Ilustrasi/ foto ytb


Lagi ribut soal julukan jancuk untuk Pak Jokowi dari para pendukungnya di Jawa Timur.

Bagaimanapun, lafal jancuk itu lebih kental muatan umpatannya. Bahkan sangat kasar. Bahkan sampai ada yang bilang, itu plesetannya adalah jaran ngencuk (kuda melampiaskan syahwatnya). Na’udzubillahi min dzalik.

Perlu diingat, orang Jawa banyak yang suka wayang. Sekadar mengenal sebagian karakter wayang, dikenal ada nama tokoh wayang yang mengandung plesetan yang menyakitkan. Padahal sosoknya dan kedudukannya seharusnya sangat terhormat. Karena dia pendita kerajaan, dekat dengan raja. Sosok itu disebut Durno (Durna). Nama aslinya adalah  Bambang Kombayana .  Disebut Durno itu plesetannya adalah mundur-mundur keno (mundur mundur kena). Maknanya, sosok Durno itu naik kuda betina dari Tanah Atas Angin menuju Jawa, lalu mundur-mundur ke kelamin kuda, dan menghasilkan anak dinamai Asuotomo (Aswotomo -Aswatama).

Dalang pun ada yang menceritakan, suatu ketika Pendita Durno itu mau berantem dengan pihak lawan. Dalam perkelaian itu si lawan tidak melawan, malah cengengesan meringkik menirukan suara jaran (kuda) betina yang terengah-engah…  Makin didekati dan diajak gelut (berantem) malah semakin menirukan suara kuda. Akhirnya Pendita Durno pun lari menuju ke para pendukungnya, untuk curhat.

Para pendukungnya pun menaruh iba, karena orang terhormatnya dilecehkan begitu saja. Agak terhiburlah sang Pendita Durno ini, karena masih ada tempat curhatan, yakni para pendukungnya, yang masih menaruh belas iba. Lha bagaimana seandainya yang cengengesan memukul perasaan itu justru pihak para pendukungnya sendiri dengan ungkapan yang sangat memukulnya? Mau curhat sama siapa?

Sedangkan pihak lawan ketika mendengarnya pun hanya ‘pura-pura’ bilang kasihan, terlalu itu para teman2nya itu, kebangetan itu… dan sebagainya… tapi apakah mungkin untuk curhat ke pihak lawan?

Lebih sakit lah rasanya, ketika ucapan tidak sewajarnya dan tidak pantas itu justru keluar dari mulut mereka yang mengaku mendukungnya.

***

Ruwatan

Perlu diingat, Cerita-cerita jorok semacam kisah Pendita Durno itu tersebar di masyarakat. Bahkan ada yang diyakini secara akidah kemusyrikan, bahkan diadakan upacara sacral. Contohnya adalah apa yang disebut ruwatan.

Berikut ini contoh keyakinan sangat batil bahkan kemusyrikan, padahal hanya berdasarkan cerita jorok yang diyakini. (Dan agar ada contoh lainnya mengenai perbuatan kemusyrikan, ditampilkan pula adanya yang sujud di kubur dan penjelasannya secara Islam).

Silakan simak.

***

Yang Satu Ruwatan dengan Sesajen, yang Satunya Sujud di Kubur

Posted on 13 Agustus 2018 – by Nahimunkar.com

Ilustrasi (Kiri) Ruwatan dengan sesajen/ foto rmol. (Kanan) Sujud di kubur Blitar./ foto fb

Beredar postingan itu di salah satu fp.

Lalu ada yang bertanya:

Abi Menunggumu: Terus kudu piye tadz?

Dijawab:

Mereka harus bertobat benar2. karena jadi contoh akibat tersebarnya berita ke mana2, maka mrk harus memberi klarifikasi, bertaubat dari perbuatannya, dan menyatakan kepada umum bahwa itu salah besar. pihak2 yang dekat dg mereka ini dan mampu menasihatinya maka wajib menasihati. bila masih tetap seperti semula itu, maka Allah jelas tidak ridho kepada kekafiran/ kemusyrikan. Sedang Umat Islam tidak boleh meridhoi apa yang Allah tidak ridhoi.

