Jakarta Mulai PSBB, Ini 7 Aktivitas Warga yang Dibatasi

  • Kegiatan pernikahan akan dilaksanakan di kantor urusan agama, sementara resepsi ditiadakan.

Jakarta – 

Pemprov DKI Jakarta resmi menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) hari ini. Sejumlah aktivitas warga pun dibatasi selama PSBB diterapkan guna mencegah penyebaran virus Corona (COVID-19).

“Pembatasan Sosial Berskala Besar adalah pembatasan kegiatan tertentu penduduk dalam suatu wilayah yang diduga terinfeksi Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) sedemikian rupa untuk mencegah kemungkinan penyebaran Corona Virus Disease 2019 (COVID-I9),” demikian bunyi Pasal 1 Permenkes No 9 Tahun 2020 tentang Pedoman PSBB, seperti dikutip detikcom, Selasa (7/4/2020).

Adapun aktivitas warga yang dibatasi, sebagaimana diatur dalam Pasal 13 yakni:

1. Kegiatan sekolah

Selama PSBB, maka Pemprov DKI harus melakukan peliburan sekolah. Yang dimaksud dengan peliburan sekolah adalah penghentian proses belajar mengajar di sekolah dan menggantinya dengan proses belajar mengajar di rumah dengan media yang paling efektif.

Tak hanya sekolah, lembaga pendidikan, pelatihan, penelitian, pembinaan dan lembaga sejenisnya juga diharuskan menjalankan proses pembelajaran melalui media yang paling efektif. Namun, peliburan itu dikecualikan bagi lembaga pendidikan, pelatihan, penelitian yang berkaitan dengan pelayanan kesehatan.

2. Kegiatan Tempat Kerja

Tempat kerja juga diliburkan saat PSBB. Proses bekerja di kantor akan dibatasi dan diganti dengan proses bekerja di rumah/tempat tinggal atau work from home, sehingga produktivitas pekerja tetap terjaga.

Namun, ada sejumlah tempat kerja yang dikecualikan, dengan tetap memperhatikan jumlah minimum karyawan. Hal itu sebagaimana diatur dalam Pasal 13 ayat 3 yang berbunyi:

“Peliburan sekolah dan tempat kerja sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dikecualikan bagi kantor atau instansi strategis yang memberikan pelayanan terkait pertahanan dan keamanan, ketertiban umum, kebutuhan pangan, bahan bakar minyak dan gas, pelayanan kesehatan, perekonomian, keuangan, komunikasi, industri, ekspor dan impor, distribusi, logistik, dan kebutuhan dasar lainnya.”

 

3. Kegiatan Keagamaan

Selama PSBB, kegiatan keagamaan juga dibatasi. Semua tempat ibadah akan ditutup untuk umum.

Warga diminta untuk melakukan kegiatan keagamaan di rumah dan dihadiri keluarga terbatas, dengan menjaga jarak setiap orang. Selain itu, tak boleh lebih dari 20 warga yang diperbolehkan menghadiri pemakaman orang yang meninggal bukan karena COVID-19.

4. Kegiatan di Tempat atau Fasilitas Umum

Kegiatan warga di tempat atau fasilitas umum juga dibatasi saat PSBB. Pembatasan itu dilakukan dalam bentuk pembatasan jumlah orang dan pengaturan jarak orang.

Namun, ada sejumlah fasilitas umum yang dikecualikan. Kendati begitu, pengecualian tersebut dilaksanakan dengan tetap memperhatikan pembatasan kerumunan orang serta berpedoman pada protokol dan peraturan perundang-undangan.

Berikut fasilitas umum yang dikecualikan:

1. Supermarket, minimarket, pasar, toko atau tempat penjualan obat-obatan kebutuhan pangan, dan barang peralatan medis kebutuhan pokok, barang penting, bahan bakar minyak, gas, dan energi. 
2. Fasilitas layanan kesehatan, seperti rumah sakit, apotek, klinik, dan lainnya. 
3. Hotel, tempat penginapan (homestay), pondokan dan motel, yang menampung wisatawan dan orang-orang yang terdampak akibat COVID-19, staf medis dan darurat, awak udara dan laut.
4. Perusahaan yang digunakan/diperuntukkan untuk fasilitas karantina.
5. Fasilitas umum untuk kebutuhan sanitasi perorangan.
6. Tempat atau fasilitas umum untuk pemenuhan kebutuhan
dasar penduduk lainnya termasuk kegiatan olah raga.

5. Kegiatan Sosial dan Budaya

Saat PSBB diterapkan, warga juga dilarang melakukan kegiatan sosial dan budaya yang berpotensi menimbulkan kerumunan. Pembatasan itu berpedoman pada pandangan lembaga adat resmi yang diakui pemerintah dan peraturan perundang-undangan.

