Jenazah Pendeta Perempuan Positif Corona di Batam yang Hadiri Acara GPIB di Bogor Dimakamkan, Dibalut Pembungkus

  • Mendiang Pdt. Sintiche Pattinaja-Dethan, M.Th adalah Ketua Majelis Jemaat GPIB Bahtera Hayat Batam


Ilustrasi. GPIB Sinode
Acara GPIB di Bogor ini kurang lebih dihadiri oleh 685 orang dari 26 provinsi di Indonesia. Dari acara inilah penyebaran virus corona ke beberapa provinsi dicurigai menjadi penyebab munculnya korban baru di berbagai daerah Indonesia. Dari klaster Bogor ini pula peserta di Kalimantan Timur, Lampung, Sukoharjo hingga Wonogiri dan Solo positif COVID-19./ Sumber.com – Indoyanu Muhamad | 20 Maret 2020, 20:50

***

 

 

 

BATAM, – Pasien positif corona (Covid-19) di Batam, Kepri yang meninggal dunia pada Minggu (22/3/2020) malam langsung dikebumikan.

Berdasarkan informasi yang diterima Kompas.com, saat dikebumikan, jenazah pasien dilakukan wrapping atau dibalut pembungkus. 

Hal ini dibenarkan oleh Kepala Dinas Kesehatan Kota Batam Didi Kusmarjadi yang dihubungi Kompas.com melalui telepon, Minggu (22/3/2020) malam.

Didi mengatakan pasien ketiga yang meninggal dunia ini terinfeksi pada cluster Bogor. 

Pasien ketiga ini sempat melakukan kontak dengan seseorang yang juga mengikuti seminar gereja GPIB di Bogor tersebut, yang belakangan juga dilaporkan telah meninggal.

“Proses pemakamannya telah dilakukan malam tadi,” kata Didi.

Baca juga: Meninggal di Batam, Ini Kronologi Perjalanan Pasien Positif Corona yang Hadiri Acara GPIB 

Informasi yang berhasil dikembangkan Kompas.com di lapangan, pasien ketiga yang meninggal ini merupakan seorang pendeta.

Ucapan turut berbelasungkawa terus berdatangan melalui jejaring sosial, salah satunya dari Gereja GPIB Paulus Jakarta, yang turut berbelasungkawa terhadap meninggalnya pendeta perempuan tersebut.

“Turut berdukacita atas meninggalnya Pdt. Sintiche Pattinaja-Dethan, M.Th. pada hari ini Minggu, 22 Maret 2020. Almarhumah adalah Ketua Majelis Jemaat GPIB Bahtera Hayat Batam.” 

“Tuhan senantiasa memberikan penghiburan dan kekuatan bagi keluarga dan persekutuan jemaat yang berduka.”

Begitu ucapan yang diunggah akun GPIB Paulus Jakarta tersebut.

60 ODP yang kontak dengan pasien ketiga

Sementara itu Ketua Tim Satuan Gugus Tugas Percepatan Pengananan Virus Corona Disease 2019 (Covid-19), Amsakar Ahmad melalui telepon mengatakan saat ini sudah ada 60 ODP yang dilakukan karantina karena telah kontak langsung dengan si pasien.

“Kami minta masyarakat tetap tenang, dan proses karantina yang telah kontak langsung dengan pasien juga telah berjalan sejak si pasien mulai dirawat di RSUD Embung Fatimah,” kata Amsakar, Senin (23/3/2020).

Amsakar juga berharap peran aktif masyarakat, yang pernah kontak langsung dengan korban bisa segera memeriksakan dirinya ke rumah sakit rujukan, yakni RSUD Embung Fatimah atau RSBP Batam.

“Yang dikarantina saat ini, selain pihak keluarga si pasien, juga ada jemaat mendiang yang pernah membesuk mendian saat divonis demam berdarah,” pungkas Amsakar.

Baca juga: Pasien Positif Corona yang Hadiri Acara GPIB Meninggal di Batam

Awalnya didiagnosa kena DBD

Sebelumnya, Kepala Dinas Kesehatan Batam Didi Kusmarjadi mengatakan pasien ketiga positif corona untuk Kepri ini memang sempat divonis mengalami demam berdarah Dengue (DBD).

Bahkan si pasien juga telah dinyatakan sembuh dari sakitnya oleh RS yang sempat merawat si pasien.

“Penelusuran sudah dilakukan sejak pasien dirujuk ke RSUD Embung Fatimah, bahkan keluarga si pasien juga telah dikarantina dan diambil swab twnggorokannya,” jelas Didi di Kantor Wali Kota Batam.

Didi memperkirakan jumlah orang yang kontak dekat dengan pasien cukup banyak. Namun saat ini dipastikan ada 60 orang yang akan dikarantina di Asrama Haji.

Baca juga: Wali Kota Batam: Pasien Ke-4 Positif Corona di Kepri Ditelusuri Telah Bertemu 131 Orang

“Bahkan tenaga medis yang sempat kontak langsung dengan si pasien juga diobservasi, namun dilakukan dirumah mereka masing-masing,” terang Didi.

