Sejumlah penari Bali berlengggak lenggok di atas sajadah shalat pada HUT Kemenag ke 70 di Jakarta, (2/1/2016)


Bertubi tubi Islam dinista dan dilecehkan di negeri ini.

Cukupkah hanya Menag minta maaf?

Situs Islam terkemuka ada yang menulis sebagai berikut:

Sajadah Dijadikan Alas Tarian Oleh Kementrian Agama DKI, Menag Harusnya Mundur

Bertubi tubi Islam dinista dan dilecehkan di negeri ini.  Setelah “dilaunching” istilah Islam Nusantara, heboh bacaan Al-Qur’an langgam Jawa pada even Nasional di istana, kemudian sandal berlafadz Allah, bergulir kumandang adzan oleh imam masjid mengiringi lagu gereja dalam acara Natal Nasional di Kupang NTT, selanjutnya terompet bersampul mushaf Al-Qur’an, dan beredarnya loyang untuk buat kue dengan bahan plat eks cetak Al Quran. Kini Kemenag gelar tari bali di atas sajadah.

{أَلَيْسَ مِنْكُمْ رَجُلٌ رَشِيدٌ} [هود: 78]

Tidak adakah di antara kamu sekalian seorang yang berakal? [Hud78].

Hal itu menambah tercorengnya kemenag yang sudah ditengarai, diduga  menjadi jalur pemurtadan dan perusakan Islam di Indonesia. Kasus 14 Mahasiswa UIN Jogja (di antaranya sembilan mahasiswi berjilbab) mengikuti ibadah natal 2015 di Gereja Kristen Jawa (GKJ) Margoyudan Solo (Surakarta) Jawa Tengah adalah salah satu bukti nyata makin dilancarkannya pemurtadan lewat pendidikan tinggi Islam oleh Kementerian Agama Republik Indonesia. Lebih nyata lagi, karena ibadah natal yang mereka ikuti di gereja itu dipimpin oleh pendeta kristen yang memang dosen mereka di UIN Jogja. (lihat nahimunkar.com, Kementerian Agama Diduga Lancarkan Pemurtadan Lewat Perguruan Tinggi Islam https://www.nahimunkar.org/kementerian-agama-diduga-lancarkan-pemurtadan-lewat-perguruan-tinggi-islam/ )

Pantas diajukan ayat ini lagi:

{أَلَيْسَ مِنْكُمْ رَجُلٌ رَشِيدٌ} [هود: 78]

Tidak adakah di antara kamu sekalian seorang yang berakal? [Hud78].

Menggelar tari bali dengan mengumbar aurat dan lenggak lenggok itu sendiri, seandainya tari itu tanpa keyakinan kemusyrikan pun, masih pula sangat dahsyat ancaman nerakanya.

صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيلَاتٌ مَائِلَاتٌ رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ لَا يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلَا يَجِدْنَ رِيحَهَا وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا. (أحمد و مسلم عن أبي هريرة، صحيح).

“Dua macam manusia dari ahli neraka yang aku belum melihatnya sekarang, yaitu: (pertama) kaum yang membawa cemeti-cemeti seperti ekor-ekor sapi, mereka memukul manusia dengannya; dan (kedua) wanita-wanita yang berpakaian tetapi telanjang, berjalan dengan menggoyang-goyangkan pundaknya dan berlenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk onta yang condong. Mereka tidak masuk surga bahkan tidak akan mendapat wanginya, dan sungguh wangi surga telah tercium dari jarak perjalanan sekian dan sekian.” (HR Muslim, dan Ahmad dari Abi Hurairah, Shahih).

Perusakan Islam oleh kemenag yang diduga memang disengaja dan sistematis itu apakah cukup hanya diucapi dengan diam dan tetap dilanjutkanprogram prusakannya, lalu tempo-tempo Menteri Agama minta maaf setelah kepepet karena heboh ramai di kalangan muslimin yang resah?

Inilah beritanya.

***

Musibah, Kemenag gelar tari Bali di atas sajadah

JAKARTA (Arrahmah.com) – Dalam acara atraksi menari di HUT Kemenag yang ke-70 di Kanwil Kemenag DKI Jakarta, Ahad (3/1/2016) lalu terjadi penistaan terhadap Islam, yakni atraksi tari Bali di atas sajadah yang umumnya digunakan untuk shalat. Tampak sejumlah penari Bali dengan mengumbar auratnya berlenggak lenggok di atas sajadah (lihat foto)

KH DR Cholil Nafis Ketua Komisi Dakwah MUI Pusat yang mengunggah foto itu di akun twitternya @cholilnafis. Dia mempertanyakan foto yang diperolehnya dari sebuah group. Foto itu berupa atraksi tarian yang digelar di atas sajadah untuk shalat. Cholil menilai itu sangat tidak pantas.

Kemudian dia mengklarifikasi hal ini kepada Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin lewat akunnya.

“Salam. Tlg dicek n klo benar dibtegur. Karpet shalat dibuat tarian di HAB Kemenag DKI,” tulis Kiai di @cholilnafis, Senin (4/1).

Setelah ditegur Kiai Cholil Nafis, baru Menag Lukman merespon.

“Ya,saya tlh mengklarifikasi dan menegurnya. Selaku Menag, saya mohon maaf se-besar2nya atas kekhilafan tsb,” jawab Menag lewat @lukmansaifuddin.

“Tugas kita hanya saling mengingatkan, trrmasuk juga ke Menteri,” kata Kiai Cholil Nafis.

