بسم الله الرحمن الرحيم

Oleh: Al Ustadz Ibnu Dzulkifli

 

I’tikaf secara syariat maknanya adalah berdiam diri di mesjid yang dilakukan oleh Individu tertentu dgn cara-cara yang khusus dgn diiringi niat.

Hukum I’tikaf adalah Mustahabah berdasarkan Al-Qur’an, Sunnah & Ijma’. Sebagaimana firman Allah ta’ala :

وَلآ تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ

Artinya : “Dan janganlah kamu menyentuh mereka, sedang kamu beri’tikaf dlm mesjid.” (QS. Al-Baqarah : 187)

Serta dari sunnah sebagaimana dlm hadits Aisyah, Ibnu Umar & Abu Sa’id Radhiyallahu’ anhum :

أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ يَعْتَكِفُ فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ.

Artinya : “Rasulullah Shalallahu ‘alahi wassallam biasa melakukan i’tikaf pada sepuluh hari yang terakhir dari bulan Ramadhan.” (Mutaffaqun Alaihi)

Dan dinukilkan Ijma’ tentang mustahabnya I’tikaf kecuali bagi yang bernadzar utk melakukan I’tikaf maka hukumnya menjadi wajib baginya utk menunaikannya. Diantara yang menukilkan ijma’ dlm permasalahan ini diantaranya : Ibnul Mundzir, Ibnu Qudamah & An-Nawawi & Ibnu Abdil Baar. Adapun I’tikaf nadzar maka wajib utk ditunaikan sebagaimana dlm hadits Ibnu Umar Radhiyallahu’ anhuma :

لَمَّا قَفَلْنَا مِنْ حُنَيْنٍ سَأَلَ عُمَرُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ نَذْرٍ كَانَ نَذَرَهُ فِي الْجَاهِلِيَّةِ اعْتِكَافٍ فَأَمَرَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِوَفَائِهِ

Artinya : “Ketika kami tiba dari perang Hunain, Umar bertanya kepada nabi Shalallahu ‘alahi wassallam tentang nadzar, Dia (umar) telah bernadzar ketika masa Jahiliyah utk melakukan I’tikaf , Maka nabi Shalallahu ‘alahi wassallam merintahkan kepada Umar utk menunaikannya” (HR. Bukhori No. 4320 & Muslim No. 1646)

Diperbolehkan utk tak menyempurnakan Itikaf, maknanya apabila seseorang berniat utk beri’tikaf selama sepuluh hari kemudian pada hari ketiga dia membatalkannya maka tak ada dosa baginya. Ini adalah pendapat Imam Ahmad & Imam As-Syafi’i. Sebagaimana Rasulullah Shalallahu ‘alahi wassallam telah membatalkan I’tikafnya  pada bulan Ramadhan & kemudian ber’tikaf pada bulan Syawal. Sebagaimana dlm hadits Aisyah :

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَعْتَكِفُ فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ فَكُنْتُ أَضْرِبُ لَهُ خِبَاءً فَيُصَلِّي الصُّبْحَ ثُمَّ يَدْخُلُهُ فَاسْتَأْذَنَتْ حَفْصَةُ عَائِشَةَ أَنْ تَضْرِبَ خِبَاءً فَأَذِنَتْ لَهَا فَضَرَبَتْ خِبَاءً فَلَمَّا رَأَتْهُ زَيْنَبُ ابْنَةُ جَحْشٍ ضَرَبَتْ خِبَاءً آخَرَ فَلَمَّا أَصْبَحَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأَى الْأَخْبِيَةَ فَقَالَ مَا هَذَا فَأُخْبِرَ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَالْبِرَّ تُرَوْنَ بِهِنَّ فَتَرَكَ الِاعْتِكَافَ ذَلِكَ الشَّهْرَ ثُمَّ اعْتَكَفَ عَشْرًا مِنْ شَوَّالٍ

