Allah Ta’ala berfirman:

يُرِيدُونَ أَنْ يُطْفِئُوا نُورَ اللَّهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَيَأْبَى اللَّهُ إِلَّا أَنْ يُتِمَّ نُورَهُ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ

Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahayanya, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai. [at-Taubat/9:32].

وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا لَا يَضُرُّكُمْ كَيْدُهُمْ شَيْئًا ۗ إِنَّ اللَّهَ بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيطٌ

…Jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikitpun tidak mendatangkan kemudharatan kepadamu. Sesungguhnya Allah mengetahui segala apa yang mereka kerjakan. [Ali ‘Imrân/3:120].

***

Berdasarkan kenyataan sejarah, gerakan Islam sebagai idelogi, tidak bisa dibendung dengan kedok Pancasila, aliran kepercayaan, bahkan sepilis (sekulerisme, pluraisme agama, dan liberalisme alias kemusyrikan baru).

Modus terbaru yang kini sedang dilancarkan adalah bagaimana orang Islam tetap merasa Islam namun dengan tata cara yang tidak Islami. Atau bahkan seolah sangat Islami, namun bercampur bid’ah dan bahkan melindungi kemusyrikan (seperti sesajen, tumbal, sedekah bumi, ruwatan, mapag atau menjemput Dewi Sri yang dianggap dewa padi tapi dobolehkan oleh Said Aqil Siradj ketua umum NU – Nahdlatul Ulama yang agamanya Agama Islam Nusantara). (baca, Trend Muslim Bergaya Musyrik, https://www.nahimunkar.org/trend-muslim-bergaya-musyrik/#more-276, March 20, 2009 10:39 pm)

Misalnya, dalam berjilbab. Gencar dikatakan bahwa jilbab itu busana khas Arab (lihat Quraish Shihab Bukan Mufasir Al Quran! https://www.nahimunkar.org/quraish-shihab-bukan-mufasir-al-quran/ ).

Tapi, arus jilbab terus deras mengalir. Berjilbab saat ini tidak seperti di awal 1980-an. Hanya karena berjilbab, cari kerja susah. Kini sudah banyak berubah, meski masih ditemui di sana-sini ada larangan berjilbab tanpa ada alasan yang jelas. Itu pun akan mendapat perlawanan luas dari masyarakat.

Setelah upaya menghambat laju jilbab melalui isu jilbab adalah busana Arab tidak begitu berhasil, maka dibuat modus baru. Misalnya, mensosialisasikan jilbab gaul: dengan jeans ketat bahkan celana legging –lengket mepet bokong, celana potlot–, kaus lengan panjang ketat, dengan tutup kepala sak imprit (ala kadarnya). Yang ini jilbab gaul khas ABG (anak baru gede). Paralel dengan itu ada jilbab gaul ala artis, sebagaimana dikenakan Marissa Haque dan sebagainya. Cirinya, penuh warna, ramai asesoris, dan kerudungnya (atau sesuatu yang disebut jilbab) dimasukkan ke dalam busana atau diikat ke belakang. Model ini dipelopori oleh Ratih Sanggarwati (mantan model) yang menjadi motor penggerak jilbab gaul untuk non ABG.

Kini, sedang trend busana gamis dari bahan kaus. Meski tidak transparan dan cukup panjang, namun bahan kaus itu begitu patuh kepada lekuk tubuh si pemakai. Sehingga paduan gamis berbahan kaus dengan jilbab sak imprit tadi, menghasilkan panorama pegunungan. Padahal, dalam kaidah Islam, berbusana yang Islami adalah tidak menghadirkan panorama pegunungan, dan panorama perbukitan di dekat anus.

Membenturkan Pancasila dengan Islam sudah tidak laku. Menjadikan Pancasila sebagai penghambat dakwah Islam, juga sudah tidak laku. Namun, masih ada saja yang melakukan hal itu. Misalnya, Agus Maftuh Abegebriel, salah satu tim penulis SR-Ins yang pernah menerbitkan buku berjudul Negara Tuhan: The Thematic Encyclopaedia di tahun 2004.

Pada berbagai kesempatan, Agus menakut-nakuti kita semua akan bahaya Islam garis keras trans nasional. Di bulan Juni saja, Agus setidaknya sudah nampang di dua stasiun televisi, yaitu Metro TV dan TVRI. Di Metro TV, karena pembawa acaranya cukup cerdas dan menguasai materi, dan mungkin juga sudah kenal cukup mendalam sosok Agus, maka sang pembawa acara (moderator) tidak terlalu memberikan lapak yang luas bagi Agus.

Berbeda dengan pembawa acara di TVRI, masih di bulan Juni, dengan tema Pancasila, Agus diberi lapak yang cukup luas untuk jualan. Masih seperti sebelum-sebelumnya, Agus menakut-nakuti kita dengan adanya bahaya ideologi import yang antara lain dibawa oleh sejumlah ormas tertentu. Ideologi import itu membolehkan kekerasan dan merasa paling benar di dalam memahami dan mempraktekkan agama (Islam). Begitu kata Agus.

Sementara itu, Agus pada saat yang sama sudah merasa paling benar di dalam menghayati agamanya (Islam), menghayati pancasila, dan sebagainya. Dan, jangan juga dilupakan, sebagaimana pendapat di atas, pancasila itu juga ideologi import yang dijajakan Bung Karno dengan kemasan seolah-olah lokal. Menurut Abdullah Patani dalam risalah kecil berjudul Freemasonry di Asia Tenggara, ada persamaan antara sila-sila Pancasila dengan Khams Qanun Zionis, dan azas-azas ideologi negara yang dikemukakan oleh Nehru di India, Dr. Sun Yat Sen di Cina, Pridi Banoyong di Thailand, dan Andres Bonivasio di Filipina. (http://lawalangy.wordpress.com/2007/07/22/asal-usul-pancasila/)

Islam akan terus didakwahkan, akan terus di-syi’ar-kan di mana-mana, termasuk di Amerika Serikat. Masalahnya, di Amerika Serikat boleh jadi tidak ada orang-orang “yang serba bukan” sehingga tidak perlu ideologi yang juga “serba bukan”. Di Indonesia, yang serba bukan justru laku. (haji/tede)

(Bagian akhir dari tulisan berjudul ‘Permainan Logika Bung Karno dan Islam yang Tak Dapat Dibendung’ Posted on 9 Juli 2009 by Nahimunkar.com, dengan sedikit tambahan)

(nahimunkar.org)

(Dibaca 328 kali, 1 untuk hari ini)