Jokowi Diyakini Masuk Surga, Tifatul: Emangnya Surga di Bawah Telapak Kaki Ibu Kota?

  • Dalam mendesain Istana Negara, pemerintah memilih seorang seniman patung kenamaan, Nyoman Nuarta.
  • Haram Membuat Patung dan Haram Pula Memerintahkan Buat Patung
  • Jadi bukan hanya pembuat patung-patung itu yang (di dalam Hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam) diancam adzab paling dahsyat di Hari Qiyamat, namun termasuk pula orang yang memerintahkannya beserta orang-orang yang terlibat dalam urusan itu.

Silakan simak ini.

***

 

Jokowi Diyakini Masuk Surga, Tifatul: Emangnya Surga di Bawah Telapak Kaki Ibu Kota?

 

Anggota DPR RI, Tifatul Sembiring, menanggapi pernyataan Gubernur Kalimantan Timur (Kaltim), Isran Noor, yang mengatakan bahwa Presiden RI Joko Widodo atau Jokowi pasti masuk surga jika memindahkan Ibu Kota Negara (IKN).

 
 

Dalam pernyataan yang disampaikan melalui cuitan di akun Twitter pribadinya @timsembiring, ia dibuat heran dengan pernyataan dari sang gubernur.

 

Menurutnya, pernyataan Isran Noor ini seolah menyebut bahwa surga berada di bawah telapak kaki ibu kota.

 

“Emangnya syurga di bawah telapak kaki ibukota, pak gub. Aya2 wae..,” ujar Tifatul Sembiring dalam cuitan yang diunggah pada Kamis, 8 April 2021.

 

Diberitakan sebelumnya, Isran Noor mengatakan bahwa pemindahan Ibu Kota Negara (IKN) ke Kalimantan Timur (Kaltim) bukan hanya keinginan dari Presiden RI ke-7 tersebut.

 

Ia menuturkan, Soekarno dan Soeharto pun sejak dulu ingin memindahkan Ibu Kota Negara (IKN) dari Jakarta.

 

“Sejak presiden pertama, presiden kedua, presiden ketiga, semuanya ingin memindahkan Ibu Kota Negara,” ujarnya dalam acara kuliah umum daring di Universitas Indonesia pada Rabu, 7 April 2021.

 

Isran Noor lantas membuat pernyataan yang cukup membuat publik tercengang soal keyakinannya bahwa Jokowi akan masuk surga jika pemindahan IKN tersebut benar-benar terealisasi di masa jabatannya.

 

Makanya saya sampaikan kepada Bapak Jokowi, presiden, ‘Bapak Jokowi, Bapak itu pasti masuk surga, kenapa Pak Isran? Tidak usah lagi Bapak itu beramal ibadah, Apa lagi itu Pak Isran? Karena Bapak telah mewujudkan cita-cita dua kepala negara untuk memindahkan, Pak Soekarno dan Pak Soeharto,” tuturnya menjelaskan.

 

Tak cukup sampai di situ, menurut Isran Noor, Presiden RI ke-6, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pun menginginkan pemindahan Ibu Kota Negara itu untuk terlaksana.

 

“Artinya Bapak mewujudkan cita-cita itu. Lalu dia (Jokowi) menyampaikan, ‘Pak Isran, ini pemindahan Ibu Kota itu bukan ujug-ujug, tapi melalui kajian-kajian’,” kata Isran Noor.

 

Isu rencana pemindahan Ibu Kota Negara (IKN) ke Kalimantan Timur (Kaltim) kini memang tengah menjadi perbincangan hangat publik.

 

Presiden RI Joko Widodo sendiri telah menunjukkan pradesai Istana Negara yang akan dibangun di Kaltim nantinya.

 

Dalam mendesain Istana Negara, pemerintah memilih seorang seniman patung kenamaan, Nyoman Nuarta.

 

“Usulan beliau sarat dengan filosofi lambang Burung Garuda sebagai pemersatu bangsa sesuai semboyan Bhinneka Tunggal Ika,” ujar Jokowi seperti tertulis di deskripsi video pradesain Istana Negara tersebut.***

 

Source: Silahkan Klik Link Ini

Diterbikan: oposisicerdas.com

Foto: Tifatul Sembiring. /Facebook Tifatul Sembiring

Kamis, April 08, 2021 Politik, Trending Topic

***

Haram Membuat Patung dan Haram Pula Memerintahkan Buat Patung

Posted on 13 Agustus 2017

by Nahimunkar.org


Dalam buku Hartono Ahmad Jaiz, Nabi-Nabi Palsu dan Para Penyesat Ummat, trbitan Pustaka Al-Kautsar, Jakarta, dijelaskan mengenai hukum patung, sebagai berikut.

