Tabligh Akbar Syaikh Dr. Sholeh As-Suhaimy hafidzahulloh (Pengajar di Masjid Nabawi, Doktor di Bidang Akidah di Universitas Islam Madinah)

Kajian diawali dengan sambutan dari Prof. Patrialis Akbar (Hakim Mahkamah Konstitusi) dan Irjen Arif Sulistianto (staf Ahli Kapolri)

Syaikh membuka tabligh Akbar dengan membawakan hadits bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi kabar gembira bahwa barangsiapa yang berkumpul di salah satu rumah dari rumah-rumah Allah (yaitu masjid) untuk mempelajari membaca Al-Qur’an dan mempelajari petunjuknya maka dia akan turun ketenangan di antara mereka, dilimpahi rahmat, dikelilingi malaikat, dan disebut-sebut di majelis Allah subhanahu wa Ta’ala.

*Kelembutan (Ar-Rifq)* adalah perkara yang agung dan merupakan salah satu akhlak mulia yang ada pada diri Rasulullah sebagaimana Allah mensifati Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam :

وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ

Sungguh, kamu mempunyai akhlak yang agung” [Al-Qalam : 4]

Pembahasan Sikap Kelemah-lembutan pagi ini akan kita bahas sbb :

  1. Dalil-dalil tentang wajibnya bersikap lemah-lembut
  2. Dalil yang menunjukkan bahwa lemah lembut adalah sikap yang terpuji dalam Islam dan bagaimana Rasulullah menerapkannya
  3. Dampak positif dengan memiliki sifat lemah-lembut ini

✅1. Dalil-dalil tentang wajibnya bersikap lemah-lembut

Diantara dalil-dalilnya adalah firman Allah subhanahu wa ta’ala adalah ketika menjelaskan bahwa beliau Rasulullah adalah orang yang penyayang dan memiliki rasa belas kasih terhadap orang-orang yang beriman.

Allah Ta’ala berfirman.

لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِّنْ أَنفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُم بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ

Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, yang berat memikirkan penderitaanmu, sangat menginginkan kamu (beriman dan selamat), amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mu’min” [At-Taubah : 128]

Allah juga menjelaskan bahwa beliau adalah orang yang ramah dan lemah lembut.

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللَّهِ لِنتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ

Dengan sebab rahmat Allah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentu mereka menjauh dari sekelilingmu [Ali Imran : 159]

Allah juga menjelaskan bahwa para sahabat yang mulia senantiasa saling bekasih sayang. Allah Ta’ala berfirman :

مُّحَمَّدٌ رَّسُولُ اللَّهِ ۚ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ

Muhammad itu adalah utusan Allah. Orang-orang yang selalu bersamanya bersikap keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesame mereka[Al-Fath : 29] 

*Adapun dalil-dalil dari Hadits sbb* :

▶Dari Aisyah radhiallahu anha :

يَا عَائِشَةُ إِنَّ اللَّهَ رَفِيْقٌ يُحِبُ الرِّفْقَ وَيُعْطِى عَلَى الرِّفْقِ مَا لاَ يُعطِِي عَلَى الْعُنْفِ وَمَالاَ يُعْطِي عَلَى مَا سِوَاهُ

“Wahai Aisyah, sesunguhnya Allah itu Mahalembut dan mencintai kelembutan. Allah memberi kepada kelembutan hal-hal yang tidak diberikan kepada kekerasan dan sifat-sifat lainnya”

✅2. Kehidupan Rasulullah shallahu alaihi wa sallam dalam mempraktekkan sikap lemah lembut

Dari Anas Bin Malik Radhiyallahu’anhu ia berkata :

”Saya membantu Rasulullah Shallallahu’alaihiwassalam selama sepuluh tahun. Demi Allah , beliau tidak pernah berkata kasar kepadaku. Tidak pernah beliau berkata, ‘ kenapa kamu melakukan demikian’ atau ‘ kenapa tidak engkau lakukan demikian”  (H.R Bukhari Muslim dan selain keduanya)

