.

 

Akibat bertabrakannya aneka kepentingan dan terbongkarnya aneka karakter sang calon yang diperkirakan memerosotkan kepercayaan aneka pihak, timbullah masalah-masalah yang rumit dan sulit. Mereka pun tidak kompak lagi bahkan dengan aneka reaksi.

Gambaran yang jelas mengenai keadaan semacam itu telah diberikan oleh Allah Ta’ala yang Maha Kuasa:

{بَأْسُهُمْ بَيْنَهُمْ شَدِيدٌ تَحْسَبُهُمْ جَمِيعًا وَقُلُوبُهُمْ شَتَّى ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لَا يَعْقِلُونَ} [الحشر: 14]

…permusuhan antara sesama mereka adalah sangat hebat. kamu kira mereka itu bersatu, sedang hati mereka berpecah belah. yang demikian itu karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang tidak mengerti. (QS Al-Hasyr/59: 14)

Faktor – faktor di atas adalah sebagian dari penyebab anjloknya popularitas dan elektabilitas capres Jokowi. Perhitungan survey jajak pendapat terhadap kedua pasangan capres – cawapres terakhir, menunjukan dukungan rakyat terhadap Jokowi telah merosot tajam menjadi hanya sekitar 34%, dibandingkan dengan Prabowo – Hatta yang terus menanjak naik hingga mencapai 66% dan akan terus naik sejalan dengan semakin tersebarnya fakta – fakta seputar Jokowi.

Inilah analisisnya. Selamat menyimak.

***

Merosotnya Jokowi – JK Ditinggal Kabur Pendukungnya

 

Popularitas Joko Widodo sejak digenjot habis – habisan oleh mayoritas media massa nasional memang menduduki peringkat atas. Pencapaian itu wajar mengingat sumber daya yang dihabiskan untuk menjadikan Jokowi seperti sosok yang kita kenal sekarang, mencapai triliunan rupiah.

Sudah lama terbukti popularitas Jokowi tidak alami, bukan disebabkan media darling seperti awalnya diklaim sementara pihak. Pencitraan dan popularitas Jokowi adalah hasil rekayasa atau ciptaan sekelompok orang yang berada di balik Jokowi dan bermaksud menjadikan Jokowi sebagai calon presiden boneka. Maksudnya, Jokowi yang secara karaktek, integritas dan kapabilitasnya tidak memadai untuk jabatan sepenting presiden, mereka paksakan agar dapat dukungan dari semua lapisan masyarakat luas untuk dipilih menjadi presiden Indonesia periode 2014 – 2019.

Kelompok yang berada di balik Jokowi dan menjadi “dalang” atau “sutradara” semua rekayasa pencitraan, popularitas dan elektabilitas Jokowi dapat digambarkan sebagai berikut :

Tokoh Penemu dan pembina :

Kehadiran Jokowi sekarang di tengah – tengah blantika politik nasional tak lepas dari peran sentral dua tokoh militer Indonesia, yakni : AM Hendropriyono, mantan Kepala BIN (Badan Intelijen Negara) saat Presiden Megawati dan Luhut Binsar Panjaitan, mantan Danpussenif TNI, pernah jadi menteri perindustrian era Presiden Abdurahman Wahid (1999 – 2001).

Hendropriyono mengenal dekat Jokowi pada tahun 2005 karena aktivitas operasi intelijennya di Kota Solo yang meskipun ia sudah tidak lagi menjabat sebagai Kepala BIN, namun Hendropriyono masih terus merekayasa muncul tumbuh, dan berkembangnya gerakan terorisme di Indonesia, terutama di Kota Solo yang sudah diproklamirkannya sebagai pusat terorisme di Indonesia kepada negara – negara asing terutama Amerika Serikat.

Keputusan Hendopriyono cs menetapkan Kota Solo sebagai basis gerakan terorisme dengan pesantren Ngruki dan ustad Abubakar Baasyir sebagai ikonnya, mengharuskan Hendopriyono bertemu, menjalin hubungan dan bekerja erat dengan walikota Solo ketika itu, Joko Widodo untuk mendapatkan dukungan terhadap operasi inteljen ilegalnya tersebut. Hubungan erat Hendropriyono kemudian berkembang dengan bergabungnya Jenderak Luhut Binsar Panjaitan, yang bersama – sama Hendropriyono adalah merupakan kader utama Benny Moerdani.

