bunga

 

Ilustrasi/ monahanem

 

Jombang – Seorang istri yang baru saja ditinggal suaminya meninggal dunia dengan status janda, diharamkan mengunggah (upload) foto di jejaring sosial dengan mimik wajah tanpa ihdad atau tak berkabung.

Dalam acara bahsul masail Forum Musyawarah Pondok Pesantren (FMPP) se-Jawa dan Madura di Ponpes Mambaul Maarif Denanyar Jombang, syariat Islam mewajibkan seorang istri harus berkabung setelah ditinggal suaminya meninggal.

Hukum-hukum tersebut sesuai dengan kitab fiqih Hasyiyah Al Qulyubi, I’anah At Tholibin, dan Ihya Ulumuddin karya Imam Ghazali.

Hal ini diwajibkan agar istri menampakkan rasa duka dan sedih yang mendalam sebagai tanda rumah tangga yang harmonis. Namun jika ada istri yang mengunggah foto tak mencerminkan rasa sedih, maka hukumnya haram.

Dengan catatan, upload foto hukumnya haram bukan disebabkan wanita menjalani ihdad, namun karena unsur-unsur negatif dalam jejaring sosial. Semisal menampakkan mimik wajah tak berkabung dan menggambarkan tubuh yang membuat syahwat bagi lawan jenis.

Menurut KH Hadziqun Nuha dalam forum itu, seorang istri yang menjalani masa ihdad tak diperbolehkan mengunggah foto-foto yang bisa menyebabkan lawan jenis syahwat atau nafsu.

(rou/rou) Tamam Mubarrok – detikinet

Sabtu, 04/05/2013 13:46 WIB

***

Berkabung Dari Kematian

AL-HADAAD (BERKABUNG)

Oleh Ustadz Kholid Syamhudi

Manakala musibah ini menimpa, banyak orang mengungkapkan perasaan berkabungnya dengan berbagai cara. Di antaranya, ada yang berkabung dengan menaikkan bendera setengah tiang karena wafatnya seorang pemimpin atau tokoh besar. Atau kaum laki-laki berkabung atas kematian salah seorang keluarga atau kerabatnya. Ada yang mengungkapkannya dengan mengenakan pakaian serba hitam sebagai simbol duka. Bagaimanakah dengan Islam?

Islam telah menetapkan, bahwa berkabung hanyalah untuk wanita jika suaminya atau salah satu keluarganya meninggal dunia, dengan cara-cara yang telah ditetapkan syari’at.

MAKNA BERKABUNG DALAM ISLAM

Berkabung, dalam bahasa Arabnya adalah al hadaad ( الْحَدَادُ ). Maknanya, tidak mengenakan perhiasan, baik berupa pakaian yang menarik, minyak wangi atau lainnya yang dapat menarik orang lain untuk menikahinya [1]. Pendapat lain menyatakan, al hadaad adalah sikap wanita yang tidak mengenakan segala sesuatu yang dapat menarik orang lain untuk menikahinya seperti minyak wangi, celak mata dan pakaian yang menarik dan tidak keluar rumah tanpa keperluan mendesak, setelah kematian suaminya[2]

JENIS BERKABUNG

Al hadaad, terbagi menjadi dua. Pertama, berkabung dari kematian suami selama empat bulan sepuluh hari. Kedua, berkabung dari kematian salah satu anggota keluarganya, selain suami selama tiga hari.

Pembagian ini berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salllam :

لَا يَحِلُّ لِامْرَأَةٍ تُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ أَنْ تُحِدَّ عَلَى مَيِّتٍ فَوْقَ ثَلَاثٍ إِلَّا عَلَى زَوْجِهَا رواه مسلم

“Tidak boleh seorang wanita yang beriman kepada Allah dan hari Akhir untuk berkabung atas kematian melebihi tiga hari, kecuali atas kematian suaminya” [3]

Dan dalam riwayat Bukhari terdapat tambahan lafazh :

فَإِنَّهَا تُحِدُّ عَلَيْهِ أَرْبَعَةَ أَشْهُرٍ وَعَشْرًا

“Maka ia berkabung atas hal tersebut selama empat bulan sepuluh hari”[4]

HUKUM BERKABUNG ATAS KEMATIAN SUAMI

Ulama ahlu sunnah sepakat, kecuali Al Hasan Al Bashri, Al Hakam bin Utaibah dan Asy Sya’bi, menyatakan bahwa hukum berkabung dari kematian suami selama empat bulan sepuluh hari adalah wajib.