Dari zaman Nabi Nuh ‘alaihissalam pun sudah dikenal bahwa patung itu adalah berhala yang kemudian mereka sembah. Kalau sekarang belum disembah, pembuatannya itu sendiri sudah mengakibatkan siksa yang amat sangat dahsyat di Hari Qiyamat.

Berikut ini keterangan Ibnu Qudamah dalam Kitabnya, Al-Mughni, juz 7:

ج 7:( 5674 )فَصْلٌ : وَصَنْعَةُ التَّصَاوِيرِ مُحَرَّمَةٌ عَلَى فَاعِلِهَا ; لِمَا رَوَى ابْنُ عُمَرَ عَنْ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم أَنَّهُ قَالَ : { الَّذِينَ يَصْنَعُونَ هَذِهِ الصُّوَرَ يُعَذَّبُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ , يُقَالُ لَهُمْ : أَحْيُوا مَا خَلَقْتُمْ } . وَعَنْ { مَسْرُوقٍ قَالَ : دَخَلْنَا مَعَ عَبْدِ اللَّهِ بَيْتًا فِيهِ تَمَاثِيلُ , فَقَالَ لَتِمْثَالٍ مِنْهَا : تِمْثَالُ مَنْ هَذَا ؟ قَالُوا : تِمْثَالُ مَرْيَمَ , قَالَ عَبْدُ اللَّهِ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ : إنَّ أَشَدَّ النَّاسِ عَذَابًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ الْمُصَوِّرُونَ } . مُتَّفَقٌ عَلَيْهِمَا , وَالْأَمْرُ بِعَمَلِهِ مُحَرَّمٌ . كَعَمَلِهِ .

Fasal: Pembuatan gambar-gambar/ patung-patung (bernyawa –manusia atau binatang) diharamkan atas pembuatnya, karena berdasarkan apa yang diriwayatkan Ibnu Umar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda:

{ الَّذِينَ يَصْنَعُونَ هَذِهِ الصُّوَرَ يُعَذَّبُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ , يُقَالُ لَهُمْ : أَحْيُوا مَا خَلَقْتُمْ }

Orang-orang yang membuat gambar-gambar/ patung-patung ini mereka disiksa di Hari Qiyamat, dikatakan kepada mereka: Hidupkanlah apa yang telah kamu ciptakan. (Muttafaq ‘alaih).

Dan riwayat dari Masruq, dia berkata: Kami bersama Abdullah masuk ke rumah yang di dalamnya ada patung-patung, maka dia berkata mengenai patung di antaranya: Patung siapa ini?

Mereka menjawab: Patung Mariam.

Abdullah berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda:

: إنَّ أَشَدَّ النَّاسِ عَذَابًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ الْمُصَوِّرُونَ

Sesungguhnya manusia paling keras siksanya di Hari Qiyamat adalah pelukis-pelukis/ pematung-pematung. (Muttafaq ‘alaih).

Dan perintah untuk mengerjakannya diharamkan (pula) sebagaimana (keharaman) mengerjakannya. (Ibnu Qudamah, Al-Mughni, juz 7, fasal 5674).

Jadi bukan hanya pembuat patung-patung itu yang diancam adzab paling dahsyat di Hari Qiyamat, namun termasuk pula yang memerintahkannya beserta orang-orang yang terlibat dalam urusan itu.

Demikianlah, pembuatan patung itu sendiri sangat diancam oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, pelakunya (termasuk pimpro –pemimpin proyek— dan anak buahnya) dengan ancaman siksa paling keras di Hari Qiyamat. Kalau patung-patung itu disembah, maka akan lebih-lebih lagi siksanya di Akherat kelak.

Dipetik dari buku Hartono Ahmad Jaiz, Nabi-Nabi Palsu dan Para Penyesat Ummat, Pustak Al-Kautsar, Jakarta.

(nahimunkar.org)

(Dibaca 266 kali, 1 untuk hari ini)