Abi Menunggumu Maksudnya terus kudu milih yg mana? Adanya ya 2 itu

Dijawab:

Kita bilang dulu, kalau mereka ga’ ngumumin pertobatannya dari perbuatan syirik itu, karena para penasihat mereka tidak menasihati benar2, maka kami tidak mau memilih. karena takut kepada Allah Ta’ala yang sangat benci kepada kesyirikan.

***

Contoh Perbuatan Kemusyrikan: Ruwatan dan Nyembah Kubur

Posted on 11 Mei 2018 – by Nahimunkar.com

Ilustrasi Foto/ 1Cak

Jokowi melakukan upacara Mandi Kembang Mobil Esemka: Menyambut Prestasi dengan KemusyrikanPemerintah Kota (Pemkot) Solo menggelar Wilujengan (selamatan) dan Jamasan (ritual memandikan) Mobil Esemka, malam Jum’at (23/02/2012). Selain sesajen, rangkaian bunga pandan, melati, kantil juga menjadi hiasan aksesori mobil untuk penolak bala’. (lihat artikel Tumbal dan Sesajen, Tradisi Syirik Warisan Jahiliyah  di nahimunkar.com)

Ustadz, beliau ini kan pernah memimpin ruwatan mobil esemka..ruwatan itu syirik asghar atau syirik akbar ustadz?/ Karyono.

Jawaban: Ruwatan itu dimaksudkan untuk membuang sukerto (sial) disertai sesaji/ sesajen. Kalau sesajennya ada sembelihannya (ayam dan sebagainya) dan itu memang untuk selain Allah, serta minta dihilangkannya sukerto (sial) itu kepada yang disajeni (selain Allah), maka jelas syirik akbar. wallahu a’lam.

Sedangkan meminta perlindungan kepada Batoro Kolo agar selamat dari kesialan dengan upacara ruwatan itu termasuk kemusyrikan yang dilarang dalam Al-Qur’an:

وَلَا تَدْعُ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَنْفَعُكَ وَلَا يَضُرُّكَ فَإِنْ فَعَلْتَ فَإِنَّكَ إِذًا مِنَ الظَّالِمِينَ(106)

”Dan janganlah kamu memohon kepada selain Allah, yang tidak dapat memberi manfaat dan tidak pula mendatangkan bahaya kepadamu, jika kamu berbuat (hal itu), maka sesungguhnya kamu, dengan demikian,termasuk orang-orang yang dhalim (musyrik).” (Yunus/ 10:106).

{ إنك إذاً من الظالمين } : أي إنك إذا دعوتها من المشركين الظالمين لأنفسهم .

“…maka sesungguhnya kamu, dengan demikian,termasuk orang-orang yang dhalim (musyrik).” Artinya sesungguhnya kamu apabila mendoa kepada selain-Nya adalah termasuk orang-orang musyrik yang mendhalimi kepada diri-diri mereka sendiri. [أيسر التفاسير للجزائري – (ج 2 / ص 153)]

وَإِنْ يَمْسَسْكَ اللَّهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهُ إِلَّا هُوَ وَإِنْ يُرِدْكَ بِخَيْرٍ فَلَا رَادَّ لِفَضْلِهِ يُصِيبُ بِهِ مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَهُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ(107)

”Dan jika Allah menimpakan kepadamu suatu bahaya, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya selain Dia; sedang jika Allah menghendaki untukmu sesuatu kebaikan, maka tidak ada yang dapat menolak karunia- Nya…”( Yunus: 107).

Kesimpulan:

1. Ruwatan Mendatangkan Dosa Terbesar.

2. Ruwatan itu kepercayaan non Islam berlandaskan cerita wayang. Ruwatan artinya upacara membebaskan ancaman Batoro Kolo, raksasa pemakan manusia, anak Batoro Guru/ raja para dewa. Batoro Kolo adalah raksasa buruk jelmaan dari sperma Batoro Guru yang berceceran di laut, setelah gagal bersenggama dengan permaisurinya, BatariUma, ketika bercumbu di langit sambil menikmati terang bulan.

