Suasana petugas eksekusi kawasan pasar ikan


Jakarta, HanTer – Kekecewaan  warga Pasar Ikan, Luar Batang, Penjaringan, Jakarta Utara kepada Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), begitu mendalam. Ahok dituding sewenang-wenang karena telah  menggusur tempat tinggal mereka. Padahal sudah puluhan tahun tinggal di kawasan itu, beranak pinak, hidup nyaman walaupun tak sekaya pejabat yang korup.

“Kami merasa tenang tinggal disini, walau kami miskin tapi kami bahagia,” ujar Sumarto, salah satu warga korban penggusuran kepada Harian Terbit di lokasi, Senin (11/4/2016).

Sumarto menatap pilu saat alat berat melumat habis bangunan rumahnya. “Moga saja si Ahok bahagia diatas derita kami. Tuhan pasti tidak tidur,” ujarnya.

Sarmini (55), warga lainnya hanya bisa pasrah melihat personel Satpol PP menghancurkan rumah yang ditinggalinya sejak kecil. Tetesan air mata tampak melintas dipipinya yang sembab karena tangis. “Di rumah itu saya dan anak-anak saya hidup bahagia, tapi lihatlah sudah hancur,” ujarnya.

Janji Jokowi

Sumarto dan Sarmini, dua warga dari ratusan warga yang merasa tertindas oleh kebijakan Ahok, yang mengggusur mereka dengan paksa. Padahal menurut sepengetahuan warga setempat ada janji Joko Widodo dan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) saat mencalonkan diri pada Pilgub DKI Jakarta 2012.

Pasangan tersebut tidak akan menggusur kawasan Pasar Ikan. Bahkan, keduanya berjanji akan menata kawasan Pasar Ikan.

Pada Senin (11/4/2016), petugas gabungan melakukan penertiban terhadap kawasan Pasar Ikan, Penjaringan, Jakarta Utara. Ada empat lingkungan RT di RW 04 Kelurahan Penjaringan yang ditertibkan petugas
Sebanyak lebih dari 300 rumah permanen dan semi permanen di Luar Batang, Kelurahan Penjaringan, Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara mulai diratakan dengan tanah.

Penggusuran yang dimulai sejak pagi sekitar Pukul 07.30 WIB ini dijaga oleh ratusan aparat TNI, Polri, Satpol PP. Selain itu puluhan mobil Dinas Kebersihan berjejer untuk bersiap mengangkut puing-puing dan sampah usai penggusuran nanti.

Wirda (49) seorang ibu rumah tangga korban gusuran mengaku sedih, sembari menatapi rumahnya yang tinggal puing-puing. “Saya sudah daftar untuk dapat rumah susun, tapi inginnya di sini karena saya sama suami dagang,” ujarnya kepada Harian Terbit di lokasi, Senin (11/4/2016).

Tidak hanya Ibu Wirda, banyak warga lainnya menolak pindah ke Rusun, namun sudah tidak ada pilihan lain.

“Kalau sudah begini, tuh lihat banyak sekali mereka (aparat) kita patuh saja,” kata Retno (45) yang juga seorang Ibu Rumah Tangga.

Ada belasan alat berat terus meratakan kawasan yang tepat bersebelahan dengan Museum Bahari di Jalan Penjaringan No. 1 Jakarta Utara. Menurut seorang petugas Satpol PP, rencananya bekas lokasi gusuran akan kembali menjadi ruang terbuka hijau.

17 Warga diamankan

Pantauan Harian Terbit dilokasi, saat aksi penggusuran paksa warga Luar Batang, polisi mengamankan 17 warga, termasuk aktivis Ratna Sarumpaet saat bentrok dengan aparat gabungan terjadi di Kampung Pasar Ikan, Penjaringan, Jakarta Utara.

Polisi sudah memperingatkan mereka agar meninggalkan lokasi, namun tidak ditanggapi. “Sekitar jam 07.00 WIB kita sholat, habis itu ibu Ratna minta penangguhan untuk warga kami,” kata Upi Yupita, Koordinator aksi massa warga di lokasi.

Upi mengaku tidak hanya diam saat ada batu melayang ke arah mereka, hingga terjadi kericuhan. “Ada juga belasan warga lain juga diseret aparat dan yang laki-laki dipukuli petugas Satpol PP. Ada juga yang pingsan,” ucap Upi.

Sumber: megapolitan.harianterbit.com

(nahimunkar.com)

(Dibaca 1.030 kali, 1 untuk hari ini)