‘Jas Merah’, Jangan Sekali-Kali Melupakan Sejarah

  • Semboyan Nasakom: Ganyang Nekolim – Hancurkan Kepala Batu (Sasaran arahnya ke Islam tuh).
  • Zaman selanjutnya: Radikal-Radikul (Sasaran arahnya juga ke Islam tuh).


Ilustrasi. Foto/fb

Persiapan kemerdekaan 1945, politisi Islam berhadapan dengan nasionalis sekuler minus PKI (Partai Komunis Indonesia) karena PKI memang ga’ cawe2 dalam persiapan kemerdekaan. Begitu merdeka, PKI ngadain kekacauan, berontak hingga 4 kali, membunuhi Muslimin dan pejabat.

Selanjutnya Soekarno dengan nasionais sekulernya merangkul PKI, dan menjelang meletusnya pemberotakan PKI 1965/ Gestapu PKI, NU (Nahdlatul Ulama) ngikut gabung dengan Soekarno nasionalis sekuler pro PKI dengan wadah Nasakom (Nasional, agama/ NU, dan Komunis/ PKI).

Begitu PKI berontak 1965, NU yang sudah gabung di wadah Nasakom itu juga jadi sasaran utama untuk dibunuhi oleh PKI.

Belakangan tampaknya apa yang terjadi di wadah bubrah Nasakom itu seolah terjalin lagi. Kalo dulu senjatanya ‘ganjang (ganyang) Nekolim, neo kolonialisme’ atau Nasakom Bersatu Hancurkan Kepala Batu, maksudnya hancurkan Masyumi (mungkin maksudnya adalah Islam non NU, tapi kenyataannya NU jadi sasaran bunuh pula), kini Nekolim atau kepala batu itu berganti sebutan ‘radikal radikul’. Para pengkhianat justru merasa menang? Sambil mengantek ke komunis Chnia?

Allah Ta’ala tetap membela kaum Mu’minin. dan benci kepada kekafiran, kemunafikan yang tingkah orang2nya di antaranya ditandai dengan benci Islam tapi pro ke kekufuran atheis anti Tuhan alias komunis.

Ini semua pelajaran berharga. Mereka sendiri lupa semboyannya, ‘Jas merah’, jangan sekali-kali melupakan sejarah. Komunis, kafirin, munafiqin, musyrikan ya tentu tidak suka dengan agama Allah Ta’ala. itu saja.

(nahimunkar.org)

(Dibaca 207 kali, 1 untuk hari ini)