Menurut Amnesty International, jumlah eksekusi mati terbanyak di dunia justru ada di negara Iran. Mengutip laporan dari Alarabiya, Jumat (11/12/2015), Iran bahkan mengeksekusi mati dua orang pemuda yang masih berusia di bawah 18 tahun.

Anehnya, ketika Arab Saudi melakukan eksekusi terhadap pentolan syiah, dalam hal ini Nimr Al-Nimr, mereka langsung menggonggong di media akan ketidak-adilan yang dilakukan oleh pemerintah Arab Saudi. Khamenei, pimpinan keagamaan Iran bahkan menyamakan Arab Saudi dengan kelompok militan ISIS yang bermudah-mudahan dalam mengambil nyawa seseorang.

Inilah sorotannya.

***

Membandingkan Eksekusi Mati oleh Arab Saudi dan Iran

Penulis Admin -Senin, 4 Jan 2016 – 12:06

Nimr Al-Nimr-tokoh Syiah

Nimr Al-Nimr, tokoh Syiah yang diekeskusi di Arab Saudi

Oleh : Aziz Rachman

Pekan pertama di tahun 2016, tepatnya Sabtu (2/1/2016), Pemerintah Arab Saudi mengeksekusi mati seorang tokoh Syiah bernama Nimr Al-Nimr. Eksekusi dilaksanakan berdasarkan keputusan Mahkamah Arab Saudi yang dikeluarkan pada bulan Oktober 2015.

Tak lama setelah eksekusi mati tersebut, pimpinan keagamaan di Iran, Ali Khamenei mengatakan bahwa perbuatan Arab Saudi tak ada bedanya dengan apa yang dilakukan oleh kelompok Islamic States in Iraq and Sham (ISIS). Menurutnya, pembunuhan yang Arab Saudi dan ISIS lakukan, pada hakikatnya adalah sama.

Masih menurut Iran, melalui juru bicara kemenlu Husain Jaber Anshari, Arab Saudi akan membayar mahal atas eksekusi yang dilakukan terhadap Al-Nimr. Tak lama setelahnya, warga Syiah yang ada di beberapa negara mulai turun ke jalan-jalan dan menyuarakan protes mereka.

Dimulai dari Teheran, Kedubes Arab Saudi bahkan mendapat serangan bahkan dibakar oleh massa. Atas pembakaran kedubes tersebut, Arab Saudi kemudian memutuskan hubungan diplomatik dengan Iran.

Nimr Al-Nimr, merupakan salah seorang yang dieksekusi bersama dengan 46 orang lainnya. Al-Nimr yang tokoh syiah itu, dieksekusi bersama dengan puluhan terpidana lainnya, yang kebanyakan berasal dari militan ISIS.

Eksekusi yang dilakukan terhadap Al-Nimr merupakan buah dari putusan Mahkamah Arab Saudi pada Oktober 2015 silam. Keputusan iti diambil berdasarkan daftar kejahatan yang dilakukan oleh Al-Nimr. Apa sajakah kejahatannya?. Berikut infografisnya seperti dikutip dari alyoum, Ahad (3/1/2016).

putusan Mahkamah Arab Saudi

  1. Memimpin protes dan pembangkangan terhadap negara
  2. Menghasut massa untuk mengangkat senjata
  3. Menghasut massa untuk membunuh petugas keamanan
  4. Menghasut massa untuk melakukan tindakan ekstremesme radikalisme
  5. Memimpin perlawanan bersenjata terhadap negara
  6. Tidak mau tunduk kepada negara
  7. Berlaku buruk kepada para pimpinan negara
  8. Mendukung sel-sel terorisme yang ada di Bahrain.

Dan masih ada beberapa lagi kejahatan yang dilakukan oleh Al-Nimr, seperti menyembunyikan buronan terorisme, penyerangan dan penjarahan toko, serta penargetan aparat keamanan Arab Saudi.

