cinta-allah

Sebab-sebab yang menumbuhkan kecintaan kepada Allah subhanahu wa ta’ala

 

1- Memberikan perhatian yang benar kepada al-Qur’an al-karim, wahyu Allah yang diturunkan-Nya (kepada umat manusia) dan (disifati-Nya dalam firman-Nya):

{لا يَأْتِيهِ الْبَاطِلُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَلا مِنْ خَلْفِهِ تَنزيلٌ مِنْ حَكِيمٍ حَمِيدٍ}

“Yang tidak ada padanya (al-Qur’an) kebatilan baik dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan dari (Allah) Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji” (QS Fushshilat: 42).

     Memberikan perhatian yang benar kepada al-Qur’an dengan (selalu) membacanya, memahami (kandungan)nya dan mengamalkan (isi)nya. Allah I berfirman:

{كِتَابٌ أَنزلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الألْبَابِ}

“(al-Qur’an adalah) kitab yang kami turunkan kepadamu, penuh dengan berkah, supaya manusia merenungkan (kandungan) ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran” (QS Shaad: 29).

     Allah I juga berfirman:

{أَفَلا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلافًا كَثِيرًا}

“Apakah mereka tidak merenungkan (kandungan) al-Qur’an? Kalau sekiranya al-Qur’an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya. (QS an-Nisaa’: 82).

     (Dalam ayat lain) Allah berfirman:

{أَفَلا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَى قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا}

“Apakah mereka tidak merenungkan (kandungan) al-Qur’an ataukah hati mereka telah terkunci?” (QS Muhammad: 24).

     Dan Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

{وَإِذَا مَا أُنزلَتْ سُورَةٌ فَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ أَيُّكُمْ زَادَتْهُ هَذِهِ إِيمَانًا فَأَمَّا الَّذِينَ آمَنُوا فَزَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَهُمْ يَسْتَبْشِرُونَ}

“Dan apabila diturunkan suatu surat, maka di antara mereka (orang-orang munafik) ada yang berkata: “Siapa di antara kamu yang bertambah imannya dengan (turunnya) surat ini?”. Adapun orang yang beriman, maka surat ini menambah imannya, sedang mereka merasa gembira” (QS at-Taubah: 124).

     Ketika anda membaca al-Qur’an, satu ayat, satu surat, atau satu juz, maka janganlah yang menjadi perhatianmu (sekedar) menyelesaikannya dengan cepat, akan tetapi (jadikanlah) perhatianmu untuk memahami makna dan kandungannya, serta mengamalkan perintah Allah I di dalamnya. Karena sungguh al-Qur’an diturunkan untuk diamalkan (hukum-hukumnya).

     Oleh karena itu, jika anda membaca suatu ayat (dalam al-Qur’an) yang di dalamnya terdapat perintah Allah, larangan-Nya atau berita dari-Nya, maka tetapkanlah (dalam) dirimu untuk mengamalkan semua perintah-Nya, menjauhi semua larangan-Nya dan membenarkan semua berita dari-Nya, supaya anda termasuk (ke dalam golongan) ahli al-Qur’an, yang mereka itu adalah orang-orang yang dicintai dan diistimewakan oleh Allah[1].

2- Memberikan perhatian untuk memahami nama-nama Allah yang maha indah (al-Asma-ul husna) dan sifat-sifat-Nya yang maha tinggi/sempurna.

     Allah I berfirman:

{وَلِلَّهِ الأسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا وَذَرُوا الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَائِهِ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ}

“Hanya milik Allah-lah al-Asma-ul husna (nama-nama yang maha indah), maka berdoalah kepada-Nya dengan nama-nama itu, dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang (dari kebenaran) dalam (menyebut dan memahami) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka lakukan” (QS al-A’raaf:180).

     Allah juga berfirman:

{قُلْ ادْعُوا اللَّهَ أَوِ ادْعُوا الرَّحْمَنَ أَيًّا مَا تَدْعُوا فَلَهُ الأسْمَاءُ الْحُسْنَى}

“Katakanlah: “Serulah Allah atau serulah ar-Rahman”, dengan nama yang mana saja kamu seru, maka Dia mempunyai al-Asma-ul husna (nama-nama yang maha indah)” (QS al-Israa’: 110).