Allah berfirman:

وَالَّذِينَ يُتَوَفَّوْنَ مِنكُمْ وَيَذَرُونَ أَزْوَاجًا يَتَرَبَّصْنَ بِأَنفُسِهِنَّ أَرْبَعَةَ أَشْهُرٍ وَعَشْرًا فَإِذَا بَلَغْنَ أَجَلَهُنَّ فَلاَ جُنَاحَ عَلَيْكُمْ فِيمَا فَعَلْنَ فِي أَنفُسِهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ وَاللهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرُُ

“Orang-orang yang meninggal dunia di antaramu dengan meninggalkan isteri-isteri (hendaklah para isteri itu) menangguhkan dirinya (ber’iddah) empat bulan sepuluh hari. Kemudian apabila telah habis masa ‘iddahnya, maka tiada dosa bagimu (para wali) membiarkan mereka berbuat terhadap diri mereka menurut yang patut. Allah mengetahui apa yang kamu perbuat” [Al Baqarah:234].

Dari Zainab bintu Abu Salamah, beliau berkata :

سَمِعْتُ أُمَّ سَلَمَةَ تَقُولُ جَاءَتْ امْرَأَةٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ ابْنَتِي تُوُفِّيَ عَنْهَا زَوْجُهَا وَقَدْ اشْتَكَتْ عَيْنَهَا أَفَتَكْحُلُهَا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا مَرَّتَيْنِ أَوْ ثَلَاثًا كُلَّ ذَلِكَ يَقُولُ لَا ثُمَّ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّمَا هِيَ أَرْبَعَةُ أَشْهُرٍ وَعَشْرٌ وَقَدْ كَانَتْ إِحْدَاكُنَّ فِي الْجَاهِلِيَّةِ تَرْمِي بِالْبَعْرَةِ عَلَى رَأْسِ الْحَوْلِ

“Aku telah mendengar Ummu Salamah berkata: “Seorang wanita datang menemui Rasulullah dan berkata,’Wahai, Rasulullah! Sesungguhnya putriku ditinggal mati suaminya, dan ia mengeluhkan sakit pada matanya. Apakah ia boleh mengenakan celak mata?’.” Lalu Rasulullah menjawab “Tidak!” sebanyak dua atau tiga kali, semuanya dengan kata tidak. Kemudian Rasulullah berkata: “Itu harus empat bulan sepuluh hari, dan dahulu, salah seorang dari kalian pada zaman jahiliyah membuang kotoran binatang pada akhir tahun.”[5]

لَا يَحِلُّ لِامْرَأَةٍ تُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ أَنْ تُحِدَّ عَلَى مَيِّتٍ فَوْقَ ثَلَاثٍ إِلَّا عَلَى زَوْجِهَا رواه مسلم

“Tidak boleh seorang wanita yang beriman kepada Allah dan hari Akhir untuk berkabung atas kematian melebihi tiga hari, kecuali atas kematian suaminya.[6]

Perkataan Ulama Dalam Hal Ini :

Ibnu Qudamah (wafat tahun 620 H) menyatakan: Kami tidak mengetahui perbedaan pendapat di antara para ulama tentang kewajiban Al hadaad (berkabung) atas wanita yang suaminya meninggal kecuali dari Al Hasan, beliau menyatakan tidak wajib. Namun pendapat ini adalah pendapat yang syadz (aneh, menyelisihi) pendapat para ulama dan menyelisihi sunnah sehingga pendapat tersebut tidak signifikan.[7]

Ibnu Al Qayyim (wafat tahun 751H) berkata : Umat telah berijma’ tentang kewajiban Ahdaad bagi wanita yag ditinggal mati suaminya, kecuali yang diriwayatkan dari Al Hasan dan Al Hakam bin Utaibah.[8]

HUKUM BERKABUNG ATAS KEMATIAN SALAH SATU KELUARGA SELAIN SUAMI

Bekabung atas kematian salah seorang kerabat atau keluarga selain suami diperbolehkan selama tiga hari saja dan tidak boleh lebih. Walaupun diperbolehkan, namun bila suami mengajak berhubungan intim, maka wanita tersebut tidak boleh menolaknya.

