SuaraKarya.id – JAKARTA: Saat masa tenang Pilpres 2019, Presiden Joko Widodo (Jokowi) melaksanakan ibadah umroh.  Kemudian dia mengunggah potret dirinya saat sedang menuruni tangga Ka’bah di akun Instagram pribadinya, @jokowi, Senin (15/4/2019). Ungguhan ini langsung menyita perhatian karena mengingatkan apa yang dilakukan  oleh mantan Perdana Menteri (PM) Malaysia, Najib Tun Rajak, Januari 2018 lalu.

Jokowi membagikan potret dirinya beserta istri (Iriana), dan kedua anak lelakinya (Gibran-Kaesang), saat sedang menuruni tangga Ka’bah.

“Labbaik Allahumma Labbaik. Aku datang memenuhi panggilanMu, Ya Allah. Subuh ini, saya dan keluarga mendapat kehormatan untuk memasuki Kakbah di Masjidil Haram. Hanya ucapan syukur yang bisa saya panjatkan ke hadirat Allah SWT untuk kesempatan menjejak ruang dalam Baitullah. “Ya Allah, tambahkanlah kemuliaan, kehormatan, keagungan dan kehebatan pada Baitullah ini dan tambahkanlah pula pada orang-orang yang memuliakan, menghormati dan mengagungkannya di antara mereka yang berhaji atau yang berumroh padanya dengan kemuliaan, kehormatan, kebesaran dan kebaikan.” Salam kami dari di Tanah Suci untuk seluruh rakyat Indonesia,” tulis Jokowi di Instagramnya, Senin (15/4/2019).

Apa yang dibagikan oleh Jokowi, menurut laporan ngelmu.co, sama persis dengan apa yang pernah dibagikan oleh mantan Perdana Menteri (PM) Malaysia, Najib Tun Rajak, Januari 2018 lalu. Najib sempat ‘memamerkan’ foto serta video saat sedang menjalani ibadah umrah, termasuk potret dirinya ketika hendak keluar dari Ka’bah.

Tepatnya, 11 Januari 2018 Najib mengunggah potret dirinya saat keluar dari Ka’bah.“Allahuakbar, rasa cukup terharu dan bersyukur diberi peluang memasuki Kaabah, melihat rumah Allah. Syukur Alhamdulillah,” tulisnya di Instagram, @najib_razak.

Namun, tak lama berselang, dia justru menelan kekalahan dalam Pemilu, bahkan harus masuk penjara, karena terjerat kasus korupsi. Tepatnya, 10 Mei 2018 lalu, setelah foto itu tersebar, Najib harus menerima kegagalannya dalam Pemilu. Bahkan, dirinya dianggap sebagai sosok pemimpin yang zalim, dan tumbang usai menjejakkan kakinya ke dalam Ka’bah.

Dia terperosok ke dalam bui, karena kasus korupsi yang dimulainya sendiri. Najib ditangkap di kediamannya, di Langgak Duta, Selasa (3/7/2018). Dia diringkus aparat Komisi Antikorupsi Malaysia (MACC).

Bahkan Faktakini.com melukiskan, bak roller coaster. Itulah gambaran nasib Najib Razak. April 2018 lalu, ia masih menjabat sebagai Perdana Menteri Malaysia. Namun setelah itu nasibnya hancur-hancuran. ***

 15 April 2019 17:28 WIB
Penulis : Gungde Ariwangsa SH

Editor : Gungde Ariwangsa SH/ http://www.suarakarya.id

***

Beredar Foto Umrah Dua Tokoh

Pilpres 2019 Pilih Prabowo-Sandi

JOKOWI AKAN MENGIKUTI NAJIB RAZAK…?

Sejarah Malaysia sepertinya akan terulang di Indonesia.

Sekitar 9 Januari 2018 sebelum Pemilu Malaysia digelar, Perdana Menteri Malaysia Najib Razak melaksanakan Umroh dan sempat mengabadikan fhoto²nya Masuk Ka’bah dan disebar dimedia lalu pada tanggal 10 Mei 2018 Najib Razak kalah pemilu dan sekarang masuk bui dengan tuduhan Korupsi oleh MACC (KPK-nya Malaysia) .