Perlu kita renungkan tentang kisah menakjubkan, yaitu dikisahkan dalam sebuah hadits bahwa suatu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang duduk-duduk bersama para shahabat radhiyallahu ‘anhum di dalam masjid. Tiba-tiba muncul seorang ‘Arab badui (kampung) masuk ke dalam masjid, kemudian kencing di dalamnya. Maka, dengan serta merta, bangkitlah para shahabat yang ada di dalam masjid, menghampirinya seraya menghardiknya dengan ucapan yang keras. *Namun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang mereka untuk menghardiknya dan memerintahkan untuk membiarkannya sampai orang tersebut menyelesaikan hajatnya*. Kemudian setelah selesai, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta untuk diambilkan setimba air untuk dituangkan pada air kencing tersebut. (HR. Al Bukhari)

Kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam *memanggil ‘Arab badui tersebut dalam keadaan tidak marah ataupun mencela. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menasehatinya dengan lemah lembut* :

“Sesungguhnya masjid ini tidak pantas untuk membuang benda najis (seperti kencing,dll) atau kotor. Hanya saja masjid itu dibangun sebagai tempat untuk dzikir kepada Allah, shalat, dan membaca Al Qur’an.” (HR. Muslim)

Melihat sikap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang demikian lembut dan halusnya dalam menasehati, timbullah rasa cinta dan simpati ‘Arab badui tersebut kepada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka ia pun berdoa: “Ya Allah, rahmatilah aku dan Muhammad, dan janganlah Engkau merahmati seorangpun bersama kami berdua.”

Mendengar doa tersebut Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tertawa dan berkata kepadanya:
“Kamu telah mempersempit sesuatu yang luas (rahmat Allah).” (HR. Al Bukhari dan yang lainnya)

Mafsadah yang bisa ditimbulkan jika beliau melarang Arab Badui itu dengan keras ketika dia belum selesai menuntaskan hajatnya tsb :

  • Teguran yang keras bisa jadi menyebabkan arab dusun tersebut meninggalkan agama Islam dan murtad
  • Bisa jadi dia kaget dan berlari dan najisnya tercecer kemana-mana sehingga lebih sulit membersihkannya
  • Bisa menyebabkan sakit bagi dirinya karena kencingnya tidak tuntas.
  • Menjadikan manusia berpaling dari petunjuk Islam.

Contoh lain bagaimana akhlaq Rasulullah yang lemah-lembut ketika menasihati orang lain sebagaimana dalam hadits sahih :

▶Suatu hari ada seorang pemuda yang mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah, izinkan aku berzina!”

Orang-orang pun bergegas mendatanginya dan menghardiknya, “Diam kamu! Diam!”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Mendekatlah.”

Pemuda itu pun mendekat lalu duduk.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, “Relakah engkau jika ibumu dizinai orang lain?”

“Tidak, demi Allah, wahai Rasul!” sahut pemuda itu.

“Begitu pula orang lain, tidak rela kalau ibu mereka dizinai.”

Lanjut Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Relakah engkau jika putrimu dizinai orang?”

“Tidak, demi Allah, wahai Rasul!” pemuda itu kembali menjawab.

“Begitu pula orang lain, tidak rela jika putri mereka dizinai.”

“Relakah engkau jika saudari kandungmu dizinai?”

“Tidak, demi Allah, wahai Rasul!”

“Begitu pula orang lain, tidak rela jika saudara perempuan mereka dizinai.”

“Relakah engkau jika bibi – dari jalur bapakmu – dizinai?”

“Tidak, demi Allah, wahai Rasul!”

“Begitu pula orang lain, tidak rela jika bibi mereka dizinai.”

“Relakah engkau jika bibi – dari jalur ibumu – dizinai?”

“Tidak, demi Allah, wahai Rasul!”

“Begitu pula orang lain, tidak rela jika bibi mereka dizinai.”

*Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meletakkan tangannya di dada pemuda tersebut sembari berkata, “Ya Allah, ampunilah kekhilafannya, sucikanlah hatinya, dan jagalah kemaluannya.”*

Setelah kejadian tersebut, pemuda itu tidak pernah lagi tertarik untuk berbuat zina. (H.R. Ahmad, no. 22211; sanadnya dinilai shahih oleh Syaikh Al-Albani.)

