Foto/ edukasi.kompasiana.com

.

 

Jokowi melakukan upacara Mandi Kembang Mobil Esemka: Menyambut Prestasi dengan Kemusyrikan. Pemerintah Kota (Pemkot) Solo menggelar Wilujengan (selamatan) dan Jamasan (ritual memandikan) Mobil Esemka, malam Jum’at (23/02/2012). Selain sesajen, rangkaian bunga pandan, melati, kantil juga menjadi hiasan aksesori mobil untuk penolak bala. (lihat artikel Tumbal dan Sesajen, Tradisi Syirik Warisan Jahiliyah  di nahimunkar.com)

Seseorang dapat dinilai dari sepak terjang dalam hidupnya, ucapannya, bahkan ucapan yang mlipir-mlipir (tidak terang-terangan) pun dapat disimpulkan pula oleh orang lain. Sehingga apa yang disebut lahn qaul (kiasan-kiasan perkataan) pun menjadi tanda-tanda bagi pelakunya, ke arah mana dia berjalan, dan ke mana pula pembelaannya.

Dalam hidup ini hanya ada dua pilihan: pilih Tauhid/ Iman atau pilih kemusyrikan/ kekafiran. Bila seseorang sudah memilih Islam, maka wajib menolak syirik secara mutlak. Tidak boleh Islam dicampuri syirik sedikitpun. Karena syirik (menyekutukan Allah dengan lain-Nya) itu dosa paling besar. Pelakunya tidak diampuni bila sampai mati belum bertaubat. Resikonya, orang musyrik (pemeluk kemusyrikan) adalah haram masuk surga, kekal di neraka.

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا أُولَئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ(6)

Sesungguhnya orang-orang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk. (QS Al-bayyinah/ 98: 6).

إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ

Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun. (QS Al-Maaidah: 72).

Oleh karena itu, dalam Islam, keyakinan (keimanan, biasa disebut aqidah) itu harus bersih sama sekali dari kemusyrikan. Tidak boleh tercemar sama sekali dengan kemusyrikan. Setiap individu Muslim wajib menjauhi kemusyrikan. Bahkan bila mampu maka memberantasnya. Karena kemusyrikan itu lebih dahsyat bahayanya dibanding penjahat yang membunuh manusia. Karena Allah telah berfirman:

وَالْفِتْنَةُ أَشَدُّ مِنَ الْقَتْلِ  [البقرة/191]

dan fitnah itu lebih besar bahayanya dari pembunuhan. (QS Al-Baqarah: 191)

وَالْفِتْنَةُ أَكْبَرُ مِنَ الْقَتْلِ [البقرة/217]

Dan berbuat fitnah lebih besar (dosanya) daripada membunuh. (QS Al-Baqarah: 217).

Arti fitnah dalam ayat ini adalah pemusyrikan, yaitu mengembalikan orang mu’min kepada kemusyrikan. Itu dijelaskan oleh Imam At-Thabari dalam tafsirnya:

عن مجاهد في قول الله:”والفتنة أشدُّ من القتل” قال: ارتداد المؤمن إلى الوَثن أشدُّ عليه من القتل. –تفسير الطبري – (ج 3 / ص 565)

Dari Mujahid mengenai firman Allah وَالْفِتْنَةُ أَشَدُّ مِنَ الْقَتْلِ ia berkata: mengembalikan (memurtadkan) orang mu’min kepada berhala itu lebih besar bahayanya atasnya daripada pembunuhan. (Tafsir At-Thabari juz 3 halaman 565).

Bila seorang mengaku muslim namun mengajak kepada kemusyrikan, maka sebenarnya lebih kejam dibanding membunuh. Sedangkan membunuh satu orang Muslim tanpa haq, maka sangat berat resikonya, karena membunuh satu jiwa bagai membunuh semua orang, dalam Al-Qur’an.

