Disertasi doctor yang ditulis Jalaluddin Rakhmat ternyata mengutip Kitab Ibnu Hazm, al-Ihkam fi Ushul al-Ahkam, namun secara curang Jalal membuang teks yang menyatakan kafirnya ghulat (syiah) Rafidhah. Sehingga kutipannya dari kitab Ibnu Hazm itu dipotong- potong, tanpa menyertakan kafirnya ghulat (syiah) Rafidhah.

Menurut Dr. Hamzah Harun (salah satu Tim Penguji) atas Disertasi Jalaluddin Rakhmat, Kang Jalal membuang beberapa redaksi untuk menggiring pemahamannya.

Inilah teksnya secara utuh, namun sebagian dibuang oleh Jalaluddin Rakhmat, di sini yang huruf miring inilah yang dia buang.

ولو أن امرأ قال لا نأخذ إلا ما وجدنا في القرآن لكان كافرا بإجماع الأمة ولكان لا يلزمه إلا ركعة ما بين دلوك الشمس إلى غسق الليل وأخرى عند الفجر لأن ذلك هو أقل ما يقع عليه اسم صلاة ولا حد للأكثر في ذلك

 وقائل هذا كافر مشرك حلال الدم والمال وإنما ذهب إلى هذا بعض غالية الرافضة ممن قد اجتمعت الأمة على كفرهم وبالله تعالى التوفيق( الإحكام لابن حزم (2/ 208)

[ الإحكام لابن حزم – ابن حزم ]

الكتاب : الإحكام في أصول الأحكام

المؤلف : علي بن أحمد بن حزم الأندلسي أبو محمد

الناشر : دار الحديث – القاهرة

عدد الأجزاء : 8

الطبعة الأولى ، 1404

(dari Maktabah Syamilah)

Artinya: Seandainya seseorang berkata, kami tidak mengambil kecuali apa yang kami temukan di dalam Al-Qur’an pastilah dia kafir dengan ijma’ umat, dan pastilah dia (menganggap) tidak diwajibkan baginya kecuali satu raka’at (saja) antara sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (waktu) lainnya ketika fajar (shubuh) karena hal itu adalah minimal apa yang terletak padanya nama shalat dan tidak ada batasan (raka’at) untuk maksimal dalam hal itu.

Dan orang yang berkata ini adalah kafir musyrik halal darah dan hartanya, dan yang berpendapat (seperti) ini hanyalah sebagian kelompok ekstrim (syiah) Rafidhah dimana umat (Islam) telah sepakat atas kekafiran mereka. Wabillahi Ta’ala attaufiq. (Kitab al-Ihkam fi Ushul al-Ahkam, Ibnu Hazm, Juz 2, hal. 80, Dar al-Afaaq al-Jadidah, Beirut. Bisa juga dilihat di Maktabah Syamilah).

Demikianlah kecurangan Jalaluddin Rakhmat yang dikritik oleh Dr. Hamzah Harun salah seorang penguji disertasi Jalal. Kritikan itu di antaranya dimuat oleh situs Lppimakassar.com.

Beginilah cara Jalaluddin Rakhmat dalam mendakwahkan ajarannya. Sangat jauh dari akhlak seorang intelektual. Di mana Tokoh Syiah ini ketahuan memotong perkataan seorang ulama sampai dua kali. Dan itu terjadi di hadapan forum akademik yang sangat terhormat. Sungguh memalukan.

Berita selengkapnya dari lppimakassar.com (bukan yang palsu, lppimakassar.net) sebagai berikut.

***

Kecurangan Ilmiah Doktoral Jalaluddin Rakhmat: Abu Bakar dan Umar Kafir dan Halal darahnya!

Artikel ini merupakan bagian kedua dari serial tulisan yang mengungkap Kecurangan Ilmiah dalam Disertasi Doktoral Jalaluddin Rakhmat. Hal ini tidak lain untuk semakin membuka mata kita bahwa agen-agen perusak aqidah umat, seperti Jalaluddin Rakhmat ini, tidak sungkan-sungkan untuk memakai cara-cara yang jauh dari Akhlakul Karimah demi untuk mencapai tujuannya. Menyesatkan umat.

LPPI gadungan (lppimakassar.net) menurunkan tanggapan atas artikel pertama kami dengan menyebut bahwa Jalaluddin Rakhmat telah dinyatakan lulus setelah ketiga Tim Penguji membubuhkan tanda tangan mereka. Padahal dalam artikel itu kami tidak menyebut Jalaluddin Rakhmat lulus atau tidak lulus. Yang kami lakukan hanya mengutip dan mempublish isi dari seminar hasil doktral tersebut. Titik.

Kami hanya ingin agar umat tahu, “begini loh cara ustadz besar Syiah dalam mendakwahkan ajarannya.” yang sangat jauh dari akhlak seorang muslim, apatah lagi sebagai seorang ustadz besar di kalangan mereka.

Dan seperti biasanya, lagi-lagi mereka menampilkan klarifikasi dari sumber yang antah berantah. Tidak jelas. Tidak valid. Dan menjadi kabar yang meragukan.