Didi menambahkan penelusuran akan terus dilakukan hingga benar-benar mata rantai penyebawaran wabah virus corona benar-benar putus.

“Lebih banyak yang diobservasi, akan lebih baik. Sehingga pemutusan mata rantai penyebaran Covid-19 bisa diminimalisir dengan baik,” pungkas Didi.

Kompas.com – 23/03/2020, 08:14 WIB, Penulis Kontributor Batam, Hadi Maulana, Editor Aprillia Ika

***

Usai Acara Seminar di GPIB Bogor 2 Pendeta Meninggal Walikota Arya Bima Positif Virus Corona, 21 Jemaat Gereja Sakit

 


 

Puluhan jemaat gereja GPIB mengalami sakit setelah mengikuti seminar di Hotel Aston Bogor pada akhir Februari 2020. Seminar tersebut diikuti puluhan jemaat gereja GPIB dari berbagai daerah, seperti Bogor, Lampung, Jakarta, Jawa Tengah dan berbagai daerah lainnya.

 


685 Orang Peserta PST GPIB 2020 yang berasal dari seluruh Indonesia di Hotel Aston, Bogor, Jawa barat

 

Sebanyak 21 peserta seminar dinyatakan sakit. Dua di antaranya meninggal dunia setelah menjalani perawatan. Keduanya adalah pendeta berinisial MP dan Pdt Ong.

Salah satu peserta kini dirawat intensif di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Abdul Moeloek Bandar Lampung.

Setelah menjalani pemeriksaan, dia dinyatakan positif virus Corona atau Covid-19. Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Lampung Reihana mengungkap jejak riwayat perjalanan yang dinyatakan positif terinfeksi Covid-19 tersebut.

Berdasarkan keterangan Reihana, pasien tersebut memiliki riwayat mengikuti seminar di Bogor, Jawa Barat.

Menurut Reihana, anak pasien melapor lantaran ayahnya menderita gejala virus Corona. Sang anak khawatir lantaran dia mendapatkan informasi bahwa pada tanggal 14 Maret 2020, ada seorang jemaat Gereja GPIB yang meninggal dunia dengan diagnosa Covid-19.

Selain itu, dia juga mendapatkan kabar bahwa ada satu jemaat sedang dirawat di Jakarta dan Jawa Tengah.

“Kedua jemaat tersebut merupakan peserta seminar di Hotel Aston Bogor, di mana ayahnya juga sebagai peserta di acara seminar tersebut,” ungkapnya.

Reihana menjelaskan riwayat penyakit warga Lampung yang positif terinfeksi Corona. “Perjalanan penyakitnya, tanggal 25 sampai dengan 28 Februari, laki-laki 62 tahun tersebut menghadiri seminar di GPIB Hotel Aston Bogor,” kata Reihana.

“Dan tanggal 29 Februari, pasien kembali ke Bandar Lampung. Mulai merasakan gejala tanggal 3 Maret 2020. Panas, batuk, makan ninum mau, susah menelan sedikit, suhu 37 derajat celcius,” katanya.

Selain itu, Ada dua pejabat yang menghadiri acara tersebut, antara lain, Walikota Bogor Arya Bima yang saat ini juga dinyatakan Positif terjangkit virus corona, selain itu itu ada Ketua MPR RI bambang seosatyo

namun dari hasil Pemeriksaan, bambang Soesatyo negatif.(Ilm)

 

Realitarakyat.com – 20 March 2020 By  Ilham

 

***

Wabah penyakit itu azab bagi orang kafir dan yang berdosa besar, tapi rahmat bagi orang mukmin

  • Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa wabah penyakit yang menyebar di suatu daerah itu pada dasarnya merupakan azab bagi orang-orang yang tak beriman. Selain itu, pelaku dosa besar juga termasuk azab baginya bila terjadi suatu wabah penyakit yang menimpanya. Namun, ini merupakan rahmat bagi orang-orang yang beriman. Pasalnya, orang beriman akan diberikan pahala setara orang yang mati syahid.

 

Wabah penyakit yang menyebar di suatu wilayah tertentu membuat khawatir para penduduknya. Wabah penyakit ini terkadang mematikan. Oleh karena itu, orang yang bersabar menghadapi wabah penyakit, dan sampai meninggal itu digolongkan sebagai orang yang mati syahid.