     Dalam sebuah hadits yang shahih, Rasulullah r memberi kabar gembira kepada seorang shahabat t yang selalu membaca surat al-Ikhlas (yang mengandung penjelasan nama-nama dan sifat-sifat Allah subhanahu wa ta’ala), dan shahabat tersebut berkata: Aku mencintai surat ini karena surat ini (menjelaskan tentang) sifat ar-Rahman (Allah subhanahu wa ta’ala). Maka Rasulullah r bersabda: “Sampaikan kepadanya bahwa sungguh Allah mencintainya”[2].

     Semakin bertambah perhatian seorang hamba untuk memahami kandungan nama-nama Allah yang maha indah dan sifat-sifat-Nya yang maha tinggi/sempurna, dengan pemahaman yang benar dan sesuai dengan metode (pemahaman) Ahlus sunnah wal jama’ah, yaitu para shahabat Rasulullah r dan orang-orang yang mengikuti jalan mereka dengan baik, maka dengan itu akan bertambah pengetahuannya tentang Allah. Barangsiapa yang paling mengetahui/ mengenal Allah maka dialah yang paling takut kepada-Nya, paling senang beribadah kepada-Nya dan paling jauh dari berbuat maksiat kepada-Nya. Allah I berfirman:

{إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ}

“Sesungguhnya yang takut kepada Allah diantara hamba-hamba-Nya, hanyalah orang-orang yang berilmu (mengenal Allah subhanahu wa ta’ala)” (QS Faathir:28).

3- Memohon pertolongan kepada Allah, banyak berdoa dan bersungguh-sungguh memohon kepada-Nya.

     Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

{وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ، أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ، فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ}

“Dan jika hamba-hamba-Ku, maka (jawablah) bahwa sesungguhnya Aku Maha Dekat, Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku. Maka hendaklah mereka memenuhi (segala perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam petunjuk” (al-Baqarah: 186).

     Allah I juga berfirman:

{وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ}

“Dan Rabbmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Ku-kabulkan bagimu (permohonanmu). Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina” (QS al-Mu’min: 60).

     Dan Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

{إِنَّ رَبِّي لَسَمِيعُ الدُّعَاءِ}

“Sesungguhnya Rabbku, benar-benar Maha Mendengar (memperkenankan) doa” (QS Ibrahim: 39).

     Doa-doa yang bersumber dari (hadits-hadits Rasulullah r) dalam pembahasan ini banyak sekali, di antaranya:

– Doa yang telah kami sebutkan sebelum ini:

“(Ya Allah) aku memohon kepada-Mu kecintaan kepada-Mu, kecintaan kepada orang-orang yang mencintai-Mu dan kecintaan kepada amal perbuatan yang mendekatkan diriku kepada kecintaan kepada-Mu”[3].

– Doa yang diajarkan oleh Nabi r kepada Mu’adz bin Jabal t, Nabi r bersabda: “Wahai Mu’adz, sesungguhnya aku mencintaimu (karena Allah), janganlah kamu tinggalkan di akhir setiap shalat untuk kamu ucapkan doa: “Ya Allah, tolonglah aku untuk (selalu) berzikir, bersyukur dan beribadah dengan sebenarnya kepada-Mu”[4].

– Doa yang diajarkan oleh Nabi r kepada ‘Ali bin Abi Thalib t: “Ya Allah, berikanlah petunjuk bagiku dan luruskanlah diriku”[5].

– Doa yang diajarkan oleh Nabi r kepada Abu Bakr t: “Ya Allah, sesungguhnya aku telah banyak menganiaya diriku sendiri (dengan berbuat dosa) dan tidak ada yang dapat mengampuni dosa selain Engkau, maka ampunilah aku dengan pengampunan dari sisi-Mu dan rahmatilah aku, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”[6].

– Doa yang diajarkan oleh Nabi r kepada Syaddad bin Aus t, Nabi r bersabda: “Wahai Syaddad bin Aus, jika manusia menyimpan harta uang emas dan perak, maka simpanlah engkau doa ini: “Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu keteguhan dalam urusan ini (agama Islam) dan tekad yang kuat untuk melaksanakan petunjuk-Mu, aku memohon kepada-Mu sebab-sebab yang menjadikan turunya rahmat-Mu dan kunci-kunci pengampunan-Mu, aku memohon kepada-Mu rasa syukur atas (limpahan) nikmat-Mu dan beribadah dengan sebenarnya kepada-Mu, aku memohon kepada-Mu hati yang bersih dan lidah yang (selalu) jujur, aku memohon kepada-Mu (semua) kebaikan yang Engkau ketahui, aku berlindung kepada-Mu dari (semua) keburukan yang Engkau ketahui, dan aku memohon ampun kepada-Mu dari (semua dosa-dosaku) yang Engkau ketahui”[7].