Pada tahun 2008 Luhut Panjaitan dan Joko Widodo mendirikan perusahaan bersama yang diberi nama PT Rakabu Sejahtra, diambil dari nama PT Rakabu Furniture (milik Jokowi) dan PT Toba Sejahtra (milik Luhut Panjaitan), masing – masing dicantumkan setor modal Rp 15.5 miliar (Luhut 49%) dan Rp (Jokowi 51%). Perusahaan Luhut dan Jokowi itu bergerak di bidang manufaktur dan ekspor meubel, dan fakta ini sungguh mengherankan karena PT Toba Sejahtera bisnis utamanya adalah pertambangan dan energi. Padahal Jokowi saat itu adalah Walikota Solo dan tidak mungkin leluasa berbisnis atau mengelola perusahaan meubelnya. Sedangkan anaknya Gilang Rakabuming saat itu masih kuliah di luar negeri.

Jadi, timbul pertanyaan besar, apa maksud dan tujuan Luhut dah Jokowi membuat perusahaan bersama pada 2008 lalu? Apakah kebetulan belaka terjadinya musibah kebakaran pada pabrik dan gudang PT Rakabu Sejahtra pada Juni dan September 2012 lalu, atau bersamaan kejadiannya dengan saat dilangsungkannya pilkada DKI Jakarta?

Sejalan dengan rencana Luhut dan Hendro menjadikan Jokowi sebagai presiden boneka, Jokowi dibawa, diperkenalkan dan turut dibina selanjutnya oleh James Riady, Edward dan Edwin Suryajaya, Popo dan Edi Suriatmadja serta jaringan konglomerat cina Indonesia lainnya.

James Riady, anak Muchtar Riady mantan Direktur Utama Bank BCA dan pemilik Lippo Grup serta jaringan media PT First Media Grup. Melalui James Riady, rencana besar menjadikan Jokowi sebagai presiden boneka semakin mulus. James Riady pernah disebut sebagai The Most Dangerous Man In The World atau Manusia yang paling berbahaya di dunia.

Julukan itu bukan tanpa dasar, mengingat James Riady berdasarkan laporan investigasi lembaga otoritas AS adalah seorang agen intelijen China. Fakta ini banyak tercantum dalam laporan Tim Investigasi Kongreas, CIA, FBI dan lainnya terkait dengan terungkapnya Skandal Donasi Uang Haram untuk kampanye dan pemenangan capres Bill Clinton pada tahun 1996 lalu. Skandal sumbangan ilegal dari Lippo Grup, komunitas dan pemerintah China untuk kampanye capres Bill Clinton itu dikenal dengan sebutan “Lippogate”.

Meski pemerintah AS Cq Dept Kehakiman telah menyatakan James Riady, John Huang dan kelompok James Riady bersalah serta dihukum denda US$ 8.6 juta plus dilarang dua tahun masuk ke AS, di mata Bill Clinton, Presiden AS saat itu, James Riady adalah seorang pahlawan. James Riady tidak hanya sekedar PAHLAWAN di mata Bill Clinton, tetapi juga adalah seorang sahabat terbaik yang pernah dimilikinya.

James Riady sampai hari ini adalah teman terbaik Bill Clinton dan merupakan anggota paguyuban elit AS, “Arkansas Connection”. Sebagian anggota Arkansas Connection mengisi kabinet, gedung putih dan jabatan strategis termasuk pada masa Presiden Obama berkuasa sekarang ini. Hillary Clinton, John Kerry, dan Rahm Emmanuel adalah sebagian dari anggota Arkansas Connection yang menjabat anggota kabinet Obama dan Kepala Staf Gedung Putih.

Terlibatnya James Riady dalam membantu terwujudnya rencana besar Luhut dan Hendropriono merekayasa Jokowi sebagai presiden boneka Indonesia, serta merta melibatkan konsultan politik nomor wahid dunia, Stanley Bernhard Greenberg, khususnya sebagai sutradara dalam menyusun strategi dan skenario untuk melambungkan popularitas dan elektabilitas Jokowi.

Greenberg adalah ahli strategi politik terkemuka pemilik, pendiri dan CEO Greenberg Quinlan Rosner, sebuah konsultan yang sukses mengantar 11 tokoh menjadi presiden, perdana menteri atau kanselir, serta ratusan gubernur, senator dan anggota kongres di Amerika Serikat.

Sejak Greenberg mundur dari timses Jokowi, tidak ada lagi support dalam pembuatan skenario, penggalangan jaringan media dan selebriti internasional dalam rangka mendukung pencitraan Jokowi. Tidak ada lagi rangkaian kegiatan Jokowi secara sistematis, masif dan kontiniu untuk mempertahankan dan memperbesar simpati publik terhadap Jokowi.

Mundurnya James Riady dan Stanley Bernard Greenberg disebabkan oleh campur tangan Paus Fransiscus yang meminta Presiden Barack Obama untuk bersikap netral dan membuka akses elit Katolik Indonesia terhadap Jokowi.

