Jokowi PDIP sudah mendeklarasikan kemenangan hasil pemilihan Presiden 2014, namun dinilai saat deklarasi itu berwajah pucat. Sementara itu Prabowo menghadapi kenyataan berita-berita yang menjurus pada optimisme menang.

Semua itu masih perlu ditunggu pengumuman resmi dari KPU 22 Juli. Namun klaim-klaim kemenangan pun telah dihembuskan dari dua belah pihak.

Silakan simak berita berikut ini.

***

Kemenangan Prabowo-Hatta di Jabar Bisa Tutupi Kekurangan di Daerah Lain

Kamis, 10 Juli 2014 , 23:56:00 WIB

Laporan: Arief Pratama

RMOL. Seluruh pentolan Tim Koalisi Merah Putih Kota Bandung beserta jaringan relawan se-Kota Bandung menggelar acara renungan malam di Monumen Perjuangan Jalan Dipati Ukur,  Kamis malam. Acara ini sebagai rasa syukur atas kemenangan Prabowo-Hatta di Jawa Barat.

“Klaim kemenangan ini bukan tanpa alasan atau bukti yang jelas. Karena tim pemenangan Prabowo-Hatta telah mengantongi bukti yang kuat untuk kemenangan ini,” jelas Ketua Gerindra Jabar, Ferry Juliantono, usai kegiatan kepada wartawan.

Dalam acara usai shalat tarawih hingga pukul 22.30 WIB tersebut, juga digelar doa bersama agar kemenangan di Jabar menjadi kemenangan secara nasional.

“Kemenangan di Jabar ini harus jadi kemenangan nasional. Kita sudah mengantongi C1 jadi kita bukan mengklaim kemenangan tanpa bukti,” ungkap dia.

Ferry memaparkan, suara Prabowo-Hatta sudah mencapai 15 juta lebih suara di Jawa Barat sedangkan Jokowi-JK hanya 9 juta suara. Menurutnya perolehan suara sementara tersebut sudah bisa menutup kekurangan suara Prabowo-Hatta di provinsi-provinsi lainnya yang kurang.

Mereka merayakan kemenangan tersebut dengan cara santun, bukan bermaksud memprovokasi atau memancing perseturuan. “Harus digarisbawahi bahwa kita disini sedang merayakan kemenangan dengan cara yang santun, bukan mau memprovokasi,” demikian Ferry. [zul]

***

Prabowo raih 70,2 persen suara di Mesir

http://www.antaranews.com/pemilu/berita/443392/prabowo-raih-702-persen-suara-di-mesir

Pasangan capres-cawapres Prabowo Subianto- Hatta Rajasa meraih 70,2 persen suara pada pemilihan presiden yang diselenggarakan Panitia Pemilihan Luar Negeri (PPLN) Mesir. Sementara pasangan Joko Widodo-Jusuf Kalla mendapat 27,6 persen dan 2,3 persen suara dinyatakan tidak sah, demikian penghitungan suara PPLN Mesir di KBRI Kairo, Rabu (9/7) malam waktu setempat. Prabowo-Hatta mendapat 1.809 suara dari total 2.577 suara sah, dan Jokowi-JK memperoleh 710 suara, dan 58 suara tidak sah. PPLN Mesir yang memusatkan pencoblosan di KBRI Kairo pada Sabtu pekan lalu menyediakan sembilan tempat pemungutan suara luar negeri (TPSLN). Penyelenggaraan pencoblosan dan penghitungan suara di PPLN Mesir itu berlangsung aman dan tertib dalam suasana kekeluargaan. Duta Besar RI untuk Mesir Nurfaizi Suwandi menyatakan kebanggannya dan menyambut baik atas pelaksanaan pemilihan presiden yang lancar.

Prabowo menang mutlak di Yordania

http://www.antaranews.com/pemilu/berita/443377/prabowo-menang-mutlak-di-yordania

Pasangan calon presiden dan calon wakil presiden Prabowo Subianto dan Hatta Rajasa (Prabowo-Hatta) memperoleh kemenangan mutlak di Yordania, negara tempat Probowo pernah menenangkan diri di masa transisi reformasi di Indonesia. Dalam penghitungan suara pilpres yang berakhir Rabu (9/7) malam, Prabowo-Hatta meraih 71,8 persen dari total 214 suara sah, dan pasangan Jokowi-JK mendapat 84 suara atau 28,2 persen, kata Panitia Pemilihan Luar Negeri (PPLN) Yordania, Rabu malam. Ketua Tim Sukses Prabowo-Hatta, Fajar Siddik Irsyad yang dikonfirmasi membenarkan rekapitulasi tersebut, dan menyebutkan bahwa suara tidak sah sebanyak delapan suara. Disebutkan, total pengguna hak suara sebanyak 306 pemilih, yaitu 95 laki-laki dan 211 perempuan dari dari daftar pemilih tetap (DPT) 964 orang.

