•  Tiga kali debat calon presiden antara Prabowo – Jokowi, sudah sangat dengan jelas, memberikan gambaran kepada rakyat tentang kualitas dan kapasitas Jokowi. Memang, Jokowi belum atau tidak layak menjadi presiden dan pemimpin bangsa Indonesia.
  • Jokowi bukan hanya tidak mampu menyampaikan visi-misinya dengan bahasa tutur secara baik, tetapi mantan walikota Solo itu, juga tidak menguasai dan (tak mampu) memahami substansi masalahnya.
  •  Indonesia bangsa besar, luas wilayahnya tiga daratan Eropa, berpenduduk 250  juta, di tengah-tengah perubahan besar, persaingan global, dan era keterbukaan yang sangat berpotensi akan mengancam eksistensi Indonesia. Sehingga, diperlukan seorang ‘tokoh’ yang akan memimpin Indonesia yang benar-benar mumpuni.
  • Bukan hanya dengan modal Jokowi yaitu ‘blusukan’ atau berbadan kurus dianggap sebagai ‘jujur’, yang menjadi antitesa dari kondisi Indonesia sekarang sudah sangat korup. Karena,  sudah terbukti, kurang dari dua tahun Jokowi menjadi Gubernur, sudah muncul kasus korupsi di DKI Jakarta, pembelian bus Transjakarta, Rp 1,5 triliun.
  • Jika para pendukung Jokowi, seperti Mega, elite PDIP, konglomerat, para jenderal yang terus memanasi Jokowi, sedikit memiliki ‘commonsense’ (akal sehat), pasti akan memilih jalan elegan dan terhormat, serta bijaksana, yaitu mengangkat ‘bendera putih’ (kalah), sebagai pernyataan kalah.

Inilah ulasannya.

***

 

Sebaiknya Jokowi Mengangkat Bendera Putih, Lebih Terhormat

JAKARTA (voa-islam.com) – Dari tiga kali debat  digelar oleh KPU tentang masalah-masalah mendasar bangsa Indonesia, mulai masalah pembangunan demokrasi, kesejahteraan, hak asasi manusia,  ekonomi, pertahanan keamanan, semua menunjukkan kapasitas Jokowi. Rakyat bisa menilai kualitas kepemimpinan sosok Jokowi sebagai calon presiden. Debat capres diselenggarakan KPU itu, bisa menjadi indikator terhadap calon presiden, layak atau tidak memimpin negeri ini.

Presiden atau pemimpin tidak bisa lahir secara instan. Presiden atau pemimpin tidak bisa lahir dari sebuah proses rekayasa media. Presiden atau pemimpin tidak bisa hanya dari hasil proses pencitraan. Presiden dan pemimpin harus benar-benar lahir dari sebuah ujian. Ujian dari hari ke hari, minggu, bulan, dan tahun dengan berbagai ujian. Seperti batu berlian yang digosok, kemudian menjadi berlian. Bukan hasil polesan.

Calon presiden Jokowi bukan lahir dari sebuah proses panjang dari perjuangan seorang pemimpin. Tapi, lebih sebuah proses rekayasa media massa dan media sosial yang memainkan opini. Dengan berbagai cara yang sangat absurd dan naif. Jokowi menjadi ‘gelembung’ balon yang naik diatas langit Indonesia  secara tiba-tiba. Jokowi belum teruji dengan sebuah ujian yang benar-benar dapat membentuk dirinya menjadi pemimpin sejati.

Media massa dan media sosial dengan sengaja membuat rekayasa dengan trik-trik yang dimaikan secara sistematis, termasuk poling dan survei yang seakan sebagai sebuah faktor penentu, bahwa Jokowi layak menjadi presiden dan pemimpin 250 juta rakyat Indonesia. Orang-orang yang tidak bertanggung jawab, sengaja membuat sebuah rekayasa dan membentuk opini dengan mengangkat tokoh ‘Jokowi’ yang tiba-tiba memenuhi jagad dan langit politik Indonesia, sebagai tokoh yang harus diterima oleh rakyat Indonesia sebagai presiden dan pemimpin.

