Bukan hanya tingkat Daerah Yogyakarta yang dilapori kasus aksi ruwatan oleh para pendukung Jokowi yang dinilai memfitnah Amien Rais dengan menyebutnya sebagai Sengkuni. Di samping itu dinilai melecehkan Muhammadiyah yang anti klenik kemusyrikan. Maka PAN melaporkan kasus ruwatan mitos jorok perusak Iman Islam yang dinilai menyebar fitnah itu ke Bareskrim Mabes Polri.
Inilah beritanya.
***

Tak terima Amien Rais diruwat, PAN lapor Bareskrim Mabes Polri

Paguyuban Masyarakat Pelestari Tradisi (Pametri) kemarin yang melakukan praktik ruwatan di depan rumah Amien Rais di Yogyakarta. Tidak terima dengan tindakan tersebut, lima anggota DPR dari Fraksi PAN datangi Bareskrim Mabes Polri melaporkan Pametri.

“Kami memang datang secara spontan. Kedatangan kami ini belum kami informasikan sebelumnya ke pihak Bareskrim. Insya Allah besok kami akan datang lagi,” kata anggota Fraksi PAN Muslim Ayub dalam pesan tertulis kepada wartawan, Selasa (21/10).

Namun kelimanya tidak bertemu dengan Kabareskrim Mabes Polri, Komjen Pol Suhardi Alius untuk melaporkan sekaligus meminta agar laporan sekelompok masyarakat DIY ke Polda DIY, tentang pelanggaran hukum yang dilakukan paguyuban tersebut segera ditindaklanjuti.

“Tadi kami sudah memberitahukan secara resmi tentang rencana kedatangan kami besok. Mudah-mudahan, besok kabareskrim sudah bisa ditemui,” lanjutnya.

Menurut Ayub, selanjutnya mereka ditawari untuk menemui beberapa perwira yang sedang bertugas di Bareskrim tetapi ditolak, karena rombongan tetap berkeinginan untuk bertemu langsung dengan Kabareskrim.

“Ini kan persoalan serius. Jadi, kami ingin bertemu langsung dengan Kabareskrim. Dengan begitu, kami mendapat kepastian kalau kasus ini segera ditindaklanjuti,” kata Ayub.

Sementara anggota F-PAN asal Sumut Saleh Daulay menjelaskan persoalan ini tidak bisa dianggap sepele, karena kegiatan itu dinilai mengandung unsur fitnah, permusuhan, kebencian dan penghinaan terhadap suku, ras, agama dan antar golongan.

“Siapapun bebas menyampaikan pendapat. Tetapi kebebasan tersebut dibatasi oleh UU. Selain itu, penyampaian pendapat harus dilakukan secara baik sesuai dengan norma dan etika yang berlaku di masyarakat,” kata Saleh.

Selain itu, menurutnya, tindakan Pametri itu sangat menyinggung perasaan warga Muhammadiyah karena praktik ruwatan dinilai sangat bertentangan dengan ajaran dan akidah Islam.

“Sebagai tokoh Muhammadiyah, ruwatan yang ditujukan kepada Amien Rais itu betul-betul sangat melukai kami. Wajar bila banyak aktivis muslim dan aktivis Muhammadiyah yang merasa tersakiti,” ujarnya.
Mdkcom, Reporter : Ya’cob Billiocta | Selasa, 21 Oktober 2014 22:00

Kemarahan PAN kala Amien Rais diruwat dan disebut Sengkuni

Ketua DPP Partai Amanat Nasional (PAN) Saleh Partaonan Daulay mengaku sudah ada elemen masyarakat yang melaporkan kegiatan ruwatan di depan rumah Amien Rais ke Polda DIY.

“Aksi demonstrasi berbentuk ruwatan itu telah melanggar Pasal 19 Ayat (2) Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1998 tentang Kemerdekaan Menyampaikan Pendapat di Muka Umum,” kata Saleh Partaonan Daulay melalui pesan elektronik di Jakarta, Minggu.

Saleh mengatakan pasal dan ayat tersebut secara tegas melarang penyampaian pendapat di lingkungan rumah ibadah. Berdasarkan laporan yang diterima, aksi tersebut dilakukan persis beberapa meter dari mesjid sekolah yang ada di sebelah rumah Amien Rais.

Pelanggaran itu sangat serius karena dilakukan secara sengaja. Saleh mengatakan aksi tersebut telah membuat banyak masyarakat yang resah./mdkcom
***

Pendukung Jokowi Melecehkan Muhammadiyah

Senin, 20 Oktober 2014 , 13:25:00 WIB
Laporan: Zulhidayat Siregar

RMOL. Ruwatan pendukung Jokowi yang tergabung dalam Paguyuban Masyarakat Pelestari Tradisi atau Pametri di depan kediaman Amien Rais, kawasan Sawit Sari Condongcatur, Sleman, Yogyakarta, pada Kamis (16/10) kemarin disesalkan.

Karena aksi tersebut tidak hanya melecehkan tokoh sekaliber mantan Ketua MPR tersebut, tapi juga Muhammadiyah sebagai organisasi. (Baca: Peruwat Amien Rais Orang Bayaran yang Bermaksud Melecehkan)

“Dari sisi keagamaan, melakukan ruwatan di rumah Pak Amien juga sama melecehkan Muhammadiyah. Apapun, Pak Amien adalah mantan Ketua Muhammadiyah, siapapun tahu soal ini, termasuk yang melakukan ruwatan,” tegas intelektual muda Muhammadiyah, Ma’mun Murod Al Barbasy kepada RMOL (Senin, 20/10).

Karena Muhammadiyah, sambung Ma’mun, secara tegas menolak praktik ruwatan, yang dinilai menyimpang dari tuntutan al Quran dan Sunnah. Islam hanya mengajarkan bahwa berdoa itu langsung pada Allah nggak boleh ada perantara-perantaraan, apalagi lewat perantara makhluk lain seperti jin yang kualitas kemakhlukannya ada di bawah manusia.

“Berdoa dengan cara wasilah dengan makhluk lain itu cermin kebodohan dan merendahkan derajat kemanusiaan,” ungkapnya.

Makanya, Ma’mun berharap “demo ruwatan” oleh pendukung Joko Widodo itu dilakukan sekadar kekhilafan.

“Semoga ini tindakan bodoh pendukung Jokowi yang terakhir. Kalau masih terjadi lagi, sepertinya memang sengaja memantik perselisihan dengan Muhammadiyah. Kalau tidak sepaham dengan Pak Amien, tunjukan-tunjukan cara-cara yang elegan,” tandasnya. [zul]

(nahimunkar.com)

(Dibaca 1.063 kali, 1 untuk hari ini)