cinta-allah

Prof. Dr. Syaikh ‘Abdur Razzaq bin ‘Abdul Muhsin al-‘Abbad al-Badr

 بسم الله الرحمن الرحيم

      Segala puji Rabb semesta alam, Yang Maha Menciptakan semua makhluk-Nya lagi Maha Menegakkan langit dan bumi.

     Aku memuji Allah subhanahu wa ta’ala atas (semua limpahan) nikmat dan karunia-Nya yang tidak terhingga.

     Aku Memuji Allah SWT atas semua nikmat yang dianugerahkan-Nya kepada kita semua, yang lalu maupun sekarang, lahir maupun batin, serta yang khusus maupun umum.

     Aku memuji-Nya atas nikmat Islam, Iman dan al-Qur’an, serta nikmat keluarga dan kesehatan.

     Aku memuji-Nya SWT dengan pujian yang banyak, baik dan penuh berkah, sebagaimana yang dicintai dan diridhai-Nya.

     Aku memuji-Nya SWT dengan segala pujian dan sanjungan yang pantas bagi (kemahasempurnaan)-Nya, dan aku menyanjung-Nya dengan segala kebaikan.

     Aku tidak mampu menghitung/membatasi pujian/sanjungan terhadap-Nya, Dia adalah sebagaimana (pujian dan sanjungan) yang Dia peruntukkan bagi diri-Nya sendiri[1].

     Aku bersaksi bahwa tidak ada sembahan yang benar kecuali Allah, sebagai persaksian (yang mengandung) penetapan/pengakuan, keimanan dan tauhid (keesaan Allah subhanahu wa ta’ala).

     Dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad SAW adalah hamba Allah dan utusan-Nya, kekasih terdekat dan orang pilihan-Nya, orang yang dipercaya (membawa) wahyu-Nya serta sebaik-baik hamba-Nya.

     Semoga shalawat dan kesejahteraan senantiasa tercurahkan kepada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallamseluruh keluarga dan para sahabat beliau.

     Amma ba’du,

     Kaum muslimin yang dimuliakan Allah, wahai saudara-saudara dan saudari-saudariku yang mulia, wahai orang-orang yang berkumpul di rumah Allah (mesjid) yang diberkahi ini karena mengharapkan sebaik-baik balasan pahala dan anugerah yang besar (dari Allah subhanahu wa ta’ala). Sungguh Allah Yang Maha Pemurah tidak akan mengecewakan (harapan) kalian, (karena) Dia SWT adalah Maha Pemberi kebaikan dan Maha Dermawan.

     Dalam sebuah hadits shahih yang diriwayatkan oleh imam Muslim[2], dari sahabat Mu’awiyah R.A., beliau berkata: (Suatu hari) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar (dari rumah beliau SAW) untuk menemui kami (para sahabat R.A.), pada waktu kami sedang duduk dan berkumpul di mesjid (Nabawi) untuk mengingat dan menyebut (nikmat Allah SWT), lalu beliau bertanya (kepada kami): “Apakah yang membuat kalian duduk (dan berkumpul di sini)?”. Kami berkata: Kami duduk (dan berkumpul di sini) untuk mengingat Allah serta memuji-Nya atas petunjuk Islam dan semua anugerah yang dilimpahkan-Nya kepada kami. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya (lagi): “Apakah kalian mau bersumpah dengan nama Allah (bahwa) tujuan kalian duduk (dan berkumpul di sini) hanya untuk itu?”. Maka kami katakan: “Demi Allah, tidak ada tujuan kami duduk (dan berkumpul di sini) selain untuk itu. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ketahuilah, sesungguhnya aku tidak meminta kalian bersumpah kerena meragukan (kejujuran) kalian, akan tetapi baru saja malaikat Jibril u datang kepadaku dan menyampaikan bahwa sungguh Allah subhanahu wa ta’ala membanggakan (memuji) kalian di hadapan para Malaikat”.

     Maka renungkanlah keutamaan dan kebaikan yang besar ini bagi orang yang duduk di majelis/perkumpulan seperti ini, Allah subhanahu wa ta’ala akan menyebut (membanggakan)nya di (hadapan) para Malaikat yang mulia. Ini adalah kemuliaan dan keutamaan yang agung.

