JAKARTA (voa-islam.com) – Presiden terpilih Joko Widodo meresmikan Kantor Transisi di Jalan Situbondo nomor 10, Menteng, Jakarta Pusat sekitar pukul 13.05 WIB.

Jokowi menjelaskan fungsi dan tugas dari Kantor Transisi tersebut adalah mempersiapkan penjabaran visi-misi, sembilan program aksi dan seluruh janji kampanyenya.

“Jadi kantor ini kita mulai karena kita harus mempersiapkan semuanya meski saya sampaikan di depan kita sangat menghormati proses di MK, tugas kantor ini mempersiapkan hal strategis berkaitan APBN 2015 dan berhubungan dengan pemerintahan sekarang,” kata Jokowi yang saat itu didampingi oleh Anies Baswedan dan Kepala Staf serta Deputi Kantor Transisi.

Jokowi melanjutkan, tugas tim di Kantor Transisi adalah mempersiapkan konsep kelembagaan pemerintahan di bawah presiden baik kantor kepresidenannya maupun arsitektur kabinetnya.

“Tim juga akan menjabarkan visi misi presiden dan wakil presiden terpilih dalam rencana dan program kebijakan. Selain itu, tim juga mempersiapkan upaya mempercepat pelaksanaan Kartu Indonesia Sehat dan Kartu Indonesia Pintar,” katanya.

Sementara itu, pembahasan terkait rekrutmen dan seleksi menteri anggota kabinet sepenuhnya menjadi tanggung jawab Presiden sesuai dengan sistem Presidensial.

“Yang berada di kantor ini tidak otomatis masuk ke kabinet misalnya Deputi Pertanian langsung jadi Menteri, tidak begitu. Tapi iya mereka akan bahas soal itu,” katanya.

Kantor Transisi dipimpin oleh Kepala Staf, Rini M Soemarmo yang dibantu empat deputi yakni Andi Widjajanto, Hasto Kristiyanto, Anies Baswedan dan Akbar Faizal.

“Tanggung jawab staf dan deputi meliputi komunikasi politik, mengelola kelompok-kelompok kerja dan lain-lain,” katanya pada antaranews.

Kantor Transisi juga dilengkapi oleh beberapa penasihat senior dan satuan tugas khusus.

Andi Wijayanto, Anak Theo Syafei. ABRI Merah yang Islamophobia

Dosen tetap pada FISIP di Universitas Indonesia itu memiliki hubungan sangat dekat dengan PDIP, sedekat hubungan ayahnya (Theo Syafei) dengan Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri. Andi, demikian biasa dipanggil, juga memiliki pengaruh kuat di lingkungan internal partai pengusung pasangan capres Joko Widodo – Jusuf Kalla.

Bahkan Marcus Mietzner, peneliti tentang Indonesia dari Australian National University (ANU) menyebut Andi Widjajanto sebagai salah satu figur dan pemikir penting ( di hadapan Megawati) pada pemenangan Jokowi – JK. Banyak konsep kampanye hingga debat capres Jokowi yang merupakan pemikiran orisinil Andi Widjajanto. Kapasitas Andi jauh berlipat-lipat melebihi kapasitas capres yang didukungnya.

Andi Widjajanto memiliki latar-belakakng pendidikan yang luas, mulai dari FISIP jurusan HI di Universitas Indonesia lulus 1996, kemudian juga mendapat gelar sarjana dari School of Oriental dan African Studies Universy of London. Mendapatkan Master of Sciences dari London School of Economics, sekaligus juga dapat master of sciences dari Industrial College of Armed Forces, Washington DC – USA pada 2003.Andi bahkan dikabarkan bakal didapuk sebagai Menteri Pertahanan, bila Jokowi jadi presiden ke-7 Indonesia.  Visi misi capres dan cawapres Joko Widodo dan Jusuf Kalla dibuat oleh tim yang dikenal dengan sebutan tim 11.