Intervensi Bapa Suci ini membawa pengaruh sangat besar terhadap konstelasi politik di Indonesia terutama pada Jokowi. Kelompok kristen yang sejak awal menjadi pendukung utama, militan dan loyal terhadap Jokowi, mendadak mundur seiring dengan masuknya elit dan pendukung Katolik.

Penetrasi Katolik menjadi ring satu Jokowi, menyebabkan bantuan uang, jaringan dan media kristen menyusut drastis. Diperburuk dengan dihentikannya aliran dana pencitraan dan pemenangan untuk Jokowi dari sejumlah konglomerat terbesar di Indonesia, yang sebelumnya selalu mengalirkan uang tanpa batas untuk Jokowi, seperti Bank BCA dan Djarum Grup (keluarga Robert Budi Hartono), Salim dan Bank Mega Grup (keluarga Antoni Salim), Arta Graha Grup (Tommy Winata, Aguan Cs), ormas – ormas Tionghoa Indonesia, dan lain – lain.

Akibatnya, dana pencitraan dan kampanye pilpres seret, jaringan pendukung dan media terbatas (Metro Tv Grup, Kompas Grup, Tempo Grup, Jawa Pos Grup). Sebelumnya, sekitar 80% media nasional mendukung Jokowi.

Anjloknya elektabilitas Jokowi juga sangat dipengaruhi oleh konflik internal PDIP. Faksi Partai Kristen Indonesia (Parkindo), Kelompok alumni Partai Komunis China (PKC), Kelompok kader ‘kost – kostan’ (kader lompar pagar dan oportunis pragmatis) dan unsur komunis di PDIP bertarung hebat dengan Faksi Partai Nasional Indonesia (PNI), Partai Murba (Marhenis) dan Partai Katolik Indonesia. Ketua Umum PDIP Megawati SP serta kedua anaknya, Puan Maharani dan Prananda Prabowo berpihak ke faksi Nasionalis.

Megawati, keluarganya, trah Soekarno dan faksi Nasionalis Marhaenis terkesan tidak mendukung Jokowi secara penuh atau all out. Dukungan yang diberikan mereka kepada capres Jokowi hanya setengah hati, mengingat jika Jokowi menang dan jadi presiden, sama saja dengan ‘bunuh diri’ atau memberi kesempatan emas bagi faksi kristen dan katolik untuk merebut kursi ketua umum PDIP, sekaligus menghabisi dinasti Bung Karno di partai itu.

Bahkan belum usai pilpres dan Jokowi belum pasti dilantik sebagai presiden, tekanan dan desakan faksi Parkindo cs untuk kongres luar biasa / dipercepat (akhir tahun 2014) sudah ditujukan kepada Megawati, Puan dan Nanan (Prananda), yang dimotori oleh Maruarar Sirait cs (anak Sabam Sirait, tokoh senior Parkindo). Di belakang Maruarar ada James Riady cs dan sejumlah pengusaha pribumi, di antaranya kelompok Jenggala (Arifin Panigoro cs).

Pertikaian sengit antar faksi di internal PDIP menyebabkan dukungan terhadap pencapresan dan kampanye pilpres untuk Jokowi menjadi tidak solid dan minimal.

Faktor tersebut di atas sangat berdampak pada penurunan elektabilitas Jokowi.

Faktor lain adalah terkait dengan pribadi Jokowi sendiri, yakni semakin terbongkarnya karakter asli Jokowi : serakah, khianat, gemar berbohong, ingkar janji, korup, banyak muka, tidak loyal, munafik dan licik. Di disamping itu, terungkap bahwa Jokowi adalah sosok pemimpin yang lemah dan tidak kredibel.

Kian hari semakin banyak rakyat yang tahu tentang karakter asli dan integritas Jokowi. Dari catatan selama setahun terakhir seputar Jokowi, dapat disampaikan diantaranya sebagai berikut :

1.   Jokowi gagal membuktikan kinerja dan prestasi baik selama memimpin Jakarta. Pertumbuhan ekonomi anjlok menjadi 6.11% dari sebelumnya 6.77%. Warga miskin DKI Jakarta bertambah lebih 4% dari 330.000 jiwa 347.000 jiwa. Serapan APBD terendah se – Indonesia hanya 67% saja. Korupsi meningkat sangat tajam yakni 800% dari 3 kasus menjadi 24 kasus korupsi selama setahun terakhir Jokowi jadi Gubernur DKI Jakarta.

