[Jangan Ngaji di Sini Kecuali Antum Ganti Knalpot Itu!]

Belakangan, ada satu thalib -yang semoga dimuliakan oleh Allah Ta’ala- minat belajar bareng kami di kajian pagi. Namun untuk keesokannya, saya larang datang. Sebabnya adalah knalpot motor K****aki yang double dan keduanya bersuara layaknya orang tidak punya akhlak di tengah masyarakat. Ini akan mengganggu sebagian tetangga kami. Tidak ada rasa keberatan bagi kami tahdzir pengguna semisal ini di kalangan ikhwan Sunnah.

Karena tidak ada kesolehan pada knalpot racing.

Tidak ada pula sunnahnya hal tersebut. Perhiasan bukan. Bising iya. Bikin mangkel iya.

Lalu kami bertanya apakah beliau juga ikutan komunitas biker. Jawabannya iya dan masih baru. Kami bertanya apa komunitas ‘nyunnahmu’ atau ustadznya mungkin tidak menasehati agar jangan gunakan knalpot semacam itu. Ini pertanyaan sekaligus teguran.

Kalau mau saleh, amalkan hadits berikut:

من كان يؤمن بالله واليوم الآخر فلا يؤذي جاره

“Siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka jangan menyakiti tetangganya.” [H.R. Al-Bukhary dan Muslim]

Knalpot racing ataupun yang bersuara bising, meskipun misalnya tidak melanggar peraturan di tanah air, ia melanggar peraturan syariat berupa kenyamanan tetangga dan orang lain. Jika itu adalah perhiasan, maka perhiasan yang akan memberatkan hisab pemiliknya di Akhirat, karena zalimnya. Jika itu adalah kebanggaan, maka itu akan jadi tangisan jika manusia tidak memaafkan.

Sudah berapa tetangga dizalimi? Berapa balita atau bayi yang terbangun? Berapa ibu yang mendoakan keburukan karena sudah capek membuat anaknya tidur namun sekejap menangis? Berapa banyak pelajar terganggu? Berapa banyak pelajar daring terganggu dengan bisingnya ‘memanasi’ motor knalpot zalim di pagi hari?

Pertanyaan itu masih belum selesai.

Jawabannya di akhirat jika tidak mau bertaubat. Jawabannya di akhirat. Semua catatan amal hadir. Semua klaim kezaliman hadir. Semua tuntutan hadir. Yang tidak hadir ya knalpotmu itu.

Jika alasannya adalah hobi, maka dalam Islam segala kezaliman dilarang, entah itu hobi entah itu bukan. Apalagi jika ditambah keangkuhan. Tidak ada tawadhu di balik knalpot bising.

Maka kami larang thalib muda tersebut masuk ke area kami dengan kezaliman suara knalpot. Ini juga tanbih kepada pembaca yang mungkin sudah mulai belajar ngaji -bahkan kepada beberapa dai -, motor hanyalah dunia. Suka boleh. Punya boleh. Zalim jangan.

Siapapun thalib yang datang dengan knalpot bising, lalu beralasan bahwa gurunya pun begitu, maka akan kami nasehati: ketika lidah di mimbar begitu indah namun kezaliman terang-terangan mendustakannya, maka apalagi kebaikan yang tersisa darinya selain retorika?!

Jika Anda marah dan tersinggung dengan tulisan ini, coba hitung sudah berapa ratus orang atau ribu kali manusia sumpah serapah karena kezaliman Anda!

Namun jika ada dai yang tidak mencontohkan melainkan menasehati rekan-rekan bikers agar hijrah dari sisi ini, maka patut disyukuri. Hijrah dari hizbiyyah. Hijrah dari knalpot zalim. Alhamdulillah.

Semoga sampai ke hati bi’idznillah. Tulisan ini tidak bersuara laksana knalpot zalim itu. Tulisan ini tidak meraung menyakiti laksana knalpot zalim itu. Tapi semoga tulisan ini sampai ke hati yang masih ingin meninggikan imannya. Hadaniyallahu wa iyyakum.

Hasan Al-Jaizy Al-Jaizy

6 jam  · 

 


Knalpot bising. Foto/dimensinews

(nahimunkar.org)

(Dibaca 463 kali, 1 untuk hari ini)