مَنْ قَتَلَ نَفْسًا بِغَيْرِ نَفْسٍ أَوْ فَسَادٍ فِي الْأَرْضِ فَكَأَنَّمَا قَتَلَ النَّاسَ جَمِيعًا وَمَنْ أَحْيَاهَا فَكَأَنَّمَا أَحْيَا النَّاسَ جَمِيعًا

Barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan dimuka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya. (QS Al-Maaidah: 32).

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَزَوَالُ الدُّنْيَا أَهْوَنُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ قَتْلِ رَجُلٍ مُسْلِمٍ

Sungguh lenyapnya dunia lebih ringan di sisi Allah dibandingkan terbunuhnya seorang Muslim. ( HR. AN-NASA-I (VII/82), dari ‘Abdullah bin ‘Amr Radhiyallahu anhu. Diriwayatkan juga oleh at-Tirmidzi (no. 1395). Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahiih Sunan an-Nasa-i dan lihat Ghaayatul Maraam fii Takhriij Ahaadiitsil Halaal wal Haraam (no. 439).

Dalam Al-Qur’an, Allah menegaskan dahsyatnya siksa bagi pembunuh orang mu’min dengan sengaja:

وَمَنْ يَقْتُلْ مُؤْمِنًا مُتَعَمِّدًا فَجَزَاؤُهُ جَهَنَّمُ خَالِدًا فِيهَا وَغَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَلَعَنَهُ وَأَعَدَّ لَهُ عَذَابًا عَظِيمًا  [النساء : 93]

93. Dan barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja maka balasannya ialah Jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya. (QS AN-NISAA’/4: 93)

Sebegitu dahsyatnya nilai kejahatan membunuh orang mukmin, namun masih lebih kejam dan jahat lagi bila yang dibunuh itu imannya, yaitu dikembalikan kepada kemusyrikan. Entah itu dengan mempertontonkan kemusyrikan, mengajarkan kemusyrikan atau mempraktekkannya lalu disiarkan kepada umum. Oleh karena itu, bila ada orang apalagi tokoh yang melakukan seperti itu, pantas diwaspadai bahkan perlu diberantas.

Ternyata ada aktivis Islam Muhammad Faisal,  S.Pd,  M.MPd yang mencatat tentang sepak terjang orang yang menurutnya adalah melakukan kemusyrikan terang-terangan.

Inilah catatannya.

***

KeIslaman Bapak Joko Widodo Masih Diragukan (Menurut saya).

Wah wah wah, yang ini sebenarnya,  saya terlalu gegabah mengambil Keputusan,  ucapan saya ini belum bisa dipastikan, tetapi dengan beberapa Sumber yang ada, terlihat bahwa Bapak Jokowi ini masih Diragukan keIslamannya, Buktinya:

Jokowi Kesulitan Menjawab Pertanyaan Makna Ramadhan, Kenapa?
(Baca Beritanya di http://suarajakarta.co/2012/07/27/jokowi-kesulitan-menjawab-pertanyaan-tentang-makna-ramadhan-kenapa/)
Kata pak Fauzi Bowo(Foke), Pemimpin HARUS Bisa Membaca Al-Qur’an, tetapi Jawaban pak Jokowi: Ada-ada saja, masa Pemimpin Harus bisa Baca Al-Qur’an.
(Baca Beritanya di http://www.dakwatuna.com/2012/09/15/22931/jokowi-ada-ada-saja-masa-pemimpin-harus-bisa-baca-al-quran/)

Terus, Hubungannya sama Kesalahan yang Pertama apa?

