ilustrasi fotodakwah.com


Apa Itu Salah Kaprah?

Korupsi itu salah, bukan salah kaprah.

Bohong itu salah, bukan salah kaprah.

Pemikiran aneh, nyleneh, batil, sesat,menjerumuskan; itu bukan salah kaprah, tapi salah.

Tapi ketika orang bilang “beli sanyo” padahal maksudnya beli pompa air, itulah salah kaprah. Bukan salah.

Bilang “naik bus way”, padahal maksudnya naik bus trans Jakarta itulah salah kaprah, bukan salah

Bilang “menjahit baju”, itu salah kaprah, tapi bukan salah. Yang dijahit bahan atau kain, tapi dibilang baju karena memang dibuat baju. Nah, lafal “menjahit baju” itulah salah kaprah namanya, dalam paramasastra Jawa.

Salah kaprah artinya susunan kata atau suatu ungkapan secara harfiyah dinilai salah (tapi) kaprah, lumrah (sudah umum dipakai dan dimaklumi). Yaitu (kata-katanya) salah (secara harfiyah) tetapi (sudah) kaprah (umum digunakan), maka dimaklumi dan tidak dianggap sebagai salah. Sehingga salah kaprah itu bukan salah. Hanya (seakan) salah ketika dikembalikan kepada harfiyah. Ketika masyarakat umum sudah tahu yang dimaksud, maka tidak masalah.

 Kenapa dikatakan salah kaprah?

Karena memiliki susunan khas atau ungkapan (salah secara harfiyah) tapi maknanya tidak dikembalikan kepada harfiyah, namun kepada maksud pengertian umum (yang sudah dikenal secara umum). Misalnya, orang mengatakan, “saya sedang menjahit baju”, pengertian umum sudah memahami, ya menjahit baju. Padahal, sebenarnya yang dijahit itu bahan/ kain, tetapi tidak usah dikatakan: “Saya sedang menjahit bahan untuk dibikin baju”. Cukup dikatakan: “Saya sedang menjahit baju”.

Dalam bahasa Arab, bahkan ada dalam hadits, ungkapan yang semacam itu.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

«لَقِّنُوا مَوْتَاكُمْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ».

__________

[شرح محمد فؤاد عبد الباقي]

 [ ش (لقنوا موتاكم) أي ذكروا من حضره الموت منكم بكلمة التوحد بأن تتلفظوا بها عنده]

صحيح مسلم (2/ 631)

“Talqinlah (tuntunlah) orang yang mau meninggal (untuk mengucapkan) Laa ilaaha illallah.” (HR. Muslim, dari Abu Sa’id Al-Khudry)

Artinya, Sebutkanlah/ tuturkanlah kalimah Tauhid لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ pada orang yang didatangi ajal (menjelang ajal) dengan cara kalian melafalkan kalimah Tauhid itu di sisinya (calon mayit itu). Syarah Muhammad Fuad Abdul Baqi. / Maktabah Syamilah

Lafal mautaa  موتىi tu jamak (plural) dari kata mayyit ميت . Mautaa artinya mayit-mayit (mayyituun ميتون  , amwaat أموات , jamak dari mayyit ميت ). Tetapi yang dimaksud adalah calon mayit, orang yang sedang menjelang ajal.
Jadi lafalnya mautaa (mayit-mayit), tetapi maknanya orang yang sedang menjelang ajal. Sebagaimana menjahit baju, sejatinya adalah menjahit bahan yang nantinya akan jadi baju.

Keterangan berikut ini dari situs konsultasi syariah insya Allah menambah jelasnya. Silakan simak baik-baik.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَقِّنُوا مَوْتَاكُمْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ».

 “Talqinlah (tuntunlah) orang yang mau meninggal (untuk mengucapkan) Laa ilaaha illallah.” (HR. Muslim, dari Abu Sa’id Al-Khudry)

Berkata An-Nawawy:

مَعْنَاهُ مَنْ حَضَرَهُ الْمَوْت ، وَالْمُرَاد ذَكِّرُوهُ لَا إِلَه إِلَّا اللَّه لِتَكُونَ آخِر كلامه

“Maknanya: Orang yang sedang didatangi kematian, maksudnya: Ingatkan dia laa ilaaha illallah supaya itu menjadi akhir ucapannya.” (Syarh Muslim 6/219)

Beliau shallalllahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda :

«مَنْ كَانَ آخِرُ كَلَامِهِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ»

“Barangsiapa yang ucapan terakhirnya “laa ilaaha illallah” maka akan masuk surga.” (HR. Abu Dawud, dari Mua’dz bin Jabal, dan dishahihkan Syeikh Al-Albany).

