Oleh Hartono Ahmad Jaiz

Kalau Kementerian Agama Dihapus, untuk Apa Disedihi?

Kini lagi ramai isu akan dihapusnya kementerian agama.
Kalau toh kementerian agama dihapus, untuk apa disedihi?
Sementara itu orang yang dikenal membela Ahmadiyah agama nabi Palsu dikhabarkan akan diangkat jadi menteri yang mengurusi agama, namun orang-orang diam saja.
Dua sikap (ramai dan diam) yang sangat perlu dikritisi. Tulisan ini akan mengkritisi itu.

Benarkah Kementrian Agama Dihapus?

Diberitakan, Media Sosial dihebohkan dengan beberapa status terkait hilangnya Kementrian Agama dalam Susunan Kabinet Jokowi.
Seperti diberitakan dalam Harian Kedaulatan Rakyat Edisi 16 September 2014, disana dipaparkan susunan Kementrian pada Kabinet Presiden sekarang. Tidak nampak disana adanya Kementrian Agama, yang ada hanya Kementrian Haji Zakat dan Wakaf.
Apakah memang ada penghapusan Kementrian Agama? Apakah agama sudah mau dipisahkan dari pemerintahan?
Kita semua belum tahu tetapi jika memang nantinya susunan kabinet seperti itu maka yang diurusi terkait agama hanyalah yang memiliki potensi dana besar yaitu Haji, Zakat, dan Wakaf. Selain itu jika tidak ada Kementrian Agama maka agama-agama lain pun tidak akan memiliki naungan. Kita lihat perkembangannya kedepan… (http://nurdin212.blogspot.com/ Written By Yuk Dakwah Media on Selasa, 16 September 2014 | Selasa, September 16, 2014).

Untuk apa disedihi

Apakah sudah dianggap cukup dalam program sekularisasi, pluralisasi agama alias pemusyrikan, dan juga pemurtadan lewat pendidikan tinggi Islam di Indonesia, hingga kiprah kementerian agama akan ditiadakan?
Ya memang perguruan tinggi Islam kabarnya sudah mengurusi diri masing-masing, ibaratnya bagai otonomi masing-masing pihak. Hingga ketika kemenag dikeluhi masyarakat Islam yang menilai pendidikan tinggi Islam se-Indonesia telah keterlaluan dalam menjerumuskan mahasiswanya kepada kesesatan dan bukti-buktinya sudah sangat nyata dan terlalu,–seperti tema utama Tuhan Membusuk justru dalam rangka pengenalan mahasiswa baru di UIN Surabaya baru-baru ini–; maka masyarakat mengusulkan agar kurikulumnya harus diganti; maka cukup dapat dikilahi, bahwa kemenang sudah tidak berwewenang lagi untuk mengubahnya karena masing-masing sudah otonomi. Suatu cara lempar batu sembunyi tangan yang sangat aman, karena dulunya yang mengomandoi pemurtadan lewat kurikulum ya jelas kemenag, dan yang mengirimkan dosen-dosen perguruan tinggi Islam untuk belajar Islam ke negeri-negeri kafir Barat dsb juga kemenang / Depag. Juga dalam hal kerjasama dengan lembaga kafir luar negeri untuk menatar dosen-dosen perguruan tinggi Islam se-Indonesia ya Depag/ kemenag.

Kalau itu semua dianggap sudah cukup dalam hal menggeser Islam dari yang seharusnya (sebenarnya), menjadi Islam ala kafirin, hingga sekarang dicukupkan, maka kita tidak tahulah.

Kecuali kalau kiprah depag/kemenag itu tidak seperti tersebut namun li I’lai kalimatillah hiyal ‘ulya, maka pantas disedihi apabila akan dihapus. Sedang dunia ini saja, dalam sejarahnya justru dijatuhi azab hingga hancur lebur akibat kekafiran/ kemusyrikan penduduknya pun para Nabi-Nabi dan pengikutnya tidak menyedihinya. Bahkan masalah penghancuran yang mencengangkan pun pernah terjadi. Rumah-rumah orang kafir dihancurkan oleh tangan-tangan orang kafir itu sendiri dan tangan-tangan orang beriman pun pernah terjadi.

سَبَّحَ لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأرْضِ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيم

“telah bertasbih kepada Allah apa yang ada di langit dan bumi; dan Dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”

هُوَ الَّذِي أَخْرَجَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ مِنْ دِيَارِهِمْ لأوَّلِ الْحَشْرِ مَا ظَنَنْتُمْ أَنْ يَخْرُجُوا وَظَنُّوا أَنَّهُمْ مَانِعَتُهُمْ حُصُونُهُمْ مِنَ اللَّهِ فَأَتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ حَيْثُ لَمْ يَحْتَسِبُوا وَقَذَفَ فِي قُلُوبِهِمُ الرُّعْبَ يُخْرِبُونَ بُيُوتَهُمْ بِأَيْدِيهِمْ وَأَيْدِي الْمُؤْمِنِينَ فَاعْتَبِرُوا يَا أُولِي الأبْصَارِ

“Dia-lah yang mengeluarkan orang-orang kafir di antara ahli kitab dari kampung-kampung mereka pada saat pengusiran yang pertama[1463]. kamu tidak menyangka, bahwa mereka akan keluar dan merekapun yakin, bahwa benteng-benteng mereka dapat mempertahankan mereka dari (siksa) Allah; Maka Allah mendatangkan kepada mereka (hukuman) dari arah yang tidak mereka sangka-sangka. dan Allah melemparkan ketakutan dalam hati mereka; mereka memusnahkan rumah-rumah mereka dengan tangan mereka sendiri dan tangan orang-orang mukmin. Maka ambillah (Kejadian itu) untuk menjadi pelajaran, Hai orang-orang yang mempunyai wawasan.”