– Doa yang diajarkan oleh Nabi r kepada paman beliau, al-‘Abbas t, Nabi r bersabda: “Mohonlah kepada Allah keselamatan di dunia dan akhirat”[8].

– Doa yang sering diucapkan oleh Nabi r, bahkan termasuk doa yang paling sering beliau ucapkan: “Ya Allah ya Rabb kami, berikanlah kepada kami kebaikan di dunia in, kebaikan di akhirat nanti, dan lindungilah kami dari siksa Neraka”[9].

– Demikian pula (doa beliau r): “Wahai (Allah) Yang Membolak-balikkan hati (manusia), teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu”[10].

     Dan (masih banyak) doa-doa lain yang penuh berkah dan bersumber dari (hadits-hadits) Rasulullah r.

     Barangsiapa yang dibukakan baginya pintu doa maka Allah akan melimpahkan pengabulan (doa) baginya, sebagaimana ucapan ‘Umar bin Khattab t: “Sesungguhnya aku tidak membawa keinginan (untuk) dikabulkan, tapi yang aku bawa (adalah) keinginan (untuk terus) berdoa”[11].

     ‘Umar bin Khattab t mengucapkan ini, karena Allah berfirman:

{وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ، أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ، فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ}

“Dan jika hamba-hamba-Ku, maka (jawablah) bahwa sesungguhnya Aku Maha Dekat, Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku. Maka hendaklah mereka memenuhi (segala perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam petunjuk” (al-Baqarah: 186).

     Dan aku tidak menyia-nyiakan kesempatan dan pertemuan yang penuh berkah ini untuk berdoa dan memohon kepada Allah dengan nama-nama-Nya yang maha indah dan sifat-sifat-Nya yang maha tinggi/sempurna agar Dia menganugerahkan kepada kita semua kecintaan kepada-Nya, kecintaan kepada orang-orang yang mencintai-Nya dan kecintaan kepada amal perbuatan yang mendekatkan diri kita kepada kecintaan kepada-Nya. Aku memohon kepada-Nya agar Dia mencintai, meridhai dan mengampuni dosa-dosa kita semua, serta agar Dia menjadikan perpisahan kita setelah pertemuan ini sebagai perpisahan yang (disertai dengan) pengampunan dan rahmat-Nya, serta keberuntungan (dengan meraih) keridhaan-Nya. Rasulullah r telah bersabda (tentang orang-orang yang mengahadiri majelis pengajian): “Mereka adalah orang-orang yang tidak akan rugi teman duduk mereka”[12].

     Aku memohon kepada Allah agar Dia tidak menjadikan salah seorangpun di antara kita yang merugi dan terhalang (dari limpahan rahmat-Nya).

4- Memberikan perhatian kepada kewajiban-kewajiban dalam agama Islam (dengan mengamalkannya sebaik-baiknya), berjuang menundukkan hawa nafsu untuk mengerjakan amal-amal shaleh yang bersifat anjuran dan sunnah. Dalam sabda Rasulullah r yang lalu, bahwa Allah I berfirman: “Tidaklah seorang hamba mendekatkan diri (beribadah) kepada-Ku dengan suatu (amal) yang lebih Aku cintai dari pada (amal) yang Aku wajibkan baginya. Kemudian senantiasa hamba-Ku itu mendekatkan diri kepada-Ku dengan an-nawaafil (amal-amal yang bersifat anjuran dan sunnah), sehingga Akupun mencintainya”[13].

5- Berusaha sungguh menundukkan hawa nafsu untuk menjauhi (hal-hal) yang diharamkan (Allah) dan perbuatan-perbuatan dosa, karena perbuatan-perbuatan maksiat tersebut akan merusak hati dan melemahkan kecintaan (kepada Allah), serta menjerumuskan manusia ke dalam jurang kebinasaan.

     Oleh karena itu, dalam hal ini, seorang hamba butuh untuk (selalu) berjuang menundukkan hawa nafsunya, supaya dia (benar-benar) terhindar dari sebab-sebab yang (mendatangkan) kemurkaan Allah (terhadapnya).

6- Mengutamakan hal-hal yang dicintai Allah daripada hal-hal yang dicintai diri sendiri dan mendahulukan keridhaan-Nya di atas keinginan hawa nafsu.