     Kita memohon kepada Allah subhanahu wa ta’ala agar Dia memberkahi kita semua dalam pertemuan (pengajian) kita ini, menjadikannya ikhlas semata-mata mengharapkan wajah-Nya, dan menjadikannya sebagai sebab kebaikan dan kemuliaan bagi kita semua untuk (selalu) menghadapkan diri (kepada-Nya) dan memberikan perhatian untuk (mengamalkan) ketataan dan perbuatan yang mendekatkan diri kita kepada-Nya.

     Kaum muslimin yang dimuliakan Allah,

     Pertemuan (pengajian) kita ini adalah pertemuan kedua. Pada waktu pertemuan kita yang pertama, sekitar dua tahun yang lalu, di tempat ini aku telah sampaikan bahwa aku mencintai kalian semua (karena Allah SWT). Dan termasuk sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, jika seorang muslim mencintai saudaranya (karena Allah subhanahu wa ta’ala) maka hendaknya dia menyampaikan hal itu kepada saudaranya tersebut[3]. Maka saat ini aku sampaikan sekali lagi bahwa aku mencintai kalian semua (karena Allah SWT).

     Bagaimana mungkin aku tidak mencintai kalian semua (karena Allah SWT), wahai saudara-saudaraku yang mulia, padahal yang mengumpulkan kalian di tempat ini adalah rasa cinta kepada Allah dan mengharapkan ridha-Nya, meskipun aku tidak menganggap suci seorang di hadapan-Nya.

     Pertemuan seperti ini dihadiri oleh orang-orang yang ingin meraih kecintaan kepada Allah dan mengharapkan keridhaan-Nya.

     Maka aku memohon kepada Allah subhanahu wa ta’ala agar Dia tidak meluputkan (kebaikan dalam) pertemuan kita ini. Ya Allah, kami semua memohon kepada-Mu agar Engkau menganugerahkan kepada kami kecintaan kepada-Mu, kepada orang-orang yang mencintai-Mu dan kecintaan kepada (semua) amal perbuatan yang mendekatkan diri kami kepada kecintaan kepada-Mu”[4].

     Ya Allah, jadikanlah kecintaan kami kepada-Mu lebih kami utamakan dari pada (kecintan kami) terhadap diri kami sendiri, keluarga kami dan harta kami, bahkan lebih dari (kecintan kami) kepada air dingin (yang sejuk) ketika sangat kehausan.

     Kaum mukminin,

     Sesungguhnya cinta kepada Allah SWT adalah tingkatan hamba-hamba Allah yang paling agung dan kedudukan yang paling tinggi bagi orang-orang yang menempuh jalan Allah.

     Maka amal shaleh yang paling mulia dan sifat yang paling utama (dalam Islam) adalah mencintai Allah Yang Maha Agung lagi Maha Memiliki kemuliaan dan kesempurnaan. Mencintai Allah Yang tidak ada sembahan yang benar kecuali Dia, Yang Maha Mengetahui perkara yang gaib maupun yang tampak, Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Mencintai Allah Yang tidak ada sembahan yang benar kecuali Dia, Maha Memiliki (alam semesta beserta isinya), Maha Suci, Maha Sejahtera, Maha Mengaruniakan keamanan, Maha Memelihara dan Mengawasi, Maha Perkasa, Maha Kuasa, lagi Maha Memiliki segala keagungan. Mencintai Allah Yang Maha Menciptakan, Maha Mengadakan, Maha Membentuk rupa, Maha Perkara, lagi Maha Memiliki hukum dan hikmah. Mencintai Allah Yang menciptakan kita semua dari ketiadaan, kemudian Dia menganugerahkan kepada kita (berbagai macam) nikmat yang agung dan karunia yang besar, yang tidak terbatas dan tidak terhitung (jumlahnya).

     Kaum mukminin,

     Sesungguhnya cinta kepada Allah subhanahu wa ta’ala adalah ruh (inti) agama Islam, makanan (pokok bagi) hati, obat (penyembuh bagi) jiwa, landasan (utama) kebahagiaan hidup dan penopang keimanan (bagi seorang hamba).

     Inilah kehidupan yang sebenarnya, barangsiapa yang tidak memilikinya maka dia termasuk orang-orang yang mati (di hadapan Allah subhanahu wa ta’ala), meskipun dia mampu berjalan dan beraktifitas dengan anggota badannya di muka bumi ini. Barangsiapa yang kehilangan ini maka dia termasuk orang-orang yang rugi.