Upacara ruwatan itu bermacam-macam:
ada yang dengan mengubur sekujur tubuh selain kepala,
atau menyembunyikan anak/ orang yang diruwat,
ada yang dimandikan dengan air kembang dan sebagainya.
Biasanya ruwatan itu disertai sesaji dan wayangan untuk menghindarkan agar Betoro Kolo tidak memangsa.

Itulah kepercayaan kemusyrikan/ menyekutukan Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan selainNya yang berlandaskan cerita wayang penuh takhayyul, khurofat, dan tathoyyur (menganggap sesuatu sebagai alamat sial dsb).

Orang yang melakukan syirik besar adalah kafir yang abadi di dalam neraka dan diharamkan baginya masuk surga, karena Allah berfirman,

{… إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ } [المائدة: 72]

“Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun.” (Al-Maidah: 72)./

***

Sujud kepada Selain Allah

Ilustrasi Ketum Partai politik yang bersujud di depan makam Bung Karno di Blitar Jawa Timur, Jum’at (4/5/2018)/ foto kaskus

السجود : وضع الجبهة على الارض على وجه التعظيم، هذا لا يكون الا لله. لا يجوز ان يسجد لاحد، فان سجد لغير الله فهو مشرك

Sujud adalah meletakkan kening di atas tanah dalam rangka pengagungan,  maka sujud tdk boleh di lakukan kecuali kpd Allah. tdk boleh seseorang sujud kpd orang lain, maka barangsiapa yg sujud kpd selain Allah maka dia Musyrik.

(Syaikh Sholih Al-Fauzan : Syarah Al-Jaami’ Li’ibaadatillahi Wahdah. hal: 172 cet: Daarul Ma’tsuur)

via fb Abdillah

***

Hukum Meminta Berkah kepada Kuburan

Oleh: Syaikh Muhammad bin Shaleh Al-Utsaimin

Apa Hukumnya meminta berkah kepada kuburan dan mengelilinginya untuk tujuan meminta hajat atau mendekatkan diri. Bagaimana hukumnya bersumpah kepada selain Allah?

Jawaban: Meminta berkah kepada kuburan hukumnya haram dan termasuk syirik, karena orang yang melakukan tindakan itu telah menganggap sesuatu yang tidak diberi kekuatan oleh Allah mempunyai pengaruh, dan meminta berkah semacam itu bukan termasuk kebiasaan para salafus shalih. Bila dilihat dari sudut pandang ini, maka meminta berkah kepada kuburan bisa disebut bid’ah. Jika orang yang meminta berkah itu yakin bahwa penghuni kubur itu mempunyai pengaruh atau kekuatan untuk menolak bahaya atau memberikan manfaat, berarti dia telah berbuat syirik besar, apalagi jika ia berdoa kepadanya untuk mendapatkan manfaat atau menolak mudharat. Begitu pula termasuk syirik besar jika seseorang menyembah penghuni kubur dengan ruku’, sujud atau menyembelih untuknya dan mengagungkannya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

{وَمَنْ يَدْعُ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ لَا بُرْهَانَ لَهُ بِهِ فَإِنَّمَا حِسَابُهُ عِنْدَ رَبِّهِ إِنَّهُ لَا يُفْلِحُ الْكَافِرُونَ} [المؤمنون: 117]

“Dan barangsiapa menyembah Tuhan yang lain di samping Allah, Padahal tidak ada suatu dalilpun baginya tentang itu, maka sesungguhnya perhitungannya di sisi Tuhannya. Sesungguhnya orang-orang yang kafir itu tiada beruntung.” (Al-Mukminun: 117).

Kemudian Allah juga berfirman,

{فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا } [الكهف: 110]

“Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabbnya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Rabbnya.” (Al-Kahfi: 110).

Orang yang melakukan syirik besar adalah kafir yang abadi di dalam neraka dan diharamkan baginya masuk surga, karena Allah berfirman,

{… إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ } [المائدة: 72]

“Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun.” (Al-Maidah: 72)./ alislamu.com

(Dirangkum oleh Hartono Ahmad Jaiz)

(nahimunkar.org)

(Dibaca 1.510 kali, 1 untuk hari ini)