah diberangus, di Tunisia dan Aljazair Syiah ditolak.

“Di Sudan di samping menutup atase Kebudayaan Kedutaan Iran, mereka juga mengusir diplomatnya. Bahkan negara tetangga seperti Malaysia dan Brunei sangat tegas melarang Syiah,” paparnya.

Berdasarkan pemantauan Kiblat.net, sejumlah anggota Komisi VIII DPR turut hadir. Di antaranya adalah, Deding Ishak, Shodiq Mujahid, dan Arzeti Bilbina. Sementara dari pihak ulama yang hadir diantaranya, Habib Zein Al Kaff (PWNU Jatim), KH. Ali Kharrar (NU Sampang), KH. Kholil Ridwan (Ketua MUI), Said Abdushshomad (LPPI Makassar), dan Fahmi Salim (Muhammadiyah).
Reporter: Bilal Muhammad

Editor: Fajar Shadiq/ kiblat.net

(nahimunkar.com)

(Dibaca 1.744 kali, 1 untuk hari ini)