GELORA.CO – Joko Widodo (Jokowi) terjungkal oleh omongannya sendiri dan orang sekitarnya di Pilpres 2019.

“Musuh Jokowi itu omongannya sendiri dan orang sekitarnya yang selalu memuji tanpa memberikan kritikan. Jokowi terjungkal atas omongannya sendiri,” kata pengamat politik Muslim Arbi kepada suaranasional, Kamis (3/1/2019).

Menurut Muslim, berbagai janji Jokowi yang tidak ditepati menjadi bumerang buat mantan Wali Kota Solo.

“Mulai dari Mobil Esemka, ekonomi meroket, sampai utang menjadi persoalan buat Jokowi,” ungkap Muslim.

Kata Muslim, jejak digital Jokowi menjadi persoalan paslon nomor 01. “Banyak sekali jejak digital Jokowi maupun KH Ma’ruf yang memunculkan masalah,” jelasnya.

Muslim mengatakan, relawan Jokowi kurang bergerak di lapangan dan hanya mengandalkan media sosial.

“Relawan Jokowi sekarang berbeda dengan Relawan 2014 di mana saat itu partisipasi rakyat begitu kuat. Rakyat mempunyai harapan besar terhadap Jokowi,” jelas Muslim.[sn]

Sumber : gelora.co

***

Resah, Pendukung Jokowi Akui Relawan & Timses tak Banyak Bekerja di Lapangan

GELORA.CO – Tim Sukses dan para relawan Joko Widodo (Jokowi) tidak banyak bekerja di lapangan. Mereka hanya membuat gaduh di media sosial (medsos).

“Bagi saya adalah timsesnya, yang gagap dan condong reaksional terhadap isu, defensif dan terlena karena merasa sudah menang. Dan ini kelemahan terbesar,” kata pendukung garis keras Jokowi, Denny Siregar di akun Facebook-nya.

Kata Denny, tidak ada gerakan apapun yang mendukung keberhasilan Jokowi ini.

“Jangankan gerakan besar seperti di Monas, gerakan kecil aja angin-anginan. Kemudian.. seperti biasa, maenan tagar lagi,” jelas Denny.

Denny mengatakan, kubu lawan Jokowi menggaungkan tagar #2019gantiPresiden tapi mereka tidak berhenti di tagar atau sibuk dengan laporan kemenangan tagar kepada bossnya.

“Mereka menjadikan tagar itu sebagai sebuah gerakan sosial. Mereka gerak kemana-mana dan membangun brand melalui kejadian-kejadian kontroversial,” ungkapnya.

Ia mengakui muncul ketidaksukaan terhadap sosok Neno Warisman sebagai pengusung tagar karena terlalu over, tapi perlu diperhitungkan tumbuh juga cinta kepadanya dan gerakannya karena ia membawa api revolusi baru.

“Dan kita hanya sibuk mengejeknya yang malah menambah jumlah pecintanya. Lalu perang tagar kembali, sedangkan lawan sudah gerak di mana-mana. Saya heran, kenapa tidak ada gerakan sosial mendukung keberhasilan Jokowi yang diorganisir dari timsesnya?” jelas Denny.

Ia heran tidak ada gerakan sosial mendukung keberhasilan Jokowi yang diorganisir dari timsesnya sebagai contoh Freeport. Seharusnya pengambil-alihan Freeport ini adalah keberhasilan yang patut dirayakan oleh segenap bangsa Indonesia.

“Digerakkan seperti gerakan “lilin untuk Ahok” sebagai sebuah perlawanan dan kebanggaan atas kedaulatan Indonesia sekarang. Ini prestasi besar dengan narasi besar. Tapi apa yang terjadi ? Prestasi itu adem-adem saja. Malah sibuk mengcounter narasi-narasi lawan yang sibuk mendowngrade keberhasilan Jokowi,” kata Denny.

Menurut Denny, pendukung Jokowi sibuk perang data, padahal ini permainan rasa. Tidak ada gerakan apapun yang mendukung keberhasilan Jokowi ini.

“Jangankan gerakan besar seperti di Monas, gerakan kecil aja angin-anginan,” jelas Denny.

Denny menceritakan kekesalan politisi PDIP Adian Napitupulu terhadap timses dan relawan Jokowi.

“Adian pernah mengatakan, pendukung Jokowi itu hanya ada di sekitaran Menteng saja, tidak kemana-mana dan tidak berada dimana-mana. Jokowinya yang kerja, mereka santai-santai saja,” kata Denny menirukan Adian.[sn]

Sumber : gelora.co

(nahimunkar.org)

(Dibaca 1.064 kali, 1 untuk hari ini)