Jimat atau tangkal, dalam hadist disebut tamaaim, itu adalah kemusyrikan, ternyata membawa sengsara bagi para TKI di Saudi Arabia.

Seharusnya setiap Muslim menghindari kemusyrikan, termasuk jimat dan aneka macamnya. Namun banyak yang nekat. Akibatnya, ya rasakan sendiri. Di dunia saja sudah sengsara. Bila tidak bertaubat, maka terancam neraka pula.

Dalam ajaran Islam, diriwayatkan bahwa suatu ketika Abdullah bin Mas’ud masuk ke rumah, sedang di leher isterinya ada kalung (bertangkal), maka ditariknya oleh Ibnu Mas’ud dan dipotong-potongnya, kemudian ia berkata: Keluarga Abdullah harus jauh daripada menyekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan keterangan padanya. Kemudian ia berkata, saya (Abdullah bin Mas’ud) mendengar Rasulullah Shallaliahu Alaihi wa Sallam bersabda:

إِنَّ الرُّقَى وَالتَّمَائِمَ ، وَالتِّوَلَةَ شِرْكٌ قَالُوا : يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ ، هَذِهِ الرُّقَى وَالتَّمَائِمُ قَدْ عَرَفْنَاهَا ، فَمَا التِّوَلَةُ ؟ قَالَ : شَيْءٌ يَصْنَعُهُ النِّسَاءُ يَتَحَبَّبْنَ إِلَى أَزْوَاجِهِنَّ.

“Sesungguhnya tangkal (mantra), jimat, dan tiwalah/pelet itu adalah syirik (menyekutukan Allah). Para sahabat kemudian bertanya: Ya Aba Abdir Rahman! Tangkal (mantra) dan jimat ini kami sudah tahu, tetapi apakah tiwalah/pelet itu? Ia menjawab: Tiwalah/Pelet ialah suatu yang diperbuat oleh orang-orang perempuan supaya selalu dapat bercinta dengan suami mereka.” (HR. Ibnu Hibban dalam kitab Shahihnya, dan Al-Hakim dengan ringkas darinya, dan dia berkata isnadnya shahih)
Uqbah bin Amir meriwayatkan bahwa ada 10 orang berkendaraan datang ke tempat Rasulullah Shallaliahu Alaihi wa Sallam. Yang 9 orang dibai’at, tetapi yang satu ditahan. Kemudian mereka yang 9 itu bertanya: Mengapa ditahan? Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menjawab: “Karena di lengannya ada tangkal. Kemudian laki-laki tersebut memotong tangkalnya, maka dibai’atlah dia oleh Rasulullah Shallaliahu Alaihi wa Sallam dan beliau bersabda:

مَنْ عَلَّقَ فَقَدْ أَشْرَكَ.

“Barangsiapa menggantungkan tangkal, maka sungguh dia telah syirik’—menyekutukan Allah.” (HR. Ahmad dan Al-Hakim, dan lafazh hadits ini lafazh Al-Hakim, dan para periwayat Ahmad adalah orang-orang terpercaya). ( Lihat buku Hartono Ahmad Jaiz, Aliran dan Paham Sesat di Indonesia, Pustaka Al-Kautsar Jakarta, beredar luas di Indonesia dan luar negeri).

Anehnya, jimat yang dilarang oleh Islam itu ternyata orang Islam Indonesia banyak yang mempercayai jimat. Salah siapa?

Kasus jimat membawa sengsara, inilah beritanya.

***

Jimat TKI Arab Saudi Membawa Sengsara

Minggu, 13 Juli 2014 03:07 wib | Neneng Zubaidah – Koran SI

BREBES – Gara-gara bawa jimat, tenaga kerja Indonesia (TKI) ditahan setiap bulannya di Arab Saudi.

“Setiap bulannya ada itu ribuan TKI yang ditangkap dan ditahan di penjara Saudi. Bukan karena pembunuhan tetapi karena kesalahan sepele saja,” kata Kepala Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan (BNP2TKI) Gatot Abdullah Mansyur usai dialog di kantor Bupati Brebes, Sabtu (12/7/2014).

Salah satu penyebab TKI ditahan di Arab Saudi, kata Gatot, karena ketahuan memakai jimat. Mantan duta besar Saudi ini kerap menemui banyak TKI yang ditangkap karena disangka membawa jimat. Padahal jimat di Saudi dilarang dipakai karena dianggap mengandung unsur sihir.

Gatot mengidentifikasi, yang disangka jimat oleh pemerintah Arab Saudi berupa kertas berisi bacaan Arab gundul yang dikalungkan di leher. Petugas imigrasi Arab Saudi mengiranya sebagai kata-kata  sihir.

