Perkataan Ahok dinilai menista Islam sehingga menimbulkan aksi besar jutaan orang membela Islam. Itu karena menyinggung keyakinan Islam.

Oleh karena itu perlu diketahui seberapa kadar penghinaan Ahok itu dilihat dari keyakinan Islam.

Yang jadi pangkal persoalan adalah perkataan Ahok: “Dibohongin pakai surat al Maidah 51”. Kalimat ini terdapat dalam isi pidato Ahok.

Pidato Gubernur Provinsi DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (alias Ahok) di Kabupaten Kepulauan Seribu pada hari Selasa, 27 September 2016 (kemudian videonya beredar) antara lain menyatakan, “…Jadi jangan percaya sama orang, kan bisa saja dalam hati kecil bapak ibu nggak bisa pilih saya, ya kan. Dibohongin pakai surat al Maidah 51, macam-macam itu. Itu hak bapak ibu. Jadi bapak ibu perasaan nggak bisa pilih nih karena saya takut masuk neraka, dibodohin gitu ya..” 

Demikian penggalan dari perkataan Ahok yang ramai dipersoalkan.

Mengatakan dibohongi pakai sesuatu yang diyakini dan dijunjung tinggi, berarti pelecehan

Dalam artikel saya berjudul Ahok Sama dengan Menganggap Al Maidah 51 Itu Materi Kebohongan telah dijelaskan sebagai berikut.

Lafal dibohongi (dibohongin, cara logat Betawi/ Jakarta) di situ hanya bisa berkaitan dengan materi yang dianggap berupa kebohongan. Tidak bisa lafal dibohongi di situ digunakan untuk materi yang dinilai benar, bagus, dijunjung tinggi yang diyakini bahwa melanggarnya merupakan suatu kesalahan, kecuali untuk melecehkannya.

Berikut ini contohnya:

Dibohongi pakai janji palsu (Materi kebohongan)

Dibohongi pakai produk abal-abal (Materi kebohongan)

Dibohongi pakai peraturan palsu (Materi kebohongan)

Tidak bisa lafal dibohongi itu digunakan untuk materi yang dinilai benar, bagus, dijunjung tinggi dan diyakini bahwa melanggarnya merupakan suatu kesalahan, kecuali untuk melecehkannya.

Misal: Dibohongi pakai UU (Undang Undang) pemberantasan korupsi (agar tidak mau korupsi).

Dibohongi pakai UU Pemberantasan Narkoba (agar tidak mengkonsumsi narkoba).

Lafal dibohongi bila disandingkan dengan UU pemberantasan korupsi, ataupun UU pemberantasan Narkoba berarti melecehkan UU itu. Dan masih pula menganggap bahwa yang melanggar UU itu justru yang lolos dari kebohongan.

Ketika Ahok mengatakan: “Dibohongin pakai surat al Maidah 51, macam-macam itu.” maknanya sama dengan menganggap surat al Maidah 51 itu materi kebohongan.

Lebih jelas lagi, ketika ucapan Ahok itu dia lanjutkan dengan perkataan: “…dibodohin gitu ya..” maka ucapan itu lebih menguatkan anggapannya bahwa Surat Al Maidah 51 itu materi kebohongan yang dipakai untuk membohongi dan membodohi.

Dilihat dari pelaku dan materi yang dipakai untuk membohongi

Kalimat yang diucapkan Ahok itu bisa juga dilihat dari segi pelaku dan materi yang dipakai untuk membohongi.

Perkataan Ahok: “Dibohongin pakai surat al Maidah 51” itu pelakunya tidak disebut. Bisa dirujuk kepada perkataan sebelumnya: “…Jadi jangan percaya sama orang” Berarti pelakunya adalah orang. Sedang materi yang dipakai untuk membohongi adalah surat al Maidah 51. Tujuan membohongi adalah agar tidak memilih orang nasrani (dalam kasus ini, Ahok orang Nasrani). Itu tersirat dalam perkataan Ahok yang mnggambarkan akibatnya, yaitu dalam ucapannya: “Jadi bapak ibu perasaan nggak bisa pilih nih karena saya takut masuk neraka, dibodohin gitu ya..” 

Artinya, bapak ibu tidak bisa pilih (Ahok yang nasrani) karena takut neraka, (karena) dibodohin (oleh orang pakai Surat Al-Maidah 51 itu).