     Maka inilah keberuntungan yang hakiki dan sangat merugi orang-orang yang tidak memilikinya.

     Inilah obat penyembuh (penyakit hati) yang sebenarnya, barangsiapa yang tidak memilikinya maka hatinya akan ditimpa berbagai macam penyakit dan keburukan.

     Inilah kenikmatan (hidup) yang sesungguhnya, barangsiapa yang tidak memilikinya maka dia akan diliputi berbagai macam kegalauan, kegundahan dan hal-hal yang menyusahkan (pikirannya).

     Saudara-saudaraku kaum muslimin,

     Cinta kepada Allah adalah pendorong (bagi manusia) untuk melakukan amal-amal shaleh, penolong (bagi mereka) untuk meraih (kedudukan-kedudukan) yang sempurna (dalam Islam), yang akan membawa mereka untuk meraih kedudukan yang tinggi dan sifat-sifat yang mulia.

     Maka alangkah agung kedudukannya, alangkah besar manfaat dan faidahnya, alangkah banyak kebaikan dan keberkahannya, serta alangkah tingginya kenikamtan dan kemuliaan yang diraih oleh orang-orang yang sungguh-sungguh mencintai Allah subhanahu wa ta’ala, berupa berbagai macam keutamaan dan keberkahan yang agung dalam kehidupan dunia, dan ketika hari perjumpaan dengan Allah subhanahu wa ta’ala Yang Maha Menguasai (alam semesta beserta isinya) lagi Maha Mengetahui.

     Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh imam at-Tirmidzi, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memohon dalam doa beliau SAW:

“(Ya Allah) aku memohon kepada-Mu kecintaan kepada-Mu, kecintaan kepada orang-orang yang mencintai-Mu dan kecintaan kepada amal perbuatan yang mendekatkan diriku kepada kecintaan kepada-Mu”[5].

     Doa ini sepantasnya untuk kita hafalkan dan selalu kita ucapkan (dalam permohonan-permohonan kita kepada Allah subhanahu wa ta’ala).

     Barangsiapa yang mencintai Allah maka Allahpun mencintainya, dan jika Allah telah mencintai seorang hamba maka Dia kan menjaganya, menolongnya, melimpahkan taufik kepadanya, meluruskannya, mengabulkan doanya, melindunginya, serta memudahkannya dicintai dan diterima (oleh semua makhluk yang ada) di langit dan di bumi.

     Imam al-Bukhari meriwayatkan dalam kitab “Shahih al-Bukhari”[6] dari sahabat Abu Hurairah R.A., bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya Allah berfirman: “Barangsiapa yang memusuhi kekasih-Ku maka sungguh Aku telah mengumumkan peperangan (kebinasaan) baginya, dan tidaklah seorang hamba mendekatkan diri (beribadah) kepada-Ku dengan suatu (amal) yang lebih Aku cintai dari pada (amal) yang Aku wajibkan baginya. Kemudian senantiasa hamba-Ku itu mendekatkan diri kepada-Ku dengan an-nawaafil (amal-amal yang bersifat anjuran dan sunnah), sehingga Akupun mencintainya. Maka jika Aku mencintainya, Akulah yang membimbing/meluruskan pendengarannya ketika dia mendengar, penglihatannya ketika dia melihat, tangannya ketika dia berbuat dan kakinya ketika dia melangkah. Jika dia memohon kepada-Ku maka sungguh Aku akan mengabulkan (permohonannya) dan jika dia meminta perlindungan kepada-Ku maka sungguh Aku akan melindunginya”.

Artinya: Allah SWT akan selalu membimbing dan meluruskanya dalam semua ucapan dan perbuatannya, menjaganya dalam semua anggota tubuh dan panca inderanya, mengabulkan doanya, melindunginya serta menjaganya dari tipudaya dan kejahatan makhluk-makhluk yang jahat.