Artinya : “Nabi beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan. Maka, aku membuatkan utk beliau sebuah tenda. Setelah shalat subuh, beliau masuk ke dlm tenda itu.Kemudian Hafshah meminta izin kepada Aisyah utk membuat sebuah tenda pula, maka Aisyah mengizinkannya. Kemudian Hafshah membuat tenda. Ketika Zainab binti Jahsy melihat tenda itu, maka ia membuat tenda yang lain. Ketika hari telah subuh, Nabi melihat tenda-tenda itu Lalu, Nabi bertanya, ‘ apa ini?’ Maka, beliau diberitahu Lalu, Nabi bersabda, Bagaimanakah sebaiknya menurut pikiran kamu mengenai mereka? ‘ Lalu, beliau menghentikan i’tikafnya dlm bulan itu. Kemudian beliau beri’tikaf pada sepuluh hari (terakhir) bulan Syawal.” (HR. Bukhori No. 2033 Muslim No. 1173)

Dan boleh melakukan I’tikaf di luar bulan Ramadhan sebagaimana Rasulullah Shalallahu ‘alahi wassallam dlm hadits ini melakukan I’tikaf di bulan Syawal. Dan tak disyaratkan harus berpuasa ketika melakukannya kecuali apabila dia bernadzar utk melakukan I’tikaf dlm keadaan berpuasa . Ini adalah pendapat Ibnu Abbas, Ibnu Musaayib, Umar Bin Abdul Aziz, As-Syafi’i,Ibnul Mundzir,Ishaq & satu riwayat yang terkenal dari Ahmad Rahimahumumullah .

Disyaratkan beri’tikaf pada mesjid-mesjid yang ditegakkan padanya sholat Jama’ah sehingga tak perlu keluar dari mesjidnya tempat beri’tikaf utk menghadiri Sholat Jama’ah. Ini Adalah pendapat Abu Hanifah, Ahmad & Ishaq & Abu Tsaur Rahimahumullah .

Dan bagi para wanita tak sah melakukan I’tikaf kecuali di mesjid sehingga tak boleh melakukannya di dlm rumah atau kamar, ini adalah pendapat Ahmad & As-Syafi’i. Sebagaimana  dlm hadits Aisyah Radhiyallahu’ anhu yang baru saja lewat .

Dan tak ada batasan waktu paling sedikit utk melakukan I’tikaf, I’tikaf sah walaupun dilaksanakan beberapa saat dgn diiringi niat tentunya. Ini adalah pendapat As-Syafi’i, Dawud & satu riwayat dari Ahmad & pendapat ini yang dipilih oleh Ibnul Mundzir Rahimahumullah.

Dan berdasarkan Ijma’ boleh bagi orang yang beri’tikaf utk keluar dari mesjid utk kencing & buang hajat. Dinukilkan Ij’ma dlm permasalahan ini oleh lebih dari satu ulama diantaranya adalah Ibnul Mundzir & Ibnu Qudamah Rahimahumallah. Adapun keluar dari mesjid utk perrkara-perkara yang dia butuh kepadanya seperti makan & minum, maka diperbolehkan apabila tak ada yang mengantarkan kepadanya. Sebagaimana dlm hadits Aisyah Radhiyallahu’ anha :

وَكَانَ لا يَدْخُلُ الْبَيْتَ إِلآ لِحَاجَةٍ إِذَا كَانَ مُعْتَكِفًا

Artinya : “Dan apabila beliau beri’tikaf, maka beliau tak masuk ke dlm rumah kecuali apabila memiliki keperluan.” (HR. Bukhori No. 2029 & Muslim No. 297)

Begitu juga boleh utk keluar dari mesjid dlm rangka menunaikan sesuatu yang wajib, misalkan seseorang melakukan I’tikaf di mesjid yang tak ditegakkan sholat Jum’at maka boleh baginya utk keluar menuju mesjid yang ditegakkan di dalamnya sholat Jum’at.

Apabila keluar dari Mesjid tanpa adanya kebutuhan maka i’tikafnya menjadi batal walaupun hanya sebentar, Ini adalah pendapat Imam Madzhab yang empat.