Tim sebelah berada di tiga Kubu di PDIP yang Berebut Pengaruh Mengendalikan Jokowi yang saling adu kuat berebut pengaruh mengendalikan Joko Widodo alias Jokowi, yang oleh Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri, telah diberi mandat menjadi capres partai tersebut.

Tiga kubu ini bergerak sendiri-sendiri bahkan sering kurang berkoordinasi yang menyebabkan kampanye Gubernur DKI Jakarta itu dianggap kerap tidak efektif. Hal ini dikemukakan oleh Marcus Mietzner, peneliti tentang Indonesia dari Australian National University (ANU), lewat sebuah tulisannya yang dilansir oleh Inside Indonesia edisi terbaru.

Ketiga kubu tersebut, menurut Marcus dalam tulisannya yang berjudul Jokowi: Rise of a polite populist, masing-masing adalah:

Pertama, kubu yang dipimpin oleh putri Megawati dari perkimpoiannya dengan Taufik Kiemas, Puan Maharani. Puan Maharani adalah ketua Badan Pemenangan Pemilu (Bapilu) PDIP.

Kubu kedua adalah kubu yang diimpin oleh dosen Universitas Indonesia, Andi Widjajanto yang merupakan putra dari mendiang Theo Sjafei, petinggi PDIP dan penasihat utama Megawati di era 1990-an.

Ketiga, tim sukses Jokowi sendiri, yaitu jejaring pembantu-pembantunya yang sudah mendukungnya sejak ia mencalonkan diri sebagai walikota Solo tempo hari. Menurut Marcus, selama kampanye PDIP menjelang Pileg kemarin, ketiga kubu ini saling adu pengaruh dan adu kuat untuk menentukan strategi, lokasi bahkan jadwal kampanye Jokowi. Marcus menambahkan, ketiga tim ini sering tidak melakukan koordinasi satu sama lain.

Mereka juga kerap berbeda pandangan sangat tajam. Salah satu yang menjadi masalah paling memecah-belah ketiga kubu ini pada kampanye Pileg lalu ialah sejauh mana Jokowi harus digunakan sebagai fokus iklan televisi partai . Sebelum pengumuman Jokowi sebagai calon presiden , Puan telah mengembangkan serangkaian iklan di bawah slogan ‘ Indonesia Hebat.’ Menurut Marcus, awalnya iklan itu dikonseptualisasikan sebagai kampanye untuk menyoroti banyak gubernur, walikota dan bupati kader PDIP yang sukses. Namun, ternyata dalam perjalanannya iklan itu sudah dimodifikasi dengan Puan yang semakin ditonjolkan.

Setelah deklarasi Jokowi, masih menurut Marcus, Puan menolak untuk mengubah strategi iklan partai. Puan masih mengharapkan dapat terangkat popularitasnya lewat iklan partai. Padahal di sisi lain, Jokowi sudah banyak mendapat saran sejak awal agar kampanye lebih banyak menampilkan dia dan prestasinya untuk mencapai efek yang diharapkan. Baru pada pekan ketiga kampanye ada perubahan.

Itu pun, menurut Marcus, kubu Jokowi harus mengumpulkan dana dari sumbangan berbagai pihak agar dapat membayar dan menayangkan iklan baru.

Selain kubu ini, menurut Marcus, Megawati juga mempunyai penasihat independen yang kerap disebut Tim 11. Tim ini diketuai akademisi dari Universitas Gadjah Mada, Cornelis Lay. Cornelis Lay yang merupakan sahabat dekat Megawati sejak lama dan dikenal sebagai cendekiawan yang kredibel, membentuk tim yang diisi oleh sejumlah aktivis dan pakar di bidang masing-masing. Tim ini memberi saran kepada Megawati, terutama terkait dengan pro-kontra di dalam partai terkait pencalonan Jokowi. Menurut Marcus, hasil kerja tim 11 inilah yang didengar oleh Megawati, ketika akhirnya ia memberi mandat kepada Jokowi untuk menjadi capres.