Tetapi, tiga kali berlangsung debat capres yang diselenggarakan KPU, menjadi ‘ujian’ bagi Jokowi, apakah dia seorang calon presiden dan pemimpin yang layak didukung atau tidak? Tiga kali debat calon presiden antara Prabowo – Jokowi, sudah sangat dengan jelas, memberikan gambaran kepada rakyat tentang kualitas dan kapasitas Jokowi. Memang, Jokowi belum atau tidak layak menjadi presiden dan pemimpin bangsa Indonesia.

Jokowi bukan hanya tidak mampu menyampaikan visi-misinya dengan bahasa tutur secara baik, tetapi mantan walikota Solo itu, juga tidak menguasai dan memahami substanti masalahnya. Sekalipun, sudah dibentuk ‘Tim Ahli’ dari berbagai ahli yang mempersiapkan materi visi-misi, dan materi lainnya, tetapi tetap saja Jokowi tidak mampu mengartikulasikannya, bahkan terkadang nampak gugup, meskipun sudah membaca dan melihat catatan. Ternyata, tidak cukup dihafal materi-materi yang sudah disiapkan oleh ‘Tim Ahli’ yang dipimpin menantu Jenderal Theo Syafi’i , Andi Wijayanto dan Muarar Sirait, dan sejumlah jenderal.

Ini hanyalah menggambarkan memang Jokowi memang fakatnya  belum siap menjadi presiden dan memimpin bangsa. Kualitasnya, kapasitasnya, kemampuannya, pandangannya, ilmu pengetahuannya, dan Jokowi masih sangat lemah dari segi ‘leadershipnya’, ketika harus berhadapan dengan fihak-fihak yang memiliki kepentingan terhadap Indonesia.  Jika Jokowi dipaksakan menjadi presiden dan pemimpin, maka akan menghancurkan dirinya sendiri, dan bangsa Indonesia. Jokowi bukanlah seperti ‘Bung Karno’. Itu  sudah sangat jelas selama dalam debat capres.

Indonesia bangsa besar, luas wilayahnya tiga daratan Eropa, berpenduduk 250  juta, di tengah-tengah perubahan besar, persaingan global, dan era keterbukaan yang sangat berpotensi akan mengancam eksistensi Indonesia. Sehingga, diperlukan seorang ‘tokoh’ yang akan memimpin Indonesia yang benar-benar mumpuni.

 Bukan hanya dengan modal Jokowi yaitu ‘blusukan’ atau berbadan kurus dianggap sebagai ‘jujur’, yang menjadi antitesa dari kondisi Indonesia sekarang sudah sangat korup. Karena,  sudah terbukti, kurang dari dua tahun Jokowi menjadi Gubernur, sudah muncul kasus korupsi di DKI Jakarta, pembelian bus Transjakarta, Rp 1,5 triliun.

Jika para pendukung Jokowi, seperti Mega, elite PDIP, konglomerat, para jenderal yang terus memanasi Jokowi, sedikit memiliki ‘commonsense’ (akal sehat), pasti akan memilih jalan elegan dan terhormat, serta bijaksana, yaitu mengangkat ‘bendera putih’ (kalah), sebagai pernyataan kalah. Kemudian, memberikan kesempatan kepada Prabowo-Hatta Rajasa, memimpin Indonesia lima tahun ke depan.

Mumpung masih ada waktu. Jokowi mundur dari pencalonan presiden tidak akan kehilangan muka. Malah menjadi orang yang terhormat. Mendapatkan penghargaan. Sembari melanjutkan tugas sebagai gubernur DKI, yang diamanahkan oleh rakyat Jakarta. Jokowi tidak memilih ‘mangkir’, dan terus bergelut dengan bathinnya. Ini memang berat. Bagi Jokowi, Mega, elit PDIP, para jenderal, dan konglomerat.

Pilihan  ‘mengangkat bendera putih’ menjadi  sangat terhormat dan berharga, bagi masa depan Jokowi, Mega, para  jenderal, dan konglomerat. Tidak terus memaksakan Jokowi. Karena, hanya akan menghancurkan, dan mereka akan kehilangan masa depan, jika rakyat yang memvonisnya, 9 Juli nanti.  Wallahu a’lam. Senin, 25 Sya’ban 1435 H / 23 Juni 2014 07:23 wib

(nahimunkar.com)

(Dibaca 79.654 kali, 1 untuk hari ini)