Kisah lain tentang sikap dan akhlaq Nabi dalam berdakwah yaitu *ketika beliau berdakwah ke Thoif dan mendapat perlakuan yang buruk di sana oleh penduduknya yaitu beliau pun pergi dari thoif dengan wajah bersedih dan datang Malaikat Jibril alihissalam, lalu Jibril berseru: ‘Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla telah mendengar perkataan kaummu kepadamu dan penolakan mereka terhadapmu. Dan Allah Azza wa Jalla telah mengirimkan malaikat penjaga gunung untuk engkau perintahkan melakukan apa saja yang engkau mau atas mereka’. Malaikat (penjaga) gunung memanggil Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengucapkan salam lalu berkata: ‘Wahai Muhammad! Jika engkau mau, aku bisa menimpakan Akhsabain’.” (Dua gunung besar di Mekkah)

*Lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “(Tidak) namun aku berharap supaya Allah Azza wa Jalla melahirkan dari anak keturunan mereka orang yang beribadah kepada Allah semata, tidak mempersekutukan-Nya dengan apapun jua”*. [HR Imam al-Bukhâri dan Imam Muslim].

✅3. Pengaruh positif sikap Lemah lembut dalam Dakwah kepada Allah
Telah berlalu hadits tentang pengaruh sikap lemah lembut dan lunak dalam menghadapi manusia ini diantaranya :

إِنَّ الرِّفْقَ لَا يَكُونُ فِي شَيْءٍ إِلَّا زَانَهُ وَلَا يُنْزَعُ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا شَانَهُ

“Sesungguhnya sifat lemah lembut itu tidak berada pada sesuatu melainkan dia akan menghiasinya (dengan kebaikan)..”

✔Diantara dampak positif terbesar dari sikap ini adalah mudahnya manusia menerima dakwah Islam ini

✔Orang yang paling dekat dengan kedudukan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kelak di hari Qiyamat adalah orang yang paling memiliki akhlaq mulia

✔Mudahnya tersebar ajaran Islam di kalangan manusia sebagaimana di Negara Indonesia, yaitu agama ini tidak tersebar dengan kekerasan namun melainkan dengan sikap lemah lembut dan akhlaq yang mulia. Jihad dalam penyebaran Islam tetap disyariatkan namun sesuai dengan aturan-aturan syar’i dan bukan sebagaimana yang dipahami secara serampangan oleh sebagian kelompok.

✔Para da’i dan muballigh hendaknya menghiasi dirinya dengan sikap ini agar memudahkan orang-orang untuk menerima Islam dan membawa keberhasilan dalam dakwahnya. Allah memerintahkan pada 2 nabiNya yaitu Nabi Musa dan Nabi Harun untuk tetap berdakwah dengan perkataan lembut kepada Fir’aun padahal Allah subhanahu wa ta’ala telah mengetahui bahwa Fir’aun tidak akan menerima dakwah tersebut.

✔Termasuk perkara tidak diterimanya Islam adalah dari *orang-orang yg tidak memahami petunjuk Allah dengan menampilkan sikap yang ekstrem dan kasar dalam berdakwah dengan alasan berjihad di jalan Allah sebagaimana perbuatan teror dari kaum khawarij baik di masa ini maupun di masa yang lalu. Kelompok yang melakukan terror tersebut tidaklah memahami Islam sesuai dengan pemahaman Nabi dan para sahabatnya dan mereka hendaknya bertanya kepada para ulama Rabbaniy yang mengajarkan agama Islam dengan lurus.*

?Sebagai penutup bahwa dakwah dan sikap lemah-lembut jangan salah dipahami sebagai dakwah yang mengorbankan prinsip-prinsip dasar islam demi untuk mengikuti keridhaan sebagian manusia, ini adalah sesuatu yang tidak dibenarkan. *Kita haruslah tetap mendakwahkan tauhid, sunnah, mengajak orang salat berjamaah, termasuk diantaranya mendakwahkan tentang hijab (menutup aurat bagi muslimah) walaupun banyak dari manusia yang membencinya dan walaupun mereka mengatakan bahwa dakwah ini adalah dakwah yang keras. Tetaplah mendakwahkan Islam dengan hikmah dan sikap lemah lembut tanpa mengorbankan prinsip-prinsip dasar Islam demi mendapatkan keridhaan manusia.*

Ahad 19 Syawal 1437 H (24 Juli 2016)

✒ Rizal Abu Ayyub
Masjid Nurul Iman Blok M Square, Jakarta

Facebook Fajar Sri Untari

(nahimunkar.com)

(Dibaca 883 kali, 1 untuk hari ini)