ilustrasi

.

 

 

  • Ketika berlangsung pemilu, rakyat tetap bisa melihat dengan akalnya, bagaimana Jokowi yang sudah ‘melarikan diri’ dari tanggungjawabnya, sebagai walikota Solo, lari ke Jakarta mengejar jabatan gubernur, kemudian jabatan gubernur ditinggalkan, lari mengejar jabatan presiden.
  • Inilah karakter Jokowi yang sudah dieluk-elukan oleh koran katolik dan sekuler, seperti Kompas dan Tempo. Jokowi yang setahun menjadi gubernur DKI itu, hanya bisa membasmi ‘topeng’ monyet dan pedagang kaki lima pasar Tanah Abang, yang menjadi sumber penghidupan rakyat jelata.
  • pencapresan Jokowi tidak membawa apapun bagi perolehan suara PDIP di pemilu legislatif, tetapi Mega telah kehilangan ‘tiket’ capres. Bisa jadi PDIP akan meninjau ulang pencapresan Jokowi?
  • Partai Demoikrat dan PKS tidak seburuk yang banyak diperkirakan lembaga-lembaga survei. Peroleh Partai Demokrat dan PKS masih lumayan bagus. Padahal, harian katolik Kompas, di awal Januari 2014, sudah menjadikan pemilu 2014, sebagai ladang ‘pembantaian’ dengan mengeluarkan hasil surveinya, di mana tidak ada satupun Partai Islam yang lolos parlemen threshold, kecuali PKB.
  • Perolehan suara partai-partai Islam tidak seburuk yang diramalkan oleh lembaga survei yang memang sengaja ingin menghancurkan partai-partai Islam, dan menjadikan pemilu 2014 sebagai kuburan bagi partai-partai Islam ternyata gagal

JAKARTA – Jokowi dan Hary Tanoe tak mampu mendongkrak perolehan suara PDIP dan Hanura. Malah PDIP dan Hanura menjadi partai ‘bangkrut’. Tanpa masa depan.

Padahal, Jokowi mendapatkan dukungan media massa katolik dan sekuler dengan sangat luar biasa, seperti koran Kompas, Tempo, Detik dan lain-lain.

Jokowi juga didukung kelompok ‘Jasmev’ (Jokowi Ahok Sosial Media Volenteer), yang secara konsisten mengkampanyekan Jokowi dengan luar biasa. Jauh sebelum pemilu dengan membuat pencitraan yang sangat masive.

Sementara itu, Hary Tanoe menggunakan media MNC dan RCTI melakukan kampanye, tanpa jeda terus-terusan dengan berbagai penampilan yang sangat luar biasa. Iklan-iklan itu menampakkan Hary Tanoe yang pengikut kristen sekte Jehova itu, (digambarkan) memiliki perhatian begitu sangat tinggi terhadap rakyat jelata.

Hary Tanoe dalam episode iklan yang merupakan kampanye itu, diantaranya bagaimana Hary Tanoe mengangkat dan menggendong orang yang lumpuh, kurus, dan dalam kondisi sakit. Seakan-akan sosok Hary Tanoe begitu mulianya. Tetapi, semuanya hanyalah iklan, dan penuh dengan ‘tipuan dan kepalsuan’ dan tidak ada dalam dunia nyata.

Maka ketika berlangsung pemilu, rakyat tetap bisa melihat dengan akalnya, bagaimana Jokowi yang sudah ‘melarikan diri’ dari tanggungjawabnya, sebagai walikota Solo, lari ke Jakarta mengejar jabatan gubernur, kemudian jabatan gubernur ditinggalkan, lari mengejar jabatan presiden.

Inilah karakter Jokowi yang sudah dieluk-elukan oleh koran katolik dan sekuler, seperti Kompas dan Tempo. Jokowi yang setahun menjadi gubernur DKI itu, hanya bisa membasmi ‘topeng’ monyet dan pedagang kaki lima pasar Tanah Abang, yang menjadi sumber penghidupan rakyat jelata.

Dibawah ini, sebuah analisa dan pandangan mantan Menteri Keuangan, di  era Soeharto,  Fuad Bawazir tentang hasil pemilu 2014 yang penuh dengan kejutan. Ternyata partai-partai sekuler menampakkan kebangkrutan. Menurut Fuad :

– Nampaknya ada 10 partai politik yang lolos parlemen threshold. Kelihatan perolehan suara Partai Hanura paling buncit. Sesuai nomor urat partainya yaitu nomor 10. Kehadiran Harty Tanoe di Hanura tidak mampu menambah suara Hanura. Hanura tidak mendapatkan apa-apa dari Hary Tanoe. Sebaliknya, Hary Tanoe mendapatkan status calon wakil presiden. Ini merupakan pengalaman yang sangat tragis bagi Hanura.

– Berbagai survei selama ini menunjukkan PDIP mendapatkan suara 15-20 persen. Kemudian datanglah bujukan dan tekanan kepada Mega untuk mendeklarasikan Jokowi sebagai calon presiden (Capres) dengan “Janji atau jaminan analisis” suara PDIP akan meningkat menjadi 30-50 persen. Ternyata suara PDIP tetap saja. Stagnan tidak berubah, hanya sekitar 20 persen.

– Artinya pencapresan Jokowi tidak membawa apapun bagi perolehan suara PDIP di pemilu legislatif, tetapi Mega telah kehilangan ‘tiket’ capres. Bisa jadi PDIP akan meninjau ulang pencapresan Jokowi?

– Kemudian, Partai Demoikrat dan PKS tidak seburuk yang banyak diperkirakan lembaga-lembaga survei. Peroleh Partai Demokrat dan PKS masih lumayan bagus. Padahal, harian katolik Kompas, di awal Januari 2014, sudah menjadikan pemilu 2014, sebagai ladang ‘pembantaian’ dengan mengeluarkan hasil surveinya, di mana tidak ada satupun Partai Islam yang lolos parlemen threshold, kecuali PKB.

– Suara Nasdem (Nasional Demokrat) yang lebih tinggi dari Hanura pasti menyenangkan Surya Paloh yang ditinggalkan oleh Hary Tanoe pindah ke Hanura. Nasdem yang merupakan sempalan dari ‘Golkar’ berhasil mengkapitalisasi suara.

– Suara PBB dan PKPI yang sudah diduga tidak lolos parlemen threshold sudah sesuai dengan analisis yang berkembang selama ini. Jadi Yusril dan Sutiyoso harus mengubur mimpinya menjadi calon presiden.

– Perolehan suara partai-partai Islam tidak seburuk yang diramalkan oleh lembaga survei yang memang sengaja ingin menghancurkan partai-partai Islam, dan menjadikan pemilu 2014 sebagai kuburan bagi partai-partai Islam ternyata gagal.

Tentu, diatas semua itu, pemenang pemilu 2014 ini, adalah ‘GOLPUT’, dan suaranya lebih dari 37 persen. Ini sebuah pemberontakan yang nyata terhadap pemerintah dan partai politik yang sudah sangat buruk kinerjanya. Korup. (afgh).

voa-islam.com/ Kamis, 9 Jumadil Akhir 1435 H / 10 April 2014 08:50 wib

(nahimunkar.com)

(Dibaca 2.055 kali, 1 untuk hari ini)