Demonstran Tolak BBM Tewas, Jokowi Tanpa Empati Mengatakan: “Itu Urusan Polisi”

Jokowi dipertanyakan tanggung jawab moralnya sebagai pemimpin.

Disayangkan, kenapa tidak minta maaf atas terjadinya insiden yang melebihi batas kepatutan dari polisi.

Padahal diberitakan, Arif yang Tewas Itu Akibat Ditembak dari Atas Water Canon. Menurut sumber yang kami wawancarai, yang menembak Arif adalah polisi (shooter) diatas water cannon, tulis tribun timur.com. Makanya ada tanggapan yang menyebut, Tak Punya Empati, Itu Nurani dan Karakter Sesungguhnya Jokowi

Mantan Wagub Prijanto menulis di akunnya: Terkait tewasnya mahasiswa dalam unjuk rasa yang dijamin oleh undang-undang, bagi YM Presiden tentunya tidak cukup cuma bilang itu “URUSAN POLISI”. Menurut hemat saya, tanggung jawab moral dan rasa empati yang pernah diucapkan ketika kampanye, mestinya muncul. Mengapa? Karena kapasitasnya sebagai Kepala Pemerintahan dan Kepala Negara.

Ucapan Jokowi: “Itu Urusan Polisi”, dikomentari: “Respons atau ucapan spontan dari seseorang, menggambarkan sampai sejauhmana isi nurani dan karakter yang bersangkutan yang sesungguhnya”.

Inilah beritanya.

***

Sabtu, 29 November 2014

Tak Punya Empati, Itu Nurani dan Karakter Sesungguhnya Jokowi

Tanggapi Kematian Tewasnya Pendemo dengan “Itu Urusan Polisi”

FASTNEWS, Jakarta (29/11) – Menanggapi sikap Presiden Jokowi yang hanya menyatakan bahwa itu urusan polisi soal tewasnya pendemo di Makassar diulas oleh mantan Wagub Prijanto, Sabtu (29/11) di akun pribadinya. Berikut ini ulasannya;

“TEWASNYA MAHASISWA DLM UNJUK RASA DI MAKASAR – Tinjauan dr perspektif KEPEMIMPINAN”

Seingat saya, pada masa kampanye Pilpres 2014, ada pidato JOKOWI yang mengartikan “demokrasi” dengan kata kunci kurang lebih : “turun ke rakyat, mendengarkan aspirasi rakyat, bekerja untuk rakyat”. Tidak usah didebat benar atau tidak pengertian tersebut, yang jelas rangkaian kata kunci tersebut sangat manis dan enak didengar.

Dalam perspektif kepemimpinan, itulah yang disebut dengan “EMPATI”. Perasaan empati dalam kepemimpinan sangatlah penting. Orang yang memiliki empati yang tulus, akan menempatkan dirinya dalam situasi sebagaimana orang lain. Adanya empati seorang pemimpin, akan menumbuhkan apa yang disebut dengan ” TANGGUNG JAWAB MORAL”.

Sebagai contoh, Danjen Kopassus yang melihat prajuritnya melakukan kesalahan dan masuk sel pada kasus Yogya, dengan gagah si Danjen bilang ” ANDAIKAN BOLEH, SAYA INGIN YANG MENGGANTIKAN MEREKA DI SEL” . Mengapa Danjen bilang seperti itu? Karena ia memilili rasa empati terhadap prajuritnya.

Danjen telah menunjukkan TANGGUNG JAWAB MORAL- nya sebagai seorang pemimpin. Pemimpin memang harus bertanggung jawab atas apa yg dilakukan dan tidak dilakukan oleh prajuritnya.

Terkait tewasnya mahasiswa dalam unjuk rasa yang dijamin oleh undang-undang, bagi YM Presiden tentunya tidak cukup cuma bilang itu “URUSAN POLISI”. Menurut hemat saya, tanggung jawab moral dan rasa empati yang pernah diucapkan ketika kampanye, mestinya muncul. Mengapa? Karena kapasitasnya sebagai Kepala Pemerintahan dan Kepala Negara.