Masalah lainnya yang sering menjerat TKI ke ranah pidana terkait pelarangan laki-laki dan wanita berduaan di tempat umum. TKI pun dilarang membawa masuk laki-laki ke dalam rumah meski itu adalah saudaranya./ okezone

***

Masalah Jimat dan banyaknya keyakinan batil di Indonesia

Fatwa Lajnah Daaimah membedakan jimat dan bukan

Masalah mengambil manfaat dan menolak bahaya dengan benda

Al-Lajnah Al-Daaimah di Saudi Arabia (terdiri dari kibar ulama/ulama-ulama besar) ditanya tentang sepotong kain atau sepotong kulit dan sejenisnya diletakkan di atas perut anak laki-laki dan perempuan pada usia menyusu dan juga sesudah besar, maka jawabnya:

 “Jika meletakkan sepotong kain atau kulit yang diniatkan sebagai tamimah (jimat) untuk mengambil manfaat atau menolak bahaya, maka ini diharamkan, bahkan bisa menjadi kesyirikan. Jika itu untuk tujuan yang benar seperti menahan pusar bayi agar tidak menyembul atau meluruskan punggung, maka ini tidak apa-apa.” (Al-Lajnah Ad-Daaimah, Fatawa al-‘Ilaj bi Al-Qur’an wa Assunnah, ar-Ruqo wamaa yata’allaqu biha, halaman 93).

Mencari berkah kepada pohon, batu dan lainnya termasuk dilarang dalam Islam, bahkan bila dilakukan maka termasuk kemusyrikan. Karena telah jelas dalam Hadits:

عَنْ أَبِي وَاقِدٍ اللَّيْثِيِّ قَالَ خَرَجَنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قِبَلَ حُنَيْنٍ فَمَرَرْنَا بِسِدْرَةٍ فَقُلْتُ يَا نَبِيَّ اللَّهِ اجْعَلْ لَنَا هَذِهِ ذَاتَ أَنْوَاطٍ كَمَا لِلْكُفَّارِ ذَاتُ أَنْوَاطٍ وَكَانَ الْكُفَّارُ يَنُوطُونَ بِسِلَاحِهِمْ بِسِدْرَةٍ وَيَعْكُفُونَ حَوْلَهَا فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اللَّهُ أَكْبَرُ هَذَا كَمَا قَالَتْ بَنُو إِسْرَائِيلَ لِمُوسَى اجْعَلْ لَنَا إِلَهًا كَمَا لَهُمْ آلِهَةً إِنَّكُمْ تَرْكَبُونَ سُنَنَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ

Riwayat dari Abi Waqid Al Laitsi, ia berkata: “Kami keluar kota Madinah bersama Rasulullah menuju perang Hunain, maka kami melalui sebatang pohon bidara, aku berkata: “Ya Rasulullah jadikanlah bagi kami pohon “dzatu anwaath” (pohon yang dianggap keramat) sebagaimana orang kafir mempunyai “dzatu anwaath”. Dan adalah orang-orang kafir menggantungkan senjata mereka di pohon bidara dan beri’tikaf di sekitarnya. Maka Rasulullah menjawab: “Allah Maha Besar, permintaanmu ini seperti permintaan Bani Israil kepada Nabi Musa: (`Jadikanlah bagi kami suatu sembahan, sebagaimana mereka mempunyainya`), sesungguhnya kamu mengikuti kepercayaan orang sebelum kamu.” (HR Ahmad dan Al-Mushonnaf Ibnu Abi Syaibah, hadits no 267, juga riwayat At-Tirmidzi, ia berkata: hadits hasan shahih).

Tafsir Al-Qur’an keluaran Departemen Agama RI mengulas sebagai berikut:

Kenyataan tentang adanya kepercayaan itu diisyaratkan hadits di atas pada masa dahulu dan masa sekarang hendaknya merupakan peringatan bagi kaum muslimin agar berusaha sekuat tenaga untuk memberi pengertian dan penerangan, sehingga seluruh kaum muslimin mempunyai akidah dan kepercayaan sesuai dengan yang diajarkan agama Islam. Masih banyak di antara kaum muslimin yang masih memuja kuburan, mempercayai adanya kekuatan gaib pada batu-batu, pohon-pohon, gua-gua, dan sebagainya. Karena itu mereka memuja dan menyembahnya dengan ketundukan dan kekhusyukan, yang kadang-kadang melebihi ketundukan dan kekhusyukan menyembah Allah sendiri. Banyak juga di antara kaum muslimin yang menggunakan perantara (wasilah) dalam beribadah, seakan-akan mereka tidak percaya bahwa Allah Maha Dekat kepada hamba-Nya dan bahwa ibadah yang ditujukan kepada-Nya itu akan sampai tanpa perantara. Kepercayaan seperti ini tidak berbeda dengan kepercayaan syirik yang dianut oleh orang-orang Arab Jahiliyyah dahulu, kemungkinan yang berbeda hanyalah namanya saja. (Al-Qur’an dan Tafsirnya, Departemen Agama RI, Jakarta, 1985/ 1986, jilid 3, halaman 573-574). (nahimunkar.com dalam judul News Maker from Jombang February 20, 2009 8:25 pm)

(nahimunkar.com)

(Dibaca 1.435 kali, 1 untuk hari ini)