     Imam al-Bukhari juga meriwayatkan dalam kitab “Shahih al-Bukhari”[7] dari sahabat Abu Hurairah R.A., bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya Allah jika Dia mencintai seorang hamba maka Dia akan memanggil malaikat Jibril u, lalu Dia berfirman (kepada Jibril u): “Sesungguhnya Aku mencintai (hamba-Ku) si Fulan, maka cintailah dia!”. Maka Jibril u pun mencintainya, kemudian dia menyeru kepada (semua malaikat) penghuni langit: “Sesungguhnya Allah mencintai (hamba-Nya) si Fulan, maka cintailah dia!”. Maka (semua malaikat) penghuni langit pun mencintainya, kemudian Allah menjadikannya diterima (dicintai oleh orang-orang yang beriman) di muka bumi”.

     Inilah makna firman Allah SWT:

{إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ سَيَجْعَلُ لَهُمُ الرَّحْمَنُ وُدًّا}

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal shaleh, kelak Allah Yang Maha Pengasih akan menganugerahkan bagi mereka kecintaan (di hati orang-orang yang beriman kepada mereka)”  (QS Maryam: 96).

     Yang dimaksud dengan cinta kepada Allah yang demikian agung dan tinggi keutamaannya adalah cinta kepada Allah yang mengandung konsekwensi penghambaan diri, ketundukan dan ketaatan (kepada-Nya), dengan menjalankan segala perintah-Nya (dan menjauhi larangan-Nya). Bukanlah yang dimaksud (di sini) hanya sekedar pengakuan cinta (tanpa bukti). Karena kalau hanya sekedar pengakuan cinta maka itu mudah dan ringan diucapkan oleh setiap orang. Sampai-sampai orang-orang Yahudi yang mereka adalah saudara para monyet dan babi, mereka (mengaku-aku dengan) mengatakan: “Kami adalah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya”[8].

     Maka masing-masing orang bisa dengan mudah mengaku cinta kepada Allah, tapi bukanlah yang menjadi ukuran (kebenaran) dengan sekedar pengakuan, karena pengakuan yang tidak disertai bukti nyata adalah sekedar pengakuan (yang tidak bisa diterima).

     Oleh karena itu, yang dimaksud dengan cinta kepada Allah yang demikian agung faidah dan pengaruh positifnya adalah cinta kepada Allah yang mengandung konsekwensi penghambaan diri, ketundukan, ketaatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala, mengikhlaskan agama bagi-Nya dan tidak menyamakan Allah dengan selain-Nya dalam kecintaan (seorang hamba).

     Allah SWT berifrman (tentang keadaan) orang-orang yang berbuat syirik (menyekutukan Allah subhanahu wa ta’ala):

{وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّه}

“Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah, mereka mencintai tandingan-tandingan tersebut seperti mencintai Allah. Dan orang-orang yang beriman lebih kuat kecintaan mereka kepada Allah” (QS al-Baqarah: 165).

     Hal ini dikarenakan orang-orang yang beriman mencintai Allah dengan kecintaan yang murni, sedangkan orang-orang yang berbuat syirik, (kalau benar) mereka mencintai Allah, akan tetapi mereka tidak memurnikan kecintaan mereka kepada Allah (semata-mata), bahkan mereka menyekutukan Allah dalam kecintaan tersebut. Oleh karena itulah mereka berdoa (memohon), meminta pertolongan, menyembelih (kurban) dan bersandar/berlindung kepada selain Allah. Adapun orang-orang yang mencintai Allah dengan kecintaan yang murni dan mengandung konsekwensi penghambaan diri, maka sungguh dia tidak akan menyerahkan satu bentuk ibadahpun kecuali hanya kepada Allah. Sebagaimana firman Allah SWT:

{قُلْ إِنَّ صَلاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ. لا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ}

“Katakanlah: “Sesungguhnya shalatku, sembelihanku, serta hidup dan matiku hanya (semata-mata) untuk Allah Rabb semesta alam. Tiada sekutu bagi-Nya, demikianlah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah subhanahu wa ta’ala)” (QS al-An’aam: 162-163).

     Saudara-saudaraku kaum mukminin,

     Oleh karena itu, dalam al-Qur’an Allah menuntut orang yang mengaku mencintai-Nya untuk menunjukkan bukti atas pengakuannya itu. Imam ahli tafsir yang ternama, Ibnu Katsir menyebutkan dalam kitab tafsir beliau, dari imam al-Hasan al-Bashri – semoga Allah merahmati beliau – bahwa beliau berkata: “Ada sekelompok orang yang mengaku-aku dengan mengatakan: Sesungguhnya kami mencintai Allah dengan kecintaan yang kuat. Maka Allah SWT menurunkan firman-Nya:

{قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ}

“Katakanlah: Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, maka ikutilah (sunnah/petunjuk)ku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu, Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS Ali ‘Imran:31)”[9].