     Ini membutuhkan perjuangan menundukkan hawa nafsu yang sungguh-sungguh untuk meraih kedudukan (yang tingi) dan tujuan (yang mulia) ini.

     Dalam hadits yang telah lalu, Rasulullah r bersabda: “…Menjadikan Allah dan rasul-Nya lebih dicintai daripada (segala sesuatu) selain keduanya…”[14].

7- Mengingat-ingat dan merenungkan limpahan nikmat, karunia dan pemberian Allah kepada kita. Allah berfirman:

{وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لا تُحْصُوهَا}

“Dan jika kamu menghitung nikmat Allah (kepadamu) maka niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya” (QS Ibrahim: 34).

{وَآتَاكُمْ مِنْ كُلِّ مَا سَأَلْتُمُوهُ}

“Dan dia memberikan segala sesuatu yang kamu minta kepada-Nya”

{وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ}

“Dan nikmat apa saja yang ada padamu, maka (semua itu) dari Allah” (QS an-Nahl: 53).

     Mengingat-ingat (semua) nikmat (yang) Allah (anugerahkan) kepadamu akan menambah kecintaan kepada-Nya dalam hatimu. Coba renungkan (nikmat Allah) menciptakanmu, menjadikanmu dalam sebaik-baik rupa, membukakan penglihatan dan pendengaran bagimu, menganugerahkan dua tangan dan kaki untukmu, memuliakanmu dengan pakaian dan tempat tinggal, dan melimpahkan kepadamu berbagai macam nikmat dan pemberian.

     Maka senantiasalah kamu mengingat (limpahan) nikmat, karunia dan kebaikan-Nya, maka ini akan menambah kecintaanmu kepada-Nya.

     Dalam hadits yang shahih, Rasulullah r jika telah berada di atas kasur sebelum tidur, beliau membaca doa: “Segala puji bagi Allah yang telah memberi makan, minum, kecukupan dan tempat tinggal bagiku, berapa banyak orang yang tidak memiliki kecukupan dan tempat tinggal”[15].

8- Berteman dengan orang-orang baik dan bersahabat dengan orang-orang shaleh yang selalu beribadah dan taat kepada Allah, serta mengambil faidah dari nasehat-nasehat baik, tingkah laku terpuji dan akhlak mulia mereka.

     Teman bergaul pasti akan memberikan pengaruh kepada orang yang selalu bersamanya. Dalam hadits yang shahih, Rasulullah r bersabda: “Seseorang itu akan mengikuti agama teman dekatnya, maka hendaknya masing-masing dari kalian melihat siapa yang dijadikannya (sebagai) teman dekat”[16].

9- Berusaha sungguh-sungguh untuk melakukan ibadah (shalat malam) pada waktu sepertiga malam yang terakhir, meskipun hanya sebentar. Karena ini memiliki pengaruh/keutamaan yang sangat besar dalam hal ini.

     Rasulullah r bersabda: “Rabb kita (Allah I) turun ke langit dunia detiap malam, ketika tersisa sepertiga malam yang terakhir, lalu Dia berfirman: “Siapa yang berdoa kepada-Ku maka Aku akan mengabulkannya, siapa yang memohon kepada-Ku maka Aku akan penuhi permohonannya, dan siapa yang meminta ampun kepada-Ku maka Aku akan mengampuninya”[17].

10- Terus menerus dan memperbanyak zikir (menyebut dan mengingat) Allah I.

     Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

{الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ}

“Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan berzikir (mengingat) Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram” (QS ar-Ra’du:28).

     Barangsiapa yang sungguh-sungguh dalam mencintai Allah, maka dia akan selalu ber zikir (menyebut dan mengingat)-Nya, karena siapa saja yang mencintai sesuatu maka dia akan sering menyebut/mengingatnya.

     Saudara-saudaraku seiman yang mulia,

     Inilah (penjelasan tentang) sepuluh sebab penting untuk menumbuhkan kecintaan kepada Allah dalam hati kita, tapi bukan berarti hanya terbatas pada sepuluh sebab ini. Karena penjelasan di sini tujuannya hanya untuk mengingatkan sebab-sebab penting dalam pembahasan yang agung ini. Dan ini merupakan pelajaran bagi kita semua,

{فَإِنَّ الذِّكْرَى تَنْفَعُ الْمُؤْمِنِينَ}

“Sesungguhnya pelajaran/nasehat itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman” (QS adz-Dzaariyaat: 55).