Pagi ini Nitizen sempat dihebohkan Unggahan Jokowi di akun Instagram pribadinya yang menyita perhatian. Sebab, apa yang dibagikan oleh Jokowi, sama persis dengan apa yang pernah dibagikan oleh mantan Perdana Menteri (PM) Malaysia, Najib Razak, Januari 2018 lalu. Najib sempat ‘memamerkan’ foto serta video saat sedang menjalani ibadah umrah, termasuk potret dirinya ketika hendak keluar dari Ka’bah.

Apakah kejadian ini dianggap sebagai Pertanda antara kekalahan yang dialami oleh Najib Razak dengan kekalahan yang akan dialami oleh Jokowi?

Wallahu a’lam.

***

Hartono Ahmad Jaiz membagikan kiriman.

Diterbitkan oleh Abu Mahmudah · 11 jam ·

Ini sekadar foto yang dirangkum orang dan diedarkan. Adapun keadaan yang akan datang, Allah Ta’ala lah yang Maha Tahu dan berhak penuh untuk menentukannya.

قُلِ ٱللَّهُمَّ مَٰلِكَ ٱلۡمُلۡكِ تُؤۡتِي ٱلۡمُلۡكَ مَن تَشَآءُ وَتَنزِعُ ٱلۡمُلۡكَ مِمَّن تَشَآءُ وَتُعِزُّ مَن تَشَآءُ وَتُذِلُّ مَن تَشَآءُۖ بِيَدِكَ ٱلۡخَيۡرُۖ إِنَّكَ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ قَدِيرٞ [ آل عمران:26-26]

Katakanlah: “Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. [Al ‘Imran:26]

***

Beredarny foto kejadian itu tidak boleh dijadikan alamat atau pertanda nasib sial yang akan datang. Kalau sampai mempercayai begitu, maka termasuk tathoyyur (menganggap akan ada sial tanpa dalil dan bukti ilmiah yang benar), dan itu terlarang, bahkan merupakan jurusan keyakinan syirik (kemusyrikan).

Larangan tathoyyur/klenik:

Tathoyyur yaitu mempercayai adanya kesialan dikaitkan dengan alamat-alamat seperti suara burung, tempat, waktu, orang atau anggota badan yang bergera-gerak/ kedutan dan sebagainya, tanpa dalil dan bukti ilmiah  yang benar. Dianggapnya suara burung, hari-hari tertentu dan sebagainya sebagai alamat sial itu dikenal dengan istilah klenik, yaitu hitung-hitungan hari, alamat-alamat dari suara burung, barang jatuh, rumah menghadap ke arah ini atau di tanah itu dan sebagainya dipercayai sebagai pertanda sial ataupun keberuntungan. Dalam Islam disebut tathoyyur.

Rasulullah Sallallahu Alaihi wa Sallambersabda:

لَيْسَ مِنَّا مَنْ تَطَيَّرَ أَوْ تُطُيِّرَ لَهُ ، أَوْ تَكَهَّنَ أَوْ تُكُهِّنَ لَهُ ، أَوْ سَحَرَ أَوْ سُحِرَ لَهُ

 “Laisa minnaa man tathoyyaro aw tuthuyyiro lahu aw takahhana aw tukuhhina lahu, aw saharo aw suhiro lahu.”

Bukan termasuk golongan kami, siapa saja yang bertathoyyur (beranggapan akan ada sial akibat suara burung dan sebagainya dianggap sebagai alamat dikaitkan dengan klenik) atau minta diramalkan sial untuknya, atau berdukun/menenung atau minta ditenungkan, atau mensihir atau minta disihirkan.”( HR At-Thabrani dari Ibnu Abbas dengan sanad hasan)

Tidak Ada Tathoyyur (Sangkaan Sial) dalam Islam

Sabda Rasulullah Shallallahu ‘Lihi wa sallam

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ عَدْوَى ، وَلاَ طِيَرَةَ ، وَلاَ هَامَةَ ، وَلاَ صَفَرَ

yang Bermaksud:

Tidak dibenarkan menganggap penyakit menular dengan sendirinya (tanpa ketentuan Allah), tidak dibenarkan beranggapan sial (tathoyyur)*, tidak dibenarkan pula beranggapan nasib malang karena tempat, juga tidak dibenarkan beranggapan sial di bulan Shafar” (HR. Bukhari no. 5757 dan Muslim no. 2220).

