Ilustrasi/ foto Kerana DIA


Ada dua guru ngaji jauh2 dari Semarang berkenan menjenguk saya waktu sakit di Jakarta. Hanya untuk bilang sesuai nasehat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, laa taghdhob, jangan marah.

Alhamdulillah, nasihat yang baik, disampaikan dan dibawa dari jauh oleh orang baik2, terimakasih.

Entah bagaimana ketika ada orang jauh2 pergi ke suatu tempat hanya untuk mengumumkan marah2nya. (Mungkin nasihat yang pas adalah: jangan diikuti ya!) wallahu a’lam.

Hartono Ahmad Jaiz

***

Man Syaddada Nafaro

Man syaddada nafaro (siapa yang keras, maka orang pasti lari darinya/ menyingkir) kata orang Arab.

Lebih2 kalau para punggawanya mempraktekkan kekerasan dalam menerjemahkan kemarahan beliau yang telah berkata-kata keras itu, maka tidak dapat dipungkiri, makin banyak orang yang lari dari beliau.

Moment yang tepat untuk mendulang suara, tapi sayang, justru beliau buang sia2. Nasi telah jadi bubur, ucapan keras telah terlanjur diucapkan.

Entah itu salah langkah atau bahkan mati langkah.

Petatah petitih mengatakan, yang mau diraih tiada dapat, yang dikandung berceceran.

Kisah ‘lebai malang’ mengingatkan kita. Maunya mendapatkan lebih dari satu hingga bersikeras menempuh dengan caranya (yang salah), akibatnya tak satupun didapatkan. Ke sana tidak mendapatkan apa-apa, kembali ke sini pun tidak memperoleh apa-apa.

Apakah masih mau menyalahkan orang lain? Disadari atau tidak, kata orang Jawa rupanya mengena: Ngundhuh wohing pakerti. Memanen buah perbuatan sendiri.

Balasan Itu Setimpal dengan Perbuatan

Dalam kaidah disebutkan, Al-Jazaa’ min jinsil ‘amal, balasan itu setimpal dengan perbuatan.

Allah befirman,

هَلْ جَزَاءُ الْإِحْسَانِ إِلَّا الْإِحْسَانُ

“Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula).” (QS. Ar-Rahmaan: 60)

Begitu pula sebaliknya, orang yang menyusahkan orang lain maka dia akan dibalas dengan yang serupa. Allah berfirman,

مَنْ يَعْمَلْ سُوءًا يُجْزَ بِهِ

“Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan, niscaya akan diberi pembalasan dengan kejahatan itu.” (QS. An-Nisa’: 123)

Dalam makalah berjudul ‘Balasan Sesuai Perbuatan’, Ustadz Firanda menulis:

Barang siapa yang mempersulit urusan saudaranya…memperberat…terlebih lagi menzoliminya, menipunya…maka Allah akan mensikapinya demikian pula di dunia sebelum di akhirat.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

وَمَنْ يُشَاقِقْ يَشْقُقِ اللَّهُ عَلَيْهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Barang siapa yang menyulitkan (orang lain) maka Allah akan mempersulitnya pada hari kiamat” (HR Al-Bukhari no 7152)/ Read more https://firanda.com/724-balasan-sesuai-perbuatan.html

Barang siapa yang bergaya dengan sesuatu yang tidak ia miliki maka suatu saat  Allah akan membongkarnya :

Umar bin Al-Khottoob berkata :

وَمَنْ تَزَيَّنَ لِلنَّاسِ بِمَا يَعْلَمُ اللهُ مِنْهُ غَيْرَ ذَلِكَ يَشِنْهُ اللهُ

“Barang siapa yang bergaya (menunjukkan sesuatu keutamaan/kebaikan) kepada manusia yang Allah tahu bahwasanya ia tidak demikian maka Allah akan membongkar keburukannya” (Taariikh Dimasyq 32/72, lihat juga Nashbur Rooyah karya Az-Zaila’i 4/81)