2.   Jokowi gagal memenuhi janji-janjinya selama kampanye pilkada DKI Jakarta. Sekitar 60an janji besar Jokowi gagal dipenuhinya. Warga Jakarta makin mendesak Jokowi untuk berhenti jadi capres agar dapat memenuhi janji – janji itu.

3.   Jokowi ternyata pemimpin yang korup. Baru 1 tahun lebih menjadi gubernur, Jokowi sudah terindikasi KKN pada sejumlah proyek APBD dan Non APBD : Proyek Kartu Jakarta Sehat dan Kartu Jakarta Pintar, Proyek Sumur Resapan, Proyek Bus Trans Jakarta dan Reguler, Proyek Monorel dan MRT, Proyek ERP dan lain – lain.

4.   Perilaku korup Jokowi itu, semakin menegaskan bahwa Jokowi juga korupsi sewaktu menjadi walikota Solo. Dia menutupi latar belakang, integritas dan kinerjanya selama jadi walikota Solo. Sedikitnya, terdapat beberapa temuan korupsi Jokowi di Solo, antara lain : pada pelepasan aset Pemkot Solo Hotel Maliyawan, proyek pengadaan videotron Manahan, proyek renovasi THR Sriwedari, proyek renovasi Pasar Klithikan, penyimpangan dana hibah KONI Solo, program BPMKS, pengadaan mobil dinas ESEMKA dan lain – lain.

Khusus untuk korupsi pengadaan Bus Trans Jakarta dan Bus Reguler yang diduga melibatkan Jokowi selaku Gubernur DKI Jakarta, penyidik kejaksaaan telah menetapkan tiga pejabat Dishub DKI Jakarta sebagai tersangka dan satu pejabat BPPT juga tersangka. Hanya karena Jokowi sedang menjadi capres, penyidik tidak dapat meneruskan proses hukum terhadap Jokowi karena dapat dianggap bermotif politis dan menggagalkan pilpres 2014 yang sedang berlangsung.

5.   Karakter dan moral Jokowi yang culas dan curang. Dia tidak sungkan memfitnah pihak – pihak yang mengungkap kebusukannya atau pelanggaran hukumnya. DPRD DKI Jakarta yang bermaksud melakukan interpelasi atas pelanggaran hukum Jokowi pada penerbitan Pergub mengenai jaminan kesehatan warga DKI yang melanggar Perda dan merugikan warga miskin, difitnah Jokowi dengan tuduhan DPRD dendam, benci, sentimen pada dirinya dan bermaksud menjatuhkannya.

Terakhir Jokowi tanpa malu dan sungkan menggunakan bocoran soal dan materi debat capres hasil pembocoran anggota KPU Hadar Nafis Gumay kepada Trimedya Panjaitan, sehari sebelum debat capres dimulai (8/6/14).

6.   Perilaku curang dan culas Jokowi juga terbukti ketika dia menolak mengakui tulisan Romo Benny berjudul “Revolusi Mental”, sebagai sumber tulisannya. Padahal terbukti menjiplak 100% tulisan sang Romo hingga titik komanya !

Jokowi seorang plagiator pelanggar hukum dan UU Hak Cipta & Kekayaan Intelektual !

7.   Karakter khinat Jokowi kini sudah jadi pengetahuan publik. Mulai dari pengkhianatannya terhadap Prabowo Subianto (pendukung dan sponsor utama Jokowi jadi gubernur Jakarta), pengkhianatan terhadap Megawati dengan berbagai cara (pembuatan dan pemutaran film Soekarno yang menjatuhkan martabat dan kehormatan Bung Karno, menggalang kader PDIP untuk melawan dan menjatuhkan Megawati, melecehkan Megawati dengan pernyataan – pernyataannya yang negatif/miring dan seterusnya).

Pembuatan film berjudul “Soekarno” yang ternyata tujuannya hanya untuk menistakan kehormatan Bung Karno, sengaja menfitnah proklamator Bung Karno sebagai playboy mata keranjang, telah direncanakan sejak lama oleh majikan – majikan Jokowi untuk senjata menyerang Megawati Soekarnoputri dalam rangka menjatuhkannya dari Ketum PDIP. Rencana keji busuk itu ketahuan publik.

Sebaliknya, untuk Jokowi jongos mereka, dibikinkan sebuah film Jokowi sebagai tokoh sempurna / ideal padahal faktanya berbeda 180 derajat.

Semua rekayasa aseng – asing – antek yang menjadi bos besar dari Joko Widodo untuk mencuci otak rakyat RI melalui kedua film murahan itu terungkap dan dikecam rakyat banyak.