Minimal,…..misalnya,….ucapan bela sungkawa dan penyesalan mengapa peristiwa tersebut terjadi. Tidak ada salahnya juga, minta maaf atas terjadinya insiden yang melebihi batas kepatutan dari polisi. Jika perlu penjelasan dan ajakan kepada rakyat secara konstruktif bukan sebaliknya bernada CUEK-BEBEK dan PROVOKATIF.

Menyikapi tewasnya mahasiswa sebagai rakyat yang menyampaikan pendapat dengan unjuk rasa, kiranya perlu didengar dan dihormati. Bukankah itu bagian dari demokrasi seperti ucapan YM Presiden ketika kampanye?

Respons atas tewasnya mahasiswa dalam unjuk rasa oleh Presiden yang diberikan secara proposional dan mengandung rasa empati, menurut hemat saya jauh lebih penting dibanding dengan tontonan naik pesawat ke Singapura dengan kelas ekonomi, yang bisa diatur sesuai “tujuannya”.

KATA-2 BIJAK : “respons atau ucapan spontan dari seseorang, menggambarkan sampai sejauhmana isi nurani dan karakter yang bersangkutan yang sesungguhnya”.(FN-04) fastnewsindonesia.com

***

Demonstran Tolak BBM Tewas, Jokowi: Itu Urusan Polisi

Jumat 5 Safar 1436 / 28 November 2014 21:30

PRESIDEN Joko Widodo menanggapi santai, terkait adanya seorang demonstran yang tewas saat demonstrasi menolak kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), di Makassar Sulawesi Selatan.

“Itu kan sebenarnya urusan di kepolisian,” kata Presiden Jokowi, di Istana Bogor, Jawa Barat, Jum’at (28/11/2014).

Pengamanan aksi, kata Presiden, tidak hanya kepolisian. Tapi biasanya ada bantuan dari aparat TNI.

“Ada TNI yang melakukan tugas pembantuan,” lanjut Jokowi seperti dikutipInilah.com.

Sebelumnya, dari video yang beredar, seseorang diketahui tewas saat terjadi bentrokan antara warga dan mahasiswa dengan kepolisian, di kampus UMI Makassar.

Sebuah mobil water canon milik polisi mengarah kencang ke massa, yang diikuti massa berlari masuk ke kampus.

Di situlah, ditemukan seorang tewas. Awalnya, muncul dugaan kalau ditabrak. Namun, dari video yang beredar, tidak terlihat kalau mobil polisi tersebut menabrak.

Menurut sumber yang diwawancarai wartawan, pelaku penempakan Aarif adalah polisi (shooter) di atas water cannon. [de/Islampos]

***

 

Arif Tewas Ditembak dari Atas Water Canon

Jumat, 28 November 2014 10:37 WITA

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR – Muhammad Arif, warga Jl Pampang I, Makassar, yang tewas dalam bentrok polisi dengan mahasiswa UMI saat menggelar unjuk rasa menolak naiknya harga BBM di depan kampus UMI, Jl Urip Sumohardjo, Kamis (27/11/14) sore, diduga ditembak oleh polisi dari atas truk water canon. 

Informasi ini dilansir oleh cakrawalaide.com, unit penerbitan dan penulisan mahasiswa UMI. Berikut laporan cakrawalaide.com berjudul ‘Kronologi Tindakan Represif Aparat Terhadap Mahasiswa UMI. Satu Warga Tewas’, yang disalin utuh tribun-timur.com.

Tindakan represif polisi terjadi lagi, setelah pemukulan, penghancuran yang dilakukan instansi penegak hukum ini di Kampus UNM Gunung Sari tanggal 13 November kemarin. Kali ini aksi yang sama terjadi pula di Kampus UMI. Dibeberapa aksi mahasiswa dalam penolakan kenaikan harga BBM di Makassar, selalu direspon aparat dengan tindak represif, yang dalam beberapa kasus dibantu oleh preman.