Ibnu Hajar (wafat tahun 852 H) menegaskan: Syari’at memperbolehkan seorang wanita untuk berkabung atas kematian selain suaminya selama tiga hari, karena kesedihan yang mendalam dan penderitaan yang mendera karena kematian orang tersebut. Hal itu tidak wajib menurut kesepakatan para ulama. Namun seandainya suami mengajaknya berhubungan intim (jima’) maka ia tidak boleh menolaknya.[9]

Ibnu Hazm (wafat tahun 456 H) menyatakan: Seandainya seorang wanita berkabung selama tiga hari atas kematian bapak, saudara, anak, ibu atau kerabat lainnya, maka hal itu mubah.[10]

Ibnu Al Qayyim (wafat tahun 751 H) juga menyatakan: Berkabung atas kematian suami hukumnya wajib dan atas kematian selainnya boleh saja.[11]

SYARAT-SYARAT DIWAJIBKANNYA AL-HADAAD [12]

1). Wanita tersebut berakal dan baligh. Para ulama telah bersepakat bahwa wanita yang baligh dan berakal diwajibkan melewati masa al hadaad. Namun mereka masih berselisih pendapat tentang wanita yang belum memasuki masa baligh atau gila. Pendapat yang rajih adalah pendapat mayoritas ulama yang mewajibkannya

2). Beragama Islam. Syarat ini juga telah disepakati para ulama. Perbedaan pendapat terjadi pada wanita ahli kitab apakah dikenakan kewajiban ini atau tidak ? Pendapat yang rajih adalah pendapat mayoritas ulama yang menyatakan hal itu diwajibkan atas wanita ahli kitab yang menikah dengan muslim, lalu suaminya meninggal dunia.

3). Menikah dengan akad yang shahih.

MASA WAKTU BERKABUNG DAN CARA MENGHITUNG HARINYA

Masa berkabung bagi wanita adalah empat bulan sepuluh hari. Ini berlaku pada semua wanita, kecuali yang hamil. Wanita hamil yang ditinggal mati suaminya, berkabung sampai melahirkan, berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

“Dan perempuan-perempuan yang hamil, waktu iddah mereka itu ialah sampai mereka melahirkan kandungannya. Dan barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya” [Ath Thalaaq : 4]

Juga hadits Subai’ah yang berbunyi:

كَتَبَ عُمَرُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الْأَرْقَمِ الزُّهْرِيِّ إِلَى عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُتْبَةَ يُخْبِرُهُ أَنَّ سُبَيْعَةَ أَخْبَرَتْهُ أَنَّهَا كَانَتْ تَحْتَ سَعْدِ بْنِ خَوْلَةَ وَهُوَ فِي بَنِي عَامِرِ بْنِ لُؤَيٍّ وَكَانَ مِمَّنْ شَهِدَ بَدْرًا فَتُوُفِّيَ عَنْهَا فِي حَجَّةِ الْوَدَاعِ وَهِيَ حَامِلٌ فَلَمْ تَنْشَبْ أَنْ وَضَعَتْ حَمْلَهَا بَعْدَ وَفَاتِهِ فَلَمَّا تَعَلَّتْ مِنْ نِفَاسِهَا تَجَمَّلَتْ لِلْخُطَّابِ فَدَخَلَ عَلَيْهَا أَبُو السَّنَابِلِ بْنُ بَعْكَكٍ رَجُلٌ مِنْ بَنِي عَبْدِ الدَّارِ فَقَالَ لَهَا مَا لِي أَرَاكِ مُتَجَمِّلَةً لَعَلَّكِ تَرْجِينَ النِّكَاحَ إِنَّكِ وَاللَّهِ مَا أَنْتِ بِنَاكِحٍ حَتَّى تَمُرَّ عَلَيْكِ أَرْبَعَةُ أَشْهُرٍ وَعَشْرٌ قَالَتْ سُبَيْعَةُ فَلَمَّا قَالَ لِي ذَلِكَ جَمَعْتُ عَلَيَّ ثِيَابِي حِينَ أَمْسَيْتُ فَأَتَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَسَأَلْتُهُ عَنْ ذَلِكَ فَأَفْتَانِي بِأَنِّي قَدْ حَلَلْتُ حِينَ وَضَعْتُ حَمْلِي وَأَمَرَنِي بِالتَّزَوُّجِ إِنْ بَدَا لِي