Pembatasan kegiatan sosial dan budaya itu termasuk semua perkumpulan atau pertemuan politik,
olah raga, hiburan, akademik, dan budaya.

Baca juga:Langit Biru Jakarta, Dampak Lengangnya Aktivitas Akibat Corona

6. Kegiatan di Moda Transportasi

Saat PSBB, meski semua layanan transportasi udara, laut, kereta api, jalan raya (kendaraan umum/pribadi) masih diizinkan beroperasi, namun jumlah penumpang akan dibatasi. Selain itu, jarak aman antar penumpang juga wajib diterapkan.

7. Kegiatan terkait Aspek Pertahanan dan Keamanan

Aktivitas warga terkait aspek pertahanan dan keamanan juga akan dibatasi. Namun, hal itu dikecualikan untuk kegiatan operasi militer dan operasi kepolisian.

PSBB ini akan berlaku selama masa inkubasi terpanjang yakni 14 hari. Namun, PSBB dapat diperpanjang jika masih terdapat bukti penyebaran.

Marlinda Oktavia Erwanti – detikNews

Selasa, 07 Apr 2020 16:05 WIB

***

Pelaksanaan PSBB di DKI Jakarta mulai 10 April 2020 dan berlaku selama 14 hari


Foto berita inspiratif

Pelaksanaan PSBB di DKI Jakarta sendiri akan dimulai pada 10 April 2020 dan berlaku selama 14 hari, sesuai surat keputusan Kementerian Kesehatan. Lamanya masa PSBB bisa diperpanjang melihat situasi dan kondisi.

Anies mengatakan, secara prinsip selama ini DKI Jakarta sudah melaksanakan pembatasan-pembatasan itu, mulai dari seruan bekerja di rumah, menghentikan belajar-mengajar di sekolah dan mengalihkan di rumah, kemudian menghentikan kegiatan ibadah di rumah ibadah dan menjadikannya di rumah, serta pembatasan transportasi.

“Semua sudah kita lakukan tiga minggu terakhir ini,” kata Anies di Balai Kota, Selasa (7/4/2020).

Namun bedanya, pada 10 April 2020 nanti, warga Jakarta akan terikat pada aturan. Karena, akan disusun peraturan yang memiliki komponen penindakan.

“Kita harap pembatasan bisa ditaati dan pesan bagi semua bahwa ketaatan kita untuk membatasi akan pengaruhi kemampuan mengendalikan virus Corona,” ujar Anies.

Pada penerapan PSBB, kata Anies, pada prinsipnya akan dilaksanakan seperti sebelumnya, yaitu kegiatan belajar dan bekerja di rumah, fasilitas umum ditutup baik milik pemerintah maupun swasta. Kemudian, kegiatan sosial budaya akan dibatasi. Meski demikian, kegiatan pernikahan akan dilaksanakan di kantor urusan agama sementara resepsi ditiadakan.

 

Anies juga akan membatasi operasional transportasi umum di Jakarta. Mulai jumlah penumpang hingga jam operasional.

“Jam operasinya dari jam 6 pagi hingga jam 6 sore. Ini berlaku untuk semua kendaraan umum yang beroperasi di Jakarta,” kata Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan di Balai Kota, Jakarta, Selasa ( 7/4/2020).

Anies menambahkan, secara praktiknya, transportasi umum tersebut akan dikurangi 50 persen dari jumlah penumpangnya. Tiap armada tidak diperkenankan mengangkut penumpang secara penuh.

“(Penumpang) Bus dikurangi 50 persen. Misalnya satu bus 50 orang, maka tinggal 25 penumpang dalam bus. kita tidak mengizinkan penuh,” ujar Anies.

Namun, Anies tak mengatur soal larangan kendaraan pribadi keluar-masuk DKI.

“Kendaraan pribadi tidak ada larangan, yang kita atur adalah kendaraan umum, tetapi harus ada phyisical distancing, artinya jumlah penumpang kendaraan dibatasi,” ujar Anies, Selasa (7/4).

Untuk transportasi alternatif seperti ojek online hanya boleh beroperasi untuk jasa pengiriman. Sementara untuk mengangkut penumpang, Anies belum memberikan aturan dengan jelas. Sebab, kata dia, poin-poin aturan mengenai PSBB hingga kini masih dalam tahap penyelesaian.

“(Ojek online) untuk deliver barang confirm boleh, kendaraan roda empat bawa penumpang boleh,” ujarnya.

Selain itu, Anies juga melarang warga berkumpul lebih dari lima orang.

“Saat PSBB dilaksanakan, tidak boleh ada kerumunan di atas 5 orang. Bagi yang melanggar, Pemprov akan menindak tegas,” jelas Anies./ lptn6

 
 

(nahimunkar.org)

(Dibaca 443 kali, 1 untuk hari ini)