Kamis, (27/11) aksi demonstrasi mahasiswa UMI didepan kampus kemudian bergeser ke gubernuran, berbuah bentrok. Mahasiswa UMI kembali berhadapan dengan pihak kepolisian. Dalam bentrok ini satu warga tewas.

Berikut kami memuat kronologi aksi, hasil wawancara kami dengan demostran dan salah satu warga yang melihat jalannya aksi hingga bentrokan:

Sebelum bentrokan terjadi, awalnya kasus ini berangkat dari aksi demonstrasi mahasiswa UMI yang menolak kenaikan harga bahan bakar minyak di depan kampus pukul 15.00 WITA. Barisan massa mahasiswa ini, menamakan diri mereka Aliansi Mahasiswa UMI Bersatu. Mereka menuntut agar pemerintah mencabut kebijakan kenaikan harga BBM, sekaligus mencopot Kapolda SULSELBAR agar turun dari jabatannya.

Mahasiswa yang bergerak dengan tuntutan tersebut, kemudian pergi ke Kantor Gubernur SULSEL dan mendesak agar gubernur menandatangani petisi yang dibuat aliansi yang memuat bahwa Pemerintah Daerah Sulawesi Selatan tidak sepakat atas kebijakan pemerintah pusat yang menaikan harga BBM. Namun hal ini memanas ketika aliansi mengetahui bahwa yang menandatangani petisi tersebut bukan gubernur tapi Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP), yang kebetulan ada di Kantor Gubernur. Mahasiswa pun marah dan menganggap bahwa tindakan yang dilakukan oleh gubernur merupakan penghinaan terhadap aksi yang awalnya berjalan baik.

Satpol PP yang melihat massa yang tidak kondusif, kemudian bergerak menuju kearah mahasiswa, kemudian ada yang melempar batu. Batu tersebut berasal dari barisan Satpol PP. hal ini semakin memperkeruh suasana dan memancing kemarahan mahasiswa. Mahasiswa kemudian membalas, bentrokan pun tak terelakan.

Bentok yang semakin memanas, memaksa satuan Brimob untuk bertindak dan mengejar mahasiswa. Warga yang kebetulan ada dibarisan mahasiswa kemudian terkena tembakan dibagian belakang kepala, warga tersebut jatuh tak sadarkan diri. Tak hanya di tembak, water cannon malah menyambar warga yang tergeletak. Warga tersebut diketahui bernama Muhammad Arif, Warga Pampang.

Menurut sumber yang kami wawancarai, yang menembak Arif adalah polisi (shooter) di atas water cannon, dan ia juga mengatakan keterlibatan warga tak ada sangkut pautnya dengan mahasiswa. Namun dalam penuturannya, ia mengakui bahwa warga bergerak sendiri, biasanya berada di belakang aksi mahasiswa. Sehingga terkesan bahwa warga pro terhadap aksi mahasiswa.

Setelah tertembaknya Arif, warga pampang kemudian menyerang balik hingga ke Kantor Gubernur, menurut salah satu saksi, Phinisi (nama samaran), warga pampang yang menyerang kemudian melempari warga di sekitar kantor gubernuran. Sehingga terjadilah bentrokan antar sesama warga. Warga disekitar gubernuran berada di barisan brimob, dan bersama mengejar warga dan mahasiswa hingga ke dalam kampus. Polisi yang berusaha menyerang kampus melepaskan gas air mata, sehingga asap gas tersebut sampai ke mesjid.

Dalam pantauan kami, setidaknya lima motor mahasiswa dibakar warga, tiga dalam kampus (samping Mesjid Umar bin Khattab), dan dua lainnya di luar kampus. http://makassar.tribunnews.com/

 

(nahimunkar.com)

(Dibaca 397 kali, 1 untuk hari ini)