     Oleh karena itu, para ulama menamakan ayat yang mulia ini sebagai ayatul mihnah (ayat untuk menguji benar atau tidaknya pengakuan kecintaan kepada Allah). Ini berarti bahwa setiap orang yang mengaku mencintai Allah maka harus dilihat amal perbuatannya; apakah dia mengikuti (petunjuk dan sunnah) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (atau tidak). Kalau dia (benar-benar) mengikuti (petunjuk dan sunnah) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berjalan di atas jalan beliau SAW yang lurus, maka ini merupakan bukti nyata dan pertanda jelas yang menunjukkan benarnya pengakuan cinta (kepada Allah). Oleh karena itu, (sehubungan dengan hal ini) ada ungkapan yang berbunyi:

“Bukanlah yang menjadi perhatian penting bagaimana kamu mencintai, tapi yang menjadi perhatian penting (adalah) bagaimana kamu dicintai (oleh Allah subhanahu wa ta’ala)”.

     Allah subhanahu wa ta’ala tidak akan mencintai seorang hamba hanya dengan pengakuan semata (tanpa bukti), akan tetapi seorang hamba hanya akan meraih kecintaan Allah dengan (melaksanakan) ketaatan (kepada-Nya), mengikuti dan meneladani petunjuk Rasul-Nya yang mulia SAW, juga dengan mengikhlaskan agama bagi Allah semata-mata dan melakukan amal-amal shaleh (yang bersumber) dari (petunjuk) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

     Oleh karena itu, kita dapati dalam (ayat-ayat) al-Qur’an dan hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam penyebutan banyak amal-amal shaleh yang redaksinya menjelaskan kecintaan Allah SWT bagi orang-orang yang melakukan amal-amal tersebut. Misalnya firman Allah SWT:

{إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ}

“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang selalu bertaubat dan orang-orang yang selalu mensucikan diri mereka” (QS al-Baqarah: 222).

Dan ayat-ayat lain yang semakna dengan ayat di atas banyak (terdapat) di dalam al-Qur’an.

     Saudara-saudaraku yang mulia,

     Perbedaan antara kecintaan (kepada Allah) yang benar dan kecintaan (kepada Allah) yang hanya pengakuan (tanpa bukti) adalah bahwa kecintaan yang benar akan membuahkan amal shaleh, ketaatan dan ketundukan kepada syariat Allah SWT dalam kehidupan di dunia. Adapun di akhirat kelak, maka buah dan balasannya sangat agung, yaitu dengan mereka (orang-orang yang mencintai Allah dengan benar) meraih surga-Nya, diselamatkan dari (siksa) neraka, serta mendapatkan kenikmatan melihat Allah SWT dan memandang wajah-Nya yang maha mulia, tanpa ada bahaya yang mencelakakan dan fitnah yang menyesatkan[10].

     Adapun kecintaan (kepada Allah) yang hanya (berupa) pengakuan (tanpa bukti), maka ini tidaklah membuahkan amal shaleh dan ketaatan (kepada Allah). Bahkan orang-orang yang mengaku memilikinya (sering) melalaikan kewajiban-kewajiban (dalam agama Islam), malas beribadah serta suka melakukan perbuatan maksiat dan dosa.

     Sebelumnya telah kami sampaikan sebuah hadits qudsi, bahwa Allah SWT berfirman: “Tidaklah seorang hamba mendekatkan diri (beribadah) kepada-Ku dengan suatu (amal) yang lebih Aku cintai dari pada (amal) yang Aku wajibkan baginya. Kemudian senantiasa hamba-Ku itu mendekatkan diri kepada-Ku dengan an-nawaafil (amal-amal yang bersifat anjuran dan sunnah), sehingga Akupun mencintainya”.

     Maka yang menjadi penilaian di sini bukanlah sekedar pengakuan, akan tetapi kesungguhan dalam beramal shaleh, mengamalkan kewajiban-kewajiban dalam Islam, serta menjauhkan diri dari perbuatan dosa dan maksiat, kemudian berlomba-lomba dalam melakukan amal-amal yang bersifat anjuran (sunnah), untuk meraih kesempurnaan dan kedudukan yang tinggi (di sisi Allah I).