     Aku memohon kepada Allah Yang Maha Agung, Pemilik ‘Arsy yang mulia, dengan nama-nama-Nya yang maha indah dan sifat-sifat-Nya yang maha tinggi/sempurna agar Dia menerima (amal kebaikan) kita dalam majelis pengajian ini, mengampuni dosa-dosa kita seluruhnya, yang kecil maupun yang besar, yang pertama maupun yang terakhir, serta yang tampak maupun yang tersembunyi.

      Aku memohon kepada Allah supaya Dia memperbaiki agama kita yang merupakan penentu (kebaikan) semua urusan kita, memperbaiki (urusan) dunia kita yang merupakan tempat hidup kita, menjadikan (masa) hidup kita sebagai penambah kebaikan bagi kita dan menjadikan kematian sebagai penghalang bagi kita dari semua keburukan.

     Semoga Allah mengampuni (dosa-dosa) kita, kedua orang tua kita, kaum muslimin laki-laki maupun perempuan, yang masih hidup maupun yang telah wafat.

     Ya Allah, hiasilah diri kami dengan hiasan keimanan, dan jadikanlah kami sebagai orang-orang yang selalu memberi dan mendapat petunjuk (dari-Mu), tidak tersesat dan menyesatkan (orang lain).

      Ya Allah, aku memohon kepada-Mu kecintaan kepada-Mu, kecintaan kepada orang-orang yang mencintai-Mu dan kecintaan kepada amal perbuatan yang mendekatkan diriku kepada kecintaan kepada-Mu.

     Ya Allah, jadikanlah kami termasuk hamba-hamba-Mu yang bertakwa, yang selalu mendengarkan ucapan dan mengikuti yang terbaik dari ucapan tersebut.

{الَّذِينَ يَسْتَمِعُونَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُ أُولَئِكَ الَّذِينَ هَدَاهُمُ اللَّهُ وَأُولَئِكَ هُمْ أُولُواْ الألْبَابِ}

“Mereka adalah orang-orang yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti yang terbaik di antaranya, mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan merekalah orang-orang yang berakal” (QS a-Zumar: 18).

    Dan akhir seruan kami adalah Alhamdulillahi Rabbil ‘alamin (segala puji bagi Allah Rabb semesta alam).

وصلى الله وسلم وبارك و أنعم على عبده ورسوله نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين

                                                                                 Kota Kendari, 3 Rabi’ul akhir 1433 H

                                                                             Penerjemah ceramah

                                                                                 Abdullah bin Taslim al-Buthoni


[1] Sebagaimana dalam HR Ibnu Majah (no. 215) dan Ahmad (3/127), dinyatakan shahih oleh syaikh al-Albani.

[2] HSR al-Bukhari (no. 7375) dan Muslim (no. 813).

[3] HR at-Tirmidzi (no. 3235), dinyatakan shahih oleh imam al-Bukhari, at-Tirmidzi dan syaikh al-Albani.

[4] HR Abu dawud (no. 1522) dan an-Nasa-i (no. 1303), dinyatakan shahih syaikh al-Albani.

[5] HSR Muslim (no. 2725).

[6] HSR al-Bukhari (no. 7375) dan Muslim (no. 813).

[7] HR at-Tirmidzi (no. 3514) dan Ahmad (1/209), dinyatakan shahih oleh at-Tirmidzi dan syaikh al-Albani.

[8] HR at-Tirmidzi (no. 3407), an-Nasa-i  (no. 1304) dan Ahmad (4/123),

[9] HSR al-Bukhari (no. 6026) dan Muslim (no. 2690).

[10] HR at-Tirmidzi (no. 2140), Ibnu Majah  (no. 3834) dan Ahmad (3/112), dinyatakan shahih oleh syaikh al-Albani.

[11] Dinukil oleh imam Ibnul Qayyim dalam kitab beliau “al-Fawaa-id” (hal. 97).

[12] HSR al-Bukhari (no. 6045) dan Muslim (no. 2689).

[13] HSR al-Bukhari (no. 6137).

[14] HSR al-Bukhari (no. 16 dan 21) dan Muslim (no. 43).

[15] HSR Muslim (no. 2715).

[16] HR Abu Dawud (no. 4833) dan at-Tirmidzi (no. 2378), dinyatakan hasan oleh imam at-Tirmidzi dan syaikh al-Albani.

[17] HSR al-Bukhari (no. 1094) dan Muslim (no. 758).

(nahimunkar.com)

(Dibaca 866 kali, 1 untuk hari ini)