Di situ ada beberapa  hal:

  1. dibohongi oleh orang
  2. (bohongnya) pakai surat al maidah 51.
  3. tujuannya agar tidak memilih orang nasrani sebagai pemimpin.
  4. akibat dibohongi pakai ayat itu maka bapak ibu berperasaan nggak bisa pilih (Ahok yang nasrani) karena takut masuk neraka,  (karena telah) dibodohin (orang).

 Intinya:

  1. Orang berlaku bohong, ketika memakai surat Al-Maidah 51 untuk menjelaskan bahwa memilih orang nasani (sebagai teman kepercayaan, pemimpin dan semacamnya).
  2. Surat al maidah 51 ketika dipakai untuk masyarakat yang mengakibatkan merasa berdosa ketika memilih orang nasrani (kasusnya Ahok yang nasrani) berarti untuk membohongi dan membodohi masyarakat.

Dari sini tuduhan bohong berarti kepada dua:

Pertama, orang yang memakai surat al maidah 51 untuk melarang umat Islam memilih orang nasrani sebagai pemimpin.

Kedua, surat al maidah 51 itu sendiri dianggap jadi alat bohong ketika untuk melarang orang memilih orang nasrani sebagai pemimpin.

Untuk menjawab tuduhan itu, perlu dibentangkan di sini bagaimana isi surat al maidah 51 itu dan pengertiannya. di sini dikutip dari tasfir resmi Departemen Agama.

Surat Al Maidah 51 Menurut Tafsir Depag R

۞يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تَتَّخِذُواْ ٱلۡيَهُودَ وَٱلنَّصَٰرَىٰٓ أَوۡلِيَآءَۘ بَعۡضُهُمۡ أَوۡلِيَآءُ بَعۡضٖۚ وَمَن يَتَوَلَّهُم مِّنكُمۡ فَإِنَّهُۥ مِنۡهُمۡۗ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَهۡدِي ٱلۡقَوۡمَ ٱلظَّٰلِمِينَ ٥١

  1. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim [Al Ma”idah,51]

Tafsir

Pada ayat ini (51) Allah SWT melarang orang-orang yang beriman, agar jangan menjadikan orang-orang Yahudi dan Nasrani sebagai teman akrab yang akan memberikan pertolongan dan perlindungan, apalagi untuk dipercayai sebagai pemimpin.

Selain dari ayat ini masih banyak ayat-ayat yang lain dalam Al-Qur’aan yang menyatakan larangan seperti ini terhadap orang-orang Yahudi dan Nasrani.

Diulangnya berkali-kali larangan ini dalam beberapa ayat dalam Al-Qur’aan, menunjukkan bahwa persoalannya sangat penting dan bila dilanggar akan mendatangkan bahaya yang besar. (Al-Qur’an dan Tafsirnya, Jilid II, juz 6, halaman 442-443, Departemen Agama Republik Indonesia, Proyek Pengadaan Kitab Suci Al-Qur’an 1985/1986).

Dalam tafsir resmi Departemen Agama (kini Kementerian Agama) itu sudah jelas:

Pada ayat ini (51) Allah SWT melarang orang-orang yang beriman, agar jangan menjadikan orang-orang Yahudi dan Nasrani sebagai teman akrab yang akan memberikan pertolongan dan perlindungan, apalagi untuk dipercayai sebagai pemimpin.

Dengan demikian, tuduhan Ahok dalam pidatonya itu jelas menuduh kepada dua pihak yaitu orang, dan juga ayat. Oleh karena itu MUI (Majelis Ulama Indonesia) menegaskan:

Pernyataan Basuki Tjahaja Purnama dikategorikan:

 (1) Menghina Al-Quran dan atau

(2) menghina ulama yang memiliki konsekuensi hukum.

Penistaan Ahok dilihat dari keyakinan Islam yang dia singgung

Mari kita bahas perkataan Ahok yang jadi persoalan, dilihat secara keyakinan Islam, karena menyangkut ayat Al-Qur’an yang merupakan keyakinan inti dalam Islam. Kalimat Ahok ini akan kami susul dengan kalimat yang senada untuk mengurai agar terkuak duduk soalnya secara keyakinan dalam Islam.