8.   Rekayasa pemalsuan mengenai latar belakang dan jati diri Jokowi untuk mengelabui rakyat Indonesia makin terungkap. Kebohongan Jokowi mengenai nama orang tuanya, daerah kelahirannya dan asal usulnya mengundang curiga dan tanda tanya.

Publikasi Buku Nikah Joko Widodo – Irana yang pernah dipublikasikan media massa sehubungan dengan banyaknya pertanyaan rakyat tentang siapa Jokowi sebenarnya, juga sudah dinyatakan pihak berwenang sebagai Buku Nikah palsu !

Hasil investigasi, ternyata Jokowi lahir di Jenggrik, Wonorejo, Karanganyar. Ibunya bernama asli sudjiatmi berasal dari Kelurahan Giriroto, Boyolali, sekitar 12 kilometer dari Surakarta yang dikenal basis utama PKI di Jawa Tengah pada tahun 1960 – 1980an.

Apakah ada hubungan antara daerah asal ibu kandung Jokowi yang merupakan basis PKI Jateng, dengan pemalsuan latar belakang kehidupan Jokowi, termasuk tentang nama asli ayah kandung Jokowi, yang sebenarnya bernama Widjiatno diubah menjadi Noto Nitihardjo ?

Ayah Jokowi bernama Widjiatno dan Ibunya bernama Sudjiatmi berasal berasal dari desa Giroroto, Boyolali, sekitar 12 kilometer dari Solo dan Klaten, yang dikenal dengan nama daerah segitiga Solo – Boyolali – Klaten. Sejarahwan menyebut daerah itu sebagai pusat atau basis gerakan Partai Komunis Indonesia (PKI) di era 1960an. Apakah ini sebabnya Jokowi selalu rahasiakan asal usul kedua orang tuanya ?

Mengapa Joko Widodo selalu mengaburkan dan berbohong mengenai tempat kelahiran, alamat rumah tinggalnya yang pertama, berbohong tentang nama asli ayahnya, menutupi – nutupi masa lalu ayahnya dengan selalu mengatakan ayahnya ‘Noto Nitihardjo’ telah meninggal sejak Jokowi kecil? Rahasia besar apa yang tersembunyi dan disembunyikan Jokowi dan tim suksesnya sehubungan dengan jati diri, riwayat hidup dan fakta – fakta almarhum Noto Nitihardjo alias Widjiatno (nama sebenarnya)?

Untuk kepastian hukum dan jaminan terhadap keamanan nasional negara, cermin kejujuran dan mencegah penyusupan tokoh – tokoh komunis, kader dan simpatisan Partai Komunis Indonesia (PKI) ke posisi pemerintahaan tertinggi di Republik Indonesia yang Pancasilais agamis, serta untuk menjawab pertanyaan dan menghapus kecurigaan mayoritas rakyat Indonesia, pemerintah seharusnya segera melakukan penyidikan dan penelitian mengenai siapa sesungguhnya Joko Widodo bin Widjiatno alias Noto Nitihardjo ini.

Kesaksian dari tokoh – tokoh masyarakat Tirtoyo, Manahan, Banjarsari, Surakarta (Solo) harus segera diperoleh pihak berwajib : BIN, BAIS atau Polri. Misalnya, meminta keterangan dari Bapak Wijono warga RT 03/014 atau Bapak Margono ketua RW 014 Manahan, Solo yang tahu persis informasi tentang Joko Widodo, ayah dan ibunya serta sejarah kehidupan mereka.

Faktor – faktor di atas adalah sebagian dari penyebab anjloknya popularitas dan elektabilitas capres Jokowi. Perhitungan survey jajak pendapat terhadap kedua pasangan capres – cawapres terakhir, menunjukan dukungan rakyat terhadap Jokowi telah merosot tajam menjadi hanya sekitar 34%, dibandingkan dengan Prabowo – Hatta yang terus menanjak naik hingga mencapai 66% dan akan terus naik sejalan dengan semakin tersebarnya fakta – fakta seputar Jokowi.

Faktor cawapres Jusuf Kalla yang sempat dituding sebagai penyumbat elektabilitas Jokowi, tidak begitu besar. Meski demikian, cawapres JK dinilai sudah terlalu tua menjadi wapres mengingat usianya sudah 73 tahun dan pada tahun 2019 insya Allah berusia 78 tahun.

Kebusukan pasangan Capres – cawapres Jokowi dan rencana jahat para asing aseng antek di balik Jokowi – JK yang sudah terbongkar dan diketahui seluruh rakyat Indonesia menyebabkan popularitas Jokowi – JK anjlok drastis, terus menurun hingga akhirnya ke titik nadir./ http://yudisamara.com,

(nahimunkar.com)

(Dibaca 43.175 kali, 1 untuk hari ini)