Islam Nusantara

Karena bermula dari kalimat (Islam Nusantara) ini, akan bermunculan kalimat-kalimat bahaya selanjutnya.

Dengan satu istilah Islam Nusantara maka akan berpotensi memunculkan istilah-istilah lain. Dari satu istilah tersebut maka akan muncul pemikiran boleh memiliki nabi Nusantara.

Inilah beritanya.

***

KH Misbahul Anam: Istilah Islam Nusantara Kalimat Berbahaya

KIBLAT.NET, Jakarta – Istilah Islam Nusantara dinilai sebagai sebuah kalimat yang berbahaya. Menurut Ketua Dewan Syuro Front Pembela Islam (FPI) KH Misbahul Anam, kalimat tersebut akan berpotensi merusak akidah.

“Hati-hati dengan kalimat yang sangat berbahaya ini (Islam Nusantara),” kata Misbahul dalam sebuah diskusi “Bahaya Tilawah Al-Quran Langgam Jawa” di Jakarta, Sabtu (27/06).

“Karena bermula dari kalimat ini, akan bermunculan kalimat-kalimat bahaya selanjutnya,” imbuhnya.

Misbahul Anam menambahkan bahwa dengan satu istilah Islam Nusantara maka akan berpotensi memunculkan istilah-istilah lain. Dari satu istilah tersebut maka akan muncul pemikiran boleh memiliki nabi Nusantara.

Selain itu karena orang Nusantara, lanjut Misbahul, Al-Quran tidak harus dibaca dengan bahasa Arab. Demikian juga dalam salat, dengan alasan orang Nusantara maka salat tidak harus memakai bahasa Arab. Potensi lain, akan muncul anggapan karena dasar Islam Nusantara saat salat tidak harus menghadap ke Ka’bah, dan haji tidak harus ke Mekah.

“Hati-hati, dengan kalimat yang akan bermunculan karena dimulai dengan satu kalimat yang berbahaya yang merusak akidah kita,” tandasnya.

Kampanye Islam Nusantara terus bergulis sejak ramai dibicarakan ketika dikait-kaitkan dengan munculnya bacaan tilawah langgam Jawa di Istana Negara. Saat itu bacaan Al-Quran langgam Jawa dilantunkan dalam acara peringatan Isra’ Mi’raj.

Kemudian presiden Jokowi turut menyuarakan istilah tersebut dalam Istighotsah menyambut Ramadhan dan pembukaan Munas alim ulama NU di Masjid Istiqlal, Ahad (14/06). “Islam kita adalah Islam Nusantara, Islam yang penuh sopan santun, Islam yang penuh tata krama, itulah Islam Nusantara, Islam yang penuh toleransi,” kata Jokowi kala itu.

Reporter : Imam S.

Editor: Fajar Shadiq

***

Wali Songo Tidak Menginginkan Islam Nusantara

KIBLAT.NET, Jakarta – Peneliti Budaya Jawa, Susiyanto, menilai istilah Islam Nusantara belum jelas secara definisi dan terdapat perbedaan yang jelas dengan dakwah para wali.

“Kalau dari segi definisi, Islam Nusantara itu kan sebenarnya belum jelas definisinya seperti apa,” kata Susiyanto saat dihubungi Kiblat.net, beberapa waktu lalu.

Susiyanto menambahkan bahwa saat ini banyak sekali tafsiran tentang istilah Islam Nusantara sendiri. Penafsiran-penafsiran tersebut masih simpang siur, tergantung pemikiran orang-orang yang berpendapat tentangnya.

Setelah sempat ramai diperbincangkan bersamaan dengan munculnya bacaan Al-Quran langgam jawa di Istana Negara, istilah Islam Nusantara kembali digaungkan dalam pembukaan Munas Alim-Ulama NU di Masjid Istiqlal, Ahad (14/06).

Bahkan dalam kesempatan tersebut Presiden Jokowi juga menyuarakan istilah yang sama dengan menyatakan “Islam kita adalah Islam Nusantara, Islam yang penuh sopan santun, Islam yang penuh tata krama.”

Dalam kampanyenya, orang-orang yang mengusung istilah Islam Nusantara sendiri selalu mengaitkan dengan sepak terjang Wali Songo dalam mensyiarkan Islam. Semangat dakwah para wali itulah yang kemudian seolah-olah mendorong kemunculan Islam Nusantara.

Menanggapi hal itu Susiyanto menilai bahwa ada perbedaan antara Islam Nusantara dengan dakwah para wali. Menurutnya, pada masanya Wali Songo tidak menginginkan Islam Nusantara sebagai target dakwah mereka.

“Tapi mereka itu sedang melakukan proses pengislaman Nusantara. Jadi, saya melihat ini dua hal yang berbeda,” tandasnya.

Reporter : Imam S.

Editor: Fajar Shadiq

***

Gus Hamid: Islam Nusantara Batasi Islam yang Universal Menjadi Sangat Partikular

KIBLAT.NET, Jakarta – Ketua Majelis Intelektual dan Ulama Muda Muda Indonesia Dr. Hamid Fahmi Zarkasyi menegaskan bahwa istilah Islam Nusantara harus dikoreksi. Pasalnya, istilah itu telah memberikan atribut Islam dengan sesuatu yang partikular, yang sangat membatasi Islam.

“Istilah itu (Islam Nusantara, red) istilah yang perlu dikoreksi,” kata Gus Hamid saat menjadi pembicara dalam seminar akbar bertemakan Islam dan Nusantara, Sebuah Upaya Pencerahan Negeri, yang diselenggarakan Aliansi Pemuda Islam Indonesia, Ahad (05/07) di Gedung Joeang Jakarta.

“Menjadi sangat membatasi Islam yang sangat universal itu, menjadi sangat partikular,” tegasnya.

Dia menambahkan bahwa tidak ada untungnya menjadikan Islam menjadi partikular atau terbatas. Sehingga nantinya ketika berbicara Islam di dunia internasional juga akan berbicara secara terbatas. Karena konsekuensinya ketika ada Islam Nusantara akan ada Islam yang lain seperti Islam Arab, Eropa dan sebagainya.

Pimpinan Pondok Pesantren Modern Gontor itu menjelaskan bahwa apa yang telah diterapkan di Indonesia adalah hal-hal yang universal. Salah satu contohnya adalah sikap toleransi.

“Toleransi itu ya Islam, bukan Islam Indonesia,” imbuhnya.

“Islam dibawa oleh Islam. Kenapa kita kemudian mereduksi ini gara-gara orang Indonesia,” pungkasnya.

Reporter : Imam S.

Editor: Fajar Shadiq/kiblatnet

(nahimunkar.com)

(Dibaca 2.555 kali, 5 untuk hari ini)