Adapun apabila yang keluar dari mesjid hanya sebagian anggota tubuhnya saja, maka tak mengapa . Sebagaimana dlm hadits Aisyah Radhiyallahu’ anha :

كَانَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- إِذَا اعْتَكَفَ يُدْنِى إِلَىَّ رَأْسَهُ فَأُرَجِّلُهُ وَأَنَا حَائِضٌ.

Artinya : “ Rasulullah Shalallahu ‘alahi wassallam apabila beliau beri’tikaf, beliau memasukkan kepalanya kepadaku [1] maka kemudian aku menyisir rambut beliau” (HR. Bukhari No. 2031 & Muslim No. 297)

Bagi yang ingin melakukan I’tikaf pada 10 hari bulan Ramadhan, maka I’tikafnya dimulai ketika terbenamnya matahari pada tanggal 20 Ramadhan, Ini adalah pendapat ulama-ulama madzhab yang empat & pendapat beberapa ulama & pendapat ini yang dikuatkan oleh Syaikh Muqbil bin Hady Rahimahullah . Karena hari dimulai dgn terbenamnya matahari sebagaimana sholat tarawih yang tak dilaksanakan kecuali pada bulan Ramadhan dilaksanakan pada malam setelah terbenamnya matahari di hari terakhir bulan sya’ban, ini dalil yang menunjukkan bahwa hari dimulai pada terbenamnya matahari.

Dan selesai I’tikaf pada terbenamnya matahari pada hari terakhir bulan Ramadhan (malam Ied) . Ini adalah pendapat As-Syafi’i & Al-Auza’i Rahimahumullah .

Dan tak disyariatkan utk menempuh perjalanan jauh utk berziarah ke mesjid tertentu tanpa memiliki tujuan lainnya, Hal ini berdasarkan kesepakatan Imam madzhab yang empat. Dan dikecualikan pada 3 mesjid, sebagaimana dlm hadits Abu Hurairah Radhiyallahu’ anhu , Rasulullah Shalallahu ‘alahi wassallam bersabda :

لا تُشَدُّ الرِّحَالُ الا إِلَى ثَلاثَةِ مَسَاجِدَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَمَسْجِدِ الرَّسُولِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَسْجِدِ الْأَقْصَى

Artinya : ”Dan tidaklah bersusah payah melakukan perjalanan jauh kecuali ke tiga Mesjid : Masjidil Al-Haram, Mesjid Rasul (Mesjid Nabawi)  dan Mesjid Al-Aqsha” (HR. Bukhori 1189 & Muslim No. 3384)

Sumber: assamarindy.com

sumber: www.mediasalaf.com

http://www.blogsoto.com/itikaf-bulan-ramadhan-34.htm

***

Penjelasan penting masalah i’tikaf

Mohon dijelaskan tentang iktikaf (i’tikaf), rukun, syarat, pembatal, dan kapan memulainya. Terima kasih.

Jawaban pertanyaan seputar i’tikaf (iktikaf)

I’tikaf adalah ‘tinggal di masjid dengan niat tertentu dan dengan tata cara tertentu’. Tempat i’tikaf: di masjid yang digunakan untuk shalat berjemaah, meskipun tidak digunakan untuk jumatan seperti mushalla.

Allah berfirman,

 وَلا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ

yang artinya, “Janganlah kalian melakukan hubungan suami-istri ketika kalian sedang i’tikaf di masjid ….” (Q.s. Al-Baqarah:187)

Imam Al-Bukhari membuat judul bab “Bab (anjuran) i’tikaf di sepuluh hari terakhir dan (boleh) i’tikaf di semua masjid“. (Shahih Bukhari, 7:382)

Kapan memulai i’tikaf (iktikaf)?

Dianjurkan untuk memulai i’tikaf di malam tanggal 21 setelah magrib, kemudian mulai masuk ke tempat khusus (semacam tenda atau sekat) setelah subuh pagi harinya (tanggal 21 Ramadan).

