• Bersaing-saing atau bermegah-megah tentang dunia, sangat dikhawatirkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Silakan simak ini.

***

Jadi Menteri Agama, Kekayaan Yaqut Meningkat 10 Kali Lipat


Yaqut Cholil Qoumas

JAKARTA – Kekayaan Yaqut Cholil Qoumasmeningkat drastis saat menjabat sebagai Menteri Agama dalam Kabinet Indonesia Maju. Tak tanggung-tanggung, pertambahan harta pria yang karib disapa Gus Yaqut itu sebanyak 10 kali lipat.

Hal ini terungkap berdasarkan Laporan Harta KekayaanPenyelenggara Negara (LHKPN) yang diakses pada laman elhkpn.kpk.go.id pada Senin (13/9).

Pada LHKPN pelaporan 31 Desember 2018 atau semasa menjabat sebagai anggota DPR, Gus Yaqut tercatat memilikikekayaan sebesar Rp936 juta.

Namun, pada LHKPN pelaporan 31 Desember 2020,kekayaannya meningkat jadi Rp11,15 miliar.

Kekayaan Gus Yaqut meliputi enam aset tanah dan bangunan yang tersebar di Rembang dan Jakarta Timur. Nilainya mencapai Rp9,32 miliar.

Selain itu, politikus PKB itu juga memiliki dua mobil, yakni Mazda CX-5 tahun 2015 dan Mercedes-Benz keluaran 2018. Nilainya mencapai Rp1,27 miliar.

Di sisi lain, Gus Yaqut juga memiliki harta bergerak lainnya senilai Rp220 juta. Lalu, kas dan setara kas Rp646 juta.

Dengan begitu, total kekayaan Gus Yaqut mencapai Rp11.458.093.639. Akan tetapi, ia tercatat memiliki utang sebesar Rp300 juta. (fin)

FAJAR.CO.ID, fajarNEWS Hamsah umar

Senin, 13 September 2021 20:28

***

Bersaing-saing atau bermegah-megah tentang dunia, sangat dikhawatirkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Para Sahabat Nabi yang sangat teguh imannya, tidak dikhawatirkan kembali ke kemusyrikan, tapi dikhawatirkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan bersaing-saingan untuk bermegah-megah dalam kekayaan dunia.

 

 Kondisi keimanan, ketakwaan, dan ketauhidan pra sahabat Nabi begitu kuat mengakar dalam hatinya, sehingga cahaya tauhid yang terpancar menghalau kegelapan kabut hitam kesyirikan. Inilah kondisi yang digambarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang ketauhidan para sahabatnya. Beliau bersabda,

مَا أَخَافُ عَلَيْكُمْ أَنْ تُشْرِكُوا بَعْدِى وَلَكِنْ أَخَافُ عَلَيْكُمْ أَنْ تَتَنَافَسُوا فِيهَا

“Aku tidak mengkhawatirkan kalian (wahai para sahabat) melakukan kesyirikan kembali sepeninggalku, tetapi aku khawatirkan kalian akan bermegah-megah dalam kekayaan dunia.” (Shahih al-Bukhari no. 1279).

 

Bagaimana pula di saat umat tidak lagi kuat keimanannya, bahkan dikhawatirkan bercampur dengan kemusyrikan, lalu bersaing-saingan untuk kekayaan dunia?

Apalagi yang tersisa dalam agamanya?

Betapa ruginya, bila agama bukan jadi tuntunan dalam menjalani hidup untuk keselamatan di akherat, malahan jadi tunggangan untuk mengais-ngais kekayaan dunia belaka. Dan lebih sangat celaka lagi bila agamanya dijual untuk kekayaan dunia. Sampai-sampai lebih cenderung membela kekafiran yang dibenci Allah Ta’ala daripada membela agama Allah Ta’ala, misalnya. Aneh tapi bisa tampak nyata!

Na’udzubillahi min dzalik! Kami berlindung kepada Allah Ta’ala dari hal yang demikian (buruknya)!

(nahimunkar.org)

(Dibaca 103 kali, 1 untuk hari ini)