.

Ada ungkapan Jawa, esuk dele sore tempe (pagi-pagi masih berupa kedelai, sore hari berubah jadi tempe). Maksudnya, mencla-mencle, perkataan dan perbuatannya tidak konsisten.

Jokowi waktu masih mencalonkan diri sebagai Gubernur DKI Jakarta (April 2012) dalam kunjungannya ke salah satu media, Jokowi menyebutkan penggunaan baju koko dan peci merupakan pencitraan gaya lama, basi dan membosankan. “Ya bosenlah, semua yang maju ke Pilkada selalu pakai baju koko dan kopiah biar keliatan religius,” kata Jokowi saat itu.

Pernyataan Jokowi itu dinilai bukan hanya menolak baju koko dan kopiah yang menjadi ciri masyarakat Betawi, tetapi menolak identitas Muslim, di mana kebiasaan seorang Muslim, pasti menggunakan baju koko dan  kopiah.

Tahu-tahu ketika kebakaran di Pasar Senen (25 April 2014), dan Jokowi mencapreskan diri, justru dia datang ke lokasi kebakaran dengan berbaju koko, berpeci dan berkalung sarung bagai orang Betawi. Seakan Jokowi menjilat ludahnya sendiri.

Inilah beritanya.

***

 

Astaghfirullah… Jokowi nyinggung baju koko dan peci!

By nahimunkar.com on 20 April 2012

Jokowi (Joko Widodo) pakai baju kembang-kembang kaya’ perempuan?

  • Dalam kunjungannya ke salah satu media, Jokowi bakal calon gubernur DKI Jakarta menyebutkan penggunaan baju koko dan peci merupakan pencitraan gaya lama, basi dan membosankan. “Ya bosenlah, semua yang maju ke Pilkada selalu pakai baju koko dan kopiah biar keliatan religius,” kata Jokowi saat itu.
  • Pernyataan Jokowi bukan hanya menolak baju koko dan kopiah yang menjadi ciri masyarakat Betawi, tetapi menolak identitas Muslim, di mana kebiasaan seorang Muslim, pasti menggunakan baju koko dan  kopiah.
  • Ocehan Jokowi itu lebih terasa bagi Ummat Islam ketika ternyata Jokowi berpasangan dengan Ahok yang beragama Katolik, dan berasal dari Bangka, yang gagal mencalonkan gubernur di Bangka.
  • Yang hanya pernah sekolah katolik saja kalau jadi gubernur seperti Fauzi Bowo sudah menghalangi Islam dengan cara mempersulit izin pembangunan madrasah. Apalagi pasangan katolik betulan dan baru bakal calon gubernur saja sudah berani nyinggung baju koko dan peci, pakaian yang identik dengan identitas Muslim.

Inilah beritanya.

***

Singgung Baju Koko dan Peci, Jokowi Dituding Hina Orang Betawi

Jokowi yang berpasangan dengan Ahok (Katolik) yang dijagokan PDIP,  mengatakan, “Baju koko plus kopiah yang digunakan kandidat lain untuk mencari simpati publik, agar terkesan taat beragama, ucap Jokowi.

“Pernyataan Jokowi ini sangat menciderai budaya Indonesia dan tidak patut diucapkan oleh seorang bakal calon gubernur,” kata Ketua Umum LKB, Tatang Hidayat, saat ditemui di kantor LKB, Kamis (19/4/2012).

Menurut Tatang, pernyataan Jokowi, seolah-olah tidak tahu bahwa baju koko sudah menjadi kearifan lokal budaya betawi, dan sudah sejak lama menjadi sebuah identitas nasional seperti halnya baju adat pada daerah lain. “Jadi sangat disayangkan, bakal calon gubernur DKI Jakarta, tidak memahami kebudayaan masyarakat betawi,” ucapnya.

Dijelaskan Tatang, baju koko, bagi masyarakat Betawi merupakan baju sadaria, yang menjadi kearifan lokal masyarakat betawi. Dilihat dari kontennya, baju koko atau sadaria digunakan untuk shalat dan identik sebagai pakaian muslim yang digunakan sehari-hari. “Nggak mungkin orang muslim bosan menggunakan baju koko,” tegasnya.

Seperti diketahui dalam kunjungannya ke salah satu media, Jokowi menyebutkan penggunaan baju koko dan peci merupakan pencitraan gaya lama, basi dan membosankan. “Ya bosenlah, semua yang maju ke Pilkada selalu pakai baju koko dan kopiah biar keliatan religius,” kata Jokowi saat itu.