***

Besok, Prabowo-Hatta Diyakini Menang Telak

Selasa, 08 Juli 2014 , 22:53:00 WIB

Laporan: Firardy Rozy

RMOL. Pasangan capres dan cawapres Prabowo Subianto-Hatta Rajasa diprediksi akan memenangi Pilpres yang akan berlangsung esok. Keyakinan ini disampaikan pengamat politik Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Pangi Syarwi Chaniago. Menurutnya, Prabowo- Hatta akan menang telak atas Jokowi –JK.

“Saya kira Prabowo-Hatta akan meraih suara lebih tinggi dibanding Jokowi-JK. Selisih antar keduanya akan lumayan tinggi,” kata Pangi.

Menurut Pangi, Jokowi– K akan tergelincir bukan hanya karena tampilan tidak maksimal mereka dalam debat tetapi juga karena mesin partai koalisi Merah Putih yang berjalan dengan sangat baik baik di tingkat nasional maupun daerah.
Menurutnya kerapihan mesin partai Koalisi Merah Putih terjadi baik di lapangan sampai bidang media massa.

“Meski banyak partai, tapi mereka sinergi,” katanya.

Menurut Pangi, hal yang sama tidak terjadi di kubu Jokowi-JK. Mesin PDIP dan mitra koalisi tidak jalan dengan baik, malah di masa-masa awal kampanye kekuatan mereka sudah terpolarisasi. “PDIP sendiri tak banyak membantu,” imbuh Pangi, yang menyebut elektabilitas Jokowi-JK tertolong oleh kerja-kerja para relawan.

Hal kedua menurut Pangi, tim Jokowi-JK terlalu banyak melakukan pencitraan. Padahal pencitraan sangat rentan karena ada titik jenuh. “Dia sudah berada di titik klimaks, rakyat sudah bosan dengan pencitraan. Bohongnya banyak yang ketahuan,” kata dia.

Pangi memberi gambaran bahwa banyak hal yang dilakukan oleh kubu Jokowi yang bersifat negatif. Misalnya, soal koperasi, counter timses soal hubungan anak Jokowi dan Luhut Panjaitan dan masalah umroh.

“Ini semua menurutnya membuat rakyat tidak empati. Pencitraan yang dibangun oleh timses tidak membuat Jokowi semakin moncer, justru tergelincir,” katanya.

Pangi berpendapat apa yang dilakukan selama masa kampanye termasuk debat memperlihatkan Jokowi bukan negarawan.
“Ketika TV One diserbu oleh pendukungnya, Jokowi malah memaklumi tindakan pendukungnya. Hal ini tidak pantas diucapkan oleh seorang calon negarawan. Negarawan harusnya netral dan menenangkan,” sebut dia.

Hal sebaliknya dilakukan oleh Prabowo Hatta. Pencitraan yang dilakukan oleh timses Prabowo–Hatta tidak berlebihan. Prabowo misalnya cukup jujur terhadap rakyat. “Dia tidak mengatakan A untuk B dan sebaliknya. Dia juga tak mencitrakan diri berlebihan, tidak suka menjelekkan atau menjatuhkan orang lain.”

Menurut Pangi, banyak ucapan Prabowo yang selevel ucapan negarawan.

“Pasti banyak orang setuju dengan saya bahwa sikap dan ucapannya memang mengisyaratkan dia seorang negarawan, dan rakyat pantas memilihnya,” demikian Pangi.[dem]

***

Tim Sukses: Prabowo-Hatta Unggul Sementara dengan Selisih 3,34 Persen

Tim Sukses: Prabowo-Hatta Unggul Sementara dengan Selisih 3,34 Persen

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Seno Tri Sulistiyono

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Tim Pemenangan capres Prabowo Subianto dan cawapres Hatta Rajasa mengumumkan hasil real count  saat pelaksanaan Pemilihan Umum (Pemilu) presiden dan wakil presiden pada 9 Juli 2014.