[1463] Yang dimaksud dengan ahli kitab ialah orang-orang Yahudi Bani Nadhir, merekalah yang mula-mula dikumpulkan untuk diusir keluar dari Madinah.

وَلَوْلا أَنْ كَتَبَ اللَّهُ عَلَيْهِمُ الْجَلاءَ لَعَذَّبَهُمْ فِي الدُّنْيَا وَلَهُمْ فِي الآخِرَةِ عَذَابُ النَّارِ

“dan jika tidaklah karena Allah telah menetapkan pengusiran terhadap mereka, benar-benar Allah mengazab mereka di dunia. dan bagi mereka di akhirat adzab neraka.” (QS Al-Hasyr/59: 1-3).
Ini bukan berarti mendorong agar kementerian agama itu dihapus. Tetapi agar dilihat bahwa di balik tugas dan fungsinya yang kelihatannya mulia ternyata justru dilangsungkan perusakan agama Islam secara sistematis. Dan itu sudah dikeluhkan masyarakat Muslim sejak lama, bahkan sudah ada yang dalam bentuk buku “Ada Pemurtadan di IAIN”, maksudnya adalah perguruan tinggi Islam se-Indonesia. Buku itu juga sudah dibedah di berbagai IAIN dan UIN, yang hasilnya justru ada yang lebih menyimpang dari yang diuraikan di buku. Majelis Ulama Indonesia (MUI) pun telah memfatwakan haramnya faham sepilis (sekulerisme, pluralism agama, dan liberalism) yang telah diketahui umum bahwa faham haram itu justru sarang-sarangnya ada di IAIN, UIN, STAIN, STAIS dan perguruan tinggi Islam se-Indonesia. Karena memang diprogramkan secara sistematis seperti gambaran tersebut di atas.
Dengan kenyataan seperti itu, maka walau kementerian agama masih utuh tetapi ketika manusianya yang akan duduk memimpinnya (misalnya) justru orang yang sudah dikenal membela Ahmadiyah, agama bikinan nabi palsu Mirza Ghulam Ahmad; apakah bukan musibah pula bagi Umat Islam? Padahal ada riwayat dari Abu Hurairah, pembela nabi palsu itu diancam neraka, sampai gigi gerahamnya saja sebesar gunung Uhud di neraka kelak.
Ketika seseorang menjadi pembela agama nabi palsu Mirza Ghulam Ahmad, maka berarti sekaligus menjadi berpihak kepada musuh Islam. Kalau di zaman khalifah Abu Bakar maka termasuk diperangi, karena telah memusuhi Islam dengan membela agama nabi palsu. Itulah perbuatan yang telah diancam neraka dalam hadits, bahkan ancamannya sangat keras yaitu gigi gerahamnya kelak lebih besar dibanding gunung Uhud di neraka. Dalam riwayat, pembela Nabi Palsu Musailamah Al-Kadzzab yang mati dalam perang, dan sebelumnya sudah diancam neraka ketika di hadapan Nabi Muhammad, namanya Ar-Rajjal. (lihat Al-Bidayah wan-Nihayah oleh Ibnu Katsir).
Isu akan dihapusnya kementerian agama tampaknya ramai dibicarakan orang. Sementara itu pembela agama nabi palsu akan dipilih / diangkat dalam urusan agama untuk bangsa Indonesia, tidak jadi pembicaraan ramai. Padahal dihapusnya kementerian agama yang selama ini sudah dijadikan jalur pemurtadan secara sistematis, apa perlu disedihi, untuk apa ? Sedangkan akan diangkatnya pembela agama nabi palsu jelas-jelas berbahaya. Karena seharusnya menurut Islam harus diperangi, namun justru diberi amanah untuk memimpin dan mengurusi umat.

Ingatlah, para Nabi dan pengikutnya tidak menyedihi hancurnya tempat tinggal yang dihuni oleh orang-orang yang memusuhi nabi dan kaum beriman. Sebaliknya, para sahabat Nabi dikerahkan untuk berperang melawan nabi palsu dan pembela-pembelanya.

Sikap para nabi, kaum mukminin, dan para sahabat Nabi ternyata telah jauh dan hampir tidak berbekas pada Umat Islam di Indonesia kini. Inilah yang perlu direnungkan kembali. Kenapa jadi begini.

Jakarta, Selasa 22 Dzulqa’dah 1435H/ 16 September 2014

(nahimunkar.com)

(Dibaca 744 kali, 1 untuk hari ini)