.

 

Surakarta (An-najah.net) – Jelang Pemilu 2014, sejumlah orang yang mengaku penasihat spiritual atau dukun menawarkan jasa bagi calon anggota legislatif yang ingin sukses melenggang ke kursi wakil rakyat. Tidak sedikit calon yang mempercayai ‘orang pintar’ ini, meski tidak sedikit mencibir praktek mistis ini.

Salah satu dukun yang sering didatangi adalah Kiai Suryo. Ia seorang dukun yang membuat heboh melalui video berjudul ‘Merah Delima’ yang diunggah ke Youtube 19 Februari 2014 lalu, mengaku bisa memuluskan jalan seseorang untuk bisa menjadi anggota legislatif.

“DPRD dan DPD Rp 250 juta. Kalau DPR pusat sampai wali kota bupati tarifnya sama, Rp 1 miliar,” kata Suryo ketika dihubungi merdeka.com.

Sementara itu, menurut seorang sosiolog Trimarhaeni di Semarang. Mengatakan perbuatan merdukun itu suatu hal lucu. Bahkan perbuatan itu tidak masuk akal. Ia mengatakan wajar jika rakyat yang cerdas tidak mau memilih karena yang dipilih seperti itu. “Rakyat memang harus jadi pemilih yang cerdas, maka wajar jika rakyat tidak memilih karena mareka tidak mau memilih caleg seperti itu” ungkapnya kepada reporter metroTV.

Namun, jika umat Islam mau kembali kepada Islam. Maka Islam telah menunjukkan bahwa perbuatan mendatangi dukun itu haram hukumnya. Dan perbuatan itu merupakan kekafiran dan bisa terjerumus dalam kesesatan.

Para dukun mengaku mengetahui hal-hal yang ghaib itu hanya didasarkan atas perkiraan belaka, atau dengan cara mendatangkan jin, dan meminta tolong kepada jin-jin itu tentang sesuatu yang mereka inginkan. Perbuatan seperti ini bisa masuk kedalam jurang kesyirikan.

Rasulullah Saw bersabda,

مَنْ أَتَى كَاهِنًا أَوْ عَرَّافًا فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Barang siapa mendatangi dukun atau rukang ramal, lalu membenarkan apa yang ia katakana, maka sungguh dia telah kafir terhadap apa yang diturunkan kepada Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam.” (HR. Bukhari – Muslim)

Rasulullah juga bersabda,

لَيْسَ مِنَّا مَنْ تَطَيَّرَ أَوْ تُطُيِّرَ لَهُ أَوْ تَكَهَّنَ أَوْ تُكُهِّنَ لَهُ أَوْ سَحَرَ أَوْ سُحِرَ لَهُ وَمَنْ أَتَى كَاهِنًا فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُوْلُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Bukan dari golongan kami orang yang meramal nasib dan yang minta diramalkan, orang yang melakukan praktek perdukunan dan yang memanfaatkan jasa perdukunan, yang melakukan praktek sihir (tenung) atau yang memanfaatkan jasa sihir (minta ditenungkan). Dan barangsiapa mendatangi dukun dan membenarkan apa yang ia katakan, maka sesungguhnya ia telah kafir pada apa yang diturunkan kepada Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam.” (HR. Al-Bazzar dengan sanad Jayyid).

Rasulullah Saw, menegaskan melalui sabdanya:

مَنْ أَتَى عَرَّافًا فَسَأَلَهُ عَنْ شَيْءٍ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلَاةٌ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً

“Barang siapa mendatangi tukang ramal dan menanyakan sesuatu kepadanya, tidak akan diterima shalatnya selama empat puluh malam.” (HR. Muslim, dan dalam riwayat lain disebutkan empat puluh hari).

Berkembangnya praktek dukun ini memang benar-benar lucu, tidak masuk akal dan sangat memprihatikan. Fenomena dukun politik ini menunjukkan kesesatan mereka diatas kesesatan. (Anwar/annajah)

(nahimunkar.com)

(Dibaca 812 kali, 1 untuk hari ini)