“Umar bin Abdillah bin Al Arqam Az Zuhri menulis surat kepada Abdullah bin ‘Utbah memberitahukan kepadanya, bahwa Subai’ah telah menceritakan kepadanya bahwa ia (Subai’ah) adalah istri Sa’ad bin Khaulah yang berasal dari Bani ‘Amir bin Lu’ai dan dia ini termasuk orang yang ikut perang Badr. Lalu Sa’ad meninggal dunia pada haji wada’ sedangkan Subai’ah dalam keadaan hamil. Tidak lama kemudian setelah suaminya wafat, ia melahirkan. Ketika selesai nifasnya, maka Subai’ah berhias untuk dinikahi. Abu Sanaabil bin Ba’kak seorang dari Bani Abduddar menemuinya sembari berkata: “Mengapa saya lihat kamu berhias, tampaknya kamu ingin menikah? Tidak demi Allah! Kamu tidak boleh menikah sampai selesai empat bulan sepuluh hari.” Subai’ah berkata: “Ketika ia bicara demikian kepadaku, maka aku memakai pakaianku pada sore harinya, lalu aku mendatangi Rasulullah dan menanyakan hal tersebut. Kemudian Rasulullah memberikan fatwa kepadaku, bahwa aku telah halal dengan melahirkan dan memerintahkanku menikah bila kuinginkan.”[13]

Oleh karena itu Imam Ibnu Al Qayyim menyatakan: ‘Adapun orang yang hamil, jika telah melahirkan, maka gugurlah kewajiban berkabungnya tersebut menurut kesepakatan mereka (para ulama), sehingga ia boleh menikah, berhias dan memakai wangi-wangian untuk suaminya (yang baru) dan berhias sesukanya.[14]

Sedangkan Ibnu Hajar menyatakan: Mayoritas ulama dari para salaf dan imam fatwa di berbagai negeri berpendapat bahwa orang yang hamil jika wafat suaminya menjadi halal (boleh menikah) dan selesai masa iddahnya dengan melahirkan.[15]

Masa berkabung ini dimulai dari hari kematian suami, walaupun berita kematiannya terlambat ia dengar. Demikianlah pendapat mayoritas para sahabat, para imam empat madzhab, Ishaq bin Rahuyah, Abu Ubaid dan Abu Tsaur.[16]

Perhitungannya dengan menggunakan bulan Hijriyah. Sebagai contoh, seorang wanita ditinggal mati suaminya pada lima hari sebelum bulan Dzulhijjah, maka ia hitung sisa Dzulhijah tersebut dan melihat hilal Muharram, Shafar, Rabi’ul awal dan Robi’u Al Tsani, bila telah genap empat bulan, maka ia gabungkan sisa hari dalam bulan Dzulhijah yang telah dilewati sebelumnya dengan menambahinya sampai genap sepuluh hari empat bulan. Setelah itu, ia boleh berhias sebagaimana wanita lainnya.

HAL-HAL YANG DILARANG DALAM MASA BERKABUNG

Secara ringkas, wanita yang sedang menjalani masa berkabung, tidak boleh melakukan segala sesuatu yang diharamkan pada wanita yang sedang menunggu masa iddah seperti berhias atau hal-hal lain yang dapat menarik perhatian lelaki untuk menikahinya.

Diharamkan pada wanita yang berkabung ini semua yang diharamkan pada orang yang menunggu masa iddah dari berhias atau yang lainnya yang dapat menarik untuk menikahinya.

Maraji’

1. Fathul Bari, Ibnu Hajar, tanpa cetakan dan tahun, Al Maktabah Al Salafiyah, Mesir

2. Al Kalimaat Al Bayyinaat Fi Ahkam Hadaad Al Mukminat, Muhammad Al Hamuud Al Najdi,cetakan pertama tahun 1415 H, Dar Al Fath

3. Al Mughni, Ibnu Qudamah, tahqiq Abdul Muhsin bin Abdullah Al Turki dan Abdul Fattah bin Muhammad Al Halwu, cetakan kedua tahun 1413H, penerbit Hajar, Kairo

4. Zaad Al Ma’ad Fi Hadyu Khoirul Ibad, Ibnu Al Qayyim, Tahqiiq Syu’aib Al Arnauth dan Abdul Qadir Al Arnauth, cetakan ketiga tahun 1421H Muassasah Al Risalah

5. Al Muhalla , Ibnu Hazm tahqiq Ahmad Muhammad Syakir, tanpa cetakan dan tahun, Daar Al Turats, Mesir

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 12/Tahun VIII/1426H/2005. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016]

________

Footnotes

[1]. Lihat Fathul Bari, Ibnu Hajar, tanpa cetakan dan tahun, Al Maktabah As Salafiyah, Mesir, hlm. 3/146.