Ketika membentuk tim kampanye nasional yang diketuai oleh Tjahjo Kumolo Andi dipasang sebagai sekertaris tim. Andi Widjajanto dikenal sebagai pengamat militer dan pertahanan dari Universitas Indonesia (UI) itu.

Ia membuat draft atau visi misi untuk Jokowi di bidang pertahanan. Andi adalah anak dari Theo Syafei, salah seorang penasihat dari Megawati Soekarnoputri yang sering kali mengikuti kemana langkah Jokowi pergi, terutama sejak Gubernur DKI Jakarta itu mendeklarasikan dirinya sebagai bakal calon presiden dari PDI Perjuangan, di rumah Pitung, beberapa waktu lalu.

Dosen pasca sarjana UI ini juga mengikuti Jokowi dalam melakukan rangkaian aktifitas politik di sejumlah daerah. Andi bahkan dikabarkan bakal didapuk sebagai Menteri Pertahanan, bila Jokowi jadi presiden ke-7 Indonesia.

Pemikiran Andi patut diwaspadai, ia lebih silent dibandingkan ayahnya yang semasa hidupnya  Theo Syafei menghebohkan tanah air dengan ceramah yang mendiskreditkan Islam dan Al-Qur’an. Menjelang ajal, dia diserang kanker otak langka selama setahun.

Tokoh Kristen, mantan anggota DPR RI, Politisi senior Partai Demokrasi Indonesia (PDI) Perjuangan dan mantan Pangdam IX/Udayana Mayjen (purn) Theo Syafei meninggal dunia, Jumat dini hari (29/04/2011) pukul 00.40 WIB akibat penyakit kanker otak yang sangat langka.

Menurut Andi Wijayanto, anaknya, mendiang Theo menderita kanker otak langka sejak Juli 2010.

“Di dunia medis dikenal sebagai GBM. Kami konsultasi ke dokter Singapura dan Amerika. Secara medis, (penyakit Theo) sulit ditolong,” kata Andi di rumah duka, Jum’at (29/4/2011). Keluarga, kata dia, memutuskan merawat Theo dengan pengobatan alternatif sejak Oktober 2010, kondisi kesehatan menurun sejak Kamis 28 April lalu dan keluarga pun langsung berkumpul sejak pukul 17.00 WIB. Theo meninggalkan seorang istri Suismiati dan empat orang anak, yakni Andi Widjajanto, Wisnu Gautama, Shinta Devanagari dan Rizal Rinaldi.

Kepergian ayahnya, Theo Syafei untuk selamanya meninggalkan duka teramat dalam bagi Andi Widjajanto, salah satu putra yang ditinggalkan. Pengamat masalah-masalah pertahanan yang juga dosen Universitas Indonesia itu pun mengenal sosok Theo lebih dari sekedar ayah baginya. “Tapi beliau juga seorang guru bagi saya. Beragama pengetahuan dan diskusi yang beliau ajarkan kepada saya,” ujar Andi ketika dihubungi inilah..com, Jumat (29/4/2011).

sosok Theo lebih dari sekedar ayah baginya. “Tapi beliau juga seorang guru bagi saya. Beragama pengetahuan dan diskusi yang beliau ajarkan kepada saya,” ujar Andi ketika dihubungi inilah..com, Jumat (29/4/2011).

Theo yang dikenal sebagai bekas petinggi TNI itu, mulai menapaki karirnya dimulai sejak menjadi perwira lulusan Akademi Militer Nasional Angkatan 1965 di Komando Pasukan Khusus, yang waktu itu bernama Resimen Para Komando Angkatan Darat, pada tahun 1967. Prestasi militer pria kelahiran Makassar, Sulawesi Selatan, 30 Juni 1942 itu mencapai puncak ketika dia menjabat Panglima Kodam IX Udayana pada tahun 1993-1994 dan Komandan Sekolah Staf dan Komando ABRI 1994-1995.

