Siapa yang gembar-gembor pro rakyat, partainya wong cilik dan tebar janji-janji manis?

Jokowi yang baru dilantik jadi Presiden 20 Oktober 2014 lalu, namun tidak sampai sebulan, Jokowi langsung menaikkan harga BBM sebesar Rp 2.000. Sehingga premium dari Rp 6.500 menjadi Rp 8.500 dan solar dari Rp 5.500 menjadi Rp 7.500. Berlaku mulai 18 November 2014, kata Jokowi. Maka tak mengherankan, langsung beredar apa yang disebut salam gigit jari untuk Jokowi lewat internet oleh para netizen.

“Kenaikan BBM dilakukan pemerintah. Namun resikonya bukan mereka yang menanggung. “Resiko ditanggung rakyat.. Koyok ngene iki pilihanmu?? Seng jarene pro-rakyat,” ujar seorang netizen.

 

Masyarakat pun masih was-was dan khawatir pula. Kemungkinan kenaikan BBM bukan hanya sekali. Apalagi kalau Jokowi manut miturut dan meniru Megawati sebagai pengusungnya yang telah memberi contoh, hanya berkuasa 3 tahun saja Megawati telah menaikkan harga BBM 2 kali. Bahkan tercatat sejarah hitam lebih dari itu: Era Pemerintahan Megawati selama 3 tahun, Negeri ini kehilangan 13 BUMN strategis akibat kebijakan Privatisasi dan Divestasi. Obligor BLBI kemudian diberi status “Release & Discharge” dibebaskan dari aspek hukum dan kembali bermain dengan leluasa menjadi konglomerat kembali. (lihat Jokowi mau tebus kesalahan Megawati selama 3 tahun memerintah, Ibnu Dawam Aziz | 02 April 2014 | 23:37, http://politik.kompasiana.com/).

 

Coba kita bandingkan, Presiden Burhanuddin Joesoef Habibie selama 18 bulan menjadi presiden atau terhitung sejak 21 Mei 1998 hingga 20 Oktober 1999. Selama masa kepemimpinannya, Habibie justru menurunkan harga BBM dari Rp 1.200 menjadi Rp 1.000 per liter.

Siapa yang gembar-gembor pro rakyat dan tebar janji-janji manis?

Sejarah “hitam” pun mulai terukir.

Inilah di antara sejarah masalah kenaikan harga BBM.

***

 

Sejarah Panjang Kenaikan Harga BBM dari Soeharto hingga Jokowi

 

 

Presiden Joko Widodo baru saja mengambil kebijakan menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi. Tidak satu dua kali rakyat Indonesia menerima kebijakan kenaikan harga BBM. Hampir di setiap rezim pemerintahan, rakyat selalu dihadapkan pada kebijakan kenaikan harga BBM

Hampir setiap presiden pernah mengambil keputusan menaikkan harga BBM. Dari tujuh orang presiden RI, hanya Habibie yang tidak pernah menaikkan harga BBM. Wajar saja mengingat masa kepemimpinan Habibie hanya seumur jagung. Habibie hanya 18 bulan duduk menjadi orang nomor satu di negeri ini.

Pada masa pemerintahan Presiden Soeharto, harga BBM mengalami beberapa kali kenaikan. Pada 1991, Soeharto menaikkan harga BBM dari semula Rp 150 menjadi Rp 550 per liter. Dua tahun kemudian, pada 1993, Soeharto kembali menaikkan harga BBM dari menjadi Rp 700 per liter. Hingga akhirnya saat krisis ekonomi menghantam Indonesia, harga BBM naik menjadi Rp 1.200 per liter pada 5 Mei 1998.

Setelah rezim Soeharto runtuh dan digantikan Habibie, tidak ada catatan kenaikan harga BBM. Hal ini cukup wajar mengingat masa kepemimpinan Habibie yang hanya 18 bulan menjadi presiden atau terhitung sejak 21 Mei 1998 hingga 20 Oktober 1999. Selama masa kepemimpinannya, Habibie justru menurunkan harga BBM dari Rp 1.200 menjadi Rp 1.000 per liter.

Memasuki medio 2000 tepatnya April 2000 atau di masa-masa awal kepemimpinan Presiden Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, harga BBM diturunkan menjadi Rp 600 per liter. Tidak berselang lama tepatnya Oktober 2000, harga BBM dinaikkan menjadi Rp 1.150 per liter. Pada Juni 2011, Gus Dur kembali menaikkan harga BBM menjadi Rp 1.450 per liter.