Read more https://konsultasisyariah.com/773-apa-hukum-adzan-dan-talqin-kepada-mayat.html

Kesimpulan.

Salah kaprah itu bukan salah. Maka jangan sampai menyebut “salah kaprah” terhadap pemikiran yang tidak benar, nyeleneh, aneh,  batil, nyeleweng, bahkan sesat. Itu jangan dikatakan “salah kaprah”, tapi katakan: sungguh salah, salah tenan!. Karena salah kaprah itu bukan salah, tetapi benar; hanya saja secara paramasastra Jawa (balaghah, kalau Bahasa Arab) susunan kata atau ungkapan itu bentuknya salah secara harfiyah, tapi sudah digunakan secara umum dan dimaklumi, maka disebut salah kaprah.

Seperti perkataan “menganyam tikar” itu bukan salah, tetapi ditinjau dari segi paramasastra Jawa namanya salah kaprah, karena yang dianyam sebenarnya bukan tikar tapi bahan untuk dibuat tikar. Dalam Balaghah mungkin ada yang disebut biqodri ma yakuunu atau juga ada yang disebut biqodri maa kaana (disebut dengan sebutan apa yang sudah jadi).

Sekali lagi, jangan sampai perkataan atau pemikiran yang batil, salah, nyeleweng, nyeleneh, bahkan sesat, lalu hanya disebut salah kaprah, tetapi sebut saja nyata salah, sungguh salah, salah tenan!. Karena yang namanya salah kaprah itu bukan salah. Justru merupakan suatu jenis bentuk susunan kata atau ungkapan  yang umum digunakan, tidak salah, hanya secara tinjauan segi bahasa namanya  jenis ungkapan salah kaprah.

Lebih jelasnya begini:

Salah kaprah, pada umumnya tidak untuk menyalahkan perbuatan. Hanya mengenai lingkup pembicaraan untuk didudukkan secara harfiyahnya. Misal, menenun sarung atau menganyam tikar itu tadi. Itu yang dianyam bukan tikar tapi pandan atau mendong dan sebagainya, bahan tikar. Maka disebut salah kaprah (salah mengucapkannya tapi sudah) kaprah (umum) jadi tidak masalah. Malahan kalau diucapkan menganyam pandan itu ga’ lumrah, ga’ umum. Maka disebut “bener ora lumrah” (ucapannya) benar (tapi) tidak umum.

Dalam kehidupan sehari-hari sering juga, orang bilang beli sanyo, padahal pompa air. Baca qulhu, padahal surat Al-Ikhlas, baca Tabarok, padahal Surat Al-Mulk. Maka saya tidak termasuk setuju ketika salah kaprah itu digunakan untuk mengatakan perbuatan salah tapi umum banyak dilakukan orang. Misalnya pacaran itu banyak dilakukan orang, ya jangan dikatakan salah kaprah. Itu salah tenan! Ya memang salah, bukan salah kaprah. Karena salah kaprah itu bukan salah, tapi hanya seakan ucapannya salah. Orang bilang “baca qulhu” itu salah kaprah, bukan salah (karena baca qulhu ya maksudnya baca surat Al-Ikhlas, hanya banyak orang mengatakannya qulhu). Tapi orang pacaran itu salah, bukan salah kaprah (karena memang salah, walau dilakukan banyak orang ya tetap salah). Semoga faham.

Diulangi lagi biar lebih jelas dan kongkrit. Karena masih banyak orang yang mengatakan hal yang memang salah seperti pemikiran salah, menyimpang, nyeleneh, bahkan sesat; hanya disebut salah kaprah. Dan kesalahan yang banyak dilakukan orang, lalu dikatakan salah kaprah. Seperti korupsi, berbohong, ingkar janji dan semacamnya; dikatakan salah kaprah, padahal sungguh salah, memang salah, bukan sekadar salah kaprah.

Jadi perbuatan salah, walau banyak dilakukan orang ya tetap salah, bukan salah kaprah. Contoh: korupsi itu salah, bukan salah kaprah, dan bukan menjadi benar walau banyak dilakukan orang.

Sekian. Semoga bermanfaat.

Hartono Ahmad Jaiz

(nahimunkar.com)

(Dibaca 705 kali, 1 untuk hari ini)