Sedangkan karir politiknya diawali dengan menjadi anggota Fraksi ABRI DPR/MPR RI pada 1995-1997, anggota Komisi I DPR/MPR RI pada1995-1996 dan anggota Komisi IX DPR/MPR RI pada 1996-1997.

Theo Syafei adalah jenderal TNI yang memelopori para perwira TNI memilih jalur politik di PDI Perjuangan. Keputusan Theo masuk dan gabung PDI di awal menyebabkan gerbong mantan TNI dan Polri berduyun-duyun hijrah ke PDI Perjuangan. Di antaranya, Mayjen RK Sembiring Meliala, dan Mayjen Pol Sidarto Danusubroto.

Semasa hidupnya, Theo menjadi Ketua Tim Sukses capres pasangan Megawati Soekarnoputri-Prabowo Subianto (Megapro).

Jejak Islamophobia Theo Syafei, Nama Islam Tapi Kafir Dan Anti Islam

Tahun 1998 silam, nama Theo Syafei menjadi buah mulut seantero tanah air, dalam kasus ceramah bernuansa SARA. Ceramahnya di hadapan aktivis gereja di Anyer, Jawa Barat, dan Kupang, Nusa Tenggara Timur dinilai menjelek-jelekkan Islam, Qur’an, dan Presiden (waktu itu) Habibie.
Isi ceramahnya amat pedas. Theo menuduh ICMI dan Muhammadiyah akan membentuk negara Islam. Lalu partai-partai Islam seperti Partai Bulan Bintang, Partai Keadilan, PAN, dll, dituding Theo sebagai bentukan tokoh Golkar, Akbar Tanjung. Harian milik umat Islam, Republika, disebut Theo sebagai “Republik Agama.”

Theo meledek Habibie dan membandingkan Alkitab dengan Al-Qur’an. Theo menghina kitab suci umat Islam sebagai kitab yang tipis, tidak seperti Alkitab (Bibel) milik umat Kristen.

“Al-Qur’an itu adalah buku yang begitu tipis, hanya 30 juz isinya. Hadits itu adalah perbuatan-perbuatan Nabi dan sahabat-sahabat Nabi ketika mereka masih hidup, yang kemudian diingat-ingat, bahwa perbuatan itulah yang harus dicontoh apabila kita tidak menemukan jawabannya di Qur’an. Tidak seperti Alkitab kita, semua kita bisa cari jawabannya di Alkitab, di Qur’an tidak,” ujar Theo bersemangat, sebagaimana ditranskrip oleh Harian Abadi.

Kaset rekaman Theo itu menghebohkan karena beredar luas menjelang Tragedi Kupang 30 November 1998. Theo pun dituding sebagai provokator kerusuhan itu, karena Kaset itu disebut-sebut menjadi pemicu kepada sekelompok umat Kristen di Kupang, sehingga merusak dan membakar madrasah, masjid, dan asrama haji. Ribuan warga muslim yang selama ini hidup damai harus mengungsi.

Tuduhan ini tidak omong kosong. Pasalnya, Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Nusa Tenggara Timur menemukan kaset rekaman itu telah beredar luas di Kupang sebelum terjadi kerusuhan.
Tabloid Abadi, edisi 24-30 Desember 1998 pun menurunkan kasus kaset Theo tersebut sebagai “Laporan Utama”, lengkap dengan transkrip utuh ceramah itu. Abadi juga menyebut adanya keterkaitan antara peredaran kaset ceramah dan kerusuhan di Kupang. Reaksi makin meluas, sejumlah pimpinan ormas Islam bereaksi keras.

Buntut dari ceramah provokatif itu, Theo Syafei menuai reaksi keras dari berbagai ormas Islam: KISDI, ICMI, HMI (Himpunan Mahasiswa Islam), KAHMI (Keluarga Alumni HMI), PPMI (Persaudaraan Pekerja Muslim Indonesia), DDII (Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia), serta BKSPPI (Badan Kerja Sama Pondok Pesantren Indonesia).