[2]. Lihat Al Kalimaat Al Bayyinaat Fi Ahkam Hadaad Al Mukminat, Muhammad Al Hamuud An Najdi, Cetakan Pertama, Tahun 1415 H, Dar Al Fath, hlm. 8.

[3]. HR Muslim dalam Shahih-nya, Kitab Thalaq, bab Wujub Al Ihdaad, no. 3714.

[4]. HR Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Al Janaaiz, bab Ihdaad Al Mar’ah ‘Ala Ghairi Zaujiha, no. 1280. Lihat Fathul Bari, Op.cit, hlm. 3/146.

[5]. HR Bukhari, Kitab Thalaq, Bab Tahiddu Al Mutawaffa ‘Anha Arba’ata Asyhur Wa ‘Asyra, no. 5.335. Lihat Fathul Bari, Op.cit, hlm. 9/484.

[6]. HR Muslim dalam Shahih-nya, kitab Thalaq, bab Wujub Al Ihdaad no. 3714.

[7]. Al Mughni, Ibnu Qudamah, tahqiq Abdul Muhsin bin Abdullah At Turki dan Abdul Fatah bin Muhammad Al Halwu, Cetakan Kedua, Tahun 1413H, Penerbit Hajar, Kairo, Mesir, hlm. 11/284.

[8]. Zaad Al Ma’ad Fi Hadyu Khairul Ibad, Ibnu Al Qayyim, tahqiq Syu’aib Al Arnauth dan Abdul Qadir Al Arnauth, Cetakan Ketiga, Tahun 1421H Muassasah Ar Risalah, hlm. 5/618.

[9]. Fathul Bari, Op.cit., 3/146.

[10]. Al Muhalla, Ibnu Hazm, tahqiq Ahmad Muhammad Syakir, tanpa cetakan dan tahun, Daar Al Turats, Mesir, hlm. 10/280.

[11]. Zaad Al Ma’ad, Op.cit., 5/618.

[12]. Diringkas secara bebas dari Al Kalimaat Al Bayyinaat Fi Ahkam Hadaad Al Mukminat, Muhamad Al Hamuud An Najdi, Op.cit. hlm. 11-13.

[13]. HR Muslim dalam Shahih-nya, kitab Thalaq, bab Inqidha Al Mutawaaffa ‘Anha Zaujuha, no. 3707.

[14]. Zaad Al Ma’ad, Op.cit, hlm. 5/619.

[15]. Fathul Bari, Op.cit., hlm. 9/474.

[16]. Lihat Al Kalimaat Al Bayyinat, Op.cit., hlm. 19.

http://almanhaj.or.id/content/2573/slash/0/berkabung-dari-kematian/

Minggu, 15 Nopember 2009 20:56:30 WIB

***

Hal-Hal Wajib pada Masa Ihdad

Perempuan yang sedang berihdad harus menunaikan perkara-perkara berikut.

Pertama: Tidak Menyentuh Wewangian

Hal ini berdasarkan hadits Ummu ‘Athiyyah radhiyallahu ‘anha, yang telah berlalu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

… وَلَا تَمَسُّ طِيْبًا …

“. . . dan janganlah menyentuh wewangian ….”

Larangan penggunaan wewangian dalam hadits ini mencakup seluruh jenis wangi-wangian, baik yang berupa minyak, air, dikemas dalam botol semprot, maupun selainnya. Sebagian ulama memasukkan pula sabun dan sampo ke dalam larangan karena bau wangi yang terkandung dalam sabun dan sampo tersebut. Namun, Syaikh Ibnu Baz dan Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahumallah berpendapat bahwa sabun dan sampo tidak termasuk ke dalam larangan karena kedua jenis tersebut hanya berupa sekadar rasa wangi, bukan wewangian itu sendiri yang dimaksud dalam hadits. Yang jelas, meninggalkankan jenis tersebut adalah lebih selamat dan lebih berhati-hati.

Ada satu keadaan yang memperbolehkan untuk menggunakan wewangian bagi perempuan yang berihdad. Hal tersebut diterangkan dalam kelanjutan hadits di atas,

… إِلَّا إِذَا طَهُرَتْ نُبْذَةً مِنْ قُسْطٍ أَوْ أَظْفَارٍ.

“… Kecuali sedikit wewangian qisth atau azhfar apabila dia telah suci dari (haidhnya).”

