Peringatan nyata kasat mata: istana negara pun kebanjiran, dan manusia yang lemah ini tidak mampu mencegahnya.

Kalau ada sedikit keaqwaan sebagaimana sumpah jabatan memakai lafal demi Allah, maka sepantasnya ingat, dulu pernah sesumbar, bukan hal yang sulit mengatasi banjir di Jakarta. Seakan kala diucapkannya sesumbar itu Selasa siang, (28/6/2011), Jakarta takkan kena banjir lagi. Ternyata empat tahun kemudian, Februari 2015, Jakarta banjir lagi sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, bahkan istana negara pun kebanjiran.

Hujan yang mengguyur Jakarta dan mengakibatkan banjir sampai melanda istana negara, hendaknya menjadi pelajaran berharga, bahwa peringatan Allah Ta’ala ini wajib diimani:

{وَإِنْ يَمْسَسْكَ اللَّهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهُ إِلَّا هُوَ وَإِنْ يَمْسَسْكَ بِخَيْرٍ فَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ (17) وَهُوَ الْقَاهِرُ فَوْقَ عِبَادِهِ وَهُوَ الْحَكِيمُ الْخَبِيرُ } [الأنعام: 17، 18]

  1. Dan jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang menghilangkannya melainkan Dia sendiri. Dan jika Dia mendatangkan kebaikan kepadamu, maka Dia Maha Kuasa atas tiap-tiap sesuatu
  2. Dan Dialah yang berkuasa atas sekalian hamba-hamba-Nya. Dan Dialah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui [Al An’am,17-18]

Silakan baca berita kesombongan manusia masa kini sambil masih pula ngeles sana-sini.

***

Dulu Jokowi Sesumbar Mudah Atasi Banjir, Sekarang Istana Negara Kebanjiran

JAKARTA (Panjimas.com) – Tak berbeda dengan Ahok, Jokowi pun senang membual dan obral janji sebelum menjadi presiden, untuk mengatasi bencana banjir di DKI Jakarta.

Coba ingat, ketika masih menjabat sebagai Walikota Solo dan akan mencalonkan diri sebagai Gubernur DKI Jakarta, Jokowi sesumbar bahwa tidak sulit mengatasi banjir di Ibu Kota Jakarta.

Menurutnya banjir bisa diselesaikan dalam waktu tiga tahun, apalagi DKI Jakarta memiliki anggaran yang besar.

“(Anggaran DKI Jakarta) gede sekali. Satu periode bisa sampai Rp135 triliun. Itu gede sekali. Harusnya rampung semua itu. Tiga tahun harus rampung semua. Jadi tinggal eksekusi. Duit dari APBD cukup. Kalau tak cukup, investor saya kira ngantre,” kata Jokowi di sela-sela acara peresmian Pusat Studi dan Pendampingan Koperasi, Usaha Mikro Kecil dan Menengah di Aula Universitas Sebelas Maret, Solo, Selasa siang, (28/6/2011).

Bahkan, berkaca dari pengalamannya sebagai Walikota Solo, bukan hal yang sulit mengatasi banjir di Jakarta.

“Kelihatannya nggak sulit-sulit amat. Hahaha, menurut pengalaman yang saya punyai di sini,” tandasnya empat tahun silam.

Namun, ketika banjir begitu parah menggenangi Jakarta, hingga kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI) dan Istana Negara terendam, Jokowi malah menyalahkan pendahulunya.

“(Jadi Gubernur) Baru setahun, yang 20 tahun yang 30 tahun sudah apa?” tuding Jokowi di Pintu Air Karet, Jakarta Pusat, Ahad (12/1/2014).

Tak berhenti di situ, Jokowi yang belum selesai menghabiskan jabatannya sebagai Gubernur itu sesumbar, banjir di Jakarta lebih mudah diatasi ketika menjadi presiden.

“Seharusnya lebih mudah (mengatasi kemacetan) karena kebijakan transportasi itu harusnya tidak hanya Jakarta, tapi juga Jabodetabek. Itu seperti halnya dengan masalah banjir. Banjir tidak hanya masalah Jakarta karena 90 persen air yang menggenangi Jakarta itu justru berasal dari atas (Bogor). Semua pengelolaan 13 sungai besar yang ada di Jakarta juga semuanya kewenangan pemerintah pusat,” papar Jokowi di Balaikota Jakarta, Senin (24/3/2014).

Namun kini, setelah Jokowi menjadi Gubernur DKI Jakarta lalu naik menjadi Presiden RI terpilih, ternyata Jakarta justru dikepung banjir, seperti dirilis oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Bahkan hari ini, Istana Presiden dan Balaikota juga ikut terendam banjir.[AW/rmol, kps] Senin, 18 Rabi`ul Akhir 1436H / February 9, 2015

 

Sikap Arogan Ahok Sikapi Banjir Jakarta: Suudzon Sabotase dan Tuding PLN Sebagai Biang Kerok

JAKARTA (Panjimas.com) – Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, menjadi orang yang paling bertanggungjawab atas banjir yang mengepung Ibu Kota Jakarta.

Namun, sikap Ahok justru sangat arogan. Ia bahkan mengaku suudzon bahwa banjir di Jakarta hingga merendam ring satu, Istana Negara dan Balaikota disebabkan oleh sabotase.

“Tadi saya terbangun jam 02.00 pagi karena hujan dan langsung cek CCTV, ternyata CCTV Istiqlal mati. Saya curiga (kalau CCTV mati), pasti Istana terendam. Saya enggak tahu sabotase atau sengaja, tapi saya suudzon (berpikir negatif),” kata Ahok, di Balaikota, Senin (9/2/2015).

Setelah bersikap suudzon, Ahok juga menuding PLN sebagai biang kerok banjir di Istana Negara. Menurut Ahok, PLN tak boleh mematikan listrik demi memompa air agar banjir tak merendam Istana.

“Kamu tahu enggak kenapa (air Waduk Pluit) naik terus? PLN matikan aliran listrik di situ, makanya pompa enggak bisa jalan dan hujan turun terus, naik dong airnya. Pertanyaan saya, kenapa PLN matiin listrik di Waduk Pluit? Alasannya takut nyetrum orang, sudah banjir belum di Pluit,” ujarnya.

Padahal, PLN punya pertimbangan sendiri dalam memutuskan pemadaman listrik di sejumlah titik banjir. Dalam siaran pers yang dimuat di situs Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, PLN menyatakan memprioritaskan keselamatan masyarakat yang dilanda banjir.

Pasalnya, air merupakan salah satu konduktor listrik. Karena itu, genangan air yang terkena aliran listrik berpotensi membahayakan keselamatan manusia. Selain itu, potensi terjadinya hubungan pendek arus listrik atau korsleting juga sangat besar dalam kondisi banjir. [AW/kps, dbs]

Selasa, 19 Rabi`ul Akhir 1436H / February 10, 2015

(nahimunkar.com)