Diwakili oleh Asosiasi Pembela Islam (API), umat Islam mengadukan Theo Syafei ke Kepolisian Daerah (Polda) Metro Jaya, (5/1/1999), dengan tuduhan menghina dan mencemarkan nama baik umat Islam Indonesia.

“Pernyataan macam itu tidak cuma memperlihatkan sifat phobia terhadap Islam, melainkan juga menimbulkan ketakutan di kalangan umat Kristen. Ini bisa mengadu domba kelompok beragama,” kata Hamdan Zoelva, Koordinator API, usai bertemu Kapolda Metro Jaya Mayor Jenderal Noegroho Djajoesman.

Ketua Harian KISDI ketika itu, Almarhum Ahmad Soemargono, yang mewakili ormas-ormas Islam itu menandaskan bahwa pidato Theo jelas-jelas melecehkan umat Islam. “Banyak hal yang menyangkut penyebaran permusuhan antarumat beragama. Pidato tersebut sangat provokatif dan bisa memecah-belah umat beragama. Dan itu melanggar Pasal 156 KUHP,” ujarnya.

Menanggapi berbagai tudingan itu, Theo Syafei berkilah bahwa dirinya tak bermaksud melecehkan Islam.

“Bagian dari nama saya, Syafei, berasal dari ayah saya yang bernama Muhammad Syafei yang beragama Islam. Melecehkan Islam sama saja melecehkan keluarga sendiri,” katanya.

Dengan apologi itu, Theo yang bernama lengkap Syafei Daeng Kulle hendak menjadikan status “putra daerah asal Makassar” sebagai tameng. Theo Syafei memang lahir dari pasangan Muhammad Syafei Daeng Mambani dan Khatarina Yonas asal Banda, Maluku. Theo Syafei yatim saat berusia 11 tahun, sehingga ia diasuh oleh keluarga besar bapaknya yang muslim. Bibinya, Syoqora Daeng Suji, bahkan menjadi “ibu keduanya.”

Jika tak bermaksud melecehkan Islam, lalu apa maksud ceramahnya yang mendiskreditkan Al-Qur’an sembari memuji Alkitab (Bibel)?

Umat kembali terbuka sakit hatinya mendengar nama Theo Syafei menjelma dalam sosok Andi. Pasalnya, pemikiran Islamophobia pemerintahan Jokowi akan berkembang dan semakin buas, belum menjabat saja umat Islam diserang habis-habisan. Tak heran strateginya menular dari ayah ke anaknya. [taz/adivammar/voa-islam.com]Senin, 8 Syawwal 1435 H / 4 Agutus 2014 19:30 wib

***

Ribuan anggur ‘orang tua’ & ‘topi miring’ dimusnahkan di Jakbar

Merdeka.com – Ribuan botol minuman keras berbagai merek dimusnahkan di halaman kantor Wali Kota Jakarta Barat. Pemusnahan miras dengan kadar alkohol di atas lima persen tersebut merupakan hasil operasi Satpol PP Jakarta Barat selama empat bulan.

“Sebanyak 2.251 botol minuman keras ini merupakan penertiban hasil operasi selama bulan April hingga Juli 2013,” kata Kasatpol PP Jakarta Barat Kadiman Sitinjak usai menyaksikan pemusnahan miras, Selasa (24/7).

Kadiman menambahkan, ribuan miras dari 12 merek berbeda ini didapatkan dari pedagang-pedagang yang menjual miras tanpa izin. Merek yang mendominasi miras tersebut adalah Anggur Cap Orang Tua dan Topi Miring atau biasa disebut Tomi./ Reporter : Al Amin | Rabu, 24 Juli 2013 10:25

(nahimunkar.com)

(Dibaca 19.994 kali, 1 untuk hari ini)