Dari Aisyah radhiallahu ‘anha; beliau mengatakan, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadan. Aku membuatkan tenda untuk beliau. Lalu beliau shalat subuh kemudian masuk ke tenda i’tikafnya.” (H.r. Al-Bukhari dan Muslim)

Rukun i’tikaf (iktikaf)

  1. Niat. Letak niat itu di hati dan tidak boleh dilafalkan. Sebatas keinginan untuk itikaf itu sudah dianggap berniat untuk i’tikaf.
  2. Dilakukan di masjid, baik masjid untuk jumatan maupun yang tidak digunakan untuk jumatan.
  3. Menetap di masjid.

Pembatal i’tikaf (iktikaf)

  1. Hubungan biologis dan segala pengantarnya.
  2. Keluar masjid tanpa kebutuhan.
  3. Haid dan nifas.
  4. Gila atau mabuk.

Yang diperbolehkan ketika i’tikaf (iktikaf)

  1. Keluar masjid karena kebutuhan mendesak, seperti: makan, buang hajat, dan hal lain yang tidak mungkin dilakukan di dalam masjid.
  2. Mengeluarkan sebagian anggota badan dari masjid.
  3. Makan, minum, tidur, dan berbicara.
  4. Wudhu di masjid.
  5. Bermuamalah dan melakukan perbuatan (selain ibadah) di masjid, kecuali jual beli.
  6. Menggunakan minyak rambut, parfum, dan semacamnya.

Yang dimakruhkan ketika i’tikaf (iktikaf)

  1. Menyibukkan diri dengan kegiatan yang tidak bermanfaat, baik ucapan maupun perbuatan.
  2. Tidak mau berbicara ketika i’tikaf (iktikaf), dengan anggapan itu merupakan bentuk ibadah. Perbuatan ini termasuk perbuatan yang tidak ada tuntunannya.

Mandi ketika i’tikaf (iktikaf)

Syekh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin mengatakan bahwa hukum mandi ketika i’tikaf dibagi menjadi tiga:

  1. Wajib, yaitu mandi karena junub.
  2. Boleh, yaitu mandi untuk menghilangkan bau badan dan kotoran yang melekat di badan.
  3. Terlarang, yaitu mandi sebatas untuk mendinginkan badan. (Majmu’ fatawa wa Rasail Ibnu Utsaimin, 20:178)

I’tikaf (iktikaf) bagi wanita

  1. Diperbolehkan bagi wanita untuk melakukan i’tikaf bersama suaminya atau sendirian, dengan syarat: ada izin dari walinya (suami atau orang tuanya) serta aman dari fitnah atau berdua-duaan dengan laki-laki. ‘Aisyah radhiallahu ‘anha mengatakan, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan i’tikaf pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadan sampai Allah merwafatkan beliau. Kemudian para istri beliau beri’tikaf setelah beliau meninggal.” (H.r. Al-Bukhari dan Muslim)
  2. Diperbolehkan bagi wanita mustahadhah untuk melakukan i’tikaf. Dari ‘Aisyah radhiallahu ‘anha; beliau mengatakan, “Salah seorang istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sedang istihadhah beri’tikaf bersama beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Terkadang wanita ini melihat darah kekuningan dan darah kemerahan ….” (H.r. Al-Bukhari)

Batasan “dianggap telah keluar masjid”

Orang yang i’tikaf dianggap keluar masjid jika dia keluar dengan seluruh badannya. Jika orang i’tikaf hanya mengeluarkan sebagian badannya maka tidak disebut keluar masjid.

‘Aisyah radhiallahu ‘anha mengatakan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memasukkan kepala beliau ke ruanganku ketika aku berada di dalam, kemudian aku menyisir rambut beliau, sedangkan aku dalam kondisi haid.” (H.r. Al-Bukhari dan Muslim)

Catatan: Pintu ruangan Aisyah mepet dengan Masjid Nabawi.

Allahu a’lam.

***

Disusun oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasi Syariah)
Artikel www.KonsultasiSyariah.com

(nahimunkar.com)

(Dibaca 505 kali, 1 untuk hari ini)