Beberapa kali Al-Nimr ditangkap dan ditahan. Misalnya pada tahun 2006 dan 2008. Pada tahun 2012, pemerintah menyatakan telah menangkap Al-Nimr setelah sempat terjadi baku tembak dan hendak melarikan diri.

Iran pun Mengeksekusi Warga Sunni

Ketika Arab Saudi melakukan eksekusi terhadap warga syiah, dalam hal ini Nimr Al-Nimr, mereka langsung menggonggong di media akan ketidak-adilan yang dilakukan oleh pemerintah Arab Saudi. Khamenei, pimpinan keagamaan Iran bahkan menyamakan Arab Saudi dengan kelompok militan ISIS yang bermudah-mudahan dalam mengambil nyawa seseorang.

Padahal, menurut Amnesty International, jumlah eksekusi mati terbanyak di dunia justru ada di negara Iran. Mengutip laporan dari Alarabiya, Jumat (11/12/2015), Iran bahkan mengeksekusi mati dua orang pemuda yang masih berusia di bawah 18 tahun.

Sebagian yang dihukum mati didakwa karena berkaitan dengan narkotika. Sebagian lainnya merupakan para dai sunni, yang kebanyakan berasal dari wilayah Ahwaz, wilayah yang dihuni oleh etnis Arab di Iran.

Berikut beberapa nama dai sunni yang dieksekusi mati di Iran :

  1. Pada 2009, Iran menghukum mati dua ulama sunni, Syaikh Khalilullah Az-Zara’i dan Syaikh Al-Hafidz Sholahuddin Syed.
  2. Pada 27 Desember 2012, Syaikh Ashgar Ruhaimi, juga dieksekusi mati oleh Iran.
  3. Abdul Malik Rigi, bersama dengan 15 warga sunni lainnya dieksekusi mati oleh pemerintah Iran pada 26 Oktober 2013. Sebelumnya mereka mendekam di penjara Zehdan.
  4. Masih di tahun yang sama, saudara Abdul Malik Rigi, Habibullah Rigi juga dieksekusi mati.
  5. Di tahun 2014, dua kakak beradik, Wahid Syah Bakhs (22 tahun) dan Mahmud Syah Bakhs (23 tahun) juga dieksekusi mati.
  6. Terakhir, Syahram Amiri, dai sunni Iran juga diberikan hukuman mati setelah saudaranya, Bahram Amiri (lihat beritanya di : Dai Sunni Hendak Dieksekusi Mati di Iran, Ibunda : Biar Aku Saja Yang Mati dan Menggantikan Hukumannya)

Keseluruhannya, diberikan tuduhan sebagai orang-orang yang “memerangi Allah dan Rasul-Nya”. Sebuah tuduhan yang dipaksakan hanya karena berbeda paham dari mayoritas warga Iran lainnya.

Bahram dan Syahram Amiri

dua kakak beradik, Bahram dan Syahram Amiri

Penutup

Seandainya akal ini adil untul berpikir, mata ini adil untul melihat, serta telinga ini adil untuk mendengar, maka kita akan bisa melihat negara mana yang adil dalam memberlakukan hukum, dan negara mana yang berlaku dzalim.

https://gemaislam.com

***

Amnesti: Iran Negara dengan Eksekusi Terbanyak per Kapita di Dunia

nahimunkar.com-Selasa, 11 Desember 2012

sebuah eksekusi di Iran

sebuah eksekusi di Iran

Hidayatullah.com–Organisasi HAM geram oleh meningkatnya eksekusi disiden, blogger dan aktivis di Iran. Kejahatan ringan dapat diganjar hukuman mati.

Situasi HAM di Iran memburuk dalam beberapa bulan terakhir, demikian menurut sebuah laporan PBB dikutup Deutsche Welle, Jerman.

Kabar mengenai hukum gantung 10 individu bulan Oktober lalu di sebuah penjara di Teheran atas tuduhan penyelundupan obat-obatan terlarang memicu kritik dari berbagai penjuru dunia. Hukum gantung tersebut melanggar hukum internasional yang mendikte bahwa hukum gantung harus dibatasi pada ‘kejahatan-kejahatan yang paling serius.’ Ini jelas bukan kasusnya di Teheran. Juga timbul keraguan mengenai keadilan dalam sidang terhadap para terdakwa, ungkap laporan yang disusun Komisi HAM PBB (UNHCR).

