ilustrasi

Cerita Pertama.

Ibnu Mas’ud melihat seseorang isbal (memanjangkan kainnya hingga ke bawah mata kaki). Maka beliau berkata, “Angkat pakaianmu!”

Tetibanya orang itu pun berkata, “Dan juga engkau wahai Ibnu Mas’ud, angkat pakaianmu.”

Ibnu Mas’ud pun menjelaskan:

إِنّ بِسَاقَيَّ حُمُوْشَةً، وَأَنَا أَؤُمُّ النَّاسَ.

“Sesungguhnya kedua betisku sangat kecil. Dan aku mengimami orang-orang.”

Cerita di atas sampai ke telinga Umar bin al-Khaththab. Beliau pun memukul orang tersebut. Beliau pun berkata:

أَتَرُدُّ عَلَى ابْنِ مَسْعُوْدٍ ؟

Kamu membantah Ibnu Mas’ud?!”

(Dihikayatkan dalam kitab “Siyar A’laam an-Nubalaa'”, 1/492 cet. ar-Risalah).

Cerita Kedua.

Nabi shallallahu alaihi wa sallam memerintahkan Ibnu Mas’ud untuk suatu urusan. Maka dia pun naik ke pohon karena perintah tersebut. Para sahabat melihat ke arah betis Ibnu Mas’ud yang sedang naik pohon kemudian mereka tertawa karena betisnya yang kecil. Maka Rasulullah bersabda:

مَا تَضْحَكُونَ؟ لَرِجْلُ عَبْدِ اللهِ أَثْقَلُ فِي الْمِيزَانِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ أُحُدٍ “

Kenapa kalian tertawa terhadap kaki seorang hamba Allah yang ia lebih berat dalam timbangan pada hari kiamat daripada gunung Uhud!?” [H.R. Ahmad, no.920]

Sebagian dari saudara kita cukup kesulitan untuk tidak isbal di keseharian. Keluar dari khilaf -jika mengikuti pendapat ringan-, tentu lebih utama. Semoga Allah berikan taufiq pada orang-orang yang telah mengenal ilmu dan sunnah Nabi, perintah dan larangan Nabi. Semoga Allah permudah orang-orang tersebut untuk mengamalkan apa yang telah dirizkikan dari ilmu. Di antara pengamalan ilmu: meninggalkan isbal. Bagi yang ikut pendapat makruhnya, ilmu khilaf membuatnya meninggalkan isbal. Bagi yang ikut pendapat haramnya secara mutlak, ilmu akan keharamannya membuatnya meninggalkan isbal.

Hasan Al-Jaizy Al-Jaizy

(nahimunkar.org)

(Dibaca 1.469 kali, 1 untuk hari ini)