Oleh : Dr. Slamet Muliono[1]

Setan memiliki tradisi menebarkan janji dengan janji-janji yang memukau, sehingga menggocang orang-orang yang dalam hatinya ada keraguan dan lemah iman. Janji setan pada akhirnya diakui sebagai sebuah kedustaan ketika manusia sudah pada kondisi yang sengsara dan terhina, karena divonis masuk neraka. Sementara Allah juga memberikan janji, dan janji Allah itu benar dan pasti terwujud. Janji-janji Allah sudah dipraktekkan oleh para Nabi dan Rasul serta pengikutnya yang setia. Mereka sudah meniti jalan menuju surga sebagaimana dibimbing para Nabi dan Rasulnya.

Saat ini kebanyakan manusia lebih condong kepada janji-janji setan, dan melalaikan janji-janji Allah. Banyaknya pelanggarakan nilai-nilai agama Islam menjadi salah satu indikasi bahwa manusia lebih memilih janji-janji kosong setan dan mengesampingkan janji-janji Allah yang pasti benar dan membawa kebaikan.

Janji Setan dan Berujung Penyesalan

Dalam Al-Qur’an Allah menggambarkan secara detail bagaimana identitas setan dan cara kerjanya. Dia (setan) di antaranya memperdaya manusia dengan berbagai cara, sehingga manusia mengikuti apa yang dibisikkannya. Setan membuat berbagai tipuan sehingga membuat manusia terperosok dan hanyut dalam kenikmatan dunia, dan melupakan akherat. Tipuan dunia berujung pada kesengsaraan manusia ketika ditetapkan masuk ke dalam neraka bersama setan. Hal ini  diabadikan Allah sebagaimana firman-Nya :

Demi Allah, sungguh Kami telah mengutus (Rasul-rasul) umat sebelum kamu (Muhammad), tetapi setan menjadikan terasa indah bagi mereka perbuatan mereka (yang buruk), sehingga dia (setan) menjadi pemimpin mereka pada hari ini dan mereka akan mendapat azab yang sangat pedih. (QS. An-Nahl : 63)

Apa yang dilakukan oleh setan untuk menyesatkan manusia bukanlah barang baru, tetapi merupakan perilaku yang sudah berlangsung lama. Bahkan umat-umat terdahulu begitu banyak disesatkan sehingga terjerumus dalam perbuatan maksiat. Allah menunjukkan bahwa kecerdikan setan membuat manusia terjerembab dalam kemaksiatan, dan manusia demikian asyik dan senang dengan permainan dan kehidupan dunia. Hal ini sebagaimana firman-Nya :

Wahai manusia, sungguh janji Allah itu benar, maka janganlah kehidupan dunia  memperdayakankamu dan janganlah (setan) yang pandai menipu, memperdayakan kamu tentang Allah (QS. Fathir : 5)

Allah menunjukkan bahwa janji-Nya benar tetapi setan berhasil memperdayai manusia sehingga tertipu oleh jebakannya. Setan membisikkan kepada manusia dengan berbagai janji berupa kebaikan-kebaikan dari apa yang dilakukannya. Padahal janji-janji itu hanya angan-angan kosong dan kebanyakan manusia justru banyak terkesima dan akhirnya tergelincir. Apa yang telah menimpa Nabi Adam merupakan salah satu contohnya, ketika setan menafsirkan larangan Allah untuk mendekati pohon, sebagaimana firman-Nya :

Kemudian serta membisikkan (pikiran jahat) kepadaya dengan berkata : “Wahai Adam ! maukah aku tunjukkan kepadamu pohon keabadian (khuldi) dan kerajaan yang tidak akan binasa” (QS. Thaha : 120)

Nabi Adam berhasil diperdayakan oleh setan dengan memberikan harapan yang tinggi berupa kedudukan dan kemuliaan bila mendekati pohon itu. Strategi setan itu ternyata berhasil membujuk Adam yang awalnya sudah mengetahui bahwa mendekati pohon itu merupakan larangan. Apa yang dilakukan setan hanyalah membisikkan dengan berbagai argumentasi yang diyakini oleh manusia sebagai kebenaran. Setan tidak memiliki kekuasaan untuk memaksa manusia untuk melakukan sesuatu, tetapi anehnya kebanyakan manusia menetapkan pilihan dengan memilih jalan yang ditunjukkan setan. Dengan berbagai cara, setan bisa mendorong manusia untuk melakukan hal yang terlarang itu. Maraknya hidup bebas atau kumpul kebo, budaya miras di kalangan pemuda, bertebarannya narkoba, keberanian pelaku LGBT atau hubungan sesame jenis hingga prostitusi online puluhan juta rupiah, menjadi contoh kuatnya pengaruh ajakan dan tipuan setan terhadap manusia.

Demikian pula untuk meraih kesenangan, manusia memiliki cara untuk menyembunyikan praktek kecurangan dan kebohongan. Mereka melakukan korupsi dengan cara yang halus dan tersembunyi. Namun kejahatan itu pada akhirnya akan tercium juga. Ketika tertangkap dan masuk penjara, maka kesengsaraan dan kehinaanlah yang diperolehnya. Masyarakat telah mengetahui apa yang dahulu pernah disembunyikannnya. Manusia hanya bisa menyesal terhadap apa yang telah diperbuatnya. Fenomena penyesalan ini akan diklarifikasi oleh setan sendiri bahwa hal ini bukan karena kesalahannya, tetapi karena kesalahan manusia itu sendiri. Pengakuan setan ini diabadikan oleh Allah sebagaimana firman-Nya

Dan setan berkata ketika perkara (hisab) telah diselesaikan, “SesungguhnyaAllah telah menjanjikan kepadamu janji yang benar dan aku pun telah menjanjikan kepadamu  tetapi aku menyalahinya. Tidak ada kekuasaan bagiku terhadapmu, melainkan (sekedar) aku  menyeru kamu lalu kamu mematuhi seruanku. Oleh sebab itu, janganlah kamu mencerca aku, tetapi cercalah dirimu sendiri. Aku tidak dapat menolongmu, dan kamu pun tidak dapat menolongku sesungguhnya aku tidak membenarkan perbuatanmu mempersekutukan aku (dengan Allah) sejak dulu. Sungguh orang-orang yang dzalim akan mendapat siksaan yang pedih.” (QS. Ibrahim : 22)

Di babak akhir, setan seolah-olah menjadi hakim dan menyatakan dirinya bebas dari berbagai tuduhan dan berbalik menyalahkan manusia karena lemahnya kekuatan diri atas bujukan dan ajakannya ketika di dunia. Bahkan setan dengan rasa tidak bersalah, menasehati manusia untuk tidak mencerca dirinya tetapi justru yang harus mencerca dirinya sendiri karena menuruti janji-janjinya yang palsu.

[1] Dosen UIN Sunan Ampel Surabaya dan Direktur PUSKIP (Pusat Kajian Islam & Peradaban)

Surabaya, 12 Januari 2019

(nahimunkar.org)

(Dibaca 341 kali, 1 untuk hari ini)