Sumber Foto : SINDOnews


Pelajaran dari Kasus Profesor PDIP Hamka Haq (pendukung Ahok penghina Al-Qur’an) di acara ILC TVOne Selasa malam (11/10 2016).

Demi mendukung Ahok penghina al-Qur’an, seorang profesor dari PDIP berbicara di tv dengan bermuatan membantah QS al Maidah 51 (jangan kalian mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin kalian) dengan mencontohkan adanya kepemimpinan Abu Thalib yang bukan Islam, ketika Nabi saw di Makkah belum hijrah ke Madinah.

Profesor yang tampak membela Ahok (yang dinyatakan oleh MUI, Ahok menghina Al-Qur’an) mengemukakan dalih tentang kepemimpinan Abu Thalib yang bukan Islam itu disertai menyebut dirinya pula sebagai profesor. Dalam tayangan langsung itu tampaknya ada beberapa hadirin yang ingin menanggapi, namun pembawa acara tidak memberikan kesempatan.

Perlu diketahui, kepemimpinan Abu Thalib di zaman Nabi saw belum hijrah ke Madinah itu saat surat Al-Maidah belum turun. Jadi otomatis belum ada hukum larangan mengambil pemimpin (dari orang Yahudi dan Nasrani) yang ada di Surat Al-Maidah yang merupakan surat yang terakhir turunnya itu. Oleh karena itu bantahan sang profesor itu sama dengan membubarkan tatanan Islam. Karena yang harus dijadikan hukum final itu ayat yang belakangan turunnya. Bukan malah sudah ada ayat, kemudian justru dibantah pakai keadaan sebelum turun ayat.

Kalau bicara hukum Islam tapi dikembalikan ke awal Islam, dan tidak memahami ayat sesuai dengan kaidah-kaidah, maka akan rusak semua. Hingga minum khamr jadi boleh, shalat tidak wajib, nikah mut’ah boleh, beristri sebanyak-banyaknya boleh, bahkan menikahi ibu tiri alias isteri bapaknya yg sudah meninggal, boleh. Karena sebelum adanya (turun) ayat perintah atupun larangan, ya belum ada hukumnya.

Cara menyimpulkan hukum dengan sangat terbalik seperti itu jelas-jelas sangat merusak Islam.

Ketika ada orang bermodalkan titel tinggi (dan bahkan ditonjolkan dengan ucapan untuk meyakinkan pembawa acara dan pendengar, dalam kasus di tv itu) namun sejatinya merusak Islam seperti itu maka wajib diwaspadai, dan jangan sampai diberi ruang untuk menyiarkan bicaranya kepada umum. Memberinya kesempatan, berarti sama dengan membantu dalam perusakan Islam.

(nahimunkar.com)

(Dibaca 3.220 kali, 1 untuk hari ini)