Jangan Dikira Dirimu Tidak Termasuk Penghalang Masjid-Masjid Allah bila Lakonmu Mengarah ke Situ


Lingkungan Masjid Ringintunggal Bojonegoro Jawa Timur, suasana mau shalat Idul Fitri 2019. Foto/ bpd-desaringintunggal.com

 

Jangan Dikira Dirimu Tidak Termasuk Penghalang Masjid-Masjid Allah bila Lakonmu menjadikan masjid-masjid Allah sebagai sasaran lampiasan nafsumu yang tidak sejalan dengan kemuliaan masjid-masjid Allah.

Mungkin dirimu mendapatkan titipan untuk memimpin suatu negeri atau kampung atau perkantoran atau lingkungan atau sekadar mendapatkan warisan dari kakek nenek hingga berkesempatan untuk mengatur atau sekadar bersuara untuk mengarahkan masjid-masjid. Tahu-tahu aturanmu atau suaramu atau arahanmu itu hanya seseleramu, hanya sekepentinganmu, atau hanya sekepentingan golonganmu sehingga masjid2 itu kamu jadikan sasaran untuk pelampiasan nafsumu itu agar sesuai dengan kepentinganmu, golonganmu, atau bahkan kepentingan istrimu atau anak2mu atau anak buahmu. Sehingga perjuangan kepentingan nafsumu itu tahu-tahu sama sekali tidak sesuai dengan adab-adab mengatur kemuliaan masjid-masjid Allah Ta’ala. Sehingga jadilah kamu sebenarnya adalah yang terkena kecaman keras ayat ini.

{وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ مَنَعَ مَسَاجِدَ اللَّهِ أَنْ يُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ وَسَعَى فِي خَرَابِهَا أُولَئِكَ مَا كَانَ لَهُمْ أَنْ يَدْخُلُوهَا إِلَّا خَائِفِينَ لَهُمْ فِي الدُّنْيَا خِزْيٌ وَلَهُمْ فِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ عَظِيمٌ} [البقرة: 114]

114. Dan siapakah yang lebih aniaya daripada orang yang menghalanghalangi menyebut nama Allah dalam mesjid-mesjid-Nya, dan berusaha untuk merobohkannya? Mereka itu tidak sepatutnya masuk ke dalamnya (mesjid Allah), kecuali dengan rasa takut (kepada Allah). Mereka di dunia mendapat kehinaan dan di akhirat mendapat siksa yang berat

[Al Baqarah114]

Ketika masjid-masjid Allah itu kamu ramaikan tapi bukan sesuai dengan yang sejatinya dituntunkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan hanya sesuai dengan seleramu, selera golonganmu atau selera kekuasaan yang melingkupimu; pada dasarnya itu kamu adalah penghalang masjid-masjid Allah. Karena yang dinamakan ‘menyebut nama Allah dalam mesjid-mesjid-Nya’ itu hanya dengan cara yang dituntunkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tidak yang model lainnya. Dan itu sudah harga mati, patok blangkrong tidak bisa diganggu gugat. Kalau itu kamu geser ke selera golonganmu atau semacamnya, maka kamu akan terkena ayat lagi.


{وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُبِينًا} [الأحزاب: 36]

36. Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata

[Al Ahzab36]

Ketika sudah terkena dua ayat itu tapi kamu masih tetap nekat, maka hati-hatilah, bila sampai kebijakanmu yang tidak bijak itu dilaksanakan dan ditiru orang di mana-mana, maka kamu akan mendapatkan dosa dari kesalahanmu, ditambah dosa2 orang yang meniru kesalahanmu tanpa menguranginya sedikitpun. Lebih2 misalnya sampai ada masjid2 yang pengajiannya dibubarkan oleh anak buahmu, bukan karena pengajian itu melanggar ketentuan2 Allah Ta’ala, tapi hanya karena kamu dan anak buahmu tidak suka Islam ditegakkan di masjid itu, kecuali Islam yang seseleramu, misalnya Islam Nusantara dan sebagainya yang justru merusak Islam; maka itu jelas misimu merobohkan Islam. Menghalangi masjid Allah dan merobohkan Islam.

Lebih-lebih misalnya mendudukkan manusia sebagai Imam besar di suatu masjid terkemuka, padahal manusia itu jelas merusak aqidah Islam, menyamakan Asmaul Husna (nama-nama indah Allah Subhanahu wa Ta’ala) dengan trinitas. Itu jelas berat pertanggungan jawabnya. https://www.nahimunkar.org/astaghfirullah-naudzubillah-nasaruddin-umar-imam-besar-masjid-istiqlal-samakan-99-asmaul-husna-dengan-trinitas/

Betapa beratnya itu.

Makanya, siapa saja mestinya berhati-hati. Masjid-masjid Allah Ta’ala jangan sampai dihalangi dengan cara apapun. Sampai-sampai, misal seorang yang sok kuasa di satu lingkungan, melarang lampu masjid dinyalakan setelah jamaah shalat selesai. Sehingga orang yang mau membaca Al-Qur’an pun kesulitan karena tidak terang. Manusia macam itu juga termasuk penghalang masjid Allah.

Bahkan misalnya pengurus masjid yang pegang duit tidak mau mengeluarkan duit yang dikumpulkan dari jamaah untuk menyedot wc yang sudah penuh, bahkan pintu wcnya dicopot dengan maksud agar tidak ada yang buang air di situ, maka itu juga termasuk menghalangi masjid Allah Ta’ala. Dan itu terjadi di salah satu masjid di Jakarta Selatan, sudah berbulan-bulan. Na’udubillahi min dzalik!

Nah, jadi bukan masalah sepele, tapi masalah sangat berat pertanggung jawabannya. Lebih-lebih yang pada dasarnya adalah penghalang besar masjid-masjid Allah Ta’ala dan menduduki jabatan entah kekuasaan, entah ormas entah lingkungan yang lakon penghalangan masjid itu berdampak luas dan ditiru banyak orang. Itu betapa beratnya. Kelihatannya seakan orang berpengaruh, tetapi justru menggunakan pengaruhnya untuk penghalangan masjid-masjid Allah yang bahkan sangat dikecam dalam ayat suci Al-Qur’an.

Na’udzubillahi min dzalik! Kami berlindung kepada Allah Ta’ala dari hal yang demikian.

Semoga Allah Ta’ala melindungi Umat Islam yang teguh istiqamah dalam Islamnya, dan menghindarkan dari para penghalang-penghalang masjid-masjid Allah yang tampaknya semakin berani saja di negeri ini dan tidak merasa salah. Dan semoga Allah mengembalikan masjid-masjid ke hamba-hambaNya yang memang tunduk taat sesuai dengan perintah dan larangan Allah Subhanahu wa Ta’ala, bukan ke tangan2 orang yang hanya mengikuti selera nafsu syaithoniyahnya dengan aneka corak yang tak sesaui dengan Islam itu sendiri. Aamiin ya Rabbal ‘aalamiin.

(nahimunkar.org)

(Dibaca 544 kali, 1 untuk hari ini)