     Kecintaan yang benar (kepada Allah) memiliki rasa manis dan lezat yang tidak mungkin dirasakan oleh orang-orang yang mengaku mencintai-Nya (tanpa bukti).

     Dalam hadits shahih riwayat imam al-Bukhari dan Muslim, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ada tiga sifat, barangsiapa yang memilikinya maka dia akan merasakan manisnya iman (kesempurnaan iman); menjadikan Allah dan rasul-Nya lebih dicintai daripada (siapapun) selain keduanya, mencintai orang lain semata-mata karena Allah, dan merasa benci (enggan) untuk kembali kepada kekafiran setelah diselamatkan oleh Allah sebagaimana enggan untuk dilemparkan ke dalam api”[11].

(Dalam hadits lain), Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Akan merasakan kelezatan/kemanisan iman, orang yang ridha kepada Allah SWT sebagai Rabbnya dan Islam sebagai agamanya serta (nabi) Muhammad SAW sebagai rasulnya”[12].

     Saudara-saudaraku yang mulia,

     Di saat tersebar luasnya berbagai macam fitnah (kerusakan), banyaknya hal-hal yang melalaikan (manusia dari mengingat Allah), terbuka lebarnya pintu-pintu syahwat, dan timbulnya berbagai bentuk kerancuan (dalam memahami Islam), maka kecintaan kepada Allah (pada saai seperti ini) akan melemah bahkan bisa jadi memudar.

     Terlebih lagi karena manusia mempunyai musuh yang bisa melihat mereka, tapi mereka tidak bisa melihatnya, yaitu Setan (Iblis), semoga Allah melindungi kita semua darinya. Setan yang terkutuk ini tidak menginginkan seorang hamba bisa mencintai Allah atau meraih kecintaan dari-Nya. Oleh sebab itu, Setan dan bala tentaranya, baik dari kalangan jin maupun manusia, selalu berusaha dan berupaya terus-menerus untuk memalingkan manusia dari kedudukan dan anugerah yang mulia ini. Maka Setan selalu berupaya dengan sungguh-sungguh untuk memalingkan dan menyesatkan manusia (dari jalan Allah). Allah SWT berfirman:

{وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآَدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ قَالَ أَأَسْجُدُ لِمَنْ خَلَقْتَ طِينًا. قَالَ أَرَأَيْتَكَ هَذَا الَّذِي كَرَّمْتَ عَلَيَّ لَئِنْ أَخَّرْتَنِ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ لَأَحْتَنِكَنَّ ذُرِّيَّتَهُ إِلاَّ قَلِيلاً. قَالَ اذْهَبْ فَمَنْ تَبِعَكَ مِنْهُمْ فَإِنَّ جَهَنَّمَ جَزَاؤُكُمْ جَزَاءً مَوْفُورًا. وَاسْتَفْزِزْ مَنِ اسْتَطَعْتَ مِنْهُمْ بِصَوْتِكَ وَأَجْلِبْ عَلَيْهِمْ بِخَيْلِكَ وَرَجِلِكَ وَشَارِكْهُمْ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ وَعِدْهُمْ وَمَا يَعِدُهُمُ الشَّيْطَانُ إِلَّا غُرُورًا. إِنَّ عِبَادِي لَيْسَ لَكَ عَلَيْهِمْ سُلْطَانٌ وَكَفَى بِرَبِّكَ وَكِيلاً}

“Dan (ingatlah), tatkala Kami berfirman kepada malaikat: “Sujudlah kamu semua kepada Adam”, lalu mereka sujud kecuali iblis, dia berkata:”Apakah aku akan sujud kepada orang yang Engkau ciptakan dari tanah?”. Dia (iblis) berkata: “Terangkanlah kepadaku inikah (makhluk) yang Engkau muliakan atas diriku? Sungguh jika Engkau memberi tangguh kepadaku sampai hari kiamat, niscaya benar-benar akan aku sesatkan keturunannya, kecuali sebahagian kecil (dari mereka)”. Allah berfirman: “Pergilah kamu, maka barangsiapa di antara mereka yang mengikutimu, maka sungguh neraka Jahannam adalah balasan bagi kalian semua, sebagai suatu pembalasan yang cukup. Dan hasunglah siapa yang kamu sanggupi di antara mereka dengan ajakanmu, dan kerahkanlah terhadap mereka pasukan berkuda dan pasukanmu yang berjalan kaki dan berserikatlah dengan mereka pada harta dan anak-anak, serta berilah janji mereka. Dan tidak ada yang dijanjikan oleh syaitan kepada mereka melainkan tipuan belaka. Sesungguhnya hamba-hambaku, kamu tidak dapat berkuasa atas mereka. Dan cukuplah Rabbmu sebagai Penolong” (QS al-Israa’: 61-65).

