Ilustrasi orang Baduy sedang duduk di rumahnya Kanekes Lebak Banten./ foto indonesiaindonesia.com


Jumpa orang “Baduy gaul”, saya dikira berdukun ke Cibeo tempat Baduy-Dalam di Banten. Padahal ketika berjumpa itu, saya lagi duduk di masjid di Jakarta, masih pegang Al-Qur’an, menunggu masuknya waktu Isya’.

Kenapa Baduy gaul ini mengira begitu?

Alurnya begini. Ketika tengah berbincang dengannya, datanglah teman dia, tiga orang, yang satu tua, yang dua muda. Yang tua berbicara dengan Bahasa Sunda. Saya katakan, saya tidak bisa berbahasa Sunda, saya dari Jawa. Dan tadi sudah berbincang bahwa saya sudah pernah ke Cibeo tempat orang Baduy-Dalam di Banten.

Langsung saja si Baduy gaul dari kelompok Baduy Luar yang sudah masuk Islam beberapa lama ini bertanya, Bapak dari Jawa –Solo ya?

Ya, jawab saya. Tapi kemudian sahutan dia dari jawaban saya itu menjadikan saya kaget, karena dia bilang, banyak yang dari sana ke Cibeo ketika punya hajat… (maksudnya berdukun ketika mau melamar ini itu atau pilkada dan semacamnya). Dan dia sebut beberapa orang daerah (ada yang disebut namanya pula sebagai kepala daerah tertentu) yang suka (berdukun) ke Cibeo Baduy-Dalam.

Saya katakan, saya ke Cibeo tidak berdukun, tetapi hanya mau lihat keadaan di sana tahun 1983-an. (Waktu itu saya bersama teman-teman mendirikan kursus Jurnalistik di Jakarta, kemudian diakhiri dengan studi lapangan ke Cibeo sekitar 30-an orang).

Saya ceritakan, waktu itu saya menginap di rumah Pak Salim di Cibeo. Disahut oleh si Baduy gaul ini, ooo ya. Saya kenal, dia sudah meninggal, karena jatuh dari pohon ketika sedang memetik durian.

 Lalu saya tanyakan tentang masuknya Islam orang-orang Baduy Luar, dan apakah ada ustadz-ustadz yang megajarnya. Dia katakan banyak ustadz-ustadznya dan kini mereka sudah berhaji, dihajikan oleh Pemda Rangkas.

Langsung saya sodori Al-Qur’an agar dia baca. Lalu dia baca, ternyata bagus juga bacaannya.

Alhamdulillah. Baduy gaul yang membawa-bawa dagangan golok dan sebagainya berumur kira-kira 45-an tahun ini ketika ketemu orang di masjid, dia ucapkan Assalamu’alaikum, sambil salaman.

Saya tanyakan, kalian sudah Islam, lantas yang Baduy-Dalam, sudah Islam belum?

Dijawab, belum. Yang 40 rumah di sana itu belum Islam.

Saya tanya lagi, mereka para perempuannya sudah pakai pakaian menutup (dada) atau masih terbuka seperti dulu?

Dijawab, masih terbuka seperti dulu. Kalau yang Baduy Luar sudah berpakaian… (dia peragakan dengan gerakan, mungkin maksudnya berjilbab atau berkerudung, saya kurang faham).

Saya tanyakan, orang-orang Baduy-Dalam, bisa diajak masuk Islam atau tidak?

Bisa, kalau dengan cara dikawini.

 Bisa? Tanya saya mengulangi.

Ya, bisa! Jawabnya.

Saya jadi teringat, dua hari lalu saya memberi materi kepada para mahasiswa calon-calon da’i yang biasanya ditugaskan ke daerah-daerah terpencil. Ketika diantar pulang, saya tanya kepada yang mengantar, apakah ada di antara yang ditugaskan berda’wah di daerah terpencil itu yang nikah dengan wanita di sana?

Sang pengantar menjawab, ada.

Nah, kini ada kesempatan, masih ada daerah terpencil yang belum tersentuh da’wah. Hitung-hitung, kalau mereka bisa diajak masuk Islam, maka betapa baiknya. Di samping itu, tentu akan menutup jalan manusia-manusia yang klayapan ke dukun, agar tidak ke sana lagi. Oke?

Semoga saja.

Oleh : Hartono Ahmad Jaiz

(nahimunkar.com)

(Dibaca 1.864 kali, 1 untuk hari ini)