Ketika menjadi presiden Indonesia kelima, putri Bung Karno yakni Megawati Soekarnoputri juga mengambil kebijakan serupa. Pada Maret 2002, Megawati menaikkan harga BBM dari Rp 1.450 menjadi menjadi Rp 1.550 per liter. Mega kembali menaikkan harga BBM menjadi Rp 1.810 per liter di awal Januari 2003.

Selama dua periode kepemimpinannya, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tercatat tiga kali menaikkan harga BBM dan tiga kali pula menurunkan harga bensin. SBY menaikkan harga BBM menjadi Rp 2.400 per liter pada Maret 2005. Harga BBM kembali naik menjadi Rp 4.500 per liter pada Oktober 2005. SBY kembali menaikkan harga BBM menjadi Rp 6.000 per liter pada 23 Mei 2008.

 

Di penghujung 2008 atau menjelang Pemilu 2009, SBY menurunkan harga BBM menjadi Rp 5.500 per liter. Harga BBM kembali turun menjadi Rp 5.000 per liter pada 15 Desember 2008. SBY kembali menurunkan harga BBM menjadi Rp 4.500 per liter pada 15 Januari 2009.

Setahun jelang lengser, pemerintahan SBY kembali menaikkan harga BBM menjadi Rp 6.500 per liter. Tepatnya pada 21 Juni 2013. SBY sudah beberapa kali menjelaskan alasannya mengambil kebijakan yang tidak populis ini. Salah satunya karena tidak ingin membebani presiden periode berikutnya.

{content-split}

Langkah yang diambil Presiden SBY ternyata tidak menjamin beban pemerintahan Joko Widodo berkurang. Pemerintahan Jokowi-JK tersandera anggaran negara yang tak sehat karena tingginya alokasi anggaran subsidi BBM. Jokowi pun mengambil kebijakan sama seperti pendahulu-pendahulunya. Kebijakan nonpopulis, menaikkan harga BBM. Padahal, umur pemerintahannya belum genap satu bulan berjalan.

Semalam, Senin (17/11), Jokowi menaikkan harga BBM sebesar Rp 2.000 per liter. Mulai hari ini, Selasa (18/11), harga Premium naik dari Rp 6.500 per liter menjadi Rp 8.500 per liter. Harga Solar juga naik dari semula Rp 5.500 per liter menjadi Rp 7.500 per liter.

merdeka.com. / id.berita.yahoo.com

***

Doa Nabi Saw, Laknat Allah atas pemimpin yang menyulitkan Umat Islam

 

اللَّهُمَّ مَنْ وَلِيَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِي شَيْئًا فَشَقَّ عَلَيْهِمْ فَاشْقُقْ عَلَيْهِ وَمَنْ وَلِيَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِي شَيْئًا فَرَفَقَ بِهِمْ فَارْفُقْ بِهِ (أحمد ، ومسلم عن عائشة)

Ya Allah, siapa yang menjabat suatu jabatan dalam pemerintahan ummatku lalu dia mempersulit  urusan mereka, maka persulitlah dia. Dan siapa yang menjabat suatu jabatan dalam pemerintahan ummatku lalu dia berusaha menolong mereka, maka tolong pulalah dia.” (HR Ahmad dan Muslim dari Aisyah).

{ وَمَنْ وَلِيَ مِنْهُمْ شَيْئًا فَشَقَّ عَلَيْهِمْ فَعَلَيْهِ بَهْلَةُ اللَّهِ فَقَالُوا : يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا بَهْلَةُ اللَّهِ قَالَ : لَعْنَةُ اللَّهِ } رَوَاهُ أَبُو عَوَانَة فِي صَحِيحِهِ

Dan barangsiapa memimpin mereka dalam suatu urusan lalu menyulitkan mereka maka semoga bahlatullah atasnya. Maka para sahabat  bertanya, ya RasulAllah, apa bahlatullah itu? Beliau menjawab: La’nat Allah. (HR Abu ‘Awanah dalam shahihnya. Terdapat di Subulus Salam syarah hadits nomor 1401).

Amien ya Rabbal ‘alamien.

 

(nahimunkar.com)

(Dibaca 953 kali, 1 untuk hari ini)