Terkait, Panitia Hari Amal Bhakti (HAB) ke-70 Kanwil Kementerian Agama DKI Jakarta menyampaikan permohonan maaf kepada umat Islam terkait peristiwa tarian Bali di atas sajadah dalam rangkaian peringatan HAB di Kantor Kanwil DKI Jakarta, Ahad (3/1) lalu.

“Panitia HAB ke-70 Kanwil Kementerian Agama Provinsi DKI Jakarta menyatakan permohonan maaf kepada semua pihak atas kelalaian kami,” kata Kepala Kanwil Kemenag Provinsi DKI Jakarta Abdurrahman di kantornya, Jakarta, Senin (4/1), lansir laman Kemenag.

Dia mengatakan bahwa tidak ada unsur kesengajaan pada kejadian itu. Karpet tersebut, menurutnya, semula digunakan untuk tari Saman yang diperagakan oleh 175 siswa madrasah. Belum dilipat, para penari Bali sudah maju ke depan untuk memperagakan tariannya.

Abdurrahman menambahkan bahwa karpet yang digunakan itu bukan diambil dari Masjid Kanwil DKIJakarta yang biasa digunakan untuk shalat, melainkan karpet Aula yang biasa digunakan untuk kegiatan sosial di Kanwil DKI Jakarta.

“Atas nama panitia HAB ke-70, kami memohon maaf dan mengucapkan terima kasih atas kritik dan sarannya. Hal ini akan menjadi bahan pembelajaran bagi kami untuk lebih baik lagi di masa yang akan datang,” ucapnya.

Nista Islam

Bertubi tubi Islam dinista dan dilecehkan di negeri ini. Setelah “dilaunching” istilah Islam Nusantara, heboh bacaan Al-Qur’an langgam Jawa pada even Nasional, kemudian sandal berlafadz Allah, bergulir kumandang adzan mengiringi lagu gereja dalam acara Natal di Kupang, selanjutnya terompet bersampul mushaf Al-Qur’an, dan beredarnya loyang untuk buat kue dengan bahan plat eks cetak Al Quran.

Menurut Ustadz Muhammad Thalib, Amir Majelis Mujahidin, perilaku melecehkan Islam ini justru mendapat respon dan komentar positif, sebagai percampuran budaya, oleh sejumlah Kyai dan tokoh Islam.

“Aneh, perbuatan yang menghina Islam tidak dilarang, tapi ajakan melaksanakan Syariat Islam justru dipersoalkan. Adzan dikumandangkan untuk menyeru umat Islam shalat berjamaah, bukan mengiringi lagu Natal,” katanya saat menyampaikan kuliah Shubuh di Masjid Al Munawarah, Sabtu (2/1). (azmuttaqin/arrahmah.com) A. Z. Muttaqin, Senin, 24 Rabiul Awwal 1437 H / 4 Januari 2016 19:07

***

Hah? Atraksi Menari di Atas Sajadah, Menteri Agama Minta Maaf

Senin, 4 Januari 2016 18:31

penari Bali berlengggak lenggok

Para penari nampak melakukan pentas tari dengan beralaskan sajadah. 

TRIBUNKALTENG.COM – Kementerian Agama RI memperingati Hari Ulang Tahun atau Hari Amal Bakti ke-70 yang jatuh pada tanggal 3 Januari 2016.

Upacara peringatan Hari Amal Bakti ke-70 tersebut digelar di halaman Kantor Kementerian Agama (Kemenag) di Jalan Lapangan Banteng Barat, Pasarbaru, Jakarta Pusat, Minggu (3/1/2016).

Seperti dilansir dari akun jejaring sosial resmi Twitter milikKemenag, upacara tersebut dipimpin langsung oleh Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin.

Namun kemeriahan acara tersebut tercoreng karena atraksi menari yang dilakukan di atas sajadah yang biasa digunakan untuk shalat.

Hal tersebut terungkap melalui postingan sebuah akun twitter@cholilnafis yang juga merupakan akun milik Ketua Komisi Dakwah Majelis Ulama Indonesia (MUI), Cholil Nafis , yang menulis status sekaligus me-mention akun Twitter milik@lukmansaifuddin dan @Gus_Sholah.

“Salam. Tlg dicek n klo benar dibtegur. Karpet shalat dibuat tarian di HAB Kemenag DKI @lukmansaifuddin @Gus_Sholah,” tulis@cholilnafis seperti dilansir tribunnews.com

Cuitan @cholilnafis itu langsung dibalas oleh Menteri Agamalewat akun Twitter miliknya @lukmansaifuddin.

“Ya, saya telah mengklarifikasi dan menegurnya. Selaku Menag, saya mohon maaf sebesar-besarnya atas kekhilafan tersebut,”tulis Menteri Agama(dakwatuna.com)

***

Cukupkah hanya Menag minta maaf?

Situs Islam terkemuka ada yang menulis sebagai berikut:

Sajadah Dijadikan Alas Tarian Oleh Kementrian Agama DKI, Menag Harusnya Mundur

Eramuslim.com – Rezim ini kian konyol. Kali ini Kementerian Agama DKI Jakarta menjadikan sajadah sebagai alas buat para penari dalam acara Hari Amal Bakti (HAB) ke-70 di Lapangan Banteng, Jakarta, Minggu (3/1/2016). Apalagi para penari tampak mengumbar aurat dengan bebasnya. Ini sungguh-sungguh pelecehan terhadap ibadah umat Islam./ Redaksi – Senin, 24 Rabiul Awwal 1437 H / 4 Januari 2016 18:07 WIB.

(nahimunkar.com)

(Dibaca 1.660 kali, 1 untuk hari ini)