Oleh : Yusuf Utsman Baisa

Islam Nusantara (1)

Pembakaran masjid Baitul-Muttaqin di Tolikara Papua pada hari Jum’at 17 juli 2015 bisa jadi saksi monumental atas arogansi kalangan non Islam mayoritas terhadap muslimin minoritas di daerah mereka di Negara yang dipuji dunia dalam hal toleransi antar agama.

Kita melihat dengan jelas manusia-manusia liberal sedang memamerkan kepalsuan mereka dengan konsep standar ganda yang telah menjadi model original yang khas pada komunitas mereka.

Sebutan teroris dan radikal hanya khusus mereka arahkan kepada muslimin, walaupun muslimin di negeri ini telah demikian tolerannya kepada non muslim, sementara mereka bungkam seribu bahasa dihadapan luapan arogansi yang sangat menyakiti muslimin di negeri ini.

Telah terbakar emosi muslimin pada saat ini, mereka sangat siap membalas kejahatan dan kebengisan mereka dengan balasan yang setimpal.

Terdengar dan terasakan benar kemarahan mereka disuarakan pada banyak forum di berbagai media, baik cetak maupun elektronik, bahkan banyak juga yang turun ke jalan-jalan. Hanya orang tuli dan tidak berperasaan sajalah yang tidak mengetahui jeritan mereka yang begitu kuat menggelegar.

Pada rezim penguasa periode ini kalangan liberalis memenuhi lingkaran ring satu kekuasaan, baik sebagai pelaku aktif ataupun para pembisik, hingga mestinya (bila mereka obyektif maka) pengaruh mereka sangat kuat untuk lahirnya kebijakan-kebijakan yang adil dan tidak pilih kasih.

Namun yang kita dapati justru sebaliknya, mereka hanya bisa mempertunjukkan kepandaian dalam bersilat lidah dalam memberikan jawaban yang mengada-ada dan alasan yang tidak proporsional.

“Monumen Tolikara” jadi bukti kuat bahwa pujian dunia dalam hal toleransi antar agama di negeri ini sebenarnya ditujukan kepada muslimin bukan kepada non muslim, semestinya kalangan liberalis menyaksikan hal ini dengan jujur dan objektif.

Kalau mereka mau menggunakan nurani yang jernih dan tidak menunggu upah dari siapapun, mestinya mereka segera mengajak dan mengarahkan kalangan non muslim kepada program yang ketat dan antisisipasi yang integratif dalam mengendalikan dan mendidik mereka agar bisa bersikap toleran kepada sesama bangsa Indonesia.

Namun harapan seperti ini hanyalah mimpi kosong yang sulit dibuktikan, karena diamnya mereka dihadapan kejadian seperti ini justru semakin menguatkan praduga bahwa mereka tidak lain hanyalah konseptor dan para pembicara yang dibayar oleh kaum penjajah, dimana mereka khawatir jika Islam dan Muslimin di negeri ini semakin kuat dan terus berkembang.

Kita bisa beranalogi, jika konsep “Islam Nusantara” diyakini mampu mengakomodasi muslimin Indonesia yang jumlahnya melebihi dua ratus juta orang, semestinya konsep “Kristen Jawa” , “Kristen Indonesia” dan yang sejenisnya semestinya telah terbukti berhasil menjadikan anggotanya pandai dalam bertoleransi antar agama, karena jumlah mereka sangat sedikit dibanding muslimin.

Tapi kenyataannya walaupun program pendidikan dan pelatihan yang dilaksanakan kalangan Kristen itu telah menghabiskan biaya yang sangat besar, SDM yang dikerahkan adalah kalangan intelektual yang luas pengetahuaannya dan terampil dalam bekerja, dan mereka telah mampu menegakkan disiplin dalam hal manajemen dan peraturan, namun hasil yang menjadi output mereka tidaklah lebih hanya lahirnya manusia-manusia bengis yang sangat arogan dalam memikul status “Mayoritas” di daerah mereka.

Hal ini semua membuktikan bahwa konsep “Islam Nusantara” hanya akan mengulang kegagalan dari konsep-konsep yang serupa dengannya, padahal kemampuan para pengusungnya jauh lebih hebat daripada para liberalis lokal yang sedang coba-coba membuat konsep, yang jika gagal akan memporak-porandakan asset bangsa ini yang nilainya tidak terbayangkan.

Sesungguhnya ajaran Islam telah memiliki konsep “Al-Ihsan” yang telah terbukti keber-hasilannya dalam menegakkan kerukunan, ketenteraman dan kedamaian antara muslimin dengan selain mereka selama berabad-abad lamanya.

Semestinya kalangan liberalis kembali mempelajari ajaran Islam lengkap dengan penerapannya secara cermat dan seksama sebelum melemparkannya karena menganggapnya produk arab.

Contoh konsep gagal yang hanya mampu melahirkan output yang merugikan dan mengecewakan telah banyak ditinggalkan orang, jumlahnya lebih banyak dibandingkan dengan konsep yang berhasil diterapkan, maka dalam hal ini kita mesti banyak belajar dari pengalaman orang lain.*

(nahimunkar.com)

(Dibaca 1.024 kali, 1 untuk hari ini)