Israel menembak mati puluhan warga Palestina di Jalur Gaza ketika kantor Kedutaan Besar AS diresmikan di kota Jerusalem, Senin, (14/5/18). Dilaporkan sudah 61 warga Palestina tewas ditembak oleh tentara Israel dalam bentrokan yang pecah menentang pembukaan kantor Kedutaan tersebut.

Kementerian Kesehatan Palestina melaporkan bentrokan tesebut merupakan hari paling berdarah bagi warga Palestina sejak tahun 2014. Sekitar 2.700 orang terluka melalui tembakan langsung dan penggunaan gas air mata oleh militer Israel.

“Korban tewas Palestina telah meningkat menjadi 61, sebagian besar tewas oleh tembakan tentara Israel. enam dari mereka yang tewas adalah anak di bawah umur. 2.700 orang terluka . Dari yang terluka, 130 berada dalam kondisi serius dan kritis,” bunyi pernyataan Kementerian Kesehatan Palestina, seperti dilansir dari Al Arabiya, Selasa, (15/5/18).

Amerika Serikat telah secara resmi membuka kantor kedutaan besarnya di Jerusalem pada hari Senin, 14 Mei 2018 di tengah aksi protes mematikan di Jalur Gaza menentang pemindahan kedubes tersebut dari Tel Aviv ke Jerusalem, Palestina. Dilaporkan sudah 37 warga Palestina tewas ditembak oleh tentara Israel dalam bentrokan yang pecah menentang pembukaan kantor Kedutaan tersebut.

Keputusan untuk memindahkan kedubes AS tersebut merupakan janji Presiden AS, Donald Trump yang telah mengakui kota suci tersebut sebagai Ibu Kota Israel akhir tahun lalu yang memicu protes keras dari dunia Muslim dan masyarakat Internasional.

Dengan berpihak kepada Israel, Washington telah menempatkan jarak antara dirinya dan sekutu-sekutu Eropanya untuk kedua kalinya dalam seminggu terakhir. Beberapa sekutu terkuat AS dilaporkan mengirimkan kecaman terhadap keputusan pemindahan kedubes tersebut, diantaranya : Arab Saudi, Turki, Mesir, Liga Arab, Inggris, Prancis dan Jerman. (DH/MTD)

Sumber : Al ArabiyaReuters | Redaktur : Hermanto Deli
Copyright © 1439 Hjr. (2018) – Moslemtoday.com

Sumber: moslemtoday.com

(nahimunkar.org)

(Dibaca 1.330 kali, 1 untuk hari ini)