Adapun hasilnya Prabowo-Hatta mengungguli Jokowi-Jusuf Kalla dengan selisih 3,34 persen.

Wakil Ketua Bidang Saksi dan Hukum Tim Pemenangan Prabowo-Hatta, Taufik Ridho mengatakan, hasil real count yang dilakukan tim Prabowo-Hatta pada 33 provinsi hingga pukul 18.20 WIB, Kamis (10/7/2014) dengan jumlah suara yang masuk sebanyak 82.975.065 menghasilkan pasangan Prabowo-Hatta memperoleh suara sebayak 42.874.556 atau 51,67 persen.

“Sedangkan pasangan nomor urut dua yakni Jokowi-Jusuf Kalla sebanyak 40.100.509 suara atau 48,33 persen,” ucap Taufik di rumah Polonia, Cipinang Cempedak, Jakarta Timur, Kamis (9/7/2014).

Menurut Taufik, suara tersebut masih akan bergerak secara terus menerus setiap 10 menit sekali dan saat ini baru terkumpul 60 persen suara yang masuk. Sedangkan sisanya akan masuk 40 persen lagi dari beberapa propinsi.

“Biasanya 60 persen itu sudah mewakili trend, kecuali ada daerah-daerag yang signifikan. Kami tidak mengklaim ini secara mutlak, ini sebagai rujukan dan acuan kita. Kalau trendnya mengarah ke sana (kemenangan Prabowo-Hatta),” ucapnya.

TRIBUNnews.com – Kam, 10 Jul 2014

***

Gerindra: Deklarasi menang pilpres tapi muka Jokowi-JK kok pucat

Merdeka.com – Partai Gerindra masih optimis pasangan Prabowo Subianto dan Hatta Rajasa menang di pilpres. Meskipun mayoritas hitung cepat lembaga survei, JokowiJK dinyatakan menang.

Ketua DPP Partai Gerindra , Desmond Junaidi Mahesa mencium ada gelagat penggiringan opini lewat hasil hitung cepat. Apalagi, deklarasi kemenangan JokowiJK dilakukan dinilai terlalu cepat, sebelum Pukul 14.00 WIB.

“Lihat muka JokowiJK pada saat mendeklarasikan itu, terlihat bukan seorang pemenang, terlihat masih pucat dan lain-lain. Ini ada perencanaan yang memang agar KPU dan masyarakat digiring agar membenarkan kemauan mereka. Ini penggiringan opini dan menurut saya sesuatu yang tidak sehat,” ujar Desmond di Gedung DPR , Jakarta, Kamis (10/7).

Menurut dia, hal ini memang sudah direncanakan Kubu JokowiJK agar terjadinya konflik saat PrabowoHatta dinyatakan sebagai pemenang oleh KPU . Hal ini terlihat dari para pendukung JokowiJK yang langsung turun ke jalan.

“Kecenderungan ini memang direncanakan, perilaku ini juga memancing untuk terjadinya konflik horizontal. Ditambah lagi Jokowi kan langsung ke tugu proklamasi ke HI, tapi bikin pesta di tengah masyarakat luas, ini kan sengaja memancing emosional dan mengajak konflik horizontal,” tutur dia.

Anggota Komisi III DPR ini menambahkan, di beberapa daerah pencoblosan belum semuanya masuk, tapi sudah diklaim kemenangan JokowiJK . Menurut dia, ini upaya menggiring untuk membentuk opini, ini gejala kecurangan sistemik.

“Pendukung Prabowo tidak akan terpancing, kita lebih pada memantau apa adanya. Karena koalisi merah putih diperintahkan Pak Prabowo , Kita hormati kalau memang Jokowi menang kita akan hormati,” pungkasnya./ Reporter : Randy Ferdi Firdaus | Kamis, 10 Juli 2014 11:01

***

 

 

Quick Count Jokowi Menang Pilpres Bagian Manipulasi Terencana

Kamis, 10 Juli 2014 , 20:03:00 WIB

Laporan: Ade Mulyana

RMOL. Jokowi diklaim menang Pilpres 2014. Ada beberapa indikasi yang menguatkan klaim yang didasarkan pada hasil quick count atau hitung cepat beberapa lembaga survei ini menjadi bagian dari upaya manipulasi terencana untuk memenangkan Jokowi.