Dari ‘Abdullah bin Mas’ud, ia menyebutkan hadits secara marfu’ –sampai kepada Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam-,

« الطِّيَرَةُ شِرْكٌ الطِّيَرَةُ شِرْكٌ ». ثَلاَثًا « وَمَا مِنَّا إِلاَّ وَلَكِنَّ اللَّهَ يُذْهِبُهُ بِالتَّوَكُّلِ ».

Beranggapan sial adalah kesyirikan, beranggapan sial adalah kesyirikan”. Beliau menyebutnya sampai tiga kali. Kemudian Ibnu Mas’ud berkata, “Tidak ada yang bisa menghilangkan sangkaan jelek dalam hatinya. Namun Allah-lah yang menghilangkan anggapan sial tersebut dengan tawakkal.” (HR. Abu Daud no. 3910 dan Ibnu Majah no. 3538. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).

***

==========

Pengertian tathoyyur

Tathoyyur atau bisa disebut dengan thiyarahsecara bahasa diambil dari kata الطَّيْر (tho’ir) yang artinya ‘burung’. Karena orang-orang arab dimasa dahulu, ketika mereka hendak bepergian, mereka mengambil seekor burung dan kemudian diterbangkan. Jika burung tersebut terbang ke arah kanan, mereka merasa ini adalah hari keberuntungan, maka mereka melanjutkan niat mereka untuk bepergian. Namun jika burung tersebut terbang ke arah kiri maka mereka merasa sial dan akhirnya mengurungkan niat mereka dan tidak jadi bepergian. Sedangkan menurut istilah, pengertian tathoyyuradalah menganggap sial atas apa yang dilihat, didengar, atau yang diketahui, tanpa adanya dalil dan bukti ilmiah (lihat Al Qoulul mufid, Ibnu Utsaimin). Sehingga tathoyyur menurut istilah dalam agama islam tidak terbatas hanya pada burung, akan tetapi kepada semua hal yang dianggap bisa membawa sial bagi seseorang, padahal hal tersebut tidak ada hubungan dan kaitannya dengan kesialan (yaitu tidak terdapat dalil yang menetapkannya dan tidak terbukti secara ilmiah).

Hukum tathoyyur

Para ulama menjelaskan bahwa hukum tathoyyur atau thiyarah adalah dilarang dan bahkan termasuk kesyirikan yang bisa menghilangkan kesempurnaan tauhid seseorang. Sebagaimana hadits dari Abdullah bin mas’ud radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda,

الطِّيَرَةُ شِرْكٌ الطِّيَرَةُ شِرْكٌ ». ثَلاَثًا « وَمَا مِنَّا إِلاَّ وَلَكِنَّ اللَّهَ يُذْهِبُهُ بِالتَّوَكُّلِ

 “Thiyarah itu syirik, thiyarah itu syirik, thiyarah itu syirik, dan setiap orang pasti (pernah terlintas dalam hatinya sesuatu dari hal ini). Hanya saja Allah menghilangkannya dengan tawakkal kepada-Nya.” (HR. Abu daud dan Tirmidzi, shahih).

Orang yang percaya dengan tathoyyur hakikatnya ia telah melakukan suatu bentuk kesyirikan kepada Allah Ta’ala, karena dua sisi, yaitu:

[1] Orang yang melakukan tathoyyur tidak memiliki rasa tawakal kepada Allah Ta’ala dan akhirnya bersandar kepada selain-Nya.

[2] Dia bergantung kepada perkara yang tidak ada kenyataannya. Bahkan semuanya hanya dugaan dan khayalan. (lihat Al qoulul mufid, Ibnu Utsaimin)

Bahkan tathoyyur juga bisa sampai kepada derajat syirik besar yang dapat mengeluarkan seseorang dari Islam. Yaitu apabila dia menyakini bahwa benda yang ia anggap membawa sial tadi memiliki pengaruh secara dzatnya (bendanya itu sendiri) dan meyakini kesialan tersebut terjadi tanpa adanya kehendak dari Allah Ta’ala. Karena dengan demikian berarti dia menjadikan tandingan bagi Allah Ta’ala dalam masalah penciptaan dan pengaturan (Kesyirikan dalam Tauhid Rububiyah)./ https://buletin.muslim.or.id

(nahimunkar.org)

(Dibaca 1.041 kali, 1 untuk hari ini)