     Di saat tersebar luasnya berbagai macam fitnah (kerusakan), termasuk sarana-sarana modern (yang merusak) di jaman ini, berupa (terbukanya) banyak pintu kerusakan dan keburukan yang tidak didapati di jaman yang lalu. Yaitu (dengan keberadaan) saluran-saluran televisi (yang merusak) dan situs-situs internet (yang buruk), bahkan (ada) yang sampai langsung kepada kita melalui alat elektronik yang bisa dibawa kemana-mana dan diletakkan di dalam saku (seperti handphone dan lain-lain).

     Acara-acara dan situs-situs buruk tersebut (yang menyebarluaskan) penyakit buruk yang menular, kerusakan, fitnah, syahwat, kerancuan pemahaman, menyiarkan kerusakan akhlak dan moral, semua ini tentu saja kemunculannya dipelopori dan didukung oleh Setan (Iblis). Bahkan Iblis tidak pernah berhenti sejenakpun untuk (menyebarkan) tipu daya, kerusakan, perangkap dan godaannya (melalui media-media tersebut), karena jangkauan penyebarannya sangat luas dan pengaruh buruknya (terhadap manusia) sangat besar.

     Oleh karena itu, di saat tersebar luasnya berbagai macam kerusakan ini, seorang mukmin yang benar (dalam mencintai Allah subhanahu wa ta’ala) butuh (wajib) untuk sungguh-sungguh menjaga kecintaannya kepada Allah, yang ini merupakan miliknya yang paling mahal dan berharga, agar tidak hilang darinya (karena terjerumus) di tempat-tempat keburukan dan kerusakan tersebut. Hal ini dikarenakan tempat-tempat tersebut jika seseorang membiarkan dirinya mengikuti dan mendengarkan apa yang ditampilkannya, maka hatinya akan rusak, kecintaannya kepada Allah akan melemah, dan mengobarkan dalam dirinya kecintaan kepada nafsu syahwat dan kehinaan.

     Sehingga yang tadinya hatinya dipenuhi dengan kecintaan dan pengagungan terhadap Allah, berganti menjadi hati yang dipenuhi dengan kerusakan dan kecintaan kepada nafsu syahwat, maka diapun selalu mengikuti (keinginan) nafsu syahwat dan mendatangi tempat-tempatnya. Yang tadinya hatinya mencintai rumah-rumah Allah dan ketaatan kepada-Nya, berganti menjadi pecinta kerendahan, keburukan dan kerusakan.

     Maka semua ini menuntut seorang mukmin yang benar (dalam mencintai Allah subhanahu wa ta’ala) untuk (sunguh-sungguh) berusaha menjaga dan membentengi kecintaannya kepada Allah agar tidak hilang (dari hatinya), dengan memohon pertolongan kepada Rabb-nya (Allah) SWT dan bersungguh-sungguh melawan hawa nafsunya. Allah berfirman:

{وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ}

“Dan orang-orang yang berjuang dengan sungguh-sungguh (dalam menundukkan hawa nafsu) untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami berikan hidayah kepada mereka (dalam menempuh) jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik” (QS al-‘Ankabuut: 69).