Qisth atau azhfar adalah jenis wewangian. Maksudnya adalah bahwa qisth atauazhfar tersebut tidak dipakai sebagai wewangian, tetapi dipakai untuk menghilangkan bau bekas darah pada organ intim perempuan.

Adapun minyak rambut atau badan yang tidak mengandung wewangian, terdapat silang pendapat di kalangan ulama tentang pembolehan penggunaannya. Kebanyakan ulama berpendapat tentang pembolehan jenis tersebut, sepanjang jenis tersebut tidak dipakai untuk berhias karena tidak termasuk ke dalam makna wewangian yang terlarang.

Adapun makanan dan minuman yang dicampur dengan wewangian, seperti yang dicampur dengan za’faran dan selainnya, hal itu tercakup ke dalam larangan menyentuh wewangian. Demikianlah pendapat yang dikuatkan oleh Imam An-Nawawy, Syaikh Ibnu Baz, dan Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahumullah.

Kedua: Tidak Berhias pada Pakaian

Para ulama bersepakat bahwa perempuan yang sedang berihdad tidak boleh memakai pakaian yang bersifat hiasan dan kecantikan baginya. Dalam hadits Ummu ‘Athiyyah disebutkan,

وَ لَا تَلْبَسُ ثَوْبًا مَصْبُوْغًا إِلَّا ثَوْبَ عَصْبٍ…

“Janganlah dia menyentuh pakaian yang dicelup dengan warna, kecuali baju ‘Ashb….”

‘Ashb adalah sejenis tumbuhan yang dipakai untuk mencelup baju. Larangan dalam hadits di atas mengandung sebuah ‘illat ‘makna, sebab’ pelarangan, yaitu pakaian yang sengaja dicelup dengan warna untuk diperindah. Oleh karena itu, seluruh hal yang bersifat diperindah atau memperindah termasuk ke dalam larangan, seperti berpakaian sutra atau pakaian yang berwarna indah, berpenampilan menawan, dan selainnya.

Kalau tidak memiliki pakaian, kecuali pakaian yang termasuk ke dalam larangan, seorang perempuan diperbolehkan untuk memakai pakaian tersebut karena menutup aurat lebih wajib baginya.

Ketiga: Tidak Berhias pada Tubuh

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

… وَلَا تَكْتَحِلُ …

“… Dan janganlah bercelak ….”

Bercelak tergolong ke dalam berhias yang terlarang bagi perempuan yang sedang berihdad. Telah berlalu juga hadits Ummu Salamah tentang perempuan yang memintakan izin bagi putrinya untuk bercelak karena mata putrinya sedang sakit, tetapi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap tidak mengizinkannya. Namun, kebanyakan ulama berpendapat bahwa, dalam kondisi yang betul-betul sangat darurat, seorang perempuan diperbolehkan untuk memakai celak pada malam hari, tetapi celak tersebut harus dihapus saat siang hari. Adapun perempuan -yang tersebut dalam hadits- itu tidak diizinkan karena keadaannya belum sampai pada batas darurat.

Hal yang serupa dengan bercelak adalah memakai alat-alat kosmetik atau segala jenis alat rias yang tercakup ke dalam makna larangan.

Kempat: Tidak Memakai Perhiasan

Memakai emas, perak, permata, atau perhiasan sejenisnya adalah hal terlarang di kalangan kebanyakan ulama, bahkan ada sebagian ulama yang menukil kesepakatan tentang hal tersebut. Larangan tercakup ke dalam kandungan hadits-hadits yang telah berlalu.

Berdiam di Rumah bagi Perempuan yang Berihdad

Nash dalam masalah ini adalah hadits Furai’ah bintu Malik radhiyallahu ‘anha yang suaminya terbunuh oleh sekelompok orang-orang kafir, kemudian beliau meminta izin kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menjalani ‘iddah di rumah keluarganya dengan alasan bahwa suaminya tidak meninggalkan tempat tinggal yang merupakan miliknya juga tidak meninggalkan nafkah. Mula-mula Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam memberi izin. Namun, setelah Furai’ah akan beranjak pergi, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya,

امْكُثِي فِي بَيْتِكِ حَتَّى يَبْلُغَ الْكِتَابُ أَجَلَهُ.

“Berdiamlah engkau di rumahmu hingga ketentuan mencapai masanya (yakni sampai ‘iddahnya selesai).”

Kemudian, Furai’ah radhiyallahu ‘anha menjalani ‘iddah selama empat bulan sepuluh malam.8

Berdasarkan hadits di atas, jumhur ulama -termasuk Imam Empat- berpendapat bahwa seorang perempuan wajib berihdad di rumah suaminya, baik itu adalah rumah miliknya maupun rumah pinjaman atau sewaan.

