ilustrasi g00gle.co.id


Waktu saya masih kecil senantiasa dibawa ayah untuk ikut shalat jum’at ke masjid yang adanya di tetangga desa. Jarak dari rumah ke masjid satu kilometer, ditempuh dengan naik sepeda onthel . Saya cukup ditaruh di kursi penjalin (rotan) di dalangan mepet stang. Ketika saya sudah gede sedikit, tidak usah pakai kursi penjalin itu, cukup duduk di dalangan.  Ga’ apa-apa, sakit sedikit sudah biasa.

Sampai di masjid, saya ikuti ayah ke kolah/ jedhing tempat wudhu. Kolah (kulah) ada dua di utara masjid. Dua-duanya berupa tembok bangunan segi empat terbuka, tanpa ada lubang pancuran apalagi kran. Tahun 1960-an di desa-desa belum ada kran. Adanya pancuran di tiap tiap rumah, di tritisan ada genthong lanang untuk wadah air untuk wudhu. Tutup pancurannya cukup gagang daun singkong atau sabut atau karet atau apa saja. Tapi di masjid-masjid tidak pakai genthong lanang, kecuali langgar(kini disebut mushalla) biasanya pakai genthong lanang.

Kulah-kulah itu diisi dengan air yang sumurnya di sebelahnya, sedalam sepuluhan meter. Menimbanya pakai senggot bambu,  atau pakai gledekan bambu, belakangan pakai kerekan dengan tali ban karet.

Masyarakat desa itu semuanya petani. Entah itu petani punya tanah atau hanya buruh tani, atau bertani sambil dagang atau sambil jadi pegawai ini dan itu.

Uniknya, di dua kulah samping majid itu ada bancik (pijakan kaki) yang mepet dengan kulah sampai cekung berlubang. Kenapa? Saya amati waktu saya masih kecil itu, orang-orang ketika mencuci kaki benar-benar dengan mengesetkan tapak kaki lebih-lebih tumit-tumitnya digasruk-gasrukkan ke bancik agar bersih dari gebal-gebal tanah yang lengket di kaki mereka. Hingga bancik bangunan cor-coran itu mencekung saking tiap saat dijadikan gasrukan kaki-kaki bergebal tanah.

Lalu saya ikut masuk masjid tapi hanya di serambi. Biar saja ayah di depan. Saya anak kecil cukup di serambi. Orang-orang berdatangan, lalu shalat berkali-kali. Hampir semuanya kemudian mengaji Al-Qur’an, ada yang memegang mushaf, ada yang tidak. Suaranya bagai lebah berdengung.

Saat itu belum ada pengeras suara di masjid-masjid. Tapi suara imam, khatib, dan muadzin cukup terdengar jelas, walau saya duduk di di serambi. Rupanya angin masih belum sesibuk sekarang, jadi setia menghantarkan suara dengan baik, tanpa hambatan.

Adzan Jum’atnya dengan suara khas, tidak keras, tanpa ngeden sama sekali. Tahu-tahu adzan di desa Jawa khas waktu saya masih kecil itu bisa saya nikmati lagi di masjid-masjid kampung di Betawi Jakarta. Hanya bedanya, sekarang pakai pengeras suara. Dan lebih nikmat lagi ketika pulang kampung, muadzinnya angkatan tua, maka pas sekali kedengarannya. Nostalgia zaman kanak-kanak.

Khutbah pun dimulai. Khatib dan imam tidak pernah ganti, yaitu Pak Modin, lebai kata orang Melayu. Dia berkhutbah dengan membaca kitab. Dibaca teks Arabnya, kemudian diartikan dengan bahasa Jawa perkata. Saya bilang perkata, buktinya saya diajari ayah, lafal tsalatsah artinya tiga, ketika Pak Modin tadinya bilang tsalatsah kemudian ketika mengartikannya dengan arti telu (tiga).

Masjid saat itu tidak butuh kipas angin. Tetapi jangan dikira, jama’ah Jum’at semasjid itu tidak pada tidur waktu khatib sedang khutbah. Kalau ada kipas angin, mungkin sang kipas itu bisa dikambing hitamkan sebagai penyebab tidur. Ternyata saat itu, shaf-shaf jam’ahjum’at itu isinya juga banyak orang yang dengklak-dengkluk ngantuk. Sampai-sampai, saya pengin menirukannya… alhamdulillah tidak bisa waktu itu. Jadi ya mendengarkan saja khatib yang sedang membaca khutbah. Anak-anak yang lain juga mendengarkan khutbah, serta tidak ramai, tidak gojek (gojek bahasa jawa artinya berantem-beranteman).

Hitung-hitung di zaman itu, anak-anak tidak ramai di masjid, justru mendengarkan khutbah walau mungkin belum tentu mudheng (faham), dan tidak tidur waktu khatib berkhutbah. Sedang orang-orang tua tidak sedikit yang tidur.

Sekarang, khutbahnya pakai pengeras suara, tapi orang-orang (mungkin) banyak juga yang tidur, tapi kan punya kambing hitam yakni kipas angin atau bahkan ac; sedang anak-anak tidak memperhatikan khutbah, bahkan kadang ramai.

Mari merenung sejenak. Sekarang ini yang jadi orang-orang tua adalah orang-orang yang ketika dulu masa kanak-kanaknya tidak banyak tingkah, relatif penurut, bahkan ada perhatian terhadap nasehat-nasehat khatib. Itu saja ketika jadi orang tua secara serempak ternyata kehidupan agamanya seperti ini. Lha nanti, ketika anak-anak yang tumbuh sekarang kenyataannya pada banyak tingkah, tidak penurut, cuwek dan sebagainya itu, nantinya ketika secara serempak mereka jadi orang-orang tua bagaimana keadaannya?

Dari sini mari kita bangun kesadaran anak-anak dan kita-kita semua, agar semakin baik keadaan umat Islam ini. Insya Allah.

Semoga Allah meridhai dan mengabulkan cita-ita baik kita semua. Aamiin

Jakarta, Jumu’ah, 14 Rajab 1437H/ 22 April 2016.

By: Hartono Ahmad Jaiz

(nahimunkar.com)

(Dibaca 1.699 kali, 1 untuk hari ini)