     Saudara-saudaraku yang mulia,

     Jika seorang manusia mau mengikuti (keburukan-keburukan) yang memalingkan dan menyibukkannya (dari kebaikan), lalu melakukan hal-hal buruk dan rusak yang diserukan oleh media-media tersebut, maka tentu ini akan merusak kecintaannya kepada Allah, bahkan bisa hilang dari hatinya. Karena kecintaan yang benar membuahkan ketaatan kepada Allah SWT. Adapun jika seorang manusia selalu melakukan hal-hal yang buruk dan hina, serta jauh dari ketaatan kepada Allah SWT, kemudian dia menipu dirinya sendiri dengan mengaku bahwa dia mencintai Allah, maka ini adalah pengakuan yang palsu, sebagaimana ungkapan seoang penyair:

Kamu berbuat maksiat terhadap Allah, sedangkan kamu mengaku mencintai-Nya

     Maka sungguh ini sangat buruk dalam penilaian

Seandainya kecintaanmu benar maka niscaya kamu akan mentaati-Nya

     Karena sungguh orang yang mencintai akan mentaati kekasihnya

     Kemudian jika sarana-sarana (buruk tersebut) telah menyibukkan dan memalingkan manusia (dari kebaikan), maka tentu mereka sangat butuh untuk kembali dengan sebenarnya kepada Allah SWT dan bersungguh-sungguh melakukan (sebab-sebab) untuk meraih keridhaan-Nya, serta menjauhkan diri mereka dari sebab-sebab yang mendatangkan kemurkaan-Nya kepada mereka.

     Maka manusia butuh untuk mengingat dan merenungkan kembali sebab-sebab yang melahirkan dan menumbuhkan kecintaan kepada Allah dalam hati mereka. Agar kebenaran tetap ada dan kebatilan/keburukan tersingkir (dari diri manusia). Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

{وَقُلْ جَاءَ الْحَقُّ وَزَهَقَ الْبَاطِلُ، إِنَّ الْبَاطِلَ كَانَ زَهُوقًا}

“Dan katakanlah:”Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap”. Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap” (QS al-Israa’: 81).

     Saudara-saudaraku yang mulia,

     Majelis pengajian kita ini adalah mejelis untuk saling mengingatkan, tolong menolong (dalam kebaikan), dan menjelaskan beberapa perkara agung yang merupakan sebab tumbuhnya kecintaan kepada Allah subhanahu wa ta’ala dalam hati kita.

     Oleh karena itu, aku mengajak kepada diriku sendiri dan saudara-saudaraku (sekalian) untuk menyimak dan memperhatikan baik-baik (penjelasan yang akan kami sampaikan nanti, insya Allah). Allah SWT berfirman:

{إِنَّ فِي ذَلِكَ لَذِكْرَى لِمَنْ كَانَ لَهُ قَلْبٌ أَوْ أَلْقَى السَّمْعَ وَهُوَ شَهِيدٌ}

“Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan (pelajaran) bagi orang-orang yang mempunyai hati atau yang mengkonsentrasikan pendengarannya, sedang dia menghadirkan (hati)nya” (QS Qaaf: 37). (bersambung, insya Allah).

(nahimunkar.com).


[1] Sebagaimana doa Rasulullah r dalam HSR Muslim (no. 486).

[2] HSR Muslim (no. 2701).

[3] Sebagaimana dalam HR Abu Dawud (no. 5124) dan at-Tirmidzi (no. 2392), dinyatakan shahih oleh syaikh al-Albani.

[4] Doa Rasulullah r, sebagaimana dalam HR at-Tirmidzi (no. 3235), dinyatakan shahih oleh imam al-Bukhari, at-Tirmidzi dan syaikh al-Albani.

[5] HR at-Tirmidzi (no. 3235), dinyatakan shahih oleh imam al-Bukhari, at-Tirmidzi dan syaikh al-Albani.

[6] No. 6137.

[7] HSR al-Bukhari (no. 3037) dan Muslim (no. 2637).

[8] Sebagaimana dalam QS al-Maaidah: 18.

[9] Tafsir Ibnu Katsir (1/477).

[10] Sebagaimana dalam doa Rasulullah r, HR An Nasa-i dalam “As Sunan” (3/54 dan 3/55), Imam Ahmad dalam “Al Musnad” (4/264), Ibnu Hibban dalam “Shahihnya” (no. 1971) dan Al Hakim dalam “Al Mustadrak” (no. 1900), dishahihkan oleh Ibnu Hibban, Al Hakim, disepakati oleh Adz Dzahabi dan Syaikh Al Albani dalam “Zhilaalul jannah fii takhriijis sunnah” (no. 424).

[11] HSR al-Bukhari (no. 16 dan 21) dan Muslim (no. 43).

[12] HSR Muslim (no. 34).

(Dibaca 1.896 kali, 1 untuk hari ini)