Kalau rumah yang dia tinggali memerlukan biaya, pembiayaan tersebut tidak diambil dari warisan suami karena tidak ada dalil yang menunjukkan tentang hal tersebut.

Demikian pula, nafkah bagi sang istri yang berihdad tidaklah diambil dari harta warisan menurut pendapat kebanyakan ulama.

Dari hadits di atas, para ulama juga memahami bahwa, bila mendapat berita wafat suaminya, sedang ia tidak berada di rumahnya, seorang perempuan wajib kembali ke rumahnya dan menjalani ihdad di rumah tersebut.

Diperkecualikan bagi perempuan yang sedang menunaikan ibadah haji, ia tetap melanjutkan manasiknya menurut pendapat kebanyakan ulama karena, dalam keadaan tersebut, pelaksanaan haji lebih wajib dan lebih didahulukan baginya daripada kewajiban ihdad.

Adapun, kalau seorang perempuan ingin memulai pelaksanaan ibadah haji pada masa ihdad setelah suaminya meninggal, hal tersebut tidaklah diperbolehkan tanpa ada silang pendapat di kalangan Imam Empat.

Kaiau terjadi hal yang mengharuskan seorang perempuan untuk berpindah dari rumah tempat suaminya meninggal, seperti kebakaran, keadaan yang tidak aman, masa kontrakan habis -bila rumah tersebut dikontrak, bukan milik suami-, dia tidaklah mengapa berpindah dari rumah tersebut karena Allah Ta’ala tidak membebani seorang hamba, kecuali sesuai dengan kemampuan hamba tersebut.

Dari hadits di atas, juga terdapat pendalilan akan bolehnya perempuan yang berihdad untuk keluar rumah pada siang hari. Ini adalah pendapat kebanyakan ulama -termasuk Imam Empat-. Karena, ketika Furai’ah datang bertanya kepada Nabi saat siang hari, Nabi tidak mengingkari kedatangan tersebut.

Demikian pula, perempuan yang berihdad boleh keluar pada malam hari kalau ada keperluan menurut pendapat jumhur ulama dan dikuatkan oleh Syaikh Ibnu Baz.

 

 

Beberapa Perkara yang Tidak Dituntunkan dalam Hal Ihdad

Terdapat sejumlah perkara yang diada-adakan seputar ihdad, yang hal tersebut tidak ada dasarnya dalam syariat kita yang suci. Kebiasaan-kebiasaan tertentu di tengah manusia kadang melahirkan sejumlah ketentuan yang tidak memiliki landasan dalam Al-Qur`an dan Sunnah.

Ada baiknya kita mengingat sebagian perkara yang tidak ada dasarnya tersebut. Di antaranya:

  1. Menambah waktu ihdad hingga seratus hari, bahkan sebagian orang menambah hingga setahun.
  2. Memakai pakaian tertentu atau berwarna khusus dalam menjalani ihdad.
  3. Meyakini ketidakbolehan menyisir rambut dan bercermin.
  4. Tidak mandi, kecuali hanya pada hari Jum’at.
  5. Meninggalkan pekerjaan yang dia tekuni di rumahnya, seperti menjahit dan sebagainya.
  6. Meyakini bahwa tidak boleh tampak di bawah cahaya bulan dan tidak boleh berjalan tanpa alas kaki.
  7. Meyakini bahwa tidak boleh naik ke rumah bagian atas.
  8. Menyendiri sehingga tidak boleh terlihat oleh orang lain. Apabila ada orang yang mengunjunginya, ia menambah masa ihdadnya sebagai qadha atau kaffarah terhadap hari tatkala ia dilihat oleh orang.
  9. Meyakini bahwa tidak boleh memotong daging merah.
  10. Meyakini bahwa sama sekali tidak boleh berbicara dengan laki-laki.
  11. Meyakini bahwa tidak boleh keluar rumah, meski ada keperluan atau hajat.
  12. Menghindar dari menjawab telepon.
  13. Meyakini bahwa masa ihdad dibagi dengan istri lain apabila suami yang meninggal memiliki lebih dari satu istri.
  14. Tidak berjabat tangan dengan mahramnya, seperti saudara, anak, atau suami anaknya. Bahkan, ada sebagian perempuan yang enggan berjabat tangan dengan seluruh perempuan, walaupun perempuan itu adalah karib kerabat atau tetangganya.

