Lisan-Terjaga-Kebatilan-SirnaIlustrasi

 

(Suara Pembaca)

Orcela Puspita Menanggapi Danie Mustafa

 

Danie Mustafa :”hendaknya kita para pencinta sunnah menahan lisan lisan kita dlm mencela orang yg telah meninggal.”
___
Tanggapan:
Jika Engkau Diam Dan Akupun Juga Diam Maka Kapan Orang Bodoh/Awam Tahu Mana Yang Benar Dan Mana Yang Salah !!!

>>>

Sering kita mendengar celotehan sebagian orang jika dia menyaksikan seseorang membantah/menyingkap kesesatan kelompok-kelompok/dai-dai yang menyelisihi al-Qur’an dan Sunnah serta manhaj salaf (ahli sunnah wal jama’ah), dia mengatakan (entah di mimbar-mimbar jum’at atau di majlis-majlisnya) :

“Jagalah lisanmu, janganlah engkau mengghibah (ngrasani) saudaramu sendiri sesama muslim, bukankah Allah berfirman : ‘Janganlah sebagian kamu meng-ghibah (menggunjing) sebagian yang lain sukakah salah seorang diantara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati?’”. (QS. Al-Hujurat : 12).

Apakah benar celotehan mereka ini??
Mari kita simak ucapan emas ulama ahlus sunnah dalam masalah ini.

►Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah –rahimahullah- berkata dalam “majmu’ fatawa” 28/225-232 :

Menyebut manusia dengan apa-apa yang mereka benci ada dua macam :

1● Menyebut jenis (golongan), setiap golongan yang dicela Allah dan Rasul-Nya maka wajib untuk mencela mereka, hal ini bukan termasuk ghibah.

2● Menyebut perorangan BAIK yang MASIH HIDUP ATAU YANG TELAH MENINGGAL DUNIA.

Boleh menyebutkan kejelekan orang tersebut dalam beberapa keadaan, diantaranya dalam rangka :
▬ menasehati kaum muslimin tentang agama dan dunia mereka.
▬ Menasehati umat dalam kemaslahatan agama yang khusus dan umum adalah suatu kewajiban.

Seperti menjelaskan perowi hadits yang salah atau berdusta sebagaimana yang dikatakan oleh Yahya bin Said serta Al-Auza’i tentang seseorang yang tertuduh (memalsukan) hadits dan dia tidak hafal, maka mereka mengatakan: “jelaskan hakekat dan jati dirinya!”.

Pernah seseorang berkata kepada Imam Ahmad rahimahullah :
“Aku merasa berat jika mengatakan si fulan itu demikian dan demikian (dari kesesatannya-pent).

Maka Imam Ahmad mengatakan:
“jika engkau diam dan akupun juga diam maka kapan orang bodoh/awam tahu mana yang benar dan mana yang salah!!!

Seperti imam-imam ahli bid’ah yang memiliki pendapat-pendapat yang menyelisihi al-Qur’an dan Sunnah atau beribadah tapi menyelisihi al-Qur’an dan Sunnah maka mereka ini wajib (menurut ijma kaum muslimin) dijelaskan kesesatannya dan diperingatkan umat dari bahayanya.

Sampai-sampai pernah ditanyakan kepada Imam Ahmad rahimahullah :
“Ada seseorang yang puasa, sholat, I’tikaf dan ada orang lain yang membantah ahli bid’ah, manakah yang lebih anda sukai?

Beliau menjawab :
Apabila orang itu sholat, i’tikaf maka hal itu manfaatnya untuk dia sendiri tapi apabila dia membantah ahli bid’ah maka manfaatnya bagi kaum muslimin dan inilah yang lebih afdhol/lebih utama.

Beliau menjelaskan bahwa manfaatnya lebih luas bagi kaum muslimin di dalam agama mereka, yang hal tersebut termasuk jihad fi sabilillah. Menjernihkan jalan Allah, agama, manhaj serta syari’at-Nya dari kesesatan dan permusuhan mereka (ahli bid’ah) merupakan suatu kewajiban yang kifayah menurut kesepakatan kaum muslimin.

Seandainya tidak ada yang menolak/membantah bahaya (bid’ah) nya mereka maka akan rusaklah agama ini. Dan kerusakan yang ditumbuhkan nya (bid’ah) lebih dahsyat daripada penjajahan.

Karena mereka (para penjajah) jika merusak tidaklah merusak hati pertama kali, tapi mereka (ahli bid’ah) pertama kali yang dilakukan adalah merusak hati

______

Dinukil dr.
Tulisan : Abu Abdirrahman bin Thoyyib as-Salafy
http://www.majalahislami.com/…/antara-bantahan-dan-ghibah/

(nahimunkar.com)

(Dibaca 2.999 kali, 1 untuk hari ini)