Pernyataan Jokowi bukan hanya menolak baju koko dan kopiah yang menjadi ciri masyarakat Betawi, tetapi menolak identitas Muslim, di mana kebiasaan seorang Muslim, pasti menggunakan baju koko dan  kopiah.

Jokowi yang berpasangan dengan Ahok yang beragama Katolik, dan berasal dari Bangka, yang gagal mencalonkan gubernur di Bangka, dan saat menjadi Bupati Babel Timur, tak ada prestasi yang  menonjol, menurut sumber yang ada di Bangka. Tetapi, sekarang mengangkat isu tentang kerakyatan dan kemiskinan, dan mendekati kalangan masyarakat bawah.

Padahal, ketika Megawati menjadi presiden, yang selalu mencitrakan dirinya sebagai tokoh “wong cilik”, tak menampakkan kebijakannya yang benar-benar memihak “wong cilik”.

Mega saat memerintah cenderung memilih kebijakan ekonomi pro-pasar, dan menjual asset-asset negara (BUMN) dengan harga “obral”, dan merugikan negara, termasuk Mega datang ke Beijing menandatangi kontrak penjualan gas dengan Cina selama 30 tahun  yang dipatok dengan harga dibawah. Triliuan negara dirugikan akibat kebijakan Mega itu.

Apa yang bisa dikerjakan Jokowi-Ahok bagi rakyat Jakarta? Tetapi, belum apa-apa sudah menghina baju koko dan kopiah, yang merupakan identitas orang-orang Betawi dan Muslim. (af/ilh) Kamis, 19 Apr 2012 / voaislam.com

***

Datangi Lokasi Kebakaran Pasar Senen, Jokowi Diteriaki Pencitraan

By nahimunkar.com on 26 April 2014

“Jadi susah kalau seperti ini. Malah jadi ribet.”

VIVAnews – Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo mengunjungi lokasi kebakaran di Pasar Senen Blok III, Jakarta Pusat, Jumat, 25 April 2014. Namun, tidak semua masyarakat menyambut baik kedatangan gubernur yang kerap disapa Jokowi itu.

Salah seorang warga bahkan menganggap langkah Jokowi itu sebagai pencitraan.

Jokowi tiba dengan mengenakan pakai khas betawi, yakni baju koko warna putih, celana hitam lengkap dengan peci dan sarungnya. Begitu sampai, Jokowi langsung masuk ke area yang sudah diberi garis polisi tanpa ragu. Asap hitam yang berhembus juga tak menghentikan langkah Jokowi.

Tidak seperti biasanya, ternyata kedatangan Jokowi itu tidak disukai oleh para pedagang yang sedang berusaha menyelamatkan barang-barangnya. Mereka menilai kehadiran mantan Wali Kota Solo tak menyelesaikan masalah, namun malah membuat suasa semakin ricuh karena banyak orang mengikuti ke mana pun Jokowi bergerak.

Pedagang kesal karena itu menghambat proses evakuasi dan penyelamatan barang-barang mereka dari jilatan si jago merah. Polisi pun ikut dibuat sibuk karena harus mengawal Jokowi.

Berbagai ekspresi ditunjukkan para pedagang untuk menunjukkan ketidaksukaannya. Ada juga yang mencibir, mengatakan aksi Jokowi itu hanya pencitraan semata.

“Ah, pencitraan itu. Sudah tahu bahaya dan banyak asap, ngapain dia ke sana? Mau cari perhatian?” teriak salah seorang warga di lokasi kebakaran.

Beberapa warga semakin kesal melihat Jokowi yang sudah menuju ke luar lokasi kebakaran, kembali masuk ke dalam. Akibatnya kondisi pun semakin tidak kondusif. “Jadi susah kalau seperti ini. Malah jadi ribet,” ucapnya.

Seperti diketahui, kebakaran melanda ribuan kios di Pasar Senen Blok III, sejak pukul 4.10 dini hari tadi. Kebakaran diduga akibat hubungan arus pendek listrik. Api mulai datang dari lantai satu kemudian merembet ke lantai dua dan lantai dasar.

Belum diketahui ada korban jiwa dalam kejadian itu. Hingga saat ini proses pemadaman api sudah memasuki tahap pendinginan. (ita)

(nahimunkar.com)

(Dibaca 2.065 kali, 1 untuk hari ini)