Berikut ini isi komentar selanjutnya dari Dr. Hamzah Harun (salah satu Tim Penguji) atas Disertasi Jalaluddin Rakhmat,

Kemudian saya sebutkan tadi terjadi tahmilun nash lima la yahtamil (menggiring teks pada yang bukan maksudnya). Apa kesimpulannya setelah mengemukakan itu semua? Disini dikatakan, “Apa yang dilakukan sahabat besar itu, membakar kitab-kitab sunnah  dan melarang meriwayatkan sunnah sangat sulit untuk kita fahami apapun alasan yang mereka kemukakan. Bisakah kita membenarkan tindakan mereka? betulkah cukup bagi kita untuk menggunakan Al-Qur’an saja?” saya kira itu kesimpulan yang sangat lain. karena seperti yang saya katakan tadi, hadis-hadis itu tidak bisa dibawa pada pemahaman seperti itu.

Pada halaman tujuh, untuk memperkuat hasil analisisnya itu Kang Jalal mengutip, 400 tahun kemudian Ibnu Hazm menjawab pertanyaan itu,

ولو أن امرأ قال لا نأخذ إلا ما وجدنا في القرآن لكان كافرا بإجماع الأمة وقائل هذا كافر مشرك حلال الدم والمال

(Jika ada seseorang yang mengatakan kami tidak mengambil kecuali apa yang kami dapati dalam Al-Quran, maka ia telah kafir dengan ijma’ umat. Dan seorang berkata ini kafir, musyrik, halal darah dan hartanya)

Nah, saya sebenarnya setelah membuka, ternyata apa yang dikatakan oleh Ibnu Hazm disini sebenarnya tidak seperti apa yang difahami oleh Kang jalal. Bahkan Kang Jalal membuang beberapa redaksi untuk menggiring pemahamannya seperti itu

ولو أن امرأ قال لا نأخذ إلا ما وجدنا في القرآن لكان كافرا بإجماع الأمة

ada sambungannya

ولكان لا يلزمه إلا ركعة ما بين دلوك الشمس إلى غسق الليل وأخرى عند الفجر لأن ذلك هو أقل ما يقع عليه اسم صلاة ولا حد للأكثر في ذلك

(Dan tidak mengharuskannya kecuali satu rakaat antara tergelincirnya matahari sampai gelapnya malam dan waktu lain saat fajar karena itulah arti shalat yang paling minimal dan tidak ada batasan untuk banyaknya)

baru sampai kepada

وقائل هذا كافر مشرك حلال الدم والمال

dipotong lagi

وإنما ذهب إلى هذا بعض غالية الرافضة ممن قد اجتمعت الأمة على كفرهم

(Dan yang berpendapat seperti ini adalah sebagian Ghulat Rafidhah dimana umat telah bersepakat atas kekafiran mereka)

*teks berwarna merah adalah redaksi yang dipotong oleh Jalaluddin Rakhmat, bisa dilihat pada Kitab al-Ihkam fi Ushul al-Ahkam, Ibnu Hazm, Juz 2, hal. 80, Dar al-Afaaq al-Jadidah, Beirut. Bisa juga dilihat di Maktabah Syamilah.

Jadi sebenarnya perkataan Ibnu Hazm ini bukan tentang Abu Bakar dan Umar, tapi sebenarnya yang dimaksud disini adalah inkarus sunnah (golongan penolak sunnah Nabi) seperti yang dikatakan tadi bahwa ketika ada orang yang hanya mengambil Al-Qur’an dan menafikan hadis, itu tidak masuk akal. Kenapa tidak masuk akal? Karena kalau Al-Qur’an saja, kita hanya bisa shalat dua kali sehari, waktu pagi dan petang. Karena tidak ada itu dalam Al-Qur’an Kaifiyyat Ash-Shalah (tata cara shalat) dan seterusnya dan seterusnya.

Jadi yang dikatakan disini

وقائل هذا كافر مشرك حلال الدم والمال

(dan seorang berkata ini kafir, musyrik, halal darah dan hartanya)

Tidak bisa dibawa bahwa sebenarnya Abu Bakar dan Umar itu halal darahnya. Tapi kalau dibaca disini (disertasi Jalal) seolah-olah seperti itu.

Saya harapkan kepada promotor untuk membaca sekali lagi disertasi ini supaya bisa obyektif, karena kang Jalal sendiri mengatakan bahwa metodologi Kang Jalal itu harus obyektif.

*Selesai dari Dr. Hamzah Harun*

Beginilah cara Jalaluddin Rakhmat dalam mendakwahkan ajarannya. Sangat jauh dari akhlak seorang intelektual. Di mana Tokoh Syiah ini ketahuan memotong perkataan seorang ulama sampai dua kali. Dan itu terjadi di hadapan forum akademik yang sangat terhormat. Sungguh memalukan.

(Muh. Istiqamah/lppimakassar.com) Senin, Desember 16, 2013  Lppi Makassar

(nahimunkar.com)

(Dibaca 1.879 kali, 1 untuk hari ini)