  1. Dibohonginpakai surat al Maidah 51”. (dibohongi pakai sesuatu (ayat) yang diyakini mutlak benarnya dalam keyakinan Islam). Berikut ini untuk bahan perbandingan.
  2. Dibohongi pakai hadits mutawatir. (dibohongi pakai sesuatu (hadits) yang diyakini sangat kuat benarnya dalam keyakinan Islam).
  3. Dibohongi pakai hadits shahih. (dibohongi pakai sesuatu (hadits) yang diyakini kuat benarnya dalam keyakinan Islam).

Dari tiga kalimat itu akan tergambar seberapa kadar penistaan dari lafal dibohongi ketika disandingkan dengan lafal “pakai surat al Maidah 51” secara keyakinan dalam Islam. Sebab sudah menyinggung keyakinan Islam yang tingkatnya paling tinggi yaitu mengenai sesuatu (ayat) yang diyakini mutlak benarnya. Sehingga ketika Ahok mengatakan “Dibohongin pakai surat al Maidah 51” itu sudah menyangkut ranah keyakinan tertinggi karena diyakini mutlak benarnya, namun dinista dengan ucapan dibohongin. Sedangkan ucapan dibohongin itu bila diturunkan kadarnya, yakni misalnya ucapan nomor 3: Dibohongi pakai hadits shahih”, itupun tetap merupakan penyinggungan terhadap keyakinan dalam Islam. Karena sama dengan mengatakan: dibohongi pakai sesuatu (hadits) yang diyakini kuat benarnya dalam keyakinan Islam.

Kesimpulannya, perkataan Ahok:  “Dibohongin pakai surat al Maidah 51” itu telah menyinggung keyakinan Islam yang terdalam karena menyangkut sesuatu (ayat) yang diyakini mutlak benarnya.

Kedudukan perkataan menurut Islam

Perlu difahami, dalam keyakinan Islam, perkataan itu kedudukannya sangat penting, bahkan biasanya lebih dibanding sekadar perbuatan. Hingga suami yang mengucapkan “cerai” terhadap isterinya maka langsung jatuh talak satu. Sedang perbuatan meninggalkan isteri begitu saja, belum jatuh talak apa-apa. Dan perkataan itu tidak usah dikorek-korek lagi soal niatnya. Apalagi dalam kasus Ahok, perkataannya itu dalam pidato resmi. Maka perkataan yang dilontarkan Ahok tersebut, tidak dapat dikilahi dengan mengorek-korek isi hatinya atu niatnya. Misalnya dengan kilah, kan hanya perkataan, belum tentu hatinya, belum tentu niatnya… dan sebagainya.

Kalau sampai ada yang berkilah bahwa itu tidak ada niat jahat, maka ketika yang diucapkan Ahok (yang bukan Muslim) itu merupakan penyinggungan terhadap keyakinan Islam, menurut keyakinan Islam yang ditegaskan dalam Firman Allah Ta’ala, justru yang di hatinya lebih besar lagi daripada yang diucapkan mulutnya. Ini ayatnya:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تَتَّخِذُواْ بِطَانَةٗ مِّن دُونِكُمۡ لَا يَأۡلُونَكُمۡ خَبَالٗا وَدُّواْ مَا عَنِتُّمۡ قَدۡ بَدَتِ ٱلۡبَغۡضَآءُ مِنۡ أَفۡوَٰهِهِمۡ وَمَا تُخۡفِي صُدُورُهُمۡ أَكۡبَرُۚ قَدۡ بَيَّنَّا لَكُمُ ٱلۡأٓيَٰتِۖ إِن كُنتُمۡ تَعۡقِلُونَ ١١٨ [سورة آل عمران,١١٨]

  1. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang, di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya [Al ‘Imran:118]

Sekali lagi, perkataan Ahok telah menyinggung keyakinan Islam, bahkan kadar penyinggungannya itu telah terbukti menyangkut keyakinan terdalam. Kalau akan dikilahi bahwa Ahok tidak ada niat jahat, maka sudah ada jawaban yang mutlak benarnya dari Allah Ta’ala, bahkan “apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi” (QS 3: 118). Maka keyakinan Umat Islam terhadap perkataan Ahok yang menyinggung Islam tersebut ya seperti yang dituntunkan Al-Qur’an itu. Dan itulah keyakinan harga mati, yang dibela oleh Umat Islam sampai mati!.

Jakarta, Ahad 6 Shafar 1438H/ 6 November 2016.

Hartono Ahmad Jaiz, penulis buku-buku Islami, mantan wartawan Harian Pelita, Jakarta.

(nahimunkar.com)

(Dibaca 1.679 kali, 1 untuk hari ini)