Tatkala seseorang menunjukkan sesuatu yang ternyata berlawanan dengan batinnya (hakekat dirinya yang sesungguhnya) maka Allah akan menyikapinya juga sebaliknya, yaitu Allah akan membawanya kepada lawan dari tujuannya. Tujuannya ingin bergaya agar dipuji maka Allah akan membongkar aibnya tersebut. (Lihat I’laam Al-Muwaqqi’in karya Ibnul Qoyyim 2/180-181)

Karenanya tatkala seorang bersikap berpura-pura dihadapan manusia, menunjukkan seakan-akan ia adalah seorang yang alim, seorang yang khusyu’ dalam sholatnya, seorang yang zuhud terhadap dunia, seorang yang ikhlas (padahal hakekat dirinya tidak demikian, justru ia adalah orang yang jahil, tidak khusuk tatkala sholat karena pikirannya kemana-mana, cinta dunia dan tidak zuhud, dan ia seorang yang suka dipuji dan tidak ikhlas) maka suatu saat Allah akan membongkar hakekat dirinya tersebut. Sebagaimana ia menipu manusia, maka Allahpun akan menipunya.

Barang siapa yang dzolim dan bengis terhadap manusia maka Allah akan menyiksanya dengan sadis juga. Para penguasa yang bengis dan sadis terhadap rakyatnya maka suatu saat ia akan merasakan kebengisan dan kesadisan tersebut menimpa dirinya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

اللَهُمَّ مَنْ وَلِيَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِي شَيْئًا فَشَقَّ عَلَيْهِمْ فَاشْقُقْ عَلَيْهِ وَمَنْ وَلِيَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِي شَيْئًا فَرَفِقَ بِهِمْ فَارْفُقْ بِهِ

“Yaa Allah barang siapa yang menjadi wali/mengurusi perkara umatku lalu ia memberatkan mereka maka beratkanlah perkaranya, dan barang siapa yang mengurusi suatu perkara umatku lalu ia lembut kepada mereka maka lembutlah kepadanya” (HR Muslim no 1828)/ Read more https://firanda.com/724-balasan-sesuai-perbuatan.html

Demikianlah, semoga menjadi pelajaran bagi kita semua. Karena bagaimanapun, di samping balasan ataupun kejadian di dunia ini, maka di akherat kelak, setiap perbuatan akan dibalas sesuai dengan kadar perbuatan di dunia. Maka balasan pasti akan ada, bila  dunia ini belum terbalaskan, pastilah di akherat akan dibalas.

Balasan itu tergantung dari perbuatannya. Allah Ta’ala menegaskan,

فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ

“Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.” (QS:Az-Zalzalah | Ayat: 7).

وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ

“Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.” (QS:Az-Zalzalah | Ayat: 8).

Disingkiri manusia

Perbuatan seseorang di dunia ini yang mengakibatkan manusia menyingkirinya, ada dua jurusan. Bila orang2 menyingkir karena ogah mengikuti kebenaran yang ditegakkan oleh seseorang, maka seseorang yang disingkiri itu tetap tidak bersalah. Dan derita yang menimpanya itu bukan merupakan balasan keburukan, tapi justru merupakan tabungan kebaikan di akherat.

Sebaliknya, bila seseorang disingkiri manusia di dunia karena ketidak baikannya, misal zalim, tidak adil, tidak jujur dan hal-hal yang kurang baik lainnya, maka disingkirinya oleh banyak manusia itu merupakan balasan cicilan di dunia. Dan di akherat masih akan dibuka lagi catatan2 keburukannya untuk mendapatkan balasan sesuai dengan keburukannya.

Sebagaimana telah dikutip tadi, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

وَمَنْ يُشَاقِقْ يَشْقُقِ اللَّهُ عَلَيْهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Barang siapa yang menyulitkan (orang lain) maka Allah akan mempersulitnya pada hari kiamat” (HR Al-Bukhari no 7152).

(nahimunkar.org)

(Dibaca 414 kali, 1 untuk hari ini)