Diriwayatkan dari Aisyah bahwa beliau pernah bertanya pada Rasulullah mengenai wabah penyakit atau tho’un. Rasulullah saw. memberi isyarat demikian:

أَنَّهُ كَانَ عَذَابًا يَبْعَثُهُ اللَّهُ عَلَى مَنْ يَشَاءُ، فَجَعَلَهُ اللَّهُ رَحْمَةً لِلْمُؤْمِنِينَ، فَلَيْسَ مِنْ عَبْدٍ يَقَعُ الطَّاعُونُ، فَيَمْكُثُ فِي بَلَدِهِ صَابِرًا، يَعْلَمُ أَنَّهُ لَنْ يُصِيبَهُ إِلَّا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَهُ، إِلَّا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ الشَّهِيدِ» تَابَعَهُ النَّضْرُ، عَنْ دَاوُدَ

Artinya:

(tho’un) itu azab yang Allah timpakan pada siapa saja yang dikehendaki-Nya, dan menjadikannya rahmat bagi mukminin. Tidaklah seorang hamba yang di situ terdapat wabah penyakit, tetap berada di daerah tersebut dalam keadaan bersabar, meyakini bahwa tidak ada musibah kecuali atas takdir yang Allah tetapkan, kecuali ia mendapatkan pahala seperti orang yang mati syahid. Hadis ini diperkuat riwayat al-Nadhr dari Daud (HR Bukhari). (Tafsir Surah Yasin Ayat 18-19: Mengaitkan Musibah dengan Kesialan Bukan Ajaran Islam)

Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa wabah penyakit yang menyebar di suatu daerah itu pada dasarnya merupakan azab bagi orang-orang yang tak beriman. Selain itu, pelaku dosa besar juga termasuk azab baginya bila terjadi suatu wabah penyakit yang menimpanya. Namun, ini merupakan rahmat bagi orang-orang yang beriman. Pasalnya, orang beriman akan diberikan pahala setara orang yang mati syahid.

Dalam riwayat lain dari Ibnu Umar yang berpesan, “Wabah penyakit itu di antaranya disebabkan kemaksiatan yang merajalela” (HR Ibnu Majah)*. Dalam riwayat lain disebutkan dengan redaksi demikian,

شعب الإيمان (5/ 22)

لَمْ تَظْهَرِ الْفَاحِشَةُ فِي قَوْمٍ قَطُّ حَتَّى يُعْلِنُوا بها إِلَّا فَشَا فِيهِمُ الطَّاعُونُ وَالْأَوْجَاعُ الَّتِي لَمْ تَكُنْ مَضَتْ فِي أَسْلَافِهِمْ

“Kemaksiatan tidak akan tampak di suatu masyarakat sama sekali, sampai mereka sudah terang-terangan melakukan kemaksiatan itu, maka menimpa mereka wabah penyakit dan kelaparan yang tidak pernah terjadi sebelumnya” (HR Baihaqi).

*[tambahan dari redaksi NM: Sahabat Abdullah bin Umar radhiyallah anhuma menyampaikan sabda Rasulullah,

لَمْ تَظْهَرِ الْفَاحِشَةُ فِي قَوْمٍ قَطُّ حَتَّى يُعْلِنُوا بِهَا إِلَّا فَشَا فِيهِمْ الطَّاعُونُ وَالْأَوْجَاعُ الَّتِي لَمْ تَكُنْ مَضَتْ فِي أَسْلَافِهِمْ الَّذِينَ مَضَوْا

“Tidaklah fahisyah (perbuatan keji) tersebar pada suatu kaum kemudian mereka melakukannya dengan terang-terangan, kecuali akan tersebar di tengah-tengah mereka wabah penyakit tha’un dan kelaparan yang belum pernah terjadi pada kaum sebelum mereka.” (HR. Ibnu Majah no. 4019. Hadits ini dinilai hasan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahih Ibn Majah no. 3262), red NM].

Apakah orang yang mukmin atau muslim yang terdampak dari kemaksiatan yang menyebar di suatu daerah itu termasuk yang mendapatkan pahala mati syahid? Jawabannya iya. Ini adalah bentuk rahmat Allah untuk umat Nabi Muhammad yang beriman.

Namun, sebagaimana hadis di atas, orang yang mendapatkan pahala setara orang yang mati syahid itu harus bersabar, tidak mengeluh, dan pasrah pada ketentuan Allah saat wabah penyakit tersebut menimpanya.

Menurut Imam Ibnu Hajar terdapat tiga gambaran mengenai orang yang terkena wabah penyakit ini berkaitan dengan pahala mati syahid. Pertama, orang yang terkena wabah penyakit, kemudian dia meninggal itu otomatis tergolong mati syahid. Kedua, orang yang terkena wabah penyakit, namun tidak sampai meninggal, ia mendapatkan pahala setara orang mati syahid. Ketiga, orang yang di daerahnya tidak terdapat wabah penyakit, namun ia tertular wabah penyakit dari orang lain, ini pun bila meninggal akan mendapatkan pahala mati syahid. Wallahu a’lam bis shawab.

Penulis

 Ibnu Kharish dalam judul ‘Pahala Orang Mukmin yang Sabar Menghadapi Wabah Penyakit’ (Kajian Hadis Shahih Bukhari Nomor 5734)

 

 –

BincangSyariah.Com – 28 Januari 2020

 

(nahimunkar.org)

 


 

(Dibaca 1.112 kali, 1 untuk hari ini)