Demikianlah sebagian hal yang diada-adakan seputar ihdad. Banyak hal-hal lain yang tuntunannya tidak ada dalam syariat yang belum kami sebutkan di sini.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menganugrahkan afiyat dan keselamatan kepada kita semua serta memberikan ketabahan dan pahala bagi mereka yang tertimpa musibah untuk kemudian bersabar dan tunduk menjalankan tuntunan syariat yang penuh dengan kebaikan dan kemashlahatan. Wallahu A’lam.

Berikut beberapa rujukan dalam meringkas perbahasan di atas.

  1. Ahkam Al-lhdakarya Khalid bin Abdillah Al-Mushlih.
  2. Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah pada pembahasan kata ihdad.
  3. Al-Ihdad Bi Ahkam Al-Hidakarya Dr. Furaihan bin Syali Al-Muthairy.
  4. Tahqiq Al-Murad Min Ahkam Al-Hidakarya Su’ud bin Maluh Al-‘Anzy.
  5. Al-Ihdad, Aqsamuhu Wa Ahkamuhu Wa Bida’uhu Wa Fatawahu.

[1]Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah 2/104.

[2] Dikeluarkan oleh Al-Bukhary, Muslim no. 1486, Abu Dawud no. 2299, At-Tirmidzy no. 1195, dan An-Nasa`iy 6/188, 198, 201 dari hadits Ummu Habibah radhiyallahu ‘anha. Diriwayatkan pula oleh Al-Bukhary, Muslim no. 1437, Abu Dawud no. 2299, At-Tirmidzy no. 1196, dan An-Nasa`iy 6/201 dari hadits Zainab bintu Jahsy radhiyallahu ‘anha. Juga diriwayatkan oleh Muslim no. 1490-1491, An-Nasa`iy 6/198 dan Ibnu Majah no. 2035 dari hadits Aisyah radhiyallahu ‘anha. Serta, dikeluarkan oleh Muslim no. 1490, An-Nasa`iy 6/189 dan Ibnu Majah no. 2086 dari hadits Hafshahradhiyallahu ‘anha.

[3] Ibnul ‘Araby menganggap bahwa nukilan dari Al-Hasan Al-Bashry tidak sah. Bacalah ‘Umdah Al-Qari’ 8/67.

[4] Dikeluarkan oleh Al-Bukhary no. 938, Abu Dawud no. 2302, An-Nasa`iy 6/202, dan Ibnu Majah no. 2087.

5 Ibnul ‘Araby menganggap bahwa nukilan dari Al-Hasan Al-Bashry tidak sah. Bacalah ‘Umdah Al-Qari’ 8/67.

Dalam beberapa terjemahan Al-Qur`an Al-Karim, kalimat tersebut diterjemahkan dengan empat bulan sepuluh hari. Namun, terjemahan ini kurang tepat karena ulama tafsir menyebut bahwa kata sepuluh tersebut bermakna sepuluh malam, dan kaidah bahasa Arab juga menunjukkan demikian. Akan tetapi, kita tetap memaklumi bahwa frasa “sepuluh malam” sudah mencakup siang dan malam hari karena tiada malam tanpa siang, sedang tiada siang tanpa malam.

6               Kisah tersebut diriwayatkan oleh Ahmad 1/430-431, 447, 4/279-280. Ad-Darimy no. 2246, Abu Dawud no. 2114-2116, At-Tirmidzy no. 1145 -beliau berkata, “Hadits hasan shahih,”- An-Nasa`iy 6/121-122, Ibnu Majah no. 1891, dan selainnya. Dishahihkan oleh Ibnu Hibban dan Al-Hakim. Al-Hakim berkata, “Shahih di atas syarat Muslim.” Penshahihan ini disetujui oleh Al-Albany dalam Irwa` Al-Ghalil no.1939.

7Al-Jami’ Li Ahkam Al-Qur`an 3/180. Baca jugalah keterangan Ibnu Hazm dalam Al-Muhalla 10/275.

8Al-Jami’ Li Ahkam Al-Qur`an 3/180. Baca jugalah keterangan Ibnu Hazm dalam Al-Muhalla 10/275.

Diposting: 12 Jumadil Awal 1433 H / 04-04-2012

http://dzulqarnain.net/seputar-ihdad-bagi-seorang-perempuan.html

(nahimunkar.com)

 

(Dibaca 4.143 kali, 1 untuk hari ini)