Organisasi HAM Amnesty International menyebut rangkaian eksekusi itu sebagai ‘pembunuhan massal oleh negara,’ seraya mengangkat bahwa 344 orang telah dieksekusi di Iran sejak Maret lalu.

Polisi di Teheran menyerang penyelundup dan pecandu narkoba Polisi di Teheran menyerang penyelundup dan pecandu narkoba

Eksekusi terbanyak per kapita

Koresponden khusus PBB Ahmad Shaheed mengkonfirmasi angka Amnesty dalam laporan terakhirnya mengenai Iran akhir Oktober lalu. Lebih dari 300 eksekusi dilancarkan sejak awal tahun 2012 menurutnya. Angka tersebut mencapai 670 pada tahun 2011, membawa Iran sebagai negara dengan eksekusi terbanyak per kapita di dunia.

Namun dari 670 eksekusi di tahun 2011, 249 diantaranya dilaksanakan di balik layar.

Organisasi HAM khawatir bahwa eksekusi rahasia terhadap warga Iran termasuk proporsi yang cukup signifikan terhadap aktivis politik atau mereka yang tergabung dalam kelompok minoritas agama atau etnis.

Kalangan pengamat juga mencermati semakin meningkatnya jumlah eksekusi dalam hanya 2 bulan terakhir – yang tidak terbatas pada penyelundupan obat-obatan terlarang. Dalam periode 2 pekan, antara 30 hingga 80 warga Iran dieksekusi, ungkap koresponden khusus PBB Shaheed – mendasarkan perkiraannya pada informasi dari keluarga individu yang dieksekusi dan juga aktivis HAM di Iran.

Intimidasi 

Shirin Ebadi, pemenang Nobel Perdamaian dari Iran yang telah hidup di pengasingan di Inggris sejak tahun 2009, memandang rangkaian eksekusi akhir-akhir ini sebagai upaya pemerintah Iran untuk mengintimidasi rakyat dan mencegah mereka berdemonstrasi secara politik. Rezim di Teheran juga ingin mengirimkan sinyal kepada oposisi bahwa mereka siap untuk menggunakan kekerasan dan kebrutalan, ujar Ebadi kepada Deutsche Welle.

Abdolkarim Lahiji, wakil presiden Federasi Internasional untuk Liga HAM, juga melihat meningkatnya angka eksekusi sebagai upaya intimidasi.

Supresi media juga dinilai terus meningkat di Teheran. Salah satu dari banyak kasus adalah pembredelan surat kabar independen ‘Sharg’ setelah menerbitkan kartun yang mengkritik pemerintah. Sebagai tambahan, menurut laporan Shaheed, sekitar 40 jurnalis saat ini menginap di hotel prodeo.

Keluarga Beheshti mungkin tidak akan pernah tahu bagaimana ia tewas Keluarga Beheshti mungkin tidak akan pernah tahu bagaimana ia tewas.

Sesuatu yang baru bagi Iran adalah “polisi internet.” Organisasi yang disebut FATA tersebut terus mengawasi blogger yang kritis dan ‘tidak bermoral’ sejak dibentuk tahun 2011. Blogger Sattar Beheshti, yang dijebloskan ke penjara pada 30 Oktober lalu, tewas 3 hari kemudian dalam tahanan unit polisi ini. Kasus ini mengundang perhatian elit politik di Iran sehingga berujung pada penyelidikan parlemen dan komisi investigasi. Kepala FATA dipecat dan sejumlah anggota polisi lainnya diskors.

Jaksa Agung mengakui Beheshti dipukuli selama ditahan – namun menurutnya ini bukan menjadi penyebab kematian.*

Rep: Panji Islam

Red: Cholis Akbar

(nahimunkar.com)

(Dibaca 5.270 kali, 1 untuk hari ini)