By Al Furqon on March 8, 2013

buda srilangka_8624523749432

KEKHAWATIRAN akan terus mendapat serangan dari kelompok nasionalis Buddha serta semakin maraknya sikap anti Islam kelompok Buddha radikal ditambah kurang tegasnya pemerintah Sri Lanka melindungi mereka, umat Islam Sri Lanka mengadukan nasib mereka dengan menulis surat kepada PBB.

“Setelah kekalahan Macan Pembebasan Tamil Ealam, kaum Muslimin Sri Lanka melihat adanya kesempatan untuk mewujudkan persatuan nasional pada saat negara berada dalam masa transisi,” kata isi surat Aliansi Muslim Nasional Tamil yang dikirim ke Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki Moon dan dikutip oleh surat kabar Colombo Gazette.

“Namun kami kecewa melihat pemerintah Sri Lanka yang gagal memahami serta menangkap tren saat ini yang jika terus dibiarkan akan menjadi bencana bagi negara yang juga menjadi rumah kami,” tambah surat itu.

Aliansi Muslim Nasional Tamil, yang dipimpin oleh politisi Muslim Azath Salley, khawatir dengan munculnya kelompok kontroversial yang dikenal sebagai “Bodu Bala Sena”, atau Pasukan Buddha, yang dituduh menghasut serangan terhadap umat Islam Sri Lanka.

Surat yang dikirim ke PBB bersamaan dengan kelompok Muslim yang lain bernama “Forum Jumat” meminta pemerintah Sri Lanka untuk segera mengambil langkah-langkah yang solid demi menghentikan meningkatnya serangan kelompok fasis-nasionalis yang ada di negara itu.

“Forum Jumat mendesak Anda untuk segera bertindak tegas melawan kampanye kebencian anti-Muslim yang semakin marak diluncurkan oleh kelompok-kelompok ekstremis yang mengaku mewakili masyarakat mayoritas Sinhala,” kata Forum Jumat dalam surat yang ditujukan kepada Presiden Mahinda Rajapaksa dan dikutip oleh Lanka Business Online.

“Negara ini telah menyaksikan serangan terhadap masjid, dan adanya hinaan di media sosial, poster publik dan-situs web, pesan-pesan cabul yang bersifat mengutuk serta menyinggung keyakinan agama.

“Kita semua menyaksikan adanya demonstrasi anti-Muslim publik termasuk seruan untuk memboikot perusahaan bisnis Muslim.”

Kelompok ini menyebut serangan sebelumnya oleh umat Buddha nasionalis telah memicu perang 30-tahun yang berakhir pada tahun 2009.

“Kemungkinan kekerasan terhadap komunitas tertentu, dan bahayanya pembersihan etnis sangat nyata terjadi,” tulis Forum Jumat.

“Kengerian tahun 1983 terkait kerusuhan etnik mengingatkan kita bagaimana kehidupan manusia dan keamanan pribadi bisa tidak berarti apa-apa ketika ada hasutan untuk melakukan kekerasan komunal dan kebencian.

“Kampanye kebencian pasti menghasilkan perasaan yang mendalam dari rasa takut dan kerentanan di antara anggota masyarakat yang menjadi target, sehingga menimbulkan psikosis ketakutan.

“Situasi seperti tidak hanya sangat merugikan masyarakat itu, tetapi juga mengilhami seluruh masyarakat dengan kecurigaan dan kecenderungan untuk melakukan kekerasan komunal.”

Muslim Sri Lanka, yang dikenal sebagai “Moor”, adalah kelompok etnis terbesar ketiga di negara itu setelah Sinhala, yang membentuk 70 persen dari rakyat, dan Tamil, yang mencapai 12,5 persen.

Para pengamat mengatakan pemerintah berada di bawah tekanan mayoritas umat Buddha jika terjadi benturan etnis.

Selama perang sipil yang panjang di negara itu, komunitas Muslim sering terjebak di antara dua pihak yang bertikai dan memiliki reputasi untuk menjadi penengah.(fq/islampos/onislam)

(nahimunkar.com)

(Dibaca 444 kali, 1 untuk hari ini)