Ya salahlah, wong Pak Jokowi justru “mempromosikan” upacara sesajen (kemusyrikan), dosa terbesar yang dapat mengeluarkan pelakunya dari Islam. Di antaranya ada berita tentang sesajen untuk mobil Esemka yang digelar Jokowi ketika jadi Walikota Solo. Nahimunkar.com memberitakan:

Mobil Esemka: Sudah ditunggangi kemusyrikan, sudah dua kali pula tak lulus dalam uji emisi

Seperti diberitakan voa sebelumnya (Mandi Kembang Mobil Esemka: Menyambut Prestasi dengan Kemusyrikan), sehari menjelang keberangkatan Mobil Esemka ke Balai Thermodinamika Motor dan Propulsi (BTMP) Serpong Tangerang, Pemerintah Kota (Pemkot) Solo menggelar Wilujengan dan Jamasan Mobil Esemka, Kamis malam (23/02/2012). Layaknya upacara selamatan dalam adat Jawa, Wali Kota Solo Joko Widodo juga menyiapkan satu set tumpeng lengkap yang berisi nasi gurih, ingkung, sambel goreng ati dan kedelai hitam.

Koordinator proses Jamasan Esemka Rajawali, Bambang Suhendro, menjelaskan, esensi acara itu adalah doa kawilujengan atau keselamatan. Selain sesajen, rangkaian bunga pandan, melati, kantil juga menjadi hiasan aksesori mobil untuk penolak bala. “Kembang setaman mawar jambon, mawar merah dan putih, kantil kuning dan kantil putih, kenanga dan melati untuk membersihkan dari sukerto atau halangan selama perjalanan,” terangnya. [taz/dbs] Kamis, 01 Mar 2012 (https://www.nahimunkar.org/mobil-esemka-sudah-ditunggangi-kemusyrikan-sudah-dua-kali-pula-tak-lulus-dalam-uji-emisi/ )

Sesajen untuk membersihkan dari  sukerto (kesialan) itulah yang disebut ruwatan.

Apa itu ruwatan?

Ruwatan adalah satu upacara kepercayaan yang diyakini sebagai ritual membuang sial yang disebut sukerto alias penderitaan. Istilah ruwatan, artinya membebaskan ancaman dari marabahaya yang datangnya dari Batoro Kolo, raksasa pemakan manusia, anak raja para dewa yakni Batoro Guru. Sedangkan meminta perlindungan kepada Batoro Kolo agar tidak dimangsa dengan upacara ruwatan dan wayangan itu termasuk kemusyrikan yang dilarang dalam Al-Qur’an:

وَلَا تَدْعُ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَنْفَعُكَ وَلَا يَضُرُّكَ فَإِنْ فَعَلْتَ فَإِنَّكَ إِذًا مِنَ الظَّالِمِينَ(106)

”Dan janganlah kamu memohon kepada selain Allah, yang tidak dapat memberi manfaat dan tidak pula mendatangkan bahaya kepadamu,jika kamu berbuat (hal itu), maka sesungguhnya kamu, dengan demikian, termasuk orang-orang yang dhalim (musyrik).” (Yunus/ 10:106). (https://www.nahimunkar.org/ruwatan-dan-kemusyrikan-dimuncul-munculkan-lagi-di-indonesia/ ).

Pelaku kemusyrikan itu jelas terancam keluar dari Islam. Bahkan kalau sudah jadi orang musyrik, maka dalam Al-Qur’an, musuh Islam yang paling dahsyat memusuhi Islam adalah Yahudi dan orang-orang musyrik.

{لَتَجِدَنَّ أَشَدَّ النَّاسِ عَدَاوَةً لِلَّذِينَ آمَنُوا الْيَهُودَ وَالَّذِينَ أَشْرَكُوا} [المائدة: 82]

82. Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. (QS AL-MAAIDAH: 82.)

Dari perbuatan yang melanggar keyakinan Islam itu maka saya tentunya boleh mempertanyakan pelakunya, dalam hal ini Pak Jokowi. Terus Dalil tentang Dilarangnya Muslim Memilih Pemimpin Kafir sudah saya Tulis. Lihat artikel Haram Hukumnya Orang Kafir Jadi Ulil Amri/Pemimpin Muslim https://www.nahimunkar.org/haram-hukumnya-orang-kafir-jadi-ulil-amripemimpin-muslim-2/

(nahimunkar.com)

(Dibaca 1.791 kali, 1 untuk hari ini)