Peneliti opini publik, Agung Prihatna, mengungkap beberapa keanehan yang menguatkan dugaan tersebut. Keanehan bisa dilihat dari perkembangan beberapa hari sebelum dan beberapa jam setelah Pilpres digelar.

Menurut mantan Peneliti LP3ES dan perintis quick count pada Pemilu 1997 itu, di masa tenang tiga lembaga survei mengumumkan Jokow-JK unggul 3 persen dari Prabowo-Hatta. Mereka menyatakan bahwa ada ‘Lampu Kuning’ bagi Jokowi jika keadaan tidak berubah karena trend Jokowi terus menurun sementara trend Prabowo terus naik. Saat kesimpulan ini disampaikan selisih Jokowi dengan Prabowo semakin dekat, tinggal 3%. Ketiga lembaga survei ini adalah Indobarometer, Lingkaran Survei Indonesia, dan Charta Politica.

“Tapi anehnya, tiga hari setelah pernyataan tersebut lembaga survei-survei itu mengeluarkan pernyataan bahwa terjadi rebound. Ini artinya dalam waktu 3 hari pengakuan mereka terjadi perubahan trend. Padahal dalam logika survei, trend itu tidak mungkin berbalik hanya dalam waktu 2-3 hari,” ujarnya kepada redaksi sesaat lalu (Kamis, 10/7).

Skenario lanjutan terjadi di hari pemilihan. Menurut Agung, kelompok lembaga survei yang pimpinannya secara terbuka berafiliasi ke pasangan Jokowi-JK mengeluarkan hasil exit poll yang menyatakan Jokowi-JK unggul 3 persen dari Prabowo-Hatta. Lembaga survei tersebut antara lain CSIS-Cyrus, LSI, SMRC, Litbang Kompas, dan RRI.

Menurut Agung, hasil exit poll memenangkan Jokowi-JK yang tak jauh beda angkanya sangat mungkin dilakukan. Hal itu terjadi karena penyelenggara survei sepakat menggunakan sample yang sama dalam quick count untuk menghasilkan hasil quick count yang sama. Selain itu, proses pengumpulan data dari hasil pengiriman SMS di TPS saat berada di database dimungkinkan untuk terjadi intervensi oleh petugas quick count yang bisa menghasilkan angka yang menguntungkan.

Dugaan manipulasi diperkuat terkait manuver sebelumnya. Pihak Jokowi sepekan sebelum Pilpres digelar menyatakan bahwa kemenangan mereka akan sulit jika pihak lawan melakukan kecurangan. Pernyataan ini antara lain disampaikan oleh JK. “Ini merupakan prakondisi yang dilakukan kubu Jokowi-JK bahwa di atas kertas mereka bisa kalah,” katanya.

Lebih lanjut dia mengatakan di Pilpres 2014 pertama kalinya ada pihak yang secara sepihak mengklaim kemenangan berdasarkan hasil quick count yang baru mencapai 70 persen. Yang bikin aneh pula, sekitar jam 15.00 WIB atau 2 jam setelah TPS ditutup, lembaga-lembaga survei itu mengklaim data quick count sudah masuk sebesar 70 persen.

Menurut dia cara kerja seperti ini sangat di luar logika. Sebab sample di daerah pelosok seperti Papua, Medan, Sumatera dan pulau lainnya butuh waktu 1-3 jam untuk bisa dilaporkan melalui sms di area on spot atau daerah yang terdapat sinyal mengingat tidak semua daerah yang ditentukan sebagai zona sampling terdapat sinyal operator telepon selular. Masalah lainnya, jika benar dikatakan data masuk 70 persen selang 2 jam setelah TPS ditutup, bukan kah kemungkinannya adalah sample ditarik semua ke daerah perkotaan sehingga sebenarnya nihil sampling dari desa atau wilayah pelosok.

“Sebelumnya dalam berbagai momen Pilkada biasanya yang terjadi adalah pengakuan dari pihak lain terhadap keunggulan pasangan lainnya. Tidak pernah salah satu pihak melakukan klaim kemenangan berdasarkan hasil quick count,” demikian Agung.[dem]   /rmol

(nahimunkar